
Happy reading.....
Adi merasa bakal ada perdebatan yang sengit antara dia dan juga mertuanya, kemudian dia menatap ke arah Rika memberikan kode agar wanita itu masuk ke dalam kamar.
"Tidak Mas. Aku akan tetap di sini." Rika bersikukuh membuat Adi hanya bisa menghela nafas.
"Kau belum menjawab pertanyaanku?"ucap Pak Renal sambil menatap sinis ke arah Adi.
Bahkan pria itu tidak menyentuh minuman yang dibuat oleh putrinya, karena bagi Papa Renal teh itu hanya akan membuatnya sakit perut, sebab terbuat dari kalangan orang miskin.
"Sejujurnya tidak usah Anda bertanya, sudah tahu bukan kalau kebun saya hancur? Dan itu semua ulah Anda," jawab Adi sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Rupanya kau sangat cerdik, tapi sayang, aku yakin sekarang kau sedang pusing untuk mencari dana kan? Jadi aku ke sini untuk menawarkan bantuan kepada kamu, Rika. Kalau kamu ingin suamimu ini tidak hancur dan ladangnya tidak terus-menerus mendapatkan kerugian, Papa ingin menawarkan bantuan kepada kalian," ujar Papa Renal sambil tersenyum sinis.
Dia belum mengetahui siapa Adi sebenarnya, karena pria itu menganggap jika Adi hanyalah orang miskin, jadi menghancurkannya amat sangat mudah.
"Tidak perlu. Terima kasih Papa mertua, tapi saya bisa kok membangun ladang saya kembali," jawab Adi dengan santai.
"Mas Adi, ladang kamu hancur lagi?" tanya Rika dengan kaget, dan Adi hanya menganggukkan kepalanya dengan santai.
Rika menatap ke arah sang papa, dia tidak menyangka jika Papanya benar-benar keterlaluan, tidak membiarkannya hidup bahagia bersama dengan Adi.
"Kenapa sih, Papa lakuin ini sama aku dan juga Mas Adi? Seharusnya Papa itu senang melihatku bahagia Pa, bukannya malah menghancurkan. Rika tidak menyangka ya, kalau Papa mempunyai hati sejahat itu," ucap Rika yang sudah berlinangan air mata.
Hatinya merasa sakit saat melihat dan mendengar sendiri tentang kejahatan orang tuanya, di mana seharusnya seorang ayah membuat putrinya bahagia, membantunya dalam kesusahan dan mengulurkan tangannya dikala Sang Putri merasa terpuruk.
Akan tetapi, ini malah sebaliknya, seorang papa malah menghancurkan kebahagiaan putrinya dan malah ingin melihatnya menderita.
__ADS_1
"Terserah. Kalau kamu memang ingin suamimu itu memiliki dana, hanya ada pilihan, pulang bersama papah dan menikah dengan Galang. Soal anak yang kau kandung itu, setelah lahir akan Papa titipkan ke panti asuhan," jelas Papa Renal.
Adi yang mendengar hal tersebut mengepalkan tangannya, dia tak menyangka jika ada orang tua sekejam itu. Sedangkan Rika menggelengkan kepala saat mendengar penuturan dari Papa Renal.
"Apa Papa sudah gila, hah! Papa ingin menitipkan anakku ke panti asuhan? Aku dan juga Mas Adi masih hidup Pah, kenapa Papa begitu jahat!" teriak Rika yang tak menyangka jika sang Papa bisa berkata sekejam itu kepada dirinya.
Entah di mana hati keprimanusiaannya sebagai seorang kakek dan orang tua yang sudah memiliki anak. Bagaimana jika posisi itu ada pada Mamanya. Di mana sang Mama harus memiliki pilihan antara mengugurkan atau menerima permintaan orang tuanya.
"Anda benar-benar orang tua yang begitu kejam Tuan! Demi obsesi Anda pada sebuah harta, Anda rela mengorbankan cucu dan Putri sendiri?" Adi berkata dengan gelengan kepala
Tak habis pikir dengan apa yang ada di kepala mertuanya, di mana seorang ayah dengan teganya membiarkan sang cucu dititipkan ke panti asuhan, sementara orang tua lengkapnya masih ada.
"Sudahlah, tidak usah banyak drama kalian. Sekarang pikirkan Rika, kamu mau ikut bersama papa dan menikah dengan Galang, atau kamu ingin melihat suamimu hancur sampai ke akar-akarnya, hah!" bentak Papa Renal.
