
Happy reading....
Seperti biasanya, saat ini Dimas kelelahan setelah dilayani oleh dua wanita sekaligus. Pria itu menatap lurus ke arah langit-langit kamar, di mana dirinya tengah terbaring tanpa sehelai benang pun.
Dua orang wanita saat ini sedang tertidur di sampingnya, kemudian Dimas bangkit berjalan ke arah kamar mandi tanpa menghiraukan kedua wanita itu. Dia membersihkan diri dan mengguyur tubuhnya di bawah air shower yang dingin, padahal Jam menunjukkan pukul 3 dini hari.
Dimas merasa hidupnya hampa, rasanya hambar seperti tidak ada gairah sama sekali. Itu kenapa dia selalu melampiaskannya kepada wanita-wanita jalaang yang menjadi kupu-kupu malam di klub.
'Sampai kapan aku harus begini? Aku sudah menikah dengan Mela, tapi rasanya jika aku tidur dengan dia dan menjamahnya, aku merasa diri ini sangat kotor. Di mana tubuhku sudah sering dinikmati wanita lain, dan aku rasa aku tidak pantas jika harus mempersembahkannya kepada Mela.' batin Dimas.
Dia merasa bahwa dirinya benar-benar sangat kotor, karena Dimas selalu membiarkan wanita lain menjamahnya, bahkan menikmati sesuatu yang seharusnya hanya untuk sang istri.
Kemudian pria itu pun menggeleng dengan tegas. 'Tidak Dimas! Mamu menikahinya hanya karena sebuah wasiat. Kamu menjaganya atas perintah Adi. Kamu tidak boleh menyakitinya! Jika kamu menidurinya, kamu hanya akan memberikan rasa sakit pada wanita itu!' tegas Dimas pada dirinya sendiri.
Setelah selesai dengan rutinitasnya, Dimas keluar dan melihat kedua wanita itu sudah memakai bajunya kembali. Llu dia mengeluarkan sebuah cek di mana di sana sudah tertera bonus untuk kedua wanita yang sudah melayaninyam
"Pergilah!" ucap Dimas dengan nada yang dingin.
Dua wanita itu pun pergi dari sana dengan wajah yang senang saat menerima cek dari Dimas.
Akan tetapi setiap Dimas bermain dengan wanita, dia tidak pernah sekalipun bermain dengan orang yang sama. Lagi-lagi wanita itu selalu baru, karena Dimas tidak suka jika wanita yang pernah ia pakai harus melayaninya kembali.
Pria tersebut mengendarai mobilnya, membelah jalanan yang sepi, hanya beberapa kendaraan saja yang lewat karena jam masih menunjukkan pukul setengah empat pagi.
Setelah sampai di rumah, Dimas melihat kamar Mela masih tertutup. Kemudian dia membukanya dan melihat wanita itu tengah tertidur dengan lelap dia pun menutupnya kembali lalu langsung masuk ke dalam kamar.
.
.
Pagi hari Mela terbangun, dia menguap sambil meregangkan ototnya. Tiba-tiba wanita itu merasa lapar, karena biasanya pagi-pagi Mela selalu makan sereal.
Dia berjalan ke ruang makan, kemudian berkata, "Ibu ... aku mau sereal, tolong buatkan ya!" pinta Mela dengan manja sambil mengucek matanya.
Namun seketika wanita itu menghentikan gerakannya, lalu dia menatap ke arah depan di mana beberapa pelayan saat ini tengah menatapnya dengan heran.
Mela seketika sadar, jika dia tidak sedang berada di rumah Adi. Padahal biasanya pagi-pagi Mela selalu meminta dibuatkan sereal oleh Bu Tia namun kali ini dia merasa seperti ada yang hilang.
"Maaf, saya pikir tadi saya masih di rumah. Silakan lanjutkan pekerjaan kalian," ucap Mela sambil tersenyum canggung, kemudian dia berbalik hendak menuju kamar.
"Nona muda, ingin sereal?" tanya salah satu pelayan yang bernama bibi Tari.
Mela membalikan badannya, "iya, biasanya pagi-pagi saya makan sereal dengan susu hamil."
"Kalau begitu, Nona muda duduklah biar saya yang membuatkan."
