Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)

Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)
Mengungkapkan


__ADS_3

Happy reading...


Adi membaca surat yang diberikan oleh Dimas, seketika matanya membulat dengan tatapan tak percaya, tangannya terkepal dengan rahang yang tegas.


Lututnya terasa lemas, seakan Adi tidak menyangka jika selama ini orang yang dia percaya telah mengkhianatinya. Kepalanya menggeleng dengan nafas memburu.


"Tidak kusangka, ternyata dia juga pelakunya. Jangan-jangan kecelakaan Revan juga ada kaitannya dengan dia?!" geram Adi sambil mengepalkan tangannya.


Terlihat urat-urat menonjol dari balik lehernya, sangat terlihat jelas jika pria itu sedang memendam kemarahan yang begitu membara di dalam dadanya.


Sementara di tempat lain, saat memastikan Noah sudah tertidur ditemani oleh Mama Cantika juga Ibu Tia, Rika berpamitan karena dia harus bertemu dengan Mela.


Wanita itu bingung, apakah ia harus menjelaskan kepada Mela tentang siapa Dimas atau tidak? Akan tetapi, jika Rika tidak memberitahu Mela tentang kebenarannya, saat wanita itu menikah dia pasti akan lebih terluka.


TOK! TOK! TOK!


Suara ketukan pintu terdengar, karena Rika ingin memastikan Mela sudah tertidur atau tidak. Kemudian dia masuk dan melihat Mela baru saja dari kamar mandi sambil mengelap mulutnya dengan tisu.


"Kamu kenapa? Muntah lagi?" tanya Rika.


"Iya nih, Mbak, biasalah mual sedikit," jawab Mela Noah ke mana sudah tidur.


"Iya, sudah ditemani neneknya. Oh iya, apa Mbak bisa berbicara sebentar sama kamu?"


"Tentu! Kita bicara di balkon aja yuk Mbak! Akhir-akhir ini aku ingin sekali duduk di sana sambil memandangi langit malam," ajak Mela


Rika mengangguk, kemudian mereka berjalan ke arah balkon di mana Mela langsung menatap ke arah luasnya langit yang ditaburi bintang-bintang.


Entah kenapa akhir-akhir ini Mela sering sekali memandangi langit gelap, dia merasa jika memandangi langit dirinya melihat keberadaan Revan, dan dia melihat jika Revan tengah tersenyum kepadanya.

__ADS_1


"Kenapa kamu melihat langit sampai segitunya?" tanya Rika sambil mengusap pundak Mela.


"Entahlah Mbak, aku merasa jika aku menatapnya, Mas Revan juga sedang melihatku sambil tersenyum dan melambaikan tangan," jawab Mela sambil memancarkan kesenduan, kerinduan dan kesedihan di wajahnya.


Hati Rika berdenyut sakit saat mendengar penuturan Mela. Sebagai perempuan dan istri, dia tahu jika perasaan Mela masih sangat hancur karena kepergian Revan.


Melihat keadaan Mela sekarang, Rika merasa ragu untuk mengungkapkan kebenaran tentang Dimas.


"Oh ya Mbak, tadi Mbak mau bicara apa?" tanya Mella membuyarkan lamunan Rika.


"Ah, tidak. Bukan apa-apa," Jawab Rika sedikit gugup.


Mela mengerutkan keningnya, merasa heran saat melihat Rika yang tiba-tiba saja terlihat gugup seperti itu. Namun, seketika dia ingat dengan Dimas.


"Oh iya. Apa Mbak sudah bertanya sama Mas Adi tentang Kak Dimas? Bagaimana? Apa sudah mendapatkan jawabannya?" tanya Mela yang sudah penasaran.


"Eeum ... anu ... Dimas ..." Rika terlihat ragu untuk mengungkapkan.


Beberapa saat Rika terdiam. Apa yang dikatakan Mela memang benar, jika wanita itu sudah tahu semuanya, dia bisa mengambil sikap bagaimana setelah mendengar kenyataan tentang Dimas.


"Baiklah, Mbak akan mengatakan tentang Dimas. Tapi satu hal Mungkin ini akan membuat kamu terkejut, tapi kembali lagi, keputusan ada di tanganmu."


Mela menganggukkan kepalanya, kemudian dia menatap lekat ke arah Rika. Wanita itu sudah tidak sabar ingin mendengar penjelasan dari kakak iparnya tentang calon suaminya.


"Tadi Mbak sudah bertanya kepada Mas Adi, dan Mas Adi bilang, bahwa Dimas tidak mempunyai kekasih."


