Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)

Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)
Siapa Pria Dalam Foto Itu?


__ADS_3

Happy reading....


Saat Adi sampai di kantor, dia langsung memanggil Vano ke ruangannya. Pria itu melipat tangan di depan dada dengan kaki menopang ke kaki yang lainnya.


Tatapannya lurus dengan jari telunjuk sedari tadi mengetuk meja, seperti menunggu sesuatu hal dengan rasa tak sabar.


"Pagi Tuan," sapa Vano saat masuk ke dalam ruangan Adi sambil menundukkan kepalanya.


Tanpa menjawab, Adi bangkit dari duduknya dia menatap penuh dengan tajam, auranya terlihat begitu dingin seolah ingin memangsa Vano hidup-hidup.


'Kenapa tuan Adi menatapku seperti itu ya?' batin Vano yang merasa heran.


"Kamu tahu kenapa saya panggil ke sini?" tanya Adi setelah beberapa kali mengitari tubuh Vano, dan membuat aura di dalam ruangan itu seketika berubah menjadi dingin.


"Tidak Tuan," jawab Vano dengan sedikit gugup.


Tanpa aba-aba Adi langsung mencengkram kerah baju Vano, membuat pria itu menatapnya dengan heran, namun wajahnya terlihat begitu terkejut.


"Tuan, Anda kenapa?" tanya Vano dengan wajah yang tegang.


Tanpa menjawab, Adi langsung mendorong tubuh Vano hingga membuat tubuh pria itu tersungkur dan terpentok ke meja.


BRUK!


"Tidak usah berpura-pura lagi! Kau kan dalang di balik kecelakaannya Revan?" tanya Adi dengan aura yang begitu dingin dan tatapan tajamnya.


"Maksud Anda?" tanya Vano yang sudah dilanda kegugupan.


"Halah! Tidak usah lagi kamu mengelak. Semua buktinya sudah ku pegang." Kemudian Adi melemparkan sebuah berkas ke wajah Vano, lalu pria itu memungutnya dan membaca isi dari berkas tersebut.


Kedua netra Vano membulat kaget saat dia membaca dan melihat isi dari berkas itu, kemudian Vano menatap ke arah Adi.


"Tuan, ini bukan saya. Saya tidak pernah menghianati Anda, Tuan. Jni semua bohong!" bantah Vano sambil menggelengkan kepalanya dengan kuat.


Mendengar hal itu Adi malah tergelak, dia seperti sedang menonton sebuah drama di mana satu orang menjadi dua pemeran.

__ADS_1


"Tidak usah mengelak. Sudah ada buktinya, kamu masih bisa membantah? Jelas-jelas di situ adalah foto kamu dan juga identitasmu Vano! Tidak kusangka, selama ini aku memelihara seekor Serigala. Aku pikir kau setia kepadaku, tapi ternyata kau menghianatiku!" bentak Adi dengan intonasi yang sangat tinggi.


Dia mengeluarkan pistolnya dari balik jas, lalu mengarahkannya tepat ke kepala milik Vano, dan melihat itu tentu saja membuat Vano sangat panik.


"Tuan, demi Tuhan saya tidak pernah menghianati Anda! Ini bukan saya. Difoto Ini memang wajahnya mirip dengan saya Tuan, tapi saya tidak pernah bekerja sama dengan mereka." Vano mencoba menjelaskan akan tetapi Adi tidak percaya.


Bagaimana mungkin bisa dipercaya? Jelas-jelas di berkas tersebut adalah foto Vano dan juga semua bukti-buktinya, jadi walaupun Vano membantah semua bukti itu sudah kuat.


"Tuan, percayalah, ini bukan saya. Saya tak pernah sekalipun berkhianat. Mungkin saja kamu musuh dari Tuan mencoba untuk memanipulasi ini."


Adi menggelengkan kepalanya, "kau masih bisa mengelak, hah?!" Kemudian dia mendekat ke arah Vano dengan geram, menarik kerah bajunya lalu menonjoknya beberapa kali, hingga membuat Vano tersungkur. Bahkan cairan merah mengalir dari sudut bibirnya.


Vano tidak melawan, karena dia sama sekali tidak pernah melakukan itu.


"Silakan Tuan gabisi saya, karena memang saya tidak pernah berkhianat. Saya bersedia jika Tuan menghabisi nyawa saya sekarang! Tapi percayalah Tuan, saya tak pernah sekalipun menghianati Anda. Apakah Anda lupa, Tuan? Anda sudah menanamkan sebuah racun di dalam tubuh saya, di mana jika saya berkhianat dan saya berbohong, maka saya akan langsung mati," jelas Vano.