__ADS_1
Mela pun mengangguk, kemudian dia duduk di kursi yang ada di meja makan. Terlihat wajah wanita itu murung, dia begitu merindukan suasana ruang makan yang terlihat ramai, di mana di rumahnya ada Adi, kedua orang tua Rika dan juga Bu Tia.
Mela merasa dia sendirian di sini.bMela seperti orang asing. Sudah hatinya terluka karena kehilangan Revan, sekarang dia memiliki suami yang acuh bahkan sering bermain wanita lain.
'Ya Allah, aku rindu dengan rumahnya Mas Adi.' batin Mela dengan tatapan yang sendu.
"Nona muda, ini serealnya dan ini susu hamilnya," ucap bi Tari sambil menyerahkan semangkuk sereal dengan satu gelas susu.
"Terima kasih Bi," jawab Mela.
Namun wanita itu tak urung memakan sereal yang ada di mangkoknya. Biasanya Mela akan langsung melahapnya hingga habis, akan tetapi entah kenapa dia merasa selera makannya hilang begitu saja.
Bi Tari dan dua pelayan lainnya melirik satu sama lain, saat melihat Mela tidak juga memakan sereal tersebut. Kemudian bibi Tari berjalan mendekat ke arah Mela.
"Maaf Nona muda, apa serealnya tidak enak? Kenapa tidak dimakan?"
Mela terhenyak, kemudian dia menatap ke arah bi Tari dan tatapannya seketika melihat sereal yang sedang diaduk sedari tadi.
"Maaf ya Bi, bukannya tidak enak, tapi entah kenapa selera makanku tiba-tiba saja hilang. Aku mau ke kamar dulu." Mela meminum susu hamilnya dan hanya habis sedikit, kemudian dia masuk ke dalam kamar pergi meninggalkan meja makan dengan tatapan ketiga pelayan yang berada di sana dengan heran.
Memang di rumahnya Dimas hanya ada 3 pelayan dan 2 satpam, sebab rumahnya juga tidak terlalu besar dan Dimas juga tidak terlalu suka banyak orang.
Tepat jam 08.00 pagi, Dimas terbangun, dia harus ke kantor. Dan setelah membersihkan diri serta bersiap-siap, pria itu pun menuruni tangga menuju lantai bawah untuk sarapan.
Saat sampai di sana, Dimas tidak melihat keberadaan Mela. Kemudian dia pun bertanya kepada Bi tari, "Bi, Mella ke mana? Kenapa tidak sarapan? Atau dia sudah sarapan?" tanya Dimas sambil meminum kopinya.
Dimas terdiam saat mendengar penjelasan dari pelayannya, dia mengkhawatirkan keadaan Mela. Karena walau bagaimanapun selain Mela istrinya, dia juga sudah berjanji kepada Adi untuk menjaga adiknya.
Pria itu pun bangkit dari duduknya, kemudian berjalan ke arah kamar Mela lalu dia mengetuk pintu tersebut.
"Mela, apa kamu di dalam? Apa aku boleh masuk?"
Tidak ada jawaban. Lalu Dimas pun memberanikan diri untuk masuk ke dalam, dan dia melihat Mela sedang berdiri di balkon sambil menatap taman dengan kolam ikan di tengah-tengahnya, di mana ada bunga-bunga juga yang bertebaran mengingatkannya pada rumah Adi.
"Kenapa kamu belum sarapan? Ini sudah jam berapa? Apa kamu tidak lapar? Nanti kalau kamu sakit aku yang dimarahi oleh Adi," ucap Dimas sambil menyandarkan tubuhnya di pintu.
Mela kaget karena tadi dia tidak mendengar jika Dimas masuk ke dalam kamarnya, wanita itu pun tersenyum.
"Tidak Kak, aku belum lapar. Nanti kalau aku lapar aku makan kok," jawab Mella dengan singkat.
Terlihat Dimas menarik nafas kemudian membuangnya dengan kasar. Lalu dia berjalan mendekat dan berdiri di samping Mela, menatap ke arah Taman di mana sang istri sedang melihatnya juga.
"Kenapa? Kamu tidak betah tinggal di sini?"
