
Happy reading....
Selama di dalam bis Rika terus saja termenung, ucapan kedua orang tuanya masih terngiang jelas di kepala dan juga benak Rika. Dia tidak menyangka jika mama dan Papanya bisa berkata sekasar dan sesarkas itu kepada dirinya.
Selama ini Rika selalu dimanja, disayang dan apapun yang dia mau selalu dituruti. Namun, tidak pernah menyangka jika sekalinya orang tua Rika marah, maka akan berkata seperti itu yang menyakiti hatinya.
Adi yang melihat kesedihan di wajah istrinya pun tak tega, kemudian dia menggenggam tangan Rika, membuat wanita itu sontak menoleh ke arahnya lalu dia menyandarkan kepalanya di bahu kekar Adi.
"Maafkan Mas ya. Semua ini terjadi karena Mas. Dan Mas berjanji, akan membahagiakan kamu. Maaf jika menyeretmu dalam kesusahan," ucap Adi dengan nada yang lembut.
Rika tersenyum, kemudian dia pun menggelengkan kepalanya. "Tidak Mas. Rika sama sekali tidak merasa jika Mas bersalah. Cinta kita memang murni, Rika tidak melihat Mas dari segi harta. Dan Rika sangat yakin, Mas adalah pilihan yang terbaik," jawab Rika sambil mencium tangan suaminya.
Adi begitu sangat bahagia saat mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut manis istrinya. Dia benar-benar sangat bersyukur, karena diberikan istri yang mempunyai hati lapang seperti Rika.
Adi tahu, dia tidak akan pernah menemukan wanita seperti Rika di dunia ini. Di mana wanita yang sudah terbiasa hidup dengan bergelimang harta, harus ikut bersamanya dengan hidup sederhana.
"Mas berjanji sayang, akan membuatmu bahagia. d Dan Mas akan membahagiakanmu dengan seluruh jiwa dan raga Mas. Kita akan buktikan sama-sama kepada mama dan papa, kalau kebahagiaan tidak melulu tentang harta." Yakin Adi sambil mengusap pipi Rika dengan lembut.
Pria itu mengecup kening Rika, membuat wanita tersebut memejamkan matanya merasakan desiran hangat di dalam tubuh.
Hari yang semakin gelap membuat Rika menguap ngantuk, sebab jam juga sudah menunjukkan pukul 19.00 malam. Sebab bis yang mereka tumpangi berangkat sehabis Magrib, dan mereka tadi menunggu dari jam 03.00 sore sampai bis berangkat.
Selama di dalam perjalanan Adi selalu mendekap Rika. Sebab dia tahu, saat ini istrinya butuh sandaran.
.
.
Setelah menempuh perjalanan selama 8 jam, mereka pun sampai di kota Adi, lalu disambung menaiki angkot sebab Jam sudah menunjukkan pukul 04.00 subuh, dan angkot sudah beroperasi lalu lalang ke desa Adi.
Selama di dalam perjalanan Rika terus saja terdiam. Dia benar-benar sangat lelah, tidak pernah ia merasakan kelelahan seperti itu. Sebab biasanya dia memakai mobil sendiri, tapi saat ini dia harus naik turun bis untuk mencapai tujuan.
Setelah sampai di rumah, Adi dan juga Rika langsung masuk ke dalam kamar. "Kamu istirahat ya sayang. Kamu pasti sangat lelah," ucap Adi sambil mengusap rambut Rika dengan lembut.
__ADS_1
Wanita itu mengangguk, kemudian dia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur lantai yang cukup untuk dua orang.
Memang rumah Adi bukanlah rumah yang mewah, lantainya juga tidak beralaskan keramik, akan tetapi masih semen. Jika orang menyebutnya adalah ubin, dan rumah itu juga tidak di tembok masih dengan batu bata.
"Kamu mau ke mana, Mas?" tanya Rika saat melihat Adi akan keluar dari kamar.
"Aku mau mandi, lalu mau shalat subuh ke musala. Kamu tidur aja dulu ya," ujar Adi kemudian dia keluar dari kamar.
Di dapur dia bertemu dengan Mela yang sedang menyiapkan sarapan. "Mas Adi sudah pulang? Aku kira belum?" tanya Mela.
"Sudah. Oh ya, kamu bikin sarapan lebih ya! Soalnya ada Mbak Rika. Mas sama Mbak Rika sudah menikah," jawab Adi sambil tersenyum ke arah sang adik.
"Apa! Mas sama Mbak Rika sudah nikah? Kok nggak ngabarin Mela sih? Baru aja kemarin Mas berangkat, eh pulang-pulang udah nikah, cepet banget? Emangnya nggak nyiapin ini itu dulu?" Terlihat Mela begitu sangat syok saat mendengar jika Adi telah menikah bersama dengan Rika.
Pria itu menggelengkan kepalanya. "Panjang ceritanya. Sudah, kamu buat sarapan saja dan Mas mau kamu menerima Rika di sini ya! Kalian harus rukun, karena kita di sini cuma bertiga," ucap Adi sambil mengusap kepala melayang tertutup jilbab.
