
Happy reading.....
Selesai mempersiapkan bekal Rika dan juga Adi pergi ke sawah. Mereka menaiki sepeda karena jarak sawah dan juga rumah lumayan jauh, menempuh perjalanan 30 menit memakai sepeda, apalagi harus naik turun bukit.
Setelah sampai mereka segera menuju Saung yang berada di tengah sawah. Dia memejamkan matanya sambil merentangkan kedua tangan, menghirup udara segar yang ada di sana.
Seumur hidupnya Rika belum pernah berada di tengah sawah, dan sekarang dia harus menjalani hidup yang sederhana bersama dengan suami tercinta.
"Wah ... sawahnya luas sekali ya Mas? Apa ini punya Mas semua, atau gimana?" tanya Rika pada Adi yang sedang mengasah goloknya.
"Tidak! Mas hanya punya 4 kotak sawah saja, selebihnya Itu punya orang. Punya Mas yang mengelilingi Saung ini Sayang," jawab Adi dengan lembut.
Rika menganggukkan kepalanya, kemudian dia mulai turun dan berjalan mengitari sawah di mana ada dua kotak yang Tanami dengan padi, sedangkan dua kotak lainnya berisi tanaman seperti jagung, cabai, kacang panjang, bawang dan juga yang lainnya.
Dia melihat jagung memang sudah siap untuk dipanen, dan tak lama Adi datang menghampirinya. "Kamu di sini saja, jangan turun! Biar mas yang memanen jagung," ucap Adi sambil membawa ember.
"Loh yang gak bisa gitu dong, Mas! Nggak papa, aku bantuin Mas manen jagung ya. Soalnya biar cepat selesai juga," jawab Rika kemudian ikut turun ke bawah.
"Ya sudah, tapi pelan-pelan ya," ujar Adi dan Rika langsung mengangguk. Kemudian mereka pun langsung memanen jagung tersebut.
Setelah mendapatkan 3 ember penuh, Adi membawanya ke Saung. Sementara Rika membuatkan kopi untuk suaminya, lalu mereka pun sarapan karena belum sempat untuk mengisi perutnya.
"Ayo Mas_ kita makan dulu!" ajak Rika, setelah menyiapkan makanan untuk suaminya.
"Terima kasih Dek," jawab Adi, kemudian dia meminum kopi lalu mulai memakan sarapannya.
Mereka pun mulai menyantap sarapannya. Rika merasa makanan itu sangat beda, walaupun hanya ada nasi goreng, ikan asin dan juga telur dadar. Entah kenapa dia merasakan nikmat yang luar biasa, yang tidak pernah ia rasakan saat berada di kota.
Biasanya Rika akan sarapan roti. Dia jarang sekali makan karbohidrat, tapi sekarang Rika harus menyesuaikan diri, bahwa ia tidak bisa lagi untuk sarapan seperti bule-bule lagi.
"Oh ya Mas, kalau di sini ada bawang, kacang panjang sama sayuran yang lainnya, berarti kamu tidak pernah beli dong? Lalu kalau dipanen, apakah buat sendiri atau dijual?" tanya Rika saat mereka selesai sarapan.
"Kadang Mas suka jual kalau terlalu banyak. Sisanya dibawa ke rumah untuk dimasak oleh Mela. Jadi kami menghemat untuk tidak beli sayuran. Kadang juga dijualin ke tetangga, karena kan kalau dari Mas secara langsung lebih murah. Terkadang juga ada ibu-ibu yang ke sini, tukang sayur. Paling sebentar lagi datang, sebab kan Mas udah panen jagung," jelas Adi.
Rika menganggukkan kepalanya, dia memang tidak menyangka jika kehidupan orang miskin ternyata tidak semiskin yang dia pikirkan. Mungkin dari segi harta mereka jauh di bawah Rika, dan mungkin juga jauh di bawah orang tuanya.
Akan tetapi ternyata dalam hal panganan orang miskin tidak melulu kesusahan, ternyata mereka memiliki berbagai cara agar bisa bertahan hidup.
__ADS_1
"Jadi sehat ya Mas, tidak usah beli makanan yang instan ataupun ke restoran. Semuanya sudah tersedia di sini, hanya mungkin tinggal beli bumbu-bumbu dapurnya saja," ujar Rika.
"Iya, kamu benar sayang. Memang tinggal beli bumbu dapurnya saja, kalau untuk sayur-sayuran Mas dan juga Mela lebih suka menanamnya sendiri. Karena selain hemat juga menyehatkan, lagi pula di sini ada empat kotak sawah, jadi sayang kalau tidak digunakan secara baik."
"Lalu untuk padi sendiri Mas, belum panen?" tanya Rika yang memang tidak tahu soal pertanian
"Kalau padi panennya 3 bulan sekali sayang," jawab Adi.
Terlihat seorang ibu-ibu berbadan gempal menuju Saung dan berjalan di pinggir sawah. Dan setelah sampai ternyata dia adalah ibu-ibu tukang sayur yang biasa membeli sayur di tempat Adi.
