
Happy reading....
Adi masih terlihat begitu tenang saat mendapat jawaban yang tajam dari kedua orang tua Rika. Dia memang sudah menyiapkan mental untuk hal ini.
Sementara itu Rika menatap orang tuanya dengan gelengan kepala pelan. Dia tidak menyangka jika Papanya bisa berkata kasar seperti itu kepada Adi.
"Pah, apa sih yang Papa ucapkan? Jangan seperti itu dong bicaranya! Mas Adi kan di sini tamu, dan dia datang secara baik-baik--"
"Cukup Rika! Papa dan Mama tidak akan merestui hubungan kalian. Apa kamu pikir, hidup sederhana itu mudah, hah?! Apa kamu pikir, bermodalkan cinta itu kenyang!" potong papa Renal.
"Iya, aku tahu bermodalkan cinta memang tidak kenyang Pah. Tapi aku yakin kok, Mas Adi itu pria yang bertanggung jawab. Dia pria yang baik dan bisa menghargai wanita. Rumah tangga bukan didasari dengan harta, kebahagiaan itu bukan didasari dengan uang, tapi semua berasal dari hati. Bagaimana kita mempunyai suami yang bertanggung jawab dan sayang kepada kita. Apakah Papa pikir, dengan uang semua akan bahagia? Apakah kebahagiaan itu bisa dibeli dengan uang? Kan tidak?"
"Halaah ... tau apa kamu soal rumah tangga, hah! Kamu itu masih anak bau kecur Rika. Pokoknya Papa dan Mama tidak akan setuju kalian menikah, paham!"
Adi yang melihat perdebatan anak dan kedua orang tuanya pun merasa tak enak, kemudian dia pun berkata, "Om, Tante, saya minta maaf jika kedatangan saya membuat Om dan Tante tidak nyaman. Tapi saya berjanji saya akan membahagiakan Rika. Saya akan menyayanginya. Mungkin memang saya tidak bisa memberikan kemewahan kepadanya, tapi saya akan terus berusaha membahagiakannya, mencukupi kebutuhannya, walaupun tidak mewah. Tolong berikan kesempatan kepada kami, kepada saya untuk membuktikan semua itu," ujar Adi dengan nada yang tenang.
"Diam kamu pria miskin!" gertak papa Renal.
Rika yang melihat keangkuhan orang tuanya pun merasa tak enak kepada Adi, dia juga merasa kesal dengan perilaku sang Papa. Kemudian Rika beranjak dari duduknya dan menatap Papanya dengan tajam.
"Cukup ya Pah! Bisa nggak sih nurutin sekali aja permintaannya Rika! Selama ini aku sudah menuruti semua keinginan Papa, apapun yang kalian berdua mau aku selalu menurutinya. Aku menjadi anak yang baik, menjadi anak yang penurut, tapi bisa tidak sekali saja menuruti keinginanku untuk kebahagiaanku! Di sini aku yang menjalani hidup. Aku yang menentukan kebahagiaanku sendiri, dan aku tidak mau untuk dijodohkan. Aku mencintai Mas Adi tulus, bukan melihat dia dari segi hartanya! Kalau Mama dan Papa tidak merestui kami, aku akan pergi dan tak mau bertemu kalian lagi!" marah Rika.
Papa Renal dan juga mama Cantika terdiam saat melihat Rika sedang marah. Karena jujur baru pertama kali ini mereka melihat jika putrinya begitu tidak terima dengan keputusan yang mereka ambil.
__ADS_1
Saat Papa Renal akan berbicara kembali, Mama Cantika memegang lengan pria itu lalu menggelengkan kepalanya.
"Ayo, Mama mau bicara sama Papa sebentar!" ajak mama Cantika, kemudian pergi meninggalkan ruang tengah berjalan ke arah ruang makan.
Sementara itu Rika menatap ke arah Adi, lalu dia berjalan dan duduk di sebelahnya. "Maafkan mama dan papa ya, Mas, jika ucapan mereka menyinggung perasaanmu. Tapi aku mohon jangan menyerah apapun yang terjadi. Aku yakin kita bisa membina rumah tangga sakinah, mawadah dan warohmah," ujar Rika sambil menatap lekat ke arah Adi.
Mendengar perkataan dari Pujaan hatinya, membuat semangat Adi membara. Dia mengangguk sambil tersenyum manis, sungguh sangat beruntung dirinya bisa bertemu dengan Rika. Wanita kota dari kalangan atas yang mau menerimanya, menerima semua kekurangannya.
Padahal dilihat dari rumahnya Rika benar-benar orang yang kaya, dan dia mau untuk menikah bersama dengan Adi yang notabenya hanya kalangan bawah, tidak memiliki apapun dan hanya seorang petani. Sungguh mulia hati Rika sebagai seorang wanita.
Setelah beberapa saat, kedua orang tua Rika kembali ke ruang tengah, lalu duduk di sofa dan menatap Adi dengan lekat. Namun masih dengan tatapan tidak suka.
