Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)

Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)
Kedangan Ortu Rika


__ADS_3

Happy reading....


Mela bingung saat mendengar pertanyaan dari wanita yang berada di hadapannya itu.


"Maaf Bu, Putri Anda siapa ya? Sepertinya Anda ini salah alamat," ujar Mela dengan tatapan menyipit.


"Jangan pura-pura. Di mana Rika? Saya tahu dia tinggal di sini kan? Dan kamu pasti adiknya Adi kan?" tante Cantika berkata dengan nada ketus.


Sementara itu Mela menatapnya dengan heran. Dia tidak tahu ketiga orang yang berada di hadapannya itu siapa? Kenapa menanyakan soal Rika, kakak iparnya?


Saat Mela akan bertanya kembali, tiba-tiba saja tante Cantika menerobos masuk dan itu membuat Mela menghentikan langkahnya.


"Maaf Tante. Tante ini siapa sih? Datang ke sini dengan nada tidak sopan mencari kakak ipar saya?" Mela bertanya dengan nada tak suka.


Dan Tante Cantika yang merasa dipegang oleh Mela, dia menatap tajam ke arah gadis tersebut. Karena tante Cantika merasa Mela seperti kuman.


"Lepaskan tangan kotormu itu! Jangan pernah menyentuh tubuhku dan bajuku yang mahal ini, paham!" gertak tante Cantika dengan tatapan tajam.


Dia sedikit mendorong tubuh Mela, hingga bergeser beberapa langkah ke belakang. Dan Mela yang melihat itu pun hanya terkekeh kecil sambil menggelengkan kepalanya.


Dia tidak menyangka, di dunia ini masih ada orang sombong yang menatapnya seperti kotoran, padahal Mela sudah cuci tangan.


Saat dia akan berkata kembali, tiba-tiba saja ucapan Mela terhenti saat mendengar seseorang yang memanggil wanita yang berada di hadapannya dengan sebutan mama.


"Mama! Papa!" kaget Rika saat dia kembali keluar untuk mengambil sisa lauk yang dibereskan oleh Mela.


Tante Cantika dan juga Papa Renal yang melihat putrinya segera memeluk tubuh Rika. Sementara wanita itu hanya diam saja dia menatap ke arah Mela.

__ADS_1


"Sayang, kenapa ponselmu tidak aktif? Mama selama ini merindukan kamu. Kenapa kamu tidak pulang ke rumah? Apa kamu betah tinggal di rumah seperti ini, hah? Lihatlah! Lingkungannya saja begitu menjijikan, tidak sehat untuk kamu. Kenapa kamu masih bertahan di sini? Atau jangan-jangan, benar lagi dugaan mama dan Papa, kalau si Adi itu mengguna-guna kamu? Iya kan? Sehingga kamu patuh kepadanya dan tidak mau meninggalkannya?" tuduh tante Cantika.


"Mah, Pah, kita bicara di dalam! Tidak enak dilihat tetangga. Oh ya, Mela. Mbak minta tolong ya buatkan teh hangat untuk orang tua Mbak!" pinta Rika kepada adik iparnya.


"Iya Mbak_" Jawab Mela.


Kemudian Rika membawa kedua orang tuanya masuk ke dalam rumah, dan duduk lesehan di atas karpet.


Tatapan tante Cantika mengarah ke seluruh ruangan itu, di mana ada lemari kayu yang mulai keropos, bahkan kipas pun yang digantung dan tidak terasa di tubuhnya. Apalagi rumahnya belum di tembok dan masih bata, ditambah lantainya tidak di keramik.


Tante Cantika dan juga Papa Renal melirik satu sama lain. Mereka tidak bisa membayangkan kenapa Rika betah tinggal di rumah kumuh dan juga jelek seperti itu? Benar-benar sangat amat jauh perbandingannya dengan rumah mereka.


Kemudian tante Cantika menggenggam tangan Rika dan menatap ke arah putrinya.


"Sayang, apa kamu sudah gila tinggal di rumah seperti ini? Benar-benar sangat menjijikan! Mama dan Papa tidak habis pikir deh sama kamu. Kenapa sih kamu bertahan sama pria miskin seperti itu? Apakah tidak ada pria lain lagi? alebih baik kamu menerima perjodohan dengan Galang, ketimbang kamu tinggal di tempat seperti ini. Mama dan Papa tidak mau ya kalau kamu menderita," ujar Mama Cantika dengan tatapan tak suka.


Rika menghela nafasnya dengan kasar. Dia tahu jika orang tuanya melihat keadaan Adi pasti akan mencemooh, tapi tekad Rika sudah kuat, dia menerima Adi apa adanya bukan karena ada apanya.


Tak lama Mela datang membawakan dua gelas teh hangat. "Om, Tante. Ini tehnya diminum dulu," ucap Mela sambil menaruh gelas di hadapan kedua orang tua Rika.


