
Happy reading....
"Mas, kenapa kaca kamar kita pecah?" ucap Mela dengan ketakutan sambil memeluk erat tubuh Revan.
"Kamu tenang dulu ya. Aku akan lihat," ujar Revan, namun Mela segera menarik tangannya.
Dia mengambil ponsel yang ada di samping meja, kemudian menelpon sang kakak dan mengabari tentang kejadian tersebut.
Adi yang mendengar jika terjadi apa-apa dengan adiknya kemudian mengerahkan anak buahnya yang masih berjaga di hotel itu untuk segera masuk ke dalam kamar Mela dan juga Revan.
"Sayang, kamu pakai selimut biar aku yang membuka pintunya," ucap Revan.
Kemudian dia berjalan ke arah pintu untuk membukanya membiarkan anak buah Adi masuk ke dalam. Rasa yang sudah naik di ubun-ubun pun seketika harus turun kembali, saat tiba-tiba saja ada hal yang tak terduga.
Saat pintu terbuka, 5 orang anak buah Adi masuk ke dalam, kemudian mereka langsung berjalan menuju jendela di mana kaca itu pecah.
"Ini adalah lubang tembakan, sepertinya ada yang sedang mengincar Nona Mela," ucap salah satu anak buah Adi.
Mendengar itu Revan terkejut, dan tak lama Adi pun masuk ke dalam, dia melihat Mela sedang meringkuk di atas ranjang sambil bergulung selimut. Dia langsung berlari dan memeluk tubuh Sang adik.
"Kamu tidak apa-apa, Dek?" tanya Adi dengan cemas.
"Aku tidak apa-apa Mas, tapi siapa yang menghancurkan jendela itu?" ucap Mela dengan wajah yang ketakutan.
Kemudian Adi bertanya kepada anak buahnya, dan salah satu anak buahnya menjawab jika itu adalah tembakan. Sebab mereka melihat sebuah peluru yang tertempel di tembok.
"Sepertinya tempat ini tidak aman, ada penembak jitu yang ingin membahayakan kamu Dek. Kita ke rumah saja, akan lebih aman di sana," ujar Adi.
Mela mengangguk sementara Revan hanya bengong saja, sebab dia tidak mengetahui apapun dan kenapa ada orang yang ingin mencelakai istrinya.
Akan tetapi, untuk saat ini Revan tidak ingin banyak tanya, hingga Mela berjalan ke arah kamar mandi untuk mengganti bajunya. Setelah itu mereka berjalan keluar dikawal oleh 20 orang pengawal masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Di dalam mobil tidak henti-hentinya Mela terus saja memeluk tubuh Revan, karena memang wanita itu benar-benar ketakutan.
"Mas, sebenarnya siapa yang ingin mencelakai aku? Kenapa mereka ingin sekali membuatku terluka?" tanya Mela dengan suara sedikit bergetar.
"Sepertinya itu musuh dari Papa, entahlah, padahal anak buah Mas sudah menangkapnya dan sekarang dia ada di markas. Nanti mas urus semuanya, kamu sama Revan di rumah jangan ke mana-mana dulu oke!" titah Adi.
Mela menganggukkan kepalanya, sementara Revan benar-benar dibuat kebingungan apalagi saat mendengar kata musuh.
"Mas Adi, Apa aku boleh bertanya?"
"kamu mau bertanya apa, Revan?" tanya Adi kembali.
"Musuh apa ya yang dimaksud? Kenapa ada yang ingin mencelakai Mela?"
Revan benar-benar tidak mengerti karena dia tahunya Mela adalah orang miskin, dan saat mengetahui jika istrinya dari kalangan orang berada, membuat Revan masih belum mengerti dengan keadaan yang sebenarnya, jika hidup dari kalangan atas memang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang tak menyukai kita.
"Nanti saja Mas jelaskan nya. Saat ini mas akan mengurus masalah ini dulu. Kamu jaga Mela! Ingat, jangan keluar rumah apapun yang terjadi! Karena tempat teraman hanyalah rumah," ujar Adi.
Selepas mengantarkan Mela dan juga Revan ke rumah, Adi melajukan mobilnya untuk menuju markas di mana seseorang saat ini tengah dirantai.
Sementara Rika tidak tahu apapun, sebab Adi tidak memberitahunya. Dia juga berpesan kepada Mela dan juga adik iparnya untuk tidak mengatakan apapun kepada Rika, sebab Adi tidak ingin jika wanita itu malah kepikiran dan malah berdampak kepada kandungannya.
