
Happy reading.....
"Mela, kamu kenapa?" tanya Rika saat tiba-tiba saja Mela masuk ke dalam kamarnya dalam keadaan sudah menangis.
Wanita itu langsung memeluk tubuh kakak iparnya, karena Mela merasa dadanya begitu sesak. Dia pun tidak tahu kenapa hal itu bisa terjadi, namun Mela merasa jika terjadi sesuatu kepada suaminya.
"Aku nggak tahu, Mbak. Tapi entah kenapa, perasaanku sedari tadi tidak enak. Tadi juga foto pernikahan aku sama Mas Revan jatuh Mbak," jawab Mela sambil menghapus air matanya.
Rika yang mendengar itu pun terdiam. Dia juga mengkhawatirkan keadaan Revan, namun wanita itu tidak ingin menunjukkannya di hadapan Mela.
Kemudian Rika menggenggam tangan adik iparnya mencoba menenangkan perasaan Mela, karena dia takut jika nanti akan berpengaruh kepada kandungannya yang masih sangat muda.
"Jangan terlalu dipikirkan. Terkadang itu hanya perasaan kita saja. Kamu kan lihat sendiri tadi Revan dari sini berangkat tidak kenapa-napa. Sudah kamu coba telepon?" tanya Rika.
"Sudah Mbak, tapi nomornya tidak aktif. Itu membuat aku semakin cemas." Mela menampilkan wajah yang begitu khawatir.
Rika mengusap pundak Mela, dia mencoba untuk menenangkan sang adik, memberikan pengertian bahwa mungkin itu hanya firasat saja, belum tentu benar. Dan Mela mencoba untuk berpositif dan tidak bernegatif thinking.
Untuk menenangkan pikiran Mela, Rika membawa adik iparnya menuju dapur untuk membuat salad buah, dan tentu saja Mela langsung menganggukan kepalanya.
Akan tetapi, saat mereka sedang asyik membuat salad di dapur, tiba-tiba saja Adi datang dengan sedikit berlari. Wajahnya terlihat begitu panik dilanda ketakutan.
"Mas, kamu kok pulang-pulang nggak ucap assalamualaikum?" kaget Rika saat melihat Adi.
Pria itu tidak menjawab, dia menatap ke arah Mela. "Ayo ikut Mas sekarang! Kita harus ke rumah sakit!" ajak Adi dengan wajah yang sudah dilanda kepanikan.
Mela yang bingung pun menatap sang kakak dengan menyipit. "Mas kenapa sih, datang-datang kok kayak orang panik? Terus ngapain kita ke rumah sakit? Siapa yang sakit?" tanya Mela.
"Nanti kamu akan tahu. Ayo cepat! Sayang, kamu di rumah dulu ya! Nanti kalau ada apa-apa kamu telepon aku," ujar Adi kepada Rika, dan wanita itu hanya menganggukan kepalanya saja.
Sebenarnya Rika ingin ikut, karena dia juga penasaran kenapa wajah suaminya begitu dilanda kepanikan, dan dari sorot matanya terlihat pria itu sangat takut. Namun Rika tidak ingin menambah suasana menjadi rumit.
Selama di dalam mobil Mela terus aja bertanya kepada Adi, namun pria itu diam seribu bahasa. Membuat Mela seketika mendengkus dengan kesal, karena dia benar-benar sangat penasaran, kenapa Adi membawanya ke rumah sakit.
Namun tiba-tiba saja pikiran Mela tertuju kepada Revan. "Mas Adi, jangan bilang kalau ini ada hubungannya dengan mas Revan? Dia baik-baik aja kan, Mas?" panik Mela.
Mobil terparkir di pelataran rumah sakit, pria itu menatap ke arah sang adik, kemudian dia mengusap pipi Mela dengan lembut. "Iya, Revan masuk rumah sakit karena kecelakaan."
"Apa! Kecelakaan!" kaget Mela.