"Lalu, tanda kepemilikan itu?" tanya Mela yang masih penasaran.


Sebab tidak mungkin Dimas tidak mempunyai kekasih dan bisa mendapatkan tanda kepemilikan seperti itu, tidak mungkin juga dia bisa menggigitnya secara mandiri.

__ADS_1


"Aneh. Kalau memang dia tidak memiliki kekasih, bagaimana tanda itu bisa ada di lehernya? Tidak mungkin zaman sekarang ada vampir, kan? Lagi pula, tidak mungkin juga jika dia menggigitnya sendirian kan? Mana bisa mulut langsung nyampe ke leher?" Mela menggelengkan kepalanya, sementara Rika terkekeh saat mendengar penuturan adik iparnya.


"Kamu benar. Mungkin saja memang ada vampir," Timpal Rika Sambil tertawa.


Setelah tawa keduanya selesai, kemudian Mela menatap serius ke arah Rika. "Jadi gimana, Mbak? Kalau dia tidak mempunyai kekasih, bagaimana tanda itu bisa ada?"


Rika membuang nafasnya dengan kasar, dia menatap lekat ke arah Mela, kemudian dengan berat hati dia pun mengatakan yang sebenarnya tentang Dimas.


Tentu saja Mela merasa sangat syok saat mendengar kenyataan tentang calon suaminya, di mana ternyata Dimas sering bermain perempuan.


"Keputusan ada di tangan kamu. Mau kamu batalkan atau tidak, itu terserah padamu. Tapi yang pasti dia tidak mempunyai kekasih, hanya itu tadi ... sering bermain wanita, tapi ..." Rika menggantungkan ucapannya.


"Tapi kenapa, Mbak?" tanya Mela.


"Entah kenapa, Mbak merasa Dimas melakukan itu bukan semata-mata karena kemauannya sendiri. Tapi mbak yakin, ada sesuatu hal yang mendorong dia melakukan itu. Karena begini ... dari yang Mbak ketahui, seseorang akan melakukan hal yang diluar batas, itu karena sebuah tekanan. Dan mbak sangat yakin, mungkin saja Tuan Dimas mempunyai tekanan, sehingga dia melampiaskannya dengan cara seperti itu," jelas Rika.


Mela menatap lurus ke arah depan, memikirkan kata-kata dari kakak iparnya. Mungkin saja apa yang dikatakan Rika itu benar, Dimas sedang mengalami tekanan yang begitu berat, sehingga dia harus melampiaskannya dengan cara kotor seperti itu.


"Mbak benar Mungkin saja memang seperti itu. Nanti biar aku pikirkan keputusan apa yang akan aku ambil. Tapi walau bagaimanapun, itu adalah wasiatnya Mas Revan. Selagi Tuan Dimas tidak memiliki kekasih, aku tidak punya jalan lain." Mela terlihat begitu pasrah.


"Semua ada di tanganmu! Mbak hanya bisa mendoakan, semoga rumah tangga kamu dan juga Dimas nanti langgeng sampai kakek nenek. Kalau gitu mbak ke kamar dulu ya, ngantuk. Soalnya kalau malam kan bangun harus nyusuin Noah."


Mela menganggukkan kepalanya, kemudian Rika pamit dari sana. Dia masih berdiri di balkon sampai keadaannya lebih baik, kemudian Mela masuk ke dalam kamar dan melihat foto Revan yang ada di bingkai di samping tempat tidur.


"Apa Iya Mas, keputusan kamu itu yang benar menitipkanku kepada Kak Dimas? Apa aku bisa bertahan dengannya, jika sifat dia suka bermain wanita? Apa aku bisa Mas?" ucap Mela dengan lirih sambil menatap foto Revan.


Dia merasa ragu, apakah bisa menjalani rumah tangga bersama dengan pria yang sering bermain wanita? Apalagi sering celup sana dan celup sini, sudah pasti pria itu tidak perjaka lagi.


Akan tetapi, semua manusia punya kekurangan, dan Mela tidak bisa men-judge Dimas dengan segala kekurangannya.

__ADS_1


'Aku harus tidur. Besok keputusan akan aku ambil!' batin Mela, kemudian dia merebahkan tubuhnya menyelam ke alam mimpi sambil memeluk baju Revan yang belum dicuci sama sekali, karena bau tubuhnya masih sangat terasa dan itu yang bisa mengobati rindu Mela selama ini.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2