
Happy reading.....
Setelah sampai di rumah sakit Rika langsung dibawa ke ruang persalinan, di sana Adi menemani sang istri. Sementara Ibu Tia di rumah ditemani Dimas dan juga Mela walaupun keadaan adiknya saat ini sedang tidak baik-baik saja.
Pria tersebut menunggu di luar karena dokter tidak mengizinkannya masuk. Adi mengusap wajahnya dengan kasar, kemudian dia menjambak rambutnya.
Pria tersebut benar-benar frustasi dengan keadaannya sekarang, bahkan acara tahlilan pun belum selesai. Namun saat ini keselamatan sang istri lebih utama.
''Berani kalian bermain-main denganku! Berani kalian membuat keluargaku hancur lebur!" geram Adi sambil mengepalkan tangannya, kemudian dia menonjok tembok hingga tangannya memar.
Adi sudah mengetahui dalang dari kecelakaan Revan, namun dia juga belum berbicara secara serius dengan Dimas, karena suasana dan kondisi yang belum kondusif.
Saat ini tentu saja Adi merasa dilema. Di satu sisi adiknya membutuhkan sosok dirinya sebagai seorang kakak, yaitu mensupport dan ada di sisi Mela. Tapi di sisi lain, sang istri saat ini tengah melahirkan dan tentu saja Adi harus menemaninya.
'Ya Allah, selamatkanlah anak dan istriku. Jika perlu gantilah nyawaku dengan mereka. Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan mereka, ya Allah.' batin Adi sambil mondar-mandir di depan ruang persalinan.
Setelah beberapa jam menunggu, dokter pun keluar . Dan Adi yang melihat itu pun segera menghampiri sang dokter.
"Bagaimana keadaan istri saya? Dia selamat kan? Lalu lahirannya bagaimana? Lancar?" tanya Adi dengan wajah yang panik.
"Alhamdulillah lancar, ibu dan anaknya sehat. Dan selamat ya Pak! Bayi Anda laki-laki."
Mendengar itu tentu saja Adi sujud syukur, karena keselamatan istri dan anaknya itu yang lebih membahagiakan bagi dirinya. Kemudian dia langsung masuk dan mengazani putranya.
.
.
Sementara di tempat lain Mela tidak mau makan, bahkan pengawal A dan juga B sejak tadi terus aja membujuk Mela, agar wanita itu masuk makanan namun tidak sama sekali.
Dimas yang melihat keterdiaman Mela pun merasa sedih, karena walau bagaimanapun Revan sudah menitipkan wanita itu kepadanya, terlebih Mela adalah adik dari sahabatnya.
"Aku tahu, mungkin saat ini kau sedang terpuruk. Kau sedang kehilangan atas suamimu. Apa kau tidak ingat dengan perkataannya sebelum ia menghembuskan nafas terakhir?" ujar Dimas sambil menyandarkan tubuhnya di lemari.
Mela mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah pria yang diwasiatkan oleh suaminya.
"Dia mengatakan bahwa kau harus menjaga anakmu. Dia juga mengatakan bahwa jangan pernah kau bersedih, karena dia pun di atas sana akan bersedih. Apa kau ingin membuat anakmu tiada? Apa kau ingin kehilangannya, seperti kehilangan suamimu? Jika kau ingin itu terjadi, kenapa tidak ambil pisau dan tusuk aja tubuhmu sendiri, biar kalian pergi sama-sama! Dan asal kau tahu ya! Itu pastinya bukan hanya akan menyiksamu, tapi menyiksa suamimu di atas sana. Karena pesan terakhirnya tidak kau hiraukan, dan kau malah dengan sengaja menyiksa anakmu dengan tidak memberikannya asupan makanan," jelas Dimas panjang lebar.
Mela terdiam, perkataan Dimas mengetuk pintu hatinya. Seketika ingatannya terhadap perkataan Revan sebelum pria itu menghembuskan nafas terakhirnya pun berputar di kepala.
Kemudian dia menatap ke arah pengawal A lalu membuka mulutnya, melihat itu pengawalnya pun mengangguk kemudian dia mulai menyuapi Mela.