Air matanya sudah tak bisa dibendung lagi, karena dia begitu amat sangat terkejut dengan kabar yang baru saja dia dengar.
Adi memeluk tubuh sang adik, dia tahu jika saat ini Mela pasti sedang terpukul. Wanita itu meraung saat mendengar jika suaminya kecelakaan dan masuk ke dalam rumah sakit.
"Lalu bagaimana keadaannya Mas Revan sekarang, Mas? Bagaimana? Dia tidak apa-apa kan? Lukanya tidak parah kan, Mas?" tanya Mela memberondong Adi dengan pertanyaan.
"Kita ke dalam, kamu akan tahu jawabannya! Mas juga belum terlalu tahu bagaimana kondisinya sekarang. Ayo!" Adi mengajak Mela untuk turun.
Kemudian mereka masuk ke dalam rumah sakit menuju ruang UGD, di mana saat ini ada Dimas yang sedang duduk di ruang tunggu sambil meremas kedua tangannya. Terlihat dari gerak-gerik pria itu seperti sedang gelisah.
__ADS_1
"Dimas?" panggil Adi.
"Astaga! Lo ke mana aja sih, lama banget ngejemput Adek doang? Cepetan! Itu di dalam si Revan udah sekarat, dia mau bertemu sama Mela," ucap Dimas dengan nada sedikit kesal, karena sedari tadi dia menunggu kehadiran Adi bersama dengan Mela.
Beberapa saat yang lalu Dokter mengabarkan jika saat ini Adi tengah sekarat, dan dia terus mengulang nama Mela, istrinya. Dan dia ingin bertemu dengan wanita itu.
Lutut Mela terasa lemas, tubuhnya hampir saja limbung. Untung ada Adi yang sigap menahan pinggangnya.
"Apa! Mas Revan sekarat!" kaget Mela dengan dada yang sudah bergemuruh menahan rasa sesak. Tubuhnya bergetar menahan tangis, membayangkan jika dia hidup tanpa kehadiran Revan.
"Kamu yakin mau masuk ke dalam, Dek?" tanya Adi memastikan, karena melihat kondisi Mella saat ini dia benar-benar khawatir dengan kandungan wanita itu.
"Iya Mas, aku mau bertemu dengan Mas Reva,"n jawab Mela. Kemudian Adi mengangguk, lalu dia mengantar adiknya untuk masuk ke dalam bersama dengan Dimas.
Saat sampai di sana kaki Mela benar-benar lemas namun dia memaksakan untuk melangkah mendekat ke arah Revan, di mana saat ini pria itu tengah dipasangkan alat-alat di tubuhnya.
Alat bantu pernafasan pun tak luput menempel di tubuh suaminya. Mela segera menghambur dan memeluk tubuh Revan, dia menangis meraung saat melihat kondisi suaminya yang saat ini tengah tertidur lemas di atas ranjang rumah sakit.
"Kenapa Mas? Kenapa kamu jadi begini? Tadi pagi kamu nggak apa-apa keluar dari rumah. Tapi sekarang kenapa kamu malah masuk ke sini, bukannya ke kantor!" teriak Mela dengan histeris.
Dokter dan suster hendak menghalangi, akan tetapi Adi menggelengkan kepalanya. Dia tidak membiarkan dokter ataupun suster mengusik mereka berdua.
Revan menatap sayu ke arah sang istri, kemudian dia menggenggam tangan Mela, lalu mencoba untuk tersenyum. Walaupun sebenarnya wajah pria itu teramat sakit.
"Mas bahagia pernah menikah denganmu. Mas beruntung memiliki istri seperti dirimu. Mas berharap, kita akan dipersatukan di alam lain. Mas hanya meminta satu hal dari kamu! Tolong jaga baik-baik anak kita! Jangan biarkan dia menderita, karena emas akan selalu ada di sisi kalian, di hati kamu ,"ucap Revan dengan suara sedikit terbata.
