
Happy reading....
Hari ini semua pelayan sangat sibuk di rumah Adi sedari pagi, mereka seperti sedang menyiapkan untuk acara.
Rika yang melihat itu pun merasa heran, kemudian dia memanggil Nun lalu bertanya, "Nun, ini sebenarnya mau ada acara apa sih? Dari pagi saya perhatikan sepertinya semua pelayan sedang sibuk?" Amanda menatap ke arah pelayan yang sedang mondar-mandir.
"Saya juga kurang tahu Nyonya, mungkin Anda bisa bertanya secara langsung pada tuan muda," jawab Nun sambil menundukkan kepalanya.
Rika menganggukkan kepala, lalu dia mengeluarkan ponsel untuk menelpon Adi. Namun satu kali panggilan tidak dijawab, dan Rika tidak menelpon lagi, karena dia berpikir mungkin saja Adi sedang sibuk. Sebab pria itu keluar kota dari tadi pagi untuk menghadiri sebuah meeting yang sangat penting.
"Mbak, ini kenapa sih dari pagi kok kayaknya sibuk banget ya para pelayan?" bingung Mela saat berada di meja makan sambil mengupas buah jeruk di tangannya.
"Mbak juga nggak tahu, nanya Nun tadi kata dia suruh nanya Mas Adi, tapi ditelepon Mas Adinya malah nggak ngangkat. Mungkin dia lagi sibuk, jadi Mbak nggak mau untuk mengganggunya," jawab Rika sambil memakan salad buah buatan pelayan.
.
.
Sore hari saat Rika sedang berada di samping rumah memandangi bunga-bunganya yang bermekaran, tiba-tiba Nun datang.
"Maaf Nyonya muda, di depan sudah ada Tuan Vano yang sedang menunggu Anda."
Rika mengerutkan keningnya, sebab dia tidak tahu maksud dari ucapan Nun. "Untuk apa Vano menunggu saya?"
"Maaf Nyonya, kalau itu saya kurang tahu. Anda bisa menanyakannya secara langsung," jawab Nun.
Rika kemudian bangkit dari duduknya lalu menghampiri Vano yang sedang berada di ruang tamu. "Ada apa, Vano?"
"Maaf Nyonya muda, Anda diminta Tuan Adi untuk bersiap-siap dan ikut bersama dengan saya." Vano menundukkan kepalanya.
"Ikut ke mana?" tanya Rika dengan penasaran.
"Untuk itu saya tidak bisa memberitahukannya Nyonya, karena nanti Anda akan tahu sendiri."
__ADS_1
Rika pun mengangguk, kemudian dia naik ke lantai atas untuk berganti pakaian, setelah itu pergi bersama dengan Vano.
Sejujurnya Rika sangat penasaran, tapi dia tidak mau banyak tanya, hingga mobil memasuki pelataran hotel yang begitu mewah dan megah. Wanita itu pun mengerutkan keningnya, lalu Vano membuka pintu mobil.
"Kita ke hotel mau ngapain?" tanya Dika dengan panik.
"Tuan Adi sudah menunggu Anda di dalam Nyonya. Mari ikut saya!" Vano menundukkan tubuhnya mempersilahkan Rika untuk jalan terlebih dahulu.
Wanita itu pun tanpa banyak tanya, akhirnya berjalan dan melangkah memasuki Hotel walaupun sebenarnya berbagai pertanyaan muncul di benaknya, untuk apa Adi mengajaknya ke hotel? Karena mereka sudah bukan pengantin baru lagi.
Dan saat mereka sampai di depan pintu kamar, Vano berjalan mundur lalu meminta Rika untuk mengetuk pintu tersebut, dan tak lama pintu terbuka muncullah sesosok pria tampan yang tak lain adalah suaminya.
"Mas kita mau---"
"Masuklah dulu! Akan aku jelaskan," jawab Adi.
Rika pun masuk ke dalam dan di sana sudah banyak sekali orang yang berprofesi sebagai MUA. Di dalam kamar Itu juga terdapat baju pengantin yang begitu mewah dan juga sangat cantik.
"Mas, ini Kenapa banyak orang? Terus itu ada gaun pengantin. Memangnya siapa yang akan menikah?" bingung Rika
Namun Rika segera menggeleng dengan cepat, "Tidak! Sebelum kamu menjelaskan kepadaku sebenarnya ada apa ini, mas? Kenapa aku harus memakai gaun pengantin itu?" Rika menolak.
Mau tidak mau akhirnya Adi pun menjelaskan jika dia sudah menyiapkan resepsi pernikahan yang mewah untuk mereka berdua, dan tentu saja itu membuat Rika sangat terkejut. Sebab ia tidak pernah menyangka jika Adi akan mempersiapkan apa yang seharusnya mereka lakukan saat awal menikah.