__ADS_1
Dimas tersenyum tipis, karena wanita tersebut mau mendengarkan ucapannya. Walaupun dia tidak menyahut atau menjawab perkataannya, namun bagi Dimas itu tidak penting. Kemudian dia keluar dari kamar Mela untuk menuju lantai bawah di mana saat ini orang-orang masih berkumpul.
"Bagaimana Vano? Apa tahlilannya lancar?" tanya Dimas.
"Iya, semuanya sudah berjalan lancar. Tapi kasihan jika jasadnya Tuan Revan tidak segera dimakamkan," jawab Vano sambil menatap sendu ke arah jasad pria yang masih terbujur kaku.
"Besok pagi kita akan memakamkannya. Aku akan pergi ke kamar tamu dulu untuk menemui orang tua dari Revan, karena saat ini Adi sedang menemani Rika di rumah sakit, sebab istrinya lahiran," ujar Dimas sambil menepuk pundak Vano.
Kemudian dia berjalan ke arah kamar tamu di mana saat ini Bu Tia tengah menangis ditemani oleh pelayan. Pria itu menatap sendu ke arah wanita paruh baya yang sedang meratapi kepergian putranya.
'Apakah jika aku yang meninggal, mama dan papa akan menangisiku seperti Bu Tia yang menangisi Revan?' batin Dimas saat mengingat kedua orang tuanya.
Dia berjalan mendekat ke arah Bu Tia, lalu duduk di hadapan wanita itu. Sementara Bu Tia hanya menatap kosong sambil menangis.
Dimas memegang tangan wanita paruh baya tersebut, membuat Bu Tia seketika menatap ke arahnya.
"Saya tahu apa yang Ibu rasakan saat ini mungkin sangat berat, untuk kehilangan Revan. Saya mengenalnya mungkin dengan waktu yang singkat, tapi kita tidak bisa menolak kehendak takdir. Revan akan sangat bersedih jika melihat Ibu seperti ini. Lihatlah keluar! Bahkan jasadnya belum dimakamkan, karena kami ingin mempertemukan ibu dan dia untuk terakhir kalinya. Revan pastinya tidak ingin melihat ibunya menangis, karena dia pun pasti akan bersedih. Dan saya sangat yakin, jika pasti Revan saat ini berada di sisi kita, dan dia mungkin sedang memeluk tubuh ibu," jelas Dimas menenangkan perasaan Bu Tia.
Mendengar itu Bu Tia semakin menangis tersedu-sedu, karena apa yang dikatakan oleh Dimas benar. Mungkin saja Revan ada di sampingnya saat ini dan tengah memeluk dirinya, tapi dia tidak bisa merasakan pelukan hangat dari putranya kembali.
"Ibu tidak sendirian. Mungkin Revan sudah pergi tapi ada saya, ada Mella, Adi dan juga Rika. Anggaplah kami sebagai Putra dan putrinya ibu," sambung Dimas kembali.
Wanita tersebut langsung memeluk tubuh Dimas, membuat pria tersebut seketika tersentak kaget. Namun dia mengerti dengan perasaan bu Tia saat ini.
'Aku merindukan pelukan hangat seorang ibu. Tapi rasanya itu hanya mimpi. Namun, merasakan pelukan ini. Aku seperti merasakan mama yang memelukku.' batin Dimas.
Entah kenapa Dimas merasa kasihan saat melihat seorang ibu yang ditinggalkan putranya, apalagi Revan adalah putra satu-satunya. Ditambah bu Tia sudah tidak memiliki suami.
.
.
Saat ini semua sudah berkumpul di pemakaman, sebab jasad Revan baru saja dimakamkan atas instruksi dari Adi.
Ibu Tia terus memeluk batu nisan dan menangis tersedu-sedu, karena dia masih merasa kehilangan atas kepergian putranya.
Entah bagaimana dia melewati hari-harinya tanpa Revan, di mana sudah tidak ada lagi sandarannya. Dan hanya Revan lah harta yang dia punya satu-satunya, namun Tuhan lagi-lagi mengambil harta itu darinya.
Adi yang melihat Ibu Tia menangis pun merasa tak tega, apalagi sedari semalam wanita itu bahkan tidak mau makan sama seperti Mela. Saat ini Mela tidak ikut ke pemakaman, karena kondisinya yang sedang tidak baik-baik saja, apalagi melas juga sedang diinfus.