Adi memalingkan wajahnya, dia tak kuasa menahan tangis. Walaupun sebagai laki-laki pantang untuk meneteskan air mata, tapi momen haru yang ada di hadapannya begitu menyayat hati.
Adi tak bisa membayangkan jika dia ada di posisi Revan ataupun Mela, pasti dirinya juga tidak akan kuat jika harus kehilangan orang yang paling ia cintai, dan Adi sudah pernah merasakan itu.
Sementara Dimas hanya menundukkan kepalanya, dia tak kuasa menahan rasa sesak jika ada di posisi Mela.
"Mas Adi?" panggil Revan sambil melambaikan tangannya.
Adi yang mendengar itu pun segera mendekat ke arah adik iparnya. "Iya, kenapa Revan?"
"Aku titip Mela ya. Jaga dia! Jagalah keponakan Mas Adi, jangan biarkan Mela terpuruk," ucap Revan. Sementara Mela hanya menggeleng sambil menangis menjerit di dalam pelukan pria itu, karena dia tidak ingin mendengar kata kehilangan.
"Mas selalu menjaga Mela. Dia adalah kesayangannya mas, tidak mungkin jika mas tidak menjaganya dengan baik," jawab Adi menahan tangisnya.
Mela melepaskan pelukannya, dia menatap kesal kepada Revan. Bagi Mela Revan tengah melantur dalam berbicara, apalagi dengan kondisinya saat ini.
"Sayang, jangan menangis!" pinta Revan.
"Kamu memintaku untuk tidak menangis Mas sedangkan dari tadi kamu berbicara ngelantur. Bisa bayangin nggak di posisiku seperti apa? Aku tidak bisa kehilangan kamu, Mas. Aku tidak mau! Kita harus tetap bersama sampai anak kita lahir Mas. Kalau kamu tidak ada, maka aku pun akan tiada!" jerit Mela.
Revan menggelengkan kepalanya dengan lemah, dadanya semakin sesak apalagi saat melihat sang istri menangis meraung karena tidak mau kehilangannya.
Bukan Revan ingin berbicara melantur, tapi dia merasa waktunya tidak banyak lagi. Dadanya semakin sesak, walaupun hanya untuk bernafas dia harus menahannya.
__ADS_1
"Sayang, umur tidak ada yang tahu. Mas merasa waktu mas tidak banyak lagi. Bolehkah Mas meminta sesuatu kepadamu?" ucap Revan dengan nada yang lirih dan terbata.
Mela menggelengkan kepalanya dengan kuat, dan melihat itu Adi memegang pundak sang adik sambil menganggukkan kepalanya. Dia memberi kode kepada Mela agar mengiyakan ucapan dari suaminya.
"Mas tapi aku tidak bisa kehilanganmu." Mela sudah mulai tenang, tapi tetap dadanya terasa sesak saat melihat dan mendengar suaminya berkata seperti itu.
"Aku tahu. Tapi percayalah, jika kita berjodoh Tuhan akan menyatukan kita di alam lain. Mungkin kita tidak berjodoh di dunia, tapi kamu lupa, bahwa aku akan selalu ada di sini. Apalagi sekarang kamu lagi hamil anak kita. Dan saat kamu merindukanku, kamu dapat melihatnya lewat benih yang ku tanam. Jadi tolong jaga anak kita ya!"
Mela memejamkan matanya, air mata terus saja mengalir tanpa bisa dicegah. Dia beberapa kali menghapusnya, akan tetapi tetap saja air mata itu menggambarkan rasa sakit yang dirasakan oleh wanita tersebut.
Terlihat Revan mulai sedikit kesulitan dalam bernafas, dan dokter langsung membantunya tapi Revan menahan dokter tersebut.
Kemudian pria itu menatap ke arah Dimas. "Tuan, bolehkah mendekat!" pinta Revan dengan suara yang sudah terbata-bata.