"Tapi Mas, apa ini tidak terlambat?"
"Tidak ada kata terlambat untuk kita. Sudah, sebaiknya kamu duduk karena MUA akan merias wajah kamu, dan acaranya akan dimulai jam 08.00 malam." Adi pun berpamitan keluar karena dia harus menemui Vano dan Dimas.
Sesampainya Adi di salah satu kamar di sana sudah ada Vano dan juga Dimas yang menunggu dirinya, kedua pria itu diperintahkan Adi untuk datang ke hotel tersebut karena ada yang ingin dibicarakan oleh Adi.
"Sebenarnya apa sih yang ingin lo sampaikan pada gue?" tanya Dimas sambil menghisap rokok di tangannya.
"Kerahkan semua anak buah untuk menjaga hotel ini! Karena banyak rekan bisnis yang datang, dan aku tidak ingin terjadi apapun dengan istriku."
__ADS_1
"Oh ... kalau soal itu lo nggak usah khawatir! Tanpa lo suruh juga, gue udah kerahin semua anak buah terbaik gue. Dan semua dinding juga udah dilapisi anti peluru, hadi lo nggak usah cemas, tenang aja! Gue udah buat keamanan yang super ketat, jadi kalau ada musuh dari dalam tidak akan bisa menyakiti lo maupun Rika," jawab Dimas dengan santai.
Adi bisa tersenyum dengan lega, dia bisa mengandalkan sahabatnya, karena Adi sangat tahu jika Dimas adalah anggota CAI dan dia juga dari kalangan mafia dan sudah pasti pria itu bisa diandalkan dalam hal keamanan.
.
.
Tepat jam 08.00 malam, acara dilangsungkan di mana semua tamu undangan sudah berkumpul. Di sana ada 100 anak buah dari Dimas dan juga Adi yang berjaga.
Tak lupa di sana juga ada Galang dan juga kedua orang tua dari Rika, karena Adi sengaja mengundang mereka. Namun mereka tidak tahu jika sebenarnya Adi lah yang sedang mengadakan acara, dan pastinya mereka akan sangat syok saat melihat siapa yang telah mengundangnya.
Di dalam kamar Adi tersenyum sinis sambil menatap pantulan dirinya di cermin. Rasanya dia sudah tidak sabar ingin segera turun ke lantai bawah dan membuat kejutan untuk mertua dan juga pria yang selama ini mengejar-ngejar istrinya.
Adi ingin melihat ekspresi dari wajah mereka saat mengetahui siapa pria yang selama ini mereka hina, mereka caci dan maki, dan mereka rugikan kebunnya. Sudah pasti wajah dari ketiga orang itu akan pucat pasi.
"Ayo sayang kita turun ke bawah!" ajak Adi sambil merentangkan tangannya.
Rika mengangguk, kemudian mereka berjalan menuruni lift, dan setelah keluar semua tamu undangan sudah berkumpul dan sedang meminum minuman.,
Semua mata tertuju kepada Adi dan juga Rika saat mereka berjalan di pelataran karpet merah untuk menuju pelaminan. Namun Galang dan juga kedua orang tua Rika belum menyadari, sebab mereka masih berbicara dengan rekan bisnis yang kebetulan diundang juga oleh Adi
"Jadi yang mengundang kita ini CEO pemilik dari Permata Group?" tanya Papa Renal kepada Galang.
"Iya Om, aku sudah tidak sabar karena konon katanya pemilik dari Permata Vroup ini sangat langka untuk menunjukkan wajahnya. Jadi ini kesempatan emas bagi kita, siapa tahu kan Kita juga bisa mengajukan kerja sama bisnis sama dia?" Galang menaik turunkan alisnya dan langsung dibalas anggukan mantap oleh Papa Renal.
Kemudian terdengar suara MC yang meminta perhatian tamu undangan, membuat Papa Renal, tante Cantika dan Galang seketika menoleh ke arah panggung. Dan alangkah terkejutnya mereka bertiga saat melihat Adi tengah tersenyum bahagia bersama dengan Rika.
"Loh! Itu bukannya si pria miskin!" ucap Galang dengan wajah yang kaget
"Iya, itu bukannya Rika dan juga suaminya!" kaget tante Cantika
Begitu pula dengan papa Renal yang tak kalah kagetnya. Ketiga pasang mata itu membulat dengan mulut sedikit menganga saat melihat Adi dan juga Rika tengah berdiri di atas pelaminan.
__ADS_1
BERSAMBUNG. ....