
Happy reading ....
Om Harun duduk di kursi yang ada di ruang keluarga, dia menatap ke arah Dimas dengan lekat sedangkan pria itu memalingkan wajahnya.
"Dimas, kita seharusnya duduk seperti ini sejak dulu, berbicara dari hati ke hati," ujar Om Harun membuka pembicaraan
"Maksudnya apa sih? Nggak usah bertele-tele, saya masih banyak pekerjaan," tukas Dimas dengan nada yang begitu dingin.
Mela menggenggam tangan tante Indri, mencoba menguatkan wanita tersebut dengan kata-kata yang mungkin akan terdengar kasar yang terlontar dari mulut Dimas.
Terlihat Om Harun menghela nafasnya terlebih dahulu, dia tahu mungkin saja nanti putranya akan berkata yang menyakiti hatinya dan dia harus menyiapkan mental untuk hal itu, karena terlalu banyak luka yang sudah ditorehkannya kepada putranya
"Papa dan Mama ingin meminta maaf atas segala kesalahan kami ... yang mungkin telah menyakiti hati kamu selama ini. Kami tahu, mungkin kami terlalu egois, mementingkan pekerjaan dan kurang memberikan kasih sayang dan perhatian kepadamu. Tapi ketahuilah Dimas, sejujurnya itu semua untuk masa depanmu Nak. Bukan kami tidak menyayangimu. Kami--"
"Apa? Untuk masa depanku? Dan kalian baru meminta maaf sekarang? Ck! Itu semua sudah basi. Aku sudah tidak peduli. Bagiku semua tidak penting. Dan asal kalian tahu! Mau kalian menyesal kek, mau tidak kek, aku sudah tidak peduli lagi!" tekan Dimas dengan nada yang tegas.
__ADS_1
"Kamu boleh memarahi kami, kamu boleh membenci kami, tidak papa Nak, mama dan papa akan menerimanya. Tapi satu hal yang harus kamu tahu ... bahwa kami sangat menyayangimu."
Mendengar penuturan Papahnya, Dimas malah tertawa kecil sambil memiringkan senyumannya dengan sinis.
"Apa? Sayang? Apa itu yang dinamakan dengan sayang? Kalian mencampakkanku sedari kecil dan kalian lebih mementingkan pekerjaan ketimbang diriku ... bahkan apa kalian ada di saat aku sedang sedih? Apa kalian ada di saat aku sedang membutuhkan support dari kalian?" tanya Dimas dengan tatapan yang begitu tajam, "tidak bukan? Kalian malah asik dengan dunia sendiri, kalian malah menghabiskan waktu dengan pekerjaan dan kalian malah lupa bahwa kalian itu sudah mempunyai anak!" Kali ini nada bicara Dimas sudah naik satu oktaf.
"Dengarkan dulu penjelasan kami, Nak," ujar tante Indri.
Dimas menggeleng, dia beranjak dari duduknya. "Tidak perlu ada lagi yang dijelaskan. Dan aku tidak ingin mendengarkan penjelasan apapun dari kalian. Jadi sudah cukup!" Dimas pun meninggalkan ruang keluarga namun tangannya ditahan oleh Mela.
"Diam kamu! Tahu apa kamu tentang keluargaku hah?! Kamu itu di sini hanyalah orang lain. Aku tidak ingin menyakitimu Mela, jadi cukup jangan ikut campur urusanku!" bentak Dimas.
Mela menggelengkan kepalanya, "Tidak Kak, kamu itu adalah suamiku, jadi apapun masalahmu aku akan tetap ikut campur. Tidak perduli mau kamu marah atau tidak, dan itu adalah kewajibanku sebagai seorang istri, mengingatkan suaminya."
"Diam kamu! Jangan membuat aku semakin marah, dan akan menyakiti kamu Mela!" bentak Dimas dengan sorot mata yang sudah dilanda kemarahan.
__ADS_1
Mela menggeleng, dia tetap kekeuh pada pendiriannya. Karena Mela harus membuat satu keluarga itu bersatu kembali.
"Kamu ini sudah dewasa, kamu itu sudah bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Walaupun mereka buruk di matamu, tapi bagaimanapun mereka adalah orang tuamu, Kak. Seharusnya kamu tidak boleh bersikap seperti itu! Ingat! Kamu adalah seorang anak laki-laki, dan surgamu ada pada mamamu, tetapi sikapmu malah seperti ini? Bukan aku bermaksud untuk menggurui, tapi di sini figurku sebagai seorang istri mengingatkan suaminya di saat dia salah. Aku tahu mungkin kamu terluka atas segala sikap orang tuamu selama ini. Tapi tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya. Mereka bekerja siang malam untuk kamu Kak, mereka hanya memikirkan masa depanmu, itu sebabnya mereka terlalu fokus sampai melupakan bahwa kamu juga butuh perhatian mereka. Jadi aku mohon! Tolong ?maafkanlah mama dan papa!" pinta Mela sambil memegang lengan Dimas.
Pria itu menggeleng lalu dia mengangkat tangannya hendak menampar wajah Mela, lalu seketika ditahan oleh tante Indri.
"Jangan pernah kamu menyakiti Mela, Dimas! Kamu boleh membenci kami. Kamu boleh marah kepada kami, tapi jangan pernah menyakitinya! Dia lagi hamil, kamu seharusnya bisa melindungi istrimu, menyayanginya, bukan malah menyakitinya."
"Bullshit dengan kalian semua!" Setelah mengatakan itu Dimas pergi dari sana.
Mela hendak mengejar langkah pria tersebut, namun tangannya ditahan oleh tante Indri. "Biarkan dia merenungi setiap perkataan kamu dan biarkan dia menenangkan pikirannya. Jika kita berbicara untuk sekarang, sepertinya waktunya tidak tepat. Kamu lihat amarah Dimas tadi? Dangat menggebu-gebu, hanya akan ada perdebatan dan pada akhirnya akan ada yang tersakiti. Jadi lebih baik kita biarkan dia dulu," jelas tante Indri dengan wajah yang sedih.
Sebagai seorang ibu melihat putranya begitu sangat membencinya membuat dia seakan merasakan sebuah luka yang begitu dalam, di mana ia yang telah melahirkan Dimas, menyusuinya dan juga mengurusnya, namun setelah besar putranya malah membencinya.
"Aku akan berbicara lagi dengan kak Dimas setelah pikiran dia tenang. Semoga kak Dimas mau untuk mendengarkan perkataanku. Kasihan Mama dan juga Papa, mereka sepertinya sangat terpukul dengan ucapan Kak Dimas tadi?" batin Mela.
__ADS_1
BERSAMBUNG....