Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)

Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)
Mela Penasaran


__ADS_3

Happy reading....


Tepat jam 20.00 malam Dimas pulang ke rumah, dia melihat Mela sedang menata makanan di atas meja bersama dengan Bu Tia. Melihat suaminya pulang Mela pun menghampiri Dimas.


"Kak, makan malam yuk! Aku sama ibu tadi udah masak," ucap Mela sambil melihat ke arah makanan yang terhidang di atas meja.


Dimas diam sejenak, sejujurnya dia sangat malas tapi mengingat kejadian tadi siang dia pun merasa tak enak, kemudian pria itu mengangguk. "Oke, aku mau bersihin diri dulu ya."


Mela menganggukkan kepalanya, kemudian Dimas menaiki tangga. Akan tetapi dihentikan oleh Mela, "Kak ... ini liftnya udah bener, kamu bisa pakai lift."


"Tidak papa, aku baik tangga saja lebih sehat."


Kemudian Mela berjalan ke arah dapur, dia membuatkan kopi untuk suaminya. Mela ingin mulai membuat Dimas merasa nyaman karena dia ingin mempertahankan rumah tangganya.


Beberapa hari wanita itu berfikir dan beberapa hari pula dia selalu mendapatkan nasihat dari Bu Tia, bahwa dirinya harus mempertahankan rumah tangga bersama Dimas, karena pernikahan bukanlah main-main.


"Semoga suatu hari nanti nak Dimas mau menerima keberadaan kamu ya Nak," ucap Bu Tia sambil mengusap lembut kepala Mela.


"Aamiin ... semoga Bu," jawab Mela.


"Kami juga berharap seperti itu Nona muda, karena selama ini Tuan Dimas selalu sendirian. Di rumah juga selalu sepi, tapi semenjak ada Nona muda, rumah ini terasa ramai, dan sebentar lagi rumah ini juga akan tambah ramai dengan tangisan bayi," ucap pelayan di sana yang bernama bibi Ida?


"Iya Bi, semoga ya."


"Oh iya Bi, memang kedua orang tuanya Dimas tidak tinggal di sini ya?" tanya Bu Tia kepada pelayan itu.


"Tidak Bu. Tuan Dimas dan juga kedua orang tuanya tidak akur," jawab Bu Tia dengan wajah yang sedih.


Dia adalah pelayan dari rumah utama, yaitu rumah kedua orang tua Dimas. Wanita itu sengaja dibawa ke rumahnya Dimas untuk membantu membereskan rumah tersebut dan menemani Dimas.


Dahi Mela mengkarut saat mendengar ucapan dari Bibi Ida. Dia memang tidak pernah mengetahui masa lalu Dimas, yang ia tahu adalah Dimas suka bermain wanita dan ke klub malam, selebihnya dia tidak mengetahui apapun.


"Kenapa bisa tidak akur, Bi?" tanya Mela dengan penasaranm


"Itu Nona muda