
Happy reading....
Dimas menatap ke arah kedua orang tuanya dengan tajam. "Sebenarnya apa yang kalian mau? Apa maksud kalian datang ke sini? Jika kalian ke sini ingin membuat kekacauan, sebaiknya pergi saha! Kerjaanku masih banyak, dan ingat satu hal! Jangan pernah kalian melukai Mela!" Dimas bangkit dari duduknya sambil membenarkan jas.
"Begini caramu berbicara dengan orang tua, Dimas!" bentak Papa Harun. "Kami tidak pernah mengajarkanmu untuk tidak berlaku tidak sopan kepada orang tua ya!"
Mendengar itu Dimas hanya tersenyum miring. "Oh ya? Memangnya kalian pernah mendidikku? Bukankah selama ini kalian terlalu sibuk mengejar ambisi kalian dalam mengumpulkan pundi-pundi uang? Bukankah selama ini kalian sibuk dengan dunia kalian sendiri, sampai lupa jika kalian mempunyai anak?" sindir Dimas sambil tersenyum sinis.
Papa Harun beranjak dan mendekat ke arah Dimas, kemudian dia melayangkan pukulan di wajah pria itu, hingga membuat Dimas tersungkur ke lantai.
"Papah cukup!" kaget tante Indri menghentikan aksi suaminya. "Cukup Pah! Jangan ada kekerasan. Kita kan ke sini datang baik-baik untuk berbicara dengan Mela dan juga Dimas."
"Bagaimana Papa bisa tahan, Ma? Anak durhaka anak kurang ajar sama orang tua. Lihat saja! Bahkan nada bicaranya seperti itu. Kita tidak pernah mengajarkan Dimas seperti itu, Mah!" sentak papa Harun dengan nada yang tinggi.
Dimas mengusap sudut bibirnya yang berdarah, sementara Mela di kamar mendengar keributan tersebut dia menatap ke arah Bu Tia yang sedang duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Bu ... sebaiknya Mela keluar saja ya. Mela khawatir dengan keadaannya Kak Dimas, takutnya mereka malah baku hantam."
"Tidak usah, Nak. Kalau kamu keluar hanya akan memperkeruh keadaan. Biar saja dulu ya!" cegah Bu Tia.
Akan tetapi Mela menggelengkan kepalanya, dia tidak ingin terjadi apa-apa dengan Dimas. Akhirnya wanita itu pun keluar.
"Lepaskan Mah!" Papa Harun melepaskan pegangan tangan istrinya di lengan kekarnya, kemudian dia mendekat ke arah Dimas dan mencengkram kerah baju pria itu, akan tetapi Dimas tidak melawan. Dia hanya tersenyum sinis seakan dia sedang mengejek Papanya.
"Walaupun kami terlalu sibuk mengejar pekerjaan, tapi itu semua demi siapa Dimas?! Demi kamu! Kami bekerja untuk siapa siang malam? Pacpa begadang bahkan sampai lembur pagi untuk siapa? Untuk masa depan kamu! Apa ini balasan kamu sebagai anak, hah? Kamu tidak mau menghormati kedua orang tuamu!" bentak Papa Harun sambil melayangkan kembali tinjunya ke wajah Dimas.
Mela yang melihat itu pun menjerit. "Kak Dimas!" eriak Mela, kemudian dia berlari dan duduk di samping suaminya, lalu Mela menatap wajah Dimas yang memar.
"Tidak Kak. Aku tidak akan masuk!" tolak Mela sambil menggelengkan kepalanya.
"Selama ini kamu selalu melawan perintah kami Dimas. Apa yang Papa dan Mama mau, tidak pernah kamu turuti. Apakah ini yang dinamakan balas budi kepada orang tua, hah! Kami membesarkanmu, menyekolahkanmu tinggi-tinggi, tapi ... apa ini balasannya untuk kami?!" tanya papa Harun dengan intonasi yang tinggi.
__ADS_1
Dia hendak memukul Dimas kembali, akan tetapi ditahan oleh Mela. "Cukup Om! Saya mohon sudah jangan pukuli Kak Dimas lagi." Mela menatap sendu ke arah pria tersebut sambil menangkupkan tangannya di depan dada.
"Pah sudah ... kita di sini datang baik-baik, kita bisa bicarakan dengan kepala dingin, jangan sampai ada kegaduhan kayak gini. Malu Pah! Kalian ini anak dan papa, kenapa harus bertengkar?" Tante Indri memijat kepalanya yang terasa begitu pening.
Kemudian dia menatap ke arah Dimas. "Kamu juga Dimas. Seharusnya kamu jangan bersikap seperti itu kepada Mama dan Papa! Kami tahu mungkin kami sedikit waktu untuk kamu, tapi kami adalah orang tuamu Dimas."
"Terserah kalian mau bilang apa. Kalian ini bilang adalah orang tuaku, tapi kalian tidak pernah ada waktu untukku. Di mana kalian saat aku sedang butuh, hah? Di mana kalian saat aku sedang sedih? Di mana saat aku sedang membutuhkan kalian? Di mana?! Kalian bahkan sibuk dengan pekerjaan sendiri, tidak pernah memikirkan kehadiranku. Kalian tidak pernah membagi waktu denganku! Kalian terlalu sibuk dengan dunia kalian sendiri!" teriak Dimas, kemudian dia membanting vas bunga yang berada di atas meja lalu pergi dari sana.
"Kak Dimas! Kak ..." panggil Mela sambil mengejar pria itu, akan tetapi ditahan oleh Bi Ida dan juga Bu Tia.
"Jangan dikejar Nona muda. Biarkan Tuan Muda menenangkan pikirannya. Kasihan kandungan Nona muda, jangan terlalu kecapean," ucap Bu Ida.
Daut wajah Mela mendadak menjadi sedih, dia khawatir dengan Dimas. Tapi apa yang dikatakan bi Ida benar, pria itu butuh ketenangan pikiran dan untuk saat ini sebaiknya Mela tidak ada di sisi Dimas terlebih dulu.
Kemudian dia berbalik badan dan menatap ke arah kedua mertuanya, di mana saat ini papa Harun twngah menetralkan emosinya, bahkan nafasnya masih terdengar memburu.
__ADS_1
Mela mendekat ke arah kedua orang itu, membuat Papa Harun dan juga tante Indri seketika menatap ke arahnya.
BERSAMBUNG.....