Adi terdiam, dia seketika ingat jika memang pria itu sudah menanamkan sebuah racun yang sangat mematikan di dalam tubuh Vano saat pria itu merangkak menjadi sekretarisnya.


'Kenapa aku bisa lupakan hal itu?' batin Adi.


Vano mengangguk, "Iya Tuan, ini memang mirip dengan saya, tapi ini bukan saya. Wajahnya memang sangat mirip, tapi saya tidak pernah menghianati Anda. Percayalah Tuan."


Adi meremas rambutnya, dia merasa pening dengan permasalahan yang menimpa keluarganya. Jika memang pria dalam foto itu bukan Vano, lalu siapa?


Tidak mungkin jika Dimas memanipulasi bukti tersebut. Dia sudah sangat kenal karakter Dimas, bahkan pria itu sebentar lagi akan menjadi adik iparnya, dan tidak mungkin jika Dimas membohongi dirinya.


Lalu Adi berjalan ke arah meja mengambil ponsel dan menelpon Dimas, meminta pria itu untuk datang ke kantornya.


.


.


Setelah menunggu beberapa saat, seseorang masuk ke dalam ruangan adik dan itu adalah Dimas.


"Kenapa sih lo manggil gue ke sini? Nggak tahu apa, gue tadi lagi menghadiri meeting!" kesal Dimas sambil duduk di sofa dengan wajah ditekuk.

__ADS_1


Akan tetapi tatapannya tertuju kepada Vano yang sudah babak belur, di mana wajahnya terlihat memar dengan sudut bibir yang berdarah.


Pria itu yakin jika Adi pasti sudah memberikan pelajaran kepada Vano.


"Kenapa kau belum menghabisinya?" tanya Dimas sambil melirik sinis ke arah Vano.


"Itu bukan dia," jawab Adi dengan dingin.


"Maksudnya bukan dia?" bingung Dimas, karena dia tidak tahu arah pembicaraan adik ke mana.


Kemudian Adi pun menjelaskan tentang dugaannya terhadap pria yang ada di dalam foto itu, dan mendengar hal tersebut tentu saja Dimas tertawa.


"Apa kau pikir aku yang membohongimu? Kau pikir, aku yang memanipulasi bukti-bukti tersebut? Iya? Jelas-jelas aku yang memfotonya sendiri, aku yang mencari tahunya, bukan anak buahku," ujar Dimas dengan tegas.


Memang selama ini dia yang mencari bukti, karena Dimas tidak ingin ada kesalahan untuk membantu sahabatnya. Karena dia tahu yang dihadapi oleh sahabatnya itu masalah yang sangat pelik, jadi Dimas turun tangan langsung. Biasanya dia menyerahkan tugasnya kepada anak buah, tetapi ini tidak.


"Lihat! Bahkan wajah mereka pun sama, tidak mungkin karena ada kembaran di dunia ini yang semirip itu?"


"Tapi itu bukan saya Tuan. Saya berani jamin!" bantah Vano.


Dimas hanya tersenyum sinis saat mendengar pembelaan dari pria yang saat ini tengah menundukkan kepalanya.


Sementara Adi hanya diam saja, dia benar-benar pusing dengan masalah yang dihadapinya sekarang. Di satu sisi dia percaya kepada Dimas, tapi di sisi lain foto itu memang sangat mirip dengan Vano.


"Tapi kalau Vano yang berkhianat, dia pasti akan mati lebih dulu," ujar Adi.


"Maksudnya?" tanya Dimas yang tidak mengerti.


"Kau lupa, aku kan sudah menanamkan racun di dalam tubuh Vano? Jadi saat pria itu menghianatiku, dia pasti akan langsung mati," jelas Adi


Dimas terdiam, dia ingat memang itu benar dan penawarnya pun tidak ada pada orang lain. Sebab dia yang membuat racun dan dia sendiri yang hanya tahu penawarnya.


"Lalu, jika Itu bukan Vano, siapa yang selama ini ku ikuti?" bingung Dimas sambil menggaruk keningnya yang tidak gatal, karena dia benar-benar merasa pusing.


Sementara Adi mengurut kepala dengan pikiran yang sedang berkecamuk, menerka-nerka siapa pria yang berada di dalam foto tersebut.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2