Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)

Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)
Lamaran Mela


__ADS_3

Mela baru saja sampai di rumah, dan dia saat ini melihat ke arah Adi yang di mana sudut bibirnya terlihat memar. Gadis itu pun merasa heran, kemudian dia duduk di hadapan Adi.


"Mas Adi, itu bibir kamu kenapa memar? Mas habis berantem sama Mbak Rika atau habis bergelut sama alat masak di dapur?" tanya Mela sambil terkekeh.


"Jangan meledek. Tadi Mas habis latihan tinju sama tetangga sebelah."


Mendengar itu Mela malah memanyunkan bibirnya. "Aku serius nanya, Mas. Itu bibir kenapa?"


"Tadi ditonjok sama Papanya Mbak," jawab Rika.


Mela tentu saja sangat kaget saat mendengar hal tersebut, dia tidak tahu jika orang tuanya Rika datang ke rumah


Kemudian Rika pun menjelaskan tentang keinginan Papahnya datang ke sana, dan mendengar hal itu Mela tidak habis pikir apa yang ada dalam pikiran orang tua tersebut. Bukannya senang melihat kebahagiaan putrinya, tapi malah ingin membuatnya menderita.


"Aku benar-benar bingung deh Mbak sama Papanya, Mbak itu? Apa sih yang ada di dalam otaknya? Atau jangan-jangan otak Papanya Mbak itu, sudah diganti dengan flash disk dari robot lagi?" celetuk Mela.


Adi yang mendengar ocehan dari adiknya pun melemparkan kulit kacang yang berada di atas meja.


"Kalau ngomong itu disaring dulu, jangan main asal nyeletuk aja," ujar Adi.


"Ya habisnya aku kesel." Mela menekuk wajahnya.


Karena hari sudah mulai sore, Mela dan juga Rika menyiapkan bahan-bahan masakan untuk makan malam. Dan selama memasak itu pula Mela juga menceritakan tentang tadi saat berada di rumahnya Ibu Tia, di mana dia memasak kue bersama wanita itu yang sebentar lagi akan bergelar menjadi mertuanya.


"Mbak senang deh, akhirnya kamu bisa mendapatkan jodoh yang terbaik. Dan Mbak berharap Revan memang pria yang baik dan bertanggung jawab," ucap Rika sambil mengusap bahu Mela.


"Aamiin! Aku juga berharap seperti itu Mbak," jawab Mela sambil memeluk tubuh Rika.

__ADS_1


.


.


Hari ini adalah hari yang dinanti oleh Mela, di mana Revan akan datang bersama dengan ibunya untuk melamar Mela secara resmi, dan semua persiapan sudah disiapkan.


Mela juga sudah siap dengan dress selutut berwarna peach. Dia terlihat begitu sangat manis dan juga cantik, ditambah polesan make-up yang natural, membuat kecantikannya terpancar dan siapa saja yang melihatnya pasti akan terpesona.


"Ya ampun, kamu itu cantik banget sih. Gimana nanti kalau lagi nikahan? Pasti MUA-nya aja dibuat pangling," goda Rika sambil menyenggol bahu Mela.


"Aku benar-benar gugup, Mbak," Jawab Mela.


"Jangan gugup. Ini kan masih lamaran, belum nikahan?" kekeh Rika kemudian dia memeluk tubuh Mela.


Seketika Rika teringat tentang kenangannya saat Adi melamar dirinya beberapa bulan yang lalu. Dia berharap kisah cinta Mela bersama dengan Revan bahagia, tidak seperti dia dan juga suaminya yang ditentang oleh keluarganya sendiri.


Setelah itu Rika pun keluar, karena dia harus menyiapkan beberapa makanan untuk menyambut kedatangan Bu Tia dan juga Revan.


Revan sedari tadi terus aja menatap ke arah Mela, sebab wanita itu terlihat sangat berbeda dari biasanya.


Dan Mela yang terus aja ditatap oleh Revan pun menjadi malu. Dia menundukkan wajahnya dengan pipi yang sudah merona.