"Apa yang membuatmu bertekad Ingin melamar anakku? Hanya karena bermodalkan cinta? Kau lihat bukan, kami bukan dari kalangan orang bawah? Apa kata rekan bisnisku jika mempunyai menantu rendah seperti dirimu!" Lagi-lagi Papa Renal menghina Adi.
"Saya memang mencintai Rika dengan tulus, Om, Tante. Dan mungkin saya tidak bisa memberikan kemewahan, tapi berikanlah kami kesempatan untuk membuktikan jika memang saya bisa membahagiakan Putri Anda."
"Iya Pah_ Rika sangat yakin!" jawab Rika dengan penuh keyakinan sambil menatap ke arah kedua orang tuanya.
"Baiklah, jika itu keputusanmu. Tapi ada beberapa syarat. Jika kalian setuju ya sudah, Papa akan mengizinkan kalian menikah. Tetapi jangan pernah berharap restu dari kami, karena sampai kapanpun Papa dan Mama tidak akan pernah merestui kalian, paham!" ucap Papa Renal.
"Syarat apa itu, Mah, Pah?" tanya Rika.
"Kesatu, kalian tidak boleh melaksanakan pernikahan yang mewah, karena Papa sangat malu memiliki menantu miskin seperti dia. Dan kedua, setelah kamu menikah dengan dia, kamu tinggallah bersama pria itu. Rasakan hidup miskin seperti apa, dan Papa sangat yakin, kamu tidak akan pernah betah tinggal di sana. Dan saat itu kamu akan kembali ke sini, dan akan menikah dengan Galang. Karena dia pria pilihan Papa, dan sepadan dengan keluarga kita," ujar Papa Renal sambil menatap sinis ke arah Adi.
__ADS_1
"Iya Pah, tidak apa-apa. Rika akan tinggal bersama dengan Mas Adi. Karena memang seorang istri itu harus ikut ke mana suaminya akan pergi. Bahkan ke mana suaminya membawa, istri pun akan mengikutinya. Karena itu adalah kodrat seorang Istri," jelas Rika.
"Baiklah, pernikahan kalian akan dilangsungkan besok!" Setelah mengatakan itu Papa Renal masuk ke dalam meninggalkan dua insan tersebut.
Bahkan Mama Cantika pun tidak banyak bicara, karena jujur dia juga sangat kecewa kepada Rika. Tadinya dia pikir, Rika mempunyai calon di atas Galang, tetapi ternyata jauh di bawah Galang.
"Dek, apa kamu yakin dengan keputusanmu? Apa kamu tidak akan kecewa?" tanya Adi memastikan keputusan dari Rika.
"Aku sangat yakin Mas. Apa kamu mulai ragu dengan keyakinanku?" tanya Rika dengan tatapan menyipit.
"Mas sama sekali tidak meragukan keyakinan kamu Dek, tapi setelah kita menikah, tentunya kamu tahu kehidupan Mas seperti apa? Apakah kamu mampu untuk tinggal dengan kehidupan sederhana seperti itu?"
"Insya Allah, Rika yakin. Karena yang kita ingin dapatkan adalah Ridhonya Allah bukan, Mas?"
Setelah berbicara beberapa kata dengan Rika, Adi pun memutuskan untuk pergi. Karena dia harus kembali ke sana pagi-pagi untuk melaksanakan ijab qobul.
Adi keluar dari kediaman orang tua Rika, dan tak jauh dari sana ada masjid. Di sanalah Adi beristirahat untuk sementara waktu sampai menunggu besok, karena tidak mungkin jika dia menyewa hotel sebab uangnya tidak cukup.
Adi melaksanakan shalat, kemudian dia menghadap Sang Kuasa, meminta petunjuk dan juga kekuatan serta ketabahan hatinya, agar bisa menghadapi calon mertuanya yang begitu tak menyukai dirinya.
"Ya Allah, Ya Robbi, ya Tuhanku, yang menciptakan bumi, langit dan juga isinya. Aku memohon kepadaMu Yang Maha Kuat, berikanlah aku kesabaran dan juga ketabahan untuk menjalani segala ujian. Jika aku dan juga Rika memang berjodoh, maka satukan kami di dunia dan akhirat. Bantu aku untuk melalui semua rintangan bersama dengan Rika dalam mengarungi bahtera rumah tangga nanti, dan lancarkanlah acara ijab qobul ku besok ya Allah, karena aku melakukannya bersama dengan Rika untuk menggapai Ridhomu dan juga Surgamu," ucap Adi dengan lirih, setelah itu dia menakutkan tangannya ke wajah.
Sementara itu di lain tempat, Papa Renal mengusap wajahnya dengan kasar. Dia tidak menyangka jika putrinya dilamar oleh seseorang yang jauh berbeda dari mereka.
__ADS_1
"Apa Papa yakin dengan keputusan yang Papa berikan tadi?" tanya Mama Cantika pada suaminya saat berada di dalam kamar.
BERSAMBUNG.....