Dimas menunjuk dirinya sendiri, kemudian dia melangkah mendekat ke arah Revan, lalu pria itu langsung mengambil dan menggenggam tangan Dimas lalu menyatukannya bersama dengan Mela, membuat kedua orang itu seketika menatap Revan dengan kaget juga heran.
Seketika perasaan Dimas menjadi tak enak.
'Napa perasaan gue mendadak gak enak ya?' batin Dimas.
"Tolong berjanjilah untuk menjaga istriku, setelah aku tiada! Tolong nikahi dia! Jagalah dia dan juga anak dalam kandungannya! Jangan pernah menyakitinya, karena Mela adalah harta yang paling berharga yang ku punya. Aku akan sangat bahagia dan merasa tenang, jika Mela berada dengan orang yang tepat. Dan ku yakin, Anda orang yang sangat baik dan mampu menjaga istri dan anakku," lirih Revan.
Kedua mata Dimas dan juga Mela seketika membeliak kaget saat mendengar permintaan terakhir dari Revan. Wanita itu segera menggelengkan kepalanya, karena dia merasa permintaan Revan begitu konyol.
"Mas apa, yang--"
"Aku mohon! Ini adalah permintaan terakhirku sayang. Menikahlah dengannya! Karena aku akan merasa tenang jika kalian bersama dan kamu berada pada orang yang tepat. Tolong berjanjilah kepadaku!" pinta Revan sambil menahan sesak di dadanya.
Dimas hanya diam saja, dia masih sangat syok dengan permintaan pria yang saat ini tengah sekarat di hadapannya. Karena bagi Dimas, bagaimana mungkin bisa Revan menitipkan Mela kepadanya? Padahal dia tidak mengenal Dimas seperti apa.
Akan tetapi Adi memegang pundak sahabatnya, dia percaya bahwa Dimas bisa menjaga Mela. Dan dia yakin, karena Adi sudah sangat mengenal bagaimana perangai Dimas.
"Please! Kumohon, Iya kan permintaan Revan! Aku percaya padamu, bahwa kau bisa menjaga adikku!" pinta Adi.
"What! Are you crazy!" kaget Dimas yang tidak menyangka jika Adi pun setuju dengan ucapan Revan.
Dimas benar-benar di ambang kebingungan, dia melihat Revan sudah hampir menghembuskan nafas terakhirnya, tapi tatapan pria itu memohon kepadanya.
Satu tangan mengusap wajahnya dengan kasar. "Oke, aku akan menjaga Mela. Tapi aku tidak mencintainya. Namun aku akan berusaha untuk menjaganya beserta dengan anakmu. Jika suatu hari nanti aku belum mencintainya, dan dia sudah menemukan tambatan hatinya, maka aku akan melepaskannya. Di sini aku hanya sekedar untuk menjaganya saja," ucap Dimas.
Revan tersenyum saat mendengar ucapan dari pria itu. "Terima kasih," lirih Revan, kemudian dia melirik ke arah istrinya lalu mengusap perut Mela.
"Papa akan selalu ada untuk kalian. Jangan pernah menangis! Karena aku akan bersedih saat melihat air matamu jatuh. Tersenyumlah, karena kita hanya terpisah di dunia namun di akhirat kita akan dipersatukan lagi! Ingat sayang, tiada yang kekal dan abadi," ujar Revan. Setelah itu dia menghembuskan nafas terakhirnya hingga bunyi yang begitu melengking terdengar nyaring di telinga Mela.
"Tidaaak! MAAAS REVAAAN! jangan tinggalkan aku Maas! Maaas Revaaan!" jerit Mela sambil mengguncang tubuh Revan yang saat ini sudah tidak bernyawa.
Jiwanya yang terguncang atas kehilangan orang yang paling ia cintai membuat Mela seketika tak sadarkan diri, dan melihat itu Adi tentu saja sangat panik. Dia meminta dokter dan juga suster untuk memeriksa keadaan Mela, setelah membaringkannya di ranjang rumah sakit yang ada di sebelah jasad Revan.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1