"Tentunya Nak Adi dan juga Nak Rika tahu, kedatangan kami ke sini untuk melamar Mela secara resmi. Karena suami saya sudah tidak ada, jadi di sini saya mewakilkan suami saya melamar Mela, untuk putra saya, Revan. Seperti yang kita tahu, mereka tentunya sudah menjalin hubungan dan saya tidak ingin jika mereka pacaran lama-lama. Jadi ada baiknya keduanya lebih baik menghalalkan secara langsung," ujar Bu Tia.


Adi melirik ke arah Mela, sebab keputusan semua ada di tangan wanita itu. Karena Adi tahu, kebahagiaan hanya Mela lah yang menentukan, karena yang akan menjalani rumah tangga nanti adalah sang adik, bukan dirinya. Dan sebagai kakak dia hanya bisa mendukung.


"Semua keputusan saya serahkan kepada Mela, karena di sini dialah yang menjalani. Saya sebagai kakak hanya mensupportnya saja," jawab Adi sambil menatap ke arah sang adik.

__ADS_1


"Bagaimana Mela? Apa kamu menerima lamarannya Revan?" tanya Rika sambil menggenggam tangan Mela.


Gadis itu mengangkat wajahnya, menatap Revan dan juga Bu Tia bergantian. Jantungnya berdetak dengan kencang, sebab dia merasa sangat deg-degan.


"Bismillah, iya, Mela menerima lamaran dari Mas Revan," jawab Mela dengan wajah malu-malu.


Mendengar hal tersebut Revan tersenyum, kemudian mereka pun berbincang untuk menentukan tanggal pernikahan antara keduanya. Dan Bu Tia serta Adi sudah sepakat jika pernikahan Mela dan juga Revan akan dilangsungkan satu bulan lagi.


Dan mulai besok Bu Tia akan mulai sibuk untuk mempersiapkan semuanya, dibantu oleh Rika dan juga Mela.


Setelah urusan selesai, Bu Tia dan juga Revan pamit untuk pulang diantar oleh Mela, Rika dan juga Adi sampai teras, dan di sana juga Revan sudah menyematkan cincin lamarannya kepada Mela untuk menandakan jika wanita itu sudah ditandai oleh Revan menjadi miliknya.


Setelah kepergian dua orang tersebut, Mela langsung memeluk tubuh sang Kakak. Dia benar-benar bahagia sekali karena hubungan mereka bisa direstui dua keluarga dan tanpa ada hambatan.


"Mas doakan, semoga semuanya lancar ya Dek. Tiada hal yang membahagiakan bagi Mas, selain melihat kebahagiaanmu. Dan Mas sangat yakin, jika Revan pria yang baik. Jika dia berani menyakitimu, maka mas sendiri yang akan menghajarnya," ujar Adi sambil mengecup kening Mela.


"Makasih ya Mas. Mela benar-benar bahagia banget, karena Mas merestui hubungan kami," jawab Mela sambil memeluk erat tubuh Adi.


"Sama-sama, Mas hanya menjalankan kewajiban saja sebagai seorang kakak. Ya sudah, karena ini juga sudah sore, kalian jangan masak untuk makan malam ya! Sebab kita akan keluar, karena Mas mau ngajak kalian makan di luar," jawab Adi.


"Hah, makan di luar? Mas yakin? Tumben-tumbenan?" Mela mengerutkan dahinya.


"Memangnya kenapa? Kamu tidak mau? Kan sesekali tidak apa-apa. Ya sudah, sebaiknya kalian mandi terus siap-siap! Nanti selepas magrib sahabat Mas akan menjemput, kita akan pergi bersamanya."


Mela hanya menurut saja. Tentu saja dia sangat senang karena Adi mengajaknya makan malam di luar, hal yang tak pernah dilakukan oleh pria itu, karena melihat ekonomi mereka yang begitu sulit dan sederhana, membuat Mela juga tidak mau untuk meminta lebih dari Adi.


Sementara Rika menatap ke arah suaminya, kemudian dia memeluk pinggang Adi. "Tumbenan kamu mau ngajak makan di luar, Mas?"

__ADS_1


"Aku hanya ingin sesekali membahagiakan adik dan juga istriku. Apalagi kita kan tidak pernah makan di luar," jawab Adi sambil mencium kening Rika.


BERSAMBUNG....


__ADS_2