"Kita ke markas!" ucap Revan saat berada di dalam mobil kepada Vano.
"Tapi Tuan, bagaimana pria itu bisa melakukan hal yang akan mencelakai Nona Mela? Sementara dia saja di markas dan tidak diberikan koneksi apapun," jawaba Vano sambil menyetir mobilnya.
Adi terdiam karena apa yang dikatakan Vano memang bena,r membuat tanda tanya bermunculan di kepalanya.
"Mungkin saja dia menyuruh anak buahnya atau mungkin anak darinya yang ingin membalas dendam, sebab dia kita culik," usul Vano.
Mendengar hal itu Adi menganggukan kepalanya. "Iya kamu benar, tapi bisa jadi musuhku yang lain juga. Sebab musuh bukan dari Papaku saja, tapi dari rekan bisnisku juga banyak. Sebaiknya kita harus lebih waspada memperketat penjagaan untuk keluargaku, karena mereka adalah harta yang berharga bagiku."
__ADS_1
"Baik Tuan," jawab Vano.
Tidak terasa mobil pun sudah sampai di sebuah Villa, kemudian mereka masuk dan di sana sudah ada anak buah Adi yang berjaga.
"Apa dia masih ada di dalam?" tanya Adi kepada anak buah yang sedang berdiri di dekat tangga.
"Dia masih ada di dalam, Tuan."
Adi memencet tombol yang serupa dengan tembok, sehingga tidak terlihat karena ukurannya yang kecil, ditambah warnanya juga, jadi tidak terlihat jika itu adalah tombol.
Kemudian tangga ke bawah tanah pun terbuka, Adi dan Vano kemudian masuk ke dalam lalu mereka melihat seseorang yang tengah berdiri dengan tangan dan kaki yang dirantai.
Tanpa aba-aba Adi langsung mendekat ke arah pria itu dan mencengkram lehernya dengan kuat. "Ternyata siksaanku yang seperti ini belum membuatmu Jera. Keluargamu masih membuat perhitungan dengan keluargaku. aapa kau ingin aku menuntas habiskan keluargamu, hingga rata dengan tanah!" bentak Adi.
Pria itu menatap tajam ke arah Adi. "Apa maksudmu? Tidak mungkin keluargaku mencelakai keluargamu?" bingung pria tersebut dengan wajah yang sudah babak belur.
"Kau bilang apa? Tidak mungkin? Jwlas-jelas adikku hampir celaka dan itu semua pasti gara-gara ulah keluargamu! Atau jangan-jangan ... anakmu yang bernama Jerry, berniat untuk mencelakai adikku? Jiika itu sampai terjadi, maka aku tidak akan segan-segan untuk menghabisi keluargamu! amulai dari cucumu, istrimu, anakmu, semuanya ku sama ratakan! Dan abunya akan kubawa di hadapanmu, paham!" gertak Adi dengan sorot mata yang tajamm
Pria itu menggelengkan kepalanya dengan kuat saat mendengar ucapan Adi, karena dia melihat dari sorot mata Adi tidak ada rasa main-main.
"Aku Mohon Tuan, jangan aakiti keluargaku! Jangan habisi mereka. Aku bersumpah, bukan keluargaku yang mencelakai adikmu. Aku mohon!"
Adi tersenyum menyeringai, kemudian dia berdecih. "Kalau kau memang tidak ingin jika semisal keluargamu kusakiti, maka jangan pernah sekalipun kau membuat keributan, paham!" bentak Adi.
Setelah itu dia melangkah untuk keluar dari ruangan tersebut, namun lagi-lagi langkahnya terhenti lalu dia menatap kembali ke arah pria yang saat ini sudah berdiri dengan lemas.
"Jika benar salah satu keluargamu yang ingin mencelakai adikku, maka tamatlah! Aku akan menghabisi mereka satu persatu, dan akan ku penggal kepalanya dan kubawa kepadamu, paham!" Setelah itu Adi pun keluar dari ruangan tersebut diikuti oleh Vano
Sesampainya di luar dia memerintahkan anak buahnya untuk memberikan makanan kepada pria itu, karena walaupun Adi orang yang kejam tetapi dia tidak ingin membuat pria itu mati dengan mudah, karena sudah membuat orang tuanya pergi untuk selamanya. Jadi Adi akan membuat penyiksaan terlebih dahulu.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1