Tentu saja Rika menolak dengan keras. "Tidak! Aku tidak akan mau untuk menikah dengan dia! Papa lihat dong! Aku ini sudah menikah dengan Mas Andi, Pah. Aku bahkan tengah hamil, sebentar lagi papa akan menimang cucu!" bentak Rika untuk pertama kalinya.
"Kenapa tidak? Papa sudah sangat keterlaluan! Dan asal Papa tahu ya! Mas Adi tidak semiskin yang papa kira. Tidak akan pernah kami bangkrut, walaupun Papa membuat semua ladang Mas Adi mati dan juga hancur," ujar Rika.
Namun mendengar itu Papa Renal malah tertawa terbahak-bahak, karena dia merasa putrinya sudah kehilangan akal hidup bersama dengan Adi.
"Sepertinya otakmu sudah tidak waras Rika, semenjak kamu tinggal bersama dengan pria melarat ini. Bagaimana mungkin seorang petani miskin dan madesu, bisa menjadi orang kaya? Hahaha! Rika ... Rika. Kamu kalau mimpi itu cepat bangun!" bentak Papa Renal.
Sementara Adi hanya tersenyum saja menanggapi mertuanya, karena memang pria itu tidak tahu siapa Adi sebenarnya. Dan dia tidak peduli, karena sebentar lagi Papa Renal akan mendapatkan balasannya.
"Jika Anda sudah dengan obrolannya, dan sudah dengan tujuan Anda ke sini, silakan! Pintu keluarnya ada di samping," ujar Adi sambil menunjuk pintu rumahnya.
Papa Renal yang mendengar itu pun merasa geram, dia merasa seperti direndahkan oleh Adi. Harga dirinya seperti diinjak-injak oleh orang miskin seperti Adi yang hanya seorang pria dengan profesi seorang petani.
__ADS_1
Papa Renal yang kadung gram segera mencengkeram baju Adi, membuat Rika seketika merasa panik.
"Kau berani mengusirku pria madesu!" bentak Papa Renal dengan marah.
"Saya hanya tidak ingin jika rumah saya terdapat keributan. Jika harta dan tahta yang Anda miliki dan cari, percayalah Tuan Renal, semua tidak akan abadi. Di atas langit masih ada langit. Anda mungkin orang kaya, tapi apakah Anda tidak berpikir bahwa ada yang lebih kaya dari Anda dan bisa menghancurkan dalam sekejap?"
"Kau pikir aku takut?!" geram Papa Renal dengan sorot mata yang tajam.
"Tinggal lihat beberapa hari lagi, kehancuran akan terlihat jelas di depan mata Anda. Sekarang lebih baik pergi! Karena saya tidak ingin jika Rika nanti stress dan banyak pikiran. Dan saat Anda bangkrut nanti, saya akan sangat yakin, jika Anda akan kembali ke sini bahkan akan berlutut di kaki saya dan juga Rika," ujar Adi sambil tersenyum sinis.
BUGH!
Satu buah pukulan mendarat keras di wajah Adi, dan Rika yang melihat itu pun semakin menjerit panik. Dia kemudian melepaskan tangan sang papa.
"Lepaskan Pah! Sebaiknya Papa pergi sekarang dari sini! Jangan membuat kekacauan dan keributan di sini Pah!" pinta Rika sedikit berteriak.
Kemudian Papa Renal merapikan jasnya. "Dengar ya! Ucapanmu itu tidak akan pernah menjadi kenyataan, dan kamu Rika. Papa tunggu sampai besok! Jika kamu ingin suamimu Papa hancurkan sampai ke akar-akarnya tidak usah menjawab, tapi jika kamu tidak ingin suamimu hancur bahkan tiada, maka kamu tahu harus mencari Papa ke mana."
Setelah mengatakan itu Papa Renal pergi dari sana, meninggalkan Rika yang saat ini tengah memeluk Adi.
Pria itu merasa kesal karena rencananya gagal untuk membawa Rika kembali ke kota, dan menikahkannya dengan Galang.
"Sudahlah sayang, jangan terlalu dipikirkan. Kamu tenang saja! Kita akan memberikan pelajaran kepada papamu. Dan aku sangat yakin, dia sebentar lagi akan bertekuk lutut di hadapan kita," ucap Adi sambil mengecup kening Rika.
"Tapi jangan menyakiti mereka secara fisik ya, Mas!" pintanya, dan langsung dibalas anggukan oleh Adi.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1