"Assalamualaikum Mas Adi, kemarin bilang kalau jagungnya mau panen. Mana Mas?" tanya ibu tersebut.
Kemudian Adi mengeluarkan 2 ember jagung. "Ini Bu, ada 2 ember sudah saya timbang juga, dan seperti biasanya," jawab Adi pada ibu tersebut.
Tanpa berbasa-basi ibu itu pun memberikan empat lembar uang berwarna merah kepada Adi. "Ya sudah, kalau gitu saya tinggal dulu. Nanti akan ada anak buah saya yang mengambilnya ya Mas. Oh iya, untuk sayuran yang lain apa ada lagi? Kebetulan stok sayuran saya sudah habis?" tanya ibu tersebut.
Adi pun menjelaskan jika masih ada kacang panjang dan juga sawi hijau. Akhirnya diborong oleh ibu tersebut, dan Adi hanya menyisakan sedikit untuk dimasak di rumah.
.
.
"Assalamualaikum," ucap Adi dan juga Rika bersamaan.
"Waalaikumsalam," jawab Mela. Kemudian dia membantu Adi membawa ember beserta sayuran yang dibawa oleh Rika.
"Wah ... jagungnya besar-besar sekali Mas. Enaknya kita bikin apa ya?" tanya Mela pada sang kakak.
"Terserah kamu saja. Nanti bicarakan sama Rika, enaknya kalian apain. Kalian kan perempuan, lebih paham. Kalau Mas tinggal makan aja," kekeh Adi." Ya sudah, Mas masuk dulu ya mau shalat ashar, soalnya udah lewat."
Rika dan Mela pun berkutat di dapur, memasak sayuran kacang panjang, sawi hijau dan juga menggoreng tempe yang dibeli Mela tadi pagi.
Rika melihat bumbu dapur penuh dari mulai bawang merah, bawang putih, cabai. Dia tidak menyangka jika untuk bahan masakan tidak perlu khawatir.
"Kita bikin perkedel sama rebus jagung saja, gimana Mbak?" tanya Mela.
Rika terdiam, kemudian dia pun mengangguk. "Ide yang bagus. Kalau gitu kita kerjakan sekarang!" jawab Rika.
__ADS_1
Kemudian mereka pun mulai memasak bahan-bahan masakan tersebut. Tapi Rika merasa heran sebab Mela merebus jagungnya lumayan banyak, sedangkan di sana mereka cuma bertiga.
"Kenapa kamu merebus jagungnya banyak sekali, Mela?" tanya Rika dengan heran.
"Iya Mbak, soalnya di persimpangan Desa ada pasar malam. Jadi Mela mutusin untuk jualan, lumayan kan uangnya," jawab Mela sambil tersenyum.
"Ya sudah, nanti Mbak ikut jualan ya," ujar Rika dan Mela langsung mengangguk.
Rika begitu kagum dengan pribadi Mela yang mandiri.
Setelah selesai memasak makanan untuk nanti malam, Rika pun memutuskan untuk membersihkan dirinya, lalu dia menunaikan shalat ashar.
.
.
Tepat jam 07.00 malam Adi membantu Mela dan juga istrinya membawa jagung ke pasar malam untuk dijual.
Dan ini kali pertama Rika berjualan di tempat umum. Apalagi di desa terpencil seperti itu. Dia tidak menyangka jika kehidupan orang desa ternyata sangat menyenangkan.
Orang-orangnya ramah tamah, bahkan tidak sungkan untuk menyapa satu sama lain. Mela juga memberikan sebagian jagung rebusnya kepada tetangga, padahal jika di kota jangankan untuk hal seperti itu, membagi makanan satu sama lain saja terasa begitu sungkan.
"Mas tinggal dulu ya, soalnya ada yang harus Mas bicarakan sama teman," ucap Adi meninggalkan istri dan juga adiknya untuk berjualan.
Semua terpana melihat kecantikan Rika, bahkan beberapa lelaki juga membeli jagung bakar di sana. Tepatnya mereka ingin mencuri-curi pandang ke arah Rika, karena semua terpesona sebab baru kali ini ada wanita cantik dengan wajah mulus, tubuh yang molek di desa mereka.
"Neng Mela, ini siapa cantik sekali?" tanya Dodit pemuda kampung di desa itu.
"Ini Mbak Rika, dia kakak ipar aku, istrinya Mas Adi," jawab Mela sambil tersenyum ke arah Dodit.
"Hah! Istrinya Adi? Memang kang masmu itu sudah menikah?" kaget Dodit yang baru mendengar jika Adi sudah menikah.
"Iya Mas. Mas Adi sudah menikah dan ini istrinya. Kebetulan mereka menikah di kota, dan memang tidak di rame-ramekan, sebab biayanya juga tidak ada," jawab Mela sambil memberikan kantung plastik yang berisi jagung rebus kepada Dodit.
"Begitu. Selamat datang ya Mbak di desa ini, semoga betah. Mas Adi beruntung sekali mendapatkan Mbak, sangat cantik." Puji Dodit, namun Mela yang mendengar itu merasa tak suka, sebab pria tersebut malah menggoda dan merayu kakak iparnya.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1