
Happy reading....
Dimas sedang termenung di kantornya, dia memikirkan ucapan Mela tadi pagi. Tiba-tiba saja pintu ruangannya terbuka tanpa diketuk terlebih dahulu
Pria itu ingin marah, namun saat dia akan mengangkat bicara ternyata yang masuk adalah Adi, kakak ipar sekaligus sahabatnya.
"Gue kira yang masuk siapa?" ujar Dimas sambil memainkan pulpennya di atas meja.
"Gue ke sini mau nanya tentang kabar adik gue dia baik-baik aja kan di sana?"
Mendengar pertanyaan dari Adi, Dimas terdiam. Kemudian dia mengangguk, "ya, Mela baik-baik saja kok. Walaupun tadi pagi sempat dia tidak mau sarapan."
"Apa! Kenapa bisa? Tapi sekarang Mela udah sarapan kan?" Adi bertanya dengan wajah yang panik.
Bagaimana tidak? Baru pertama kali ia jauh dengan sang adik, walaupun masih bisa dijangkau akan tetapi berbeda, karena Mela sudah ikut dengan suaminya. Dan Adi sebagai kakak yang menjaga Mela sedari kecil, tentu saja khawatir dengan keadaan wanita itu, apalagi Mella sedang hamil.
"Jangan khawatir! Dia sudah makan kok tadi, aku sudah telepon Bibi di rumah. Katanya mau dia makan soto, tapi ..." Dimas menggantungkan ucapannya.
Adi membuka kancing jasny, kemudian dia menyandarkan tubuhnya di sofa sambil menatap lurus ke arah sahabatnya.
"Tapi kenapa?"
Kemudian Dimas memberitahu tentang permintaan Mela kepada Adi, dan mendengar itu Adi menyetujui. Karena di rumah juga Bu Tia terlihat murung sejak kepergian Mela.
"Tidak masalah kan, kalau Bu Tia ikut bersamamu? Ya ... aku tahu sih, dia adalah mertua dari Mella, tapi beliau tidak punya siapapun. Begitu pula dengan Mela, dia sudah menganggapnya sebagai ibu sendiri, jadi kurasa kau tidak keberatan," jelas Adi.
Dimas hanya mengangkat bahunya saja. Bagi dia itu tidak masalah, jika memang bisa membuat Mela betah di rumah dan tidak merasa kesepian.
Kemudian Adi pun mengusulkan untuk menempatkan pengawal A dan B di rumah Dimas, karena pengawal itu diprogram olehnya untuk menjaga Mela, dan tentu saja Dimas tidak keberatan.
Setelah berbicara tentang masalah Mela, tiba-tiba Dimas menatap lekat ke arah sahabatnya. Dia yakin tidak mungkin Adi datang ke sana hanya untuk membicarakan soal Mella.
"Kau ke sini mau apa? Langsung saja!" tanya Dimas sambil duduk di samping Adi.
"Begini ... aku ingin membicarakan masalah yang penyelidikan itu, tentang Vano."
__ADS_1
"Hmm, lalu?"
"Entah kenapa aku merasa ada yang janggal, seperti ada sesuatu hal yang aku tidak bisa jelaskan," jelas Adi yang seakan bingung.
"Kau ini jangan bertele-tele. Dan si Vano tidak ikut kan?" Dimas menatap ke arah belakang Adi, tepatnya ke pintu ruangannya.
"Tidak. Kau kan tahu, 2 bulan ini kita masih menyelidiki Vano. Walaupun dia memang tidak bersalah, tapi masa udah dua bulan ini kita masih belum menemukan titik terang sih?" jelas Adi sambil mengurut dagunya dengan jari jempol.
Dimas juga merasa heran, biasanya setiap kasus dia bisa memecahkannya. Tapi ini benar-benar seperti sebuah permainan teka-teki yang begitu rumit.
Memang Vano selama 2 bulan tidak diperbolehkan ikut dalam misi apapun, selain pekerjaannya. Bahkan untuk hal-hal yang penting Adi mengerjakan sendiri, bukan karena dia tidak percaya kepada Vano, hanya untuk berjaga-jaga sebelum bukti-bukti terkumpul bahwa Vano tidak bersalah.
"Apa yang membuatmu gelisah? Apa yang membuatmu merasa janggal?" tanya Dimas sambil meminum kopinya saat beberapa detik yang lalu pelayan masuk dan menaruh dua gelas cangkir kopi di atas meja.
"Entahlah, di satu sisi kita yang sudah mengecek secara langsung bahwa Vano tidak bersalah, racun itu masih ada di dalam tubuhnya. Jadi jika dia menghianatiku sudah pasti racun itu akan langsung membunuhnya. Tapi di sisi lain, kita masih belum menangkap pria tersebut. Apa mungkin pria itu adalah robot juga yang diciptakan seseorang begitu mirip dengan Vano?" tebak Adi sambil menatap ke arah Dimas dengan dalam.
