
Happy reading...
Setelah sarapan pagi selesai Dimas dan Adi pergi ke ruang kerja untuk berbicara perihal apa yang Dimas bawa tadi.
Sementara Mela masih terdiam di meja makan dan Bu Tia yang melihat ketermenungan menantunya merasa bingung. Kemudian dia duduk di sebelah Mela lalu menggenggam tangannya.
"Ada apa, Nak? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Bu Tia.
"Tidak Bu." bohong Mela
Dia masih kepikiran dengan tanda yang ada di leher Dimas. Wanita itu takut jika Dimas mempunyai kekasih dan terpaksa menikahinya. Jujur saja ada ketakutan yang begitu dalam di hati Mela.
Wanita tersebut pamit ke kamarnya akan tetapi Bu Tia tahu jika ada yang disembunyikan oleh Mella.
"Bu, aku nyusul Mela dulu ya ke kamar. Sepertinya ada yang sedang dia pikirkan Mela," ucap Rika pada Bu Tia, lalu dia menitipkan Noah kepadanya.
Wanita itu tidak ingin Mela terpuruk terus-menerus dia tidak mau jika Mela banyak pikiran dan pada akhirnya berdampak buruk pada kandungannya.
Tanpa mengetuk pintu Rika masuk ke dalam dan mendapati Mela sedang duduk di sofa yang ada di balkon sambil menatap cerahnya langit.
__ADS_1
"Ada apa? Kamu bisa cerita sama mbak."
Mela menarik nafas dengan dalam, kemudian dia membuangnya secara perlahan, lalu Mela menatap ke arah Rika.
"Mbak, apa menurut Mbak, Kak Dimas itu punya kekasih?"
Rika mengerutkan dahinya saat mendengar pertanyaan Mela. "Memangnya kenapa? Kok kamu tiba-tiba tanya seperti itu?"
"Jujur Mbak, tadi aku melihat tanda di lehernya Kak Dimas. Aku tidak bodoh itu tanda apa namun aku hanya takut saja jika nanti kami menikah dan ternyata kak Dimas mempunyai kekasih, lalu tiba-tiba kekasihnya datang dan Kak Dimas malah menduakanku seperti yang ada di novel-novel. Mbak tahu kan, di mana mereka menikah bukan karena cinta. Terus ternyata suaminya punya kekasih, lalu dia menceraikan istrinya. Dan lebih parahnya, tanpa menceraikan pria itu malah berselingkuh dengan kekasihnya dan dengan terang-terangan mereka menikah."
Mela menunduk dengan tatapan sendu. Jujur memang itu yang ia takutkan, karena Mela tidak ingin hidupnya seperti di dalam novel-novel yang pernah ia baca.
"Itu hanya perasaanmu saja, jangan terlalu berasumsi yang tidak tidak tidak. Nanti Mbak tanyakan sama mas Adi ya, apakah memang Dimas itu punya kekasih atau tidak. Semisalnya kalau dia punya, tindakanmu bagaimana?"
"Kalau semisalnya Kak Dimas punya kekasih, aku jujur akan mundur. Karena aku tidak mau menjadi penghalang antara hubungan seseorang. Tapi jika Kak Dimas tidak mempunyai kekasih mungkin kami akan melangsungkan pernikahan sesuai dengan wasiatnya mas Revan. Tapi, entah sampai kapan kami bisa melakukan pernikahan tanpa cunta?" Mela menatap lurus ke arah depan seolah dia sedang menerawang masa depannya.
Wanita itu mengkhawatirkan keadaan yang kemungkinan akan terjadi di masa depan di mana pernikahannya dan Dimas dilangsungkan. Jujur ada rasa khawatir di hati Mela, dia takut jika akan menjadi janda untuk kedua kalinya.
Mana ada seorang wanita yang mau untuk menjadi seorang janda. Namun jika menjadi janda karena ditinggal mati oleh suaminya, itu masih biasa di mata umum.bTetapi jika menjadi janda karena diselingkuhi, atau karena diceraikan, sebab suaminya memiliki wanita lain, biasanya akan menjadi gunjingan orang-orang.
__ADS_1
"Jaangan terlalu dipikirkan! Sudahlah, lebih baik sekarang kamu pikirkan kesehatan kandungan kamu. Ingat! Ini adalah titipannya Revan, kamu tidak boleh sampai membuatnya kecewa di atas sana." Rika mengusap perut melayang mulai membuncit.
Wanita itu menganggukkan kepalanya. Yang dikatakan oleh Rika memang benar, bayi yang ada dalam kandungannya adalah titipan Revan sebelum pria itu pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.
Seharusnya Mela bangkit, karena walaupun Revan sudah tidak ada lagi di sisinya dan menemani hari-harinya, tapi wanita itu harus kuat. Sebab ada bayi yang pasti akan sangat mirip dengan ayahnya.
'Ibu berharap, kamu tidak akan pergi ya nak seperti ayahmu yang meninggalkan Ibu.' batin Mela sambil mengusap perutnya
Sementara di ruang kerjanya Adi bersama dengan Dimas sedang bersiap-siap, mereka akan menuju ke markas. Sebab Dimas mengabarkan jika dia sudah menangkap bos dari kecelakaan Revan.
"Tapi aku mencurigai seseorang yang menjadi musuh dalam selimut," ujar Dimas saat melihat Adi beranjak dari duduknya.
"Siapa itu? Apa aku mengenalnya?" tanya Adi dengan tatapan menyipit.
Dimas mengangguk mantap, "iya, kamu sangat mengenalnya. Dan dia sangat dekat denganmu. Entah kenapa penyelidikanku tertuju kepadanya. Walaupun dia bukan bosnya tapi entah kenapa aku merasa dia mempunyai andil yang besar."
"Memang siapa?" tanya Adi dengan penasaran saat melihat wajah Dimas yang begitu serius.
"Dia ..."
__ADS_1
BERSAMBUNG....