Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)

Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)
Kedatangan Ortu Dimas


__ADS_3

Happy reading .....


Melihat keberadaan kedua mertuanya, membuat Mela sedikit terkejut. Kemudian dia menoleh ke arah Dimas dan pria itu hanya membuang wajahnya.


"Aku pergi ke kantor dulu ya," pamit Dimas dengan raut wajah yang sudah mendadak berubah menjadi dingin.


Saat pria itu membalikkan badannya, tiba-tiba saja suara papa Harun menghentikan langkah pria tersebut. "Tunggu Dimas!"


amau tidak mau Dimas pun akhirnya menengok, dia melihat Papa Harun berjalan mendekat ke arahnya. "Maaf ... aku harus ke kantor," ucap Dimas dengan nada yang begitu datar.


"Apakah ini rasa sopan santunmu kepada orang tua? Kami datang tapi kamu malah pergi? Sebaiknya kamu duduk dulu! Ada yang ingin Papa dan Mama bicarakan," ujar Papa Harun mengajak Dimas untuk duduk di sofa.


"Maafn, tidak bisa sebab kerjaanku banyak," tolak Dimas.


Dia hanya malas untuk duduk bersama kedua orang tuanya, karena Dimas pikir tidak ada hal yang penting. Pada ujung-ujungnya hanya akan ada perdebatan di antara mereka.


"Tolong Dimas ... ini permintaan Mamax duduklah ada yang ingin kami bicarakan!" Timpal tante Indri.


Akhirnya Dimas pun duduk, dia menghempaskan bokongnya dengan kasar di sofa, lalu tatapan tante Indri mengarah kepada Mela yang masih berdiri karena wanita itu merasa canggung.


"Mela, kenapa kamu diam saja, Nak? Ada kedua mertuamu, bukannya salam," bisik Bu Tia menghampiri Mela yang Masih dia mematung.


Wanita itu pun tersadar, kemudian dia berjalan ke arah kedua mertuanya lalu mencium tangan tante Indri dan juga Papa Harun bergantian.

__ADS_1


"Duduklah Mela!" pinta tante Indri


Mela menatap ke arah Dimas dan pria itu menganggukan kepalanya, akhirnya Mela pun duduk di samping suaminya.


Terlihat wajahnya begitu sangat tegang, bahkan Mela beberapa kali meneguk ludahnya dengan kasar. Entah kenapa sejak tadi tatapan tante Indri terus saja menatap ke arah perutnya, membuat Mela merasa tak nyaman.


"Apa yang ingin kalian bicarakan?" ucap Dimas dengan raut wajah yang dingin.


"Kamu itu ... bisa tidak sih bersikap hangat kepada orang tua? Kami datang ke sini baik-baik Dimas," tutur Papa Harun yang merasa kesal dengan sikap dingin Dimas.


"Maaf, tapi urusanku terlalu banyak jadi sebaiknya to the point saja!"


Tante Indri mengusap tangan suaminya agar Papa Harun bisa meredam emosinya untuk tidak meluap dan memperkeruh keadaan.


"Apalagi yang harus dibicarakan? Dan apa yang harus dijelaskan. Bukankah semuanya sudah sangat jelas? Adi sudah mengungkapkan kenapa aku menikah dengan Mela, dan jika kalian ke sini untuk membuatku berpisah dengan Mela? Kalau gitu aku tidak bisa. Kalian merestui atau tidak, setuju atau tidak, aku tidak peduli. Aku akan tetap mempertahankan Mela," tutur Dimas dengan tegas.


Mella menatap ke arah Dimas saat mendengar pria itu membelanya, bahkan saat Dimas berkata dia ingin mempertahankan rumah tangga mereka. Sungguh tak pernah tersirat di dalam benak Mela jika Dimas akan berkata seperti itu.


Bu Tia dan juga Bi Ida yang mendengar itu pun sangat lega dan merasa senang, mereka pikir tadinya Dimas akan menuruti ucapan orang tuanya jika Papa Harun dan juga tante Indri memintanya untuk meninggalkan Mela.


"Kenapa kamu ingin mempertahankan dia? Apakah karena sebuah wasiat?" tanya papa Harun dengan tatapan menyipit.


Dimas menatap ke arah lain. Entah kenapa dia sangat malas menatap ke arah kedua orang tuanya, padahal hati Dimas saat ini begitu merindukan orang tuanya. Akan tetapi gengsi di antara mereka bertiga sangat tinggi, sehingga hanya untuk berkata rindu saja begitu berat diucapkan.

__ADS_1


"Jawab Dimas! Apakah kamu mempertahankan dia hanya karena wasiat?" tanya papa Harun sekali lagi, karena dia tidak mendapatkan jawaban dari Dimas.


"Apakah itu penting?" tanya Dimas kembali.


"Sangat penting. Kami ini adalah orang tuamu, dan kami wajib untuk menentukan keputusan di dalam hidupmu."


"Tidak. Kalian tidak ada hak untuk memutuskan keputusan yang telah ku ambil. Kalian mungkin orang tuaku, tapi kalian tidak ada hak sama sekali. Aku yang menjalani hidup, aku yang menikah dan aku yang mengarungi bahtera rumah tangga. Mau dengan siapa aku menikah dan memilih pasangan hidupku, kalian tidak berhak ikut campur! Karena kebahagiaan aku sendiri yang menentukan," tukas Dimas.


"Jaga bicaramu ya Dimas!" bentak Papa Harun, membuat Mela seketika mengerjapkan matanya karena dia merasa kaget.


"Ibu ..." panggil Dimas. Bu Tia pun keluar. "Iya, kenapa Nak Dimas?" tanya Bu Tia.


"Bawa Mela ke kamar!" titah Dimas.


Bu Tia mengangguk, kemudian menatap ke arah Mela sambil mengganggukan kepalanya namun wanita itu merasa ragu, apakah dia harus pergi dari sana atau tidak.


"Kak ... aku--"


"Pergilah! Jangan terlalu stress. Kau ingat bukan apa kata Dokter tadi? Jadi sebaiknya kau pergi, biar ini aku yang selesaikan."


Mela akhirnya menurut, kemudian dia pergi ke kamar bersama dengan Bu Tia. Walaupun hatinya merasa gelisah karena takut jika Dimas akan bertengkar dengan kedua orang tuanya.


"Kenapa kau menyuruhnya ke kamar, hah? Hami disini ingin juga berbicara dengannya?" tanya Tante Indri. Dia tidak setuju jika Mela diminta untuk pergi ke kamar.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2