Sementara pria itu memikirkan perkataan Adi kemungkinan bisa saja terjadi. Mungkin memang apa yang dikatakan Adi benar, ada yang membuat robot begitu mirip dengan Vano. Mereka ingin mengadu domba antara Adi dan Vano.
Akan tetapi, entah kenapa Dimas juga merasa itu hal yang mustahil, namun bisa juga terjadi.
"Jangankan mata-mata, pengawal 24 jam aku taruh untuk Vano, demi mengetahui gerak-gerik dia selama 24 jam, dan tidak ada yang aneh."
"Ya ampun! Kasus ini membuatku pening." Dimas memijit keningnya yang terasa begitu pusing.
Mereka tidak menemukan jalan sama sekali, hingga Adi pun harus kembali ke kantor karena ada kerjaan. Sementara Dimas harus bekerja keras lagi untuk menemukan siapa pria dalam foto tersebut.
Kemudian dia menghubungi anak buahnya untuk segera menyelidiki hal itu, karena Vano juga sudah geram dengan masalah yang tak kunjung habisnya.
.
.
Mela saat ini sedang duduk di kolam renang sambil menaruh kakinya di dalam air, dia sedang melamun karena Mela sangat merindukan keluarganya.
Biasa menjelang sore di rumah Adi selalu sibuk dan ramai oleh teriakan tante Cantika maupun Ibu Tia, yang meminta Mela untuk memakan ini dan itu, ditambah teriakan kepada Rika untuk segera memandikan Noah.
__ADS_1
"Aku sangat merindukan kalian. Di sini aku kesepian, tidak ada orang yang bisa ku ajak curhat," lirih Mela sambil menundukkan kepalanya.
"Sekarang kamu tidak sendirian, Nak," ucap seorang wanita yang berada di belakang Mela.
Wanita itu membulatkan matanya saat mendengar suara yang begitu familiar di telinganya, kemudian dia berbalik dan menatap ke arah belakang ternyata Ibu Tia ada di sana.
"Ibu!" seru Mela dengan wajah yang terlihat begitu bahagia.
Dia segera mengangkat kakinya dari dalam air, lalu berjalan dengan perlahan dan langsung memeluk tubuh Bu Tia.
"Ibu ... Mela kangen banget sama ibu."
"Ibu juga kangen sama kamu, Nak. Bagaimana kamu di sini? Betah?"
Mela menggelengkan kepalanya, "tidak. Mela tidak akan betah jika tanpa kalian. Tidak ada tempat Mela untuk bercanda, bersenda gurau atau sekedar berkeluh kesah. Bahkan Mela rasanya tidak selera makan jika bukan ibu yang masak," jelas Mela sambil terus memeluk tubuh Bu Tia.
Wanita itu tersenyum, kemudian dia mengusap rambut Mela dengan lembut. "Sekarang ibu di sini. Ibu akan tinggal bersama dengan kamu, jadi kamu tidak merasa sendirian. Di sini juga ada A dan B." Bu Tia menatap ke arah dua pengawal yang berada di belakangnya.
"Apa! Ibu akan tinggal di sini sama aku?" tanya Mela dengan wajah yang antusias.
Bu Tia mengangguk, "iya, Dimas menyuruh ibu untuk tinggal di sini menemani kamu. Dan Adi juga menyuruh pengawal A dan B untuk menjagamu."
Mendengar hal itu tentu saja Mela sangat bahagia, dia tidak menyangka jika Dimas mengabulkan permintaannya. Wanita itu pun kembali memeluk tubuh Bu Tia.
"Kamu sudah makan?" tanya Bu Tia sambil menangkup kedua pipi Mela.
Dia begitu menyayangi wanita tersebut, di mana Mela sebentar lagi akan menjadi Ibu dari cucunya nanti.
"Tidak. Selera Mela hilang seketika. Tapi karena udah ada ibu di sini, Mela mau dong dibikinin jengkol balado sama sambel terasi, lalapan timun, tempe bakar dan tahu bakar." Mela mengelap air liurnya saat menyebutkan makanan tersebut.
Sementara Bu Tia hanya terkekeh saat melihat reaksi Mela, lalu mereka berjalan ke dapur dan Bu Tia akan memasak untuk menantu tersayangnya, dibantu beberapa pelayan di sana. Zementara pengawal A dan B, hanya berdiri di belakang Mela.
'Aku harus berterima kasih kepada Kak Dimas, karena dia mau mengabulkan permintaanku.' batin Mela.
Dia rencananya akan berterima kasih kepada pria itu, setelah Dimas sampai di rumah nanti. Karena pria tersebut sudah mau mengabulkan permintaannya. Tadinya Mela pikir, Dimas keberatan tetapi ternyata tidak.
__ADS_1
BERSAMBUNG......