"Iya, Mas tenang aja. Mela sudah menganggap Mbak Rika sebagai kakak Mela sendiri kok," jawab Mela sambil tersenyum manis.
Namun, saat Adi akan keluar dari kamar, dia melihat Rika tertidur dengan lelap. Pria itu pun tersenyum. 'Maafkan aku sayang, jika kamu harus tidur di kasur seperti itu. Aku tahu, mungkin kasur itu tidak seempuk yang berada di rumahmu. Dan aku berharap kamu bisa beradaptasi tinggal di sini.' batin Adi, kemudian dia berjalan mendekat ke arah Rika lalu mengecup keningnya.
Cup!
.
.
"Sayang, bangun! Kamu shalat dulu gih ini udah jam 05.00! Nanti telat," ucap Adi menggoyang lengan Rika dengan lembut.
Wanita itu menggerakkan tubuhnya, dia menguap beberapa kali, lalu Adi membantu Rika untuk terduduk dan memberikan dia segelas air putih.
"Memang sudah jam berapa, Mas?" tanya Rika dengan suara yang serak. "Aku masih mengantuk," sambungnya lagi
"Sudah jam 05.00 lebih, sebaiknya kamu mandi lalu shalat subuh ya! Mela juga lagi memasak sarapan," jawab Adi.
__ADS_1
Rika mengangguk, kemudian dia mengambil handuk dan juga baju ganti, lalu berjalan ke arah kamar mandi.
Kamar mandi di rumah Adi memang tidak semewah di rumah Rika yang ada di kota, bahkan fasilitasnya pun hanya ada gentong, WC, gayung, tidak ada shower ataupun bathtub.
Akan tetapi bagi Rika itu tidak masalah. Yang penting masih bisa membersihkan diri dan terlihat bersih dan nyaman itu sudah cukup.
"Kamu sedang masak apa, Mela?" tanya Rika setelah selesai mengerjakan shalat subuh. Kemudian dia berjalan ke arah dapur.
"Ini Mbak, masak nasi goreng sama telur dadar," jawab Mela. "Selamat ya untuk pernikahan Mbak dan juga Mas Adi. Aku nggak nyangka ternyata secepat itu kalian menikah. Tapi aku senang, setidaknya Mela punya teman curhat," ujar Mela dengan bahagia kemudian memeluk tubuh wanita itu.
"Iya, Mbak juga bahagia. Semoga kita bisa rukun ya," jawab Rika sambil membalas pelukan Mela.
"Oh iya, Mas Adi ke mana?" tanya Rika.
"Paling lagi di depan benerin sepeda, sebentar lagi kan Mas Adi mau ke ladang. Soalnya ada jagung yang harus dipanen," jelas Mela. "Manti Mbak di rumah aja! Soalnya Mela juga bekerja di kebun Pak Parjo untuk panen bawang. Lumayan Mbak uangnya bisa Mela tabung buat makan sehari-hari," jawab Mela.
Rika mengangguk, kemudian dia membuatkan teh hangat untuk suaminya, lalu membawanya keluar. "Mas, ini aku buatin teh buat kamu. Diminum dulu ya!" ucap Rika sambil menaruh teh tersebut di atas meja.
"Iya Dek, terima kasih," jawab Adi, kemudian dia berjalan dan duduk di kursi lalu meminum teh buatan istrinya. "Eeum ... enak sekali teh buatan kamu. Manis seperti orangnya," puji Adi sambil menggoda istrinya.
"Halah ... bisa aja. Dasar Kang gombal," kekeh Rika.
"Mas tidak gombal Dek. Kamu memang manis, bahkan gula aja kalah," jawab Adi sambil tersenyum dan menatap dalam ke arah Rika, membuat wanita itu tersipu malu.
"Oh iya Mas, kata Mela kamu mau ke ladang ya karena mau panen jagung? Aku ikut ya Mas! Kan kamu tahu, sekarang kehidupanku harus beradaptasi dengan lingkungan. Dan aku juga harus membantu suami sendiri untuk di ladang. Kita akan menjalani semuanya bersama-sama," tutur Rika sambil menggenggam tangan Adi.
Mendengar itu Adi menatap Rika dengan lekat. "Apa kamu yakin sayang? Kamu akan ikut Mas ke ladang?"
"Yakin dong, Mas. Sekarang kan aku istri kamu, sudah sepatutnya aku membantu suami sendiri dalam mencari nafkah. Kita kan harus bekerja sama untuk membangun rumah tangga kita? Jadi aku harus berada di sisimu, membantu suamiku dalam mengemban pekerjaannya," jawab Rika dengan yakin.
"Baiklah, nanti kamu siapkan bekal saja! Kita sarapan di ladang ya, biar tidak terlalu siang ke sananya," ujar Adi sambil mengusap kepala Rika dengan lembut.
BERSAMBUNG......
__ADS_1