Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)

Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)
Perasaan Aneh


__ADS_3

Happy reading.....


Pagi hari Mela terbangun, dia sedang memakan bubur ayam buatan Bu Tia, kemudian dia melihat Dimas turun dengan pakaian yang sudah rapi.


Mela tersenyum, lalu dia memberikan kopi yang sudah dibuatnya tadi kepada suaminya. "Ini Kak kopinya."


"Iya ... terima kasih," jawab Dimas tanpa ekspresi.


Mela dengan telaten mengoleskan selai coklat ke roti Dimas, lalu menyerahkannya. Tidak lupa wanita itu juga memasak omelet untuk pria tersebut.


"Ini apa? Maksudku ... siapa yang buat?" tanya Dimas sambil menunjuk ke arah omelet yang berada di atas piring.


"Ini omelet aku yang membuatnya, Kakak tinggal pilih ... mau makan roti atau omelet?"


Dimas sebenarnya sangat penasaran dan juga heran kenapa sikap Mela akhir-akhir ini terlihat begitu condong kepadanya, banyak memberikan perhatian.


Namun omelet buatan Mela membuat Dimas menegak liurnya, dan pria itu pun akhirnya memilih omelet daripada roti dengan selai coklat.


Saat masuk ke dalam mulut, Dimas langsung memejamkan matanya, ternyata masakan Mela benar-benar selaras dengan lidahnya.


"Gimana Kak? Kepedesan nggak?" tanya Mela.


"Tidak. Sudah pas. Kalau begitu aku mau kantor dulu ya_" jawab Dimas sambil meminum habis kopi buatan Mela.


Saat pria itu beranjak dari duduknya, Mela menahan tangan Dimas, membuat pria tersebut seketika menoleh ke arahnya.


"Ada apa?"


"Begini Kak ... nanti jam 10.00, aku mau check up kandungan ke rumah sakit, Kakak mau ya nemenin aku!" pinta Mela dengan wajah memelas.


"Kenapa harus aku? Di sini ada Bu Tia, kamu bisa pergi bersamanya."


"Ayolah Kak ... aku maunya sama Kakak, please ... mau ya?" pinta Mela sambil menampilkan wajah imutnya.


Dimas merasa gemas ingin sekali mencubit kedua pipi Mela saat wanita itu memperlihatkan wajah imut dengan pipi tembemnya. Semenjak kehamilan dia semakin membesar, tubuh Mela semakin berisi apalagi di bagian tertentu.

__ADS_1


"Mela aku--"


"Nak Dimas, maaf jika Ibu memotong. Tapi sebaiknya turuti saja, karena kalau tidak dituruti nanti bayinya bisa ileran. Lagi pula, kalau Adi tahu dia pasti akan meminta Nak Dimas untuk menemani Mela," ujar Bu Tia memotong ucapan pria itu.


Dimas menghela nafas dengan kasar, "Baiklah, aku akan pulang nanti. Kau siap-siap saja!"


Mendengar hal tersebut Mela benar-benar bahagia. "Maik Mas, ups! Maksudku Kak." Mela menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat dia keceplosan menyebut Dimas dengan kata 'Mas.


Pria itu terpaku, entah kenapa saat Mela menyebutnya dengan kata 'Mas, membuat darahnya berdesir hangat..Namun seketika Dimas langsung menampik perasaan itu, dia pun pergi dari sana.


Namun lagi-lagi tangannya ditahan oleh Mela, membuat Dimas merasa jengkel. "Apalagi sih? Kan tadi aku bilang iya, ku bakal pulang tidak usah--" Ucapan Dimas terhenti saat tiba-tiba saja Mela mencium tangannya.


"Seorang istri jika suami pergi bekerja itu harus mencium tangannya bukan? Karena itu adalah sebuah keberkahan, selain mendapatkan pahala juga," ucap Mela.


Dimas terpaku sejenak, kemudian dia berdehem kecil pura-pura membenarkan dasinya untuk menetralkan rasa gugup, lalu dia pun pergi dari sana tanpa mengatakan apapun.


Mela tersenyum tipis sambil menatap kepergian Dimas yang semakin menjauh. 'Aku yakin Kak, kamu pasti akan berubah dan kamu pasti akan mencintaiku dan menerima kehadiranku. Hanya waktu yang akan bisa menjawabnya nanti, aku hanya perlu berusaha untuk mendapatkan hatimu.' batin Mela.