Melihat teh hangat yang disuguhkan oleh Mela, membuat tante Cantika merasa jijik. Kemudian dia mengambil gelas itu dan melemparnya hingga pecah, membuat Mela dan juga Rika terjingkat kaget.


PRANG!


"Mama! Apa yang Mama lakukan? Kenapa tehnya malah dilempar?" kaget Rika.


"Gimana mama nggak lempar gelasnya? Melihatnya saja Mama sangat jijik. Mama nggak akan pernah sudi meminum dari gelas orang miskin seperti itu!" hina tante Cantika.

__ADS_1


Mela yang mendengar hinaan dan lontaran yang begitu tajam dari orang tua kakak iparnya merasa tak terima. Sedari tadi dia diam saat tante Cantika menghina kakaknya.


"Maaf ya Tante. Kalau memang Tante tidak mau meminum atau tidak sudi datang ke rumah seperti ini, lalu untuk apa Tante menginjakkan kaki Tante yang kaya raya itu ke sini? Nanti kalau kakinya Tante bisulan dan borokan, gimana?" ujar Mela dengan geram.


"Heh bocah ingusan! Diam kamu ya! Berani sekali kamu menyahut ucapan saya? Kamu pikir kamu itu siapa? Orang miskin aja belagu!" marah tante Cantika dengan nada membentak.


Mela mendengus dengan kasar, kemudian dia menatap Mama Cantika dengan tatapan tak suka.


"Oh, Tante pikir saya ini orang miskin yang belagu? Lalu Tante ini apa? Orang kaya yang kelewat belagu? Asal Tante tahu ya! Kekayaan yang Tante miliki sekarang itu, tidak abadi. Sekarang Tante boleh sombong, merasa Tante paling di atas dan merendahkan yang di bawah. Tapi ingat satu hal Tante! Roda kehidupan itu berputar. Allah bahkan dengan gampang akan mengambil harta milik Tante hanya dengan menjentikkan jari saja. Jadi apa yang Tante sombongkan? Apakah Tante pikir, harta yang Tante miliki sekarang itu akan kekal abadi? Akan dibawa sampai mati? Tidak Tante. Jadi untuk apa Tante menyombongkan diri hanya untuk terlihat bahwa keluarga Tante itu wah, dihadapan semua orang gitu? Kalau di mata saya sih, Tante mungkin kayak harta, tapi miskin etika!" Mela berkata dengan tak kalah tajam, membuat tante Cantika semakin geram.


Tangannya terayun ke udara hendak menampar wajah Mela, karena dia tidak terima dengan ucapan gadis tersebut.


Akan tetapi tiba-tiba saja tangannya ditahan oleh seseorang, dan ternyata itu adalah Rika. Dia tidak akan pernah membiarkan adik iparnya disakiti oleh sang Mama, karena apa yang dikatakan Mela memang ada benarnya.


"Kenapa kamu menghalangi Mama? Biarkan Mama menampar mulut gadis ini yang tidak tahu malu! Tidak tahu sopan santun. Apakah dia tidak pernah diajarkan oleh kedua orang tuanya?" marah tante Cantika sambil menatap tajam ke arah Rika.


"Cukup ya Mah! Kalau Mama dan Papa ke sini hanya ingin membuat keributan saja, lebih baik kalian pergi dari sini! Aku tidak mau rumah tanggaku hancur hanya karena keegoisan kalian," ujar Rika yang masih tenang menahan emosinya.


Mendengar perkataan sang anak, tante Cantika semakin marah, kemudian dia menampar Rika.


PLAK!


"Berani kamu melawan sama orang tua ya, Rika! Apakah ini yang diajarkan oleh suamimu, hah! Oh ... wajar sih. Lihatlah! Bahkan adiknya saja berkata dengan tidak sopannya? Pasti orang tuanya tidak pernah mengajarkan mereka bagaimana bersikap sopan santun kepada orang lain, dan bagaimana caranya menjamu orang di rumah?" sindir tante Cantika sambil menatap sinis ke arah Mela.


Mendengar nama orang tuanya dibawa-bawa, Mela tentu saja tidak terima. Kemudian dia maju ke hadapan tante Cantika lalu menunjuk wajah wanita itu. Dia tidak peduli maupun tante Cantika orang tuanya Rika ataupun bukan, karena apa yang dikatakan wanita itu sudah kelewatan.


"Jangan pernah Anda membawa nama orang tua saya! Tante ini orang tua juga, tapi Tante tidak mempunyai hati," ucap tajam Mela.

__ADS_1


Kali ini tante Cantika benar-benar marah. Sekali lagi dia mengayunkan tangannya hendak menampar wajah Mela, namun lagi-lagi tangannya dihentikan. Dan kali ini bukan Rika yang menghentikannya.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2