"Saya tahu mungkin kepergian Revan meninggalkan luka yang begitu dalam di hati ibu, begitu pula dengan kami. Ditambah Mela juga sedang hamil, tapi Ibu tidak usah bersedih! Sebab ada aku, Rika dan juga Mela. Kami adalah keluarga Ibu. Jadi jangan pernah merasa sendiri! Justru Revan akan merasa bersedih jika Ibu terus menangis seperti ini," ujar Adi sambil memeluk tubuh Bu Tia.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu langsung memeluk tubuh Adi seketika. Air matanya terus saja mengalir, bahkan tidak kering sama sekali. Padahal semalaman dia terus berada di sisi jasad putranya.
"Hanya Revan yang Ibu punya. Bagaimana mungkin bisa Ibu hidup tanpanya? Kamu tahu kan! Ibu sudah tidak memiliki siapapun Nak, hanya Revan lah harta satu-satunya. Tapi sekarang Tuhan malah mengambilnya dari ibu, lalu ibu harus bagaimana?"
"Sebaiknya kita pulang ya, Bu! Langit juga sudah mendung, nanti kalau kehujanan Ibu juga bisa sakit. Untuk sementara Ibu di rumah dulu sampai acara tahlilannya Revan selesai!" ajak Adi.
Kemudian mereka pun berjalan menuju mobil lalu pergi dari pemakaman tersebut. Dan selama perjalanan Adi terus saja duduk di samping Bu Tia untuk menguatkan wanita itu.
Setelah pulang dari pemakaman, Adi langsung pergi ke rumah sakit, sebab Rika pasti membutuhkan dirinya. Dari tadi juga wanita itu terus memberikan pesan untuk menanyakan kabar Mela dan juga Bu Tia.
.
.
Di rumah sakit.
Rika baru saja selesai menyusui putranya, kebetulan air susunya memang sudah keluar dari usia kandungannya 7 bulan.
"Mas, bagaimana Bu Tia? Pasti sangat terpukul ya dengan kepergiannya Revan? Lalu, Mela vagaimana, Mas? Apa dia mau makan?" tanya Rika dengan raut wajah yang cemas.
Adi tersenyum, kemudian dia membelai rambut hitam legam milik sang istri. Kemudian Adi mencium kening Rika dengan lembut.
"Tidak usah khawatir. Mela mau makan kok, cuma tadi memang dia tidak ikut ke pemakaman sebab takut kalau nanti menangis dan pingsan kembali. Dan untuk Bu Tia, sudah ada pengawal yang menjaganya. Kamu juga jangan terlalu stress! Ingat kata dokter! Air susu kamu itu sangat berpengaruh , jadi kalau kamu banyak pikiran nanti kalau air susunya sedikit gimana? Kasihan anak kita," jelas Adi.
Rika menganggukkan kepalanya, kemudian dia bersandar di pundak sang suami sambil menatap Putra mereka yang sedang tertidur lelap karena kekenyangan.
"Oh ya Mas, siapa yang sudah berani mencelakai Revan?" Rika menatap ke arah sang suami.
"Tidak jauh sayang, rekan bisnisku. Dan mereka ingin mencelakai keluarga kita, tapi kamu tenang saja! Mas tidak akan membiarkan itu terjadi. Mas akan membalasnya!" jawab Adi dengan tegas
"Tapi aku tidak mau ya Mas, kalau kamu membalas nyawa dengan nyawa! Kamu boleh memberikan mereka hukuman dan pelajaran, tapi jangan sampai menghabisi nyawa seseorang!" pinta Rika.
Adi hanya menganggukkan kepalanya saja. 'Maaf Sayang, tapi untuk kali ini aku tidak bisa tinggal diam. Nyawa harus dibalas dengan nyawa! Aku harus membalaskan rasa sakit adikku, di mana mereka sudah merenggut kebahagiaan Mella!' batin Adi dengan penuh dendam.
Dia akan menjadi malaikat pada orang yang tepat, begitu pula sebaliknya. Adi akan menjadi iblis pada orang yang berani mengusik keluarganya.
'Aku harus segera berbicara dengan Dimas untuk menyusun rencana dan membalas rasa sakit Mela!' batin Adi.
Rika kembali istirahat, namun dia sama sekali belum mengetahui tentang wasiat dari Revan kepada Dimas, jika pria itu harus menggantikan posisinya.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1