Bu Tia mengusap pundak wanita itu, membuat Mela seketika menyandarkan kepalanya di bahunya. "Mela berharap, semuanya tidak akan sia-sia ya Bu."


"Ibu ... ini aja pipinya udah nambah 2 kilo nih." Mela menekuk wajahnya, membuat Bu Tia dan juga Bi Ida seketika terkekeh.


Sementara Dimas di dalam mobil terus aja terdiam. Dia teringat dengan perhatian Mela beberapa hari ini, bahkan saat wanita itu mencium tangannya entah kenapa Dimas merasakan sesuatu yang berbeda di dalam hatinya.


Dia memegang dadanya, merasakan debaran yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. "Ada apa dengan hatiku? Kenapa rasanya hangat sekali saat Mela mencium tanganku?" gumam Dimas dengan lirih.


'Tidak Dimas. Tidak. Kamu tidak boleh mencintainya! Ingat ... kamu menikahinya hanya karena wasiat, tidak lebih. Lagi pula wanita sebaik Mela tidak mungkin menjadi jodohku. Aku tidak ingin menyakitinya, karena dia pun sudah tahu kalau aku sering bermain wanita.' batin Dimas.


Dia merasa dirinya tidak pantas untuk Mela, karena seluruh tubuhnya sudah sering dinikmati oleh wanita lain. Dan Dimas merasa dirinya kotor, sedangkan Mela adalah wanita yang baik-baik, dia hanya tidak ingin merusak wanita itu walaupun Mela adalah istrinya.


.


.


Tepat jam 9.30 pagi, Dimas sudah sampai di rumah. Dia duduk di ruang tamu menunggu Mela turun. Dan tak lama wanita itu pun datang dengan drres berwarna tosca muda dengan bunga-bunga kecil, membuat penampilannya menarik dan terlihat begitu manis.

__ADS_1


Aura ibu hamil memang sangat berbeda, walaupun badannya gemuk, perutnya besar tapi terkesan sangat seksi.


Dimas sampai terpana melihat kecantikan dan kemanisan wajah milik Mela, hingga membuat wanita itu sedikit menundukkan kepalanya karena dia merasa malu.


"Sudah siap?" tanya Dimas mencoba untuk menetralkan rasa gugupnya.


"Sudah Kak."


"Ya sudah, ayo kita berangkat sekarang!" Jawab Dimas. Kemudian mereka pun keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil.


Sepanjang perjalanan Mela terus saja mengusap perutnya, dia berharap bayi yang ada di dalam kandungannya baik-baik saja.


Setelah sampai di rumah sakit mereka langsung masuk ke ruangan dokter, di mana Mela sudah membuat janji dan setelah melakukan pemeriksaan Mela sangat bahagia saat melihat anaknya sehat tanpa kurang apapun.


Sementara Dimas dari tadi meneguk ludahnya dengan kasar saat dia melihat perut mulus milik Melam Entah kenapa pria itu juga merasa bahagia saat melihat perkembangan janin yang ada di dalam kandungan wanita itu.


"Apa kau ingin membeli sesuatu? Atau ingin singgah ke tempat lain?" tanya Dimas saat mereka keluar dari rumah sakit.


"Sepertinya tidak. Tapi ... aku punya satu permintaan," jawab Mela.


"Apa itu?"


"Aku ingin membuat puding buah bersama dengan Kakak, mau kan? Please ..." pinta Mela sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada dengan wajah yang dibuat selimut mungkin.


Dimas diam, dia melihat jam yang melingkar di tangannya, mengingat jika jadwal hari ini tidak terlalu padat akhirnya pria itu pun menganggukan kepalanya.


"Baiklah ..m karena hari ini aku senggang maka aku akan menuruti permintaanmu, tapi jangan sering-sering, karena aku juga sibuk," jawab Dimas.


"Iya Kak, siap!" jawab Mela sambil menaruh tangannya di kening.


Setelah itu tidak ada pembicaraan apapun lagi, sampai mobil terparkir di halaman rumah. Dan saat mereka masuk ke dalam rumah, tiba-tiba saja Dimas dan juga Mela dikagetkan dengan kehadiran seseorang.


"Buat apa mereka disini?" kata Dimas di dalam hati.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2