Mella menggelengkan kepalanya. "Betah tidak betah, bukankah aku harus betah? Seorang istri itu kodratnya ikut suami, kemana suami mengajak istri harus ikut. Aku hanya belum bisa beradaptasi saja, lama-lama juga akan bisa kok." Lagi-lagi Melah menjawab dengan nada yang datar.
__ADS_1
Dimas hanya menganggukkan kepalanya dengan kecil, kemudian dia melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Baiklah, kalau kamu lapar makanlah! Jangan sampai kamu tidak makan ya. Nanti akan ada Bibi Tari yang menemanimu di sini. Ingat! Aku akan selalu memantaumux jadi jangan sampai tidak makan. Karena kalau sampai terjadi apa-apa denganmu, Adi akan memarahiku. Jadi jangan menyiksa dirimu sendiri, kasihan bayi yang ada di dalam kandunganmu perlu asupan gizi," terang Dimas.
"Iya terima kasih sudah mengingatkan," jawab Mela tanpa menengok ke arah Dimas sedikitpun.
Kemudian pria itu pun beranjak dari sana hendak pergi ke kantor, karena sebentar lagi dia ada urusan yang sangat penting.
"Tunggu Kak!" cegah Mela saat Dimas akan melewati pintu pembatas balkon.
"Kenapa? Kamu butuh sesuatu?" tanya Dimas.
"Apakah boleh jika Ibu Tia tinggal di sini?" Kali ini Mela berbalik dan menatap penuh harap ke arah Dimas.
Sementara pria itu terdiam mendengar permintaan dari Mela. "Kenapa dia harus tinggal di sini?"
Mendengar pertanyaan dari Dimas, Mela kembali membalikkan badannya, menatap lurus ke arah depan. Gerlihat wajahnya begitu sendu dengan tatapan yang nanar.
"Aku hanya kesepian saja. Biasa di rumah Ibu Tia yang selalu menyiapkan semua yang aku mau, dia selalu menjadi sandaranku setelah Mas Adi. Dia sudah kuanggap sebagai Ibuku sendiri, jadi rasanya aku seperti jehilangan setelah aku tinggal di sini_* jawab Mela dengan tatapan yang sedih.
Dia menundukkan wajahnya, mencoba untuk menahan air mata yang hampir lolos membasahi pipi. Karena semenjak kehamilannya dan semenjak kematian Revan, Mela selalu saja gampang menangis.
Mendengar itu Dimas terdiam, "Baiklah, akan aku pikirkan. Tapi setelah itu kau makan dulu!"
hMela hanya menganggukan kepala, kemudian Dimas melanjutkan langkahnya untuk pergi ke kantor.
Wanita itu tidak banyak berharap jika Dimas akan mengabulkan permintaannya. Karena mana mungkin Dimas mengizinkan orang tua dari Revan untuk tinggal bersama dengan Mela.
'Aku kangen dengan mas Adi, Mbak Rika, Bu Tia dan juga Noah.' batin Mela yang sudah tak bisa lagi menahan air matanya.
Hingga pipi mulusnya pun basah karena dibanjiri air mata, dia tidak sadar jika di bawah Dimas melihatnya dari mobil.
Pria itu pun hanya bisa membuang nafas dengan kasar, kemudian dia melajukan mobilnya meninggalkan rumah untuk menuju kantor. Dan untuk permintaan Mela, Dimas akan memikirkannya.
Akhirnya Mela keluar dari kamar, karena perutnya terasa sudah keroncongan. Dia tidak mungkin menahan lapar dan menyiksa anak yang ada dalam kandungannya.
"Nona, apa Anda sudah lapar? Ingin makan apa, Nona?" tanya Bi Tari
"Bi, saya mau soto ayam! Apa ada?"
"Ada Nona, apakah Nona bersedia menunggu? Atau mau saya pesankan dari luar?"
Mela terdiam, perutnya sudah sangat keroncongan, akhirnya dia meminta Bi Tari untuk memesankan saja dari luar. Karena memasak juga sangat lama, dan Mela juga sudah sangat kelaparan.
"Bi, minta penjualnya untuk menambahkan tauco ya ke sotonya, dan jangan lupa sambalnya ditambahin!" pinta Mela dan Bi Tari hanya menganggukan kepalanya saja.
__ADS_1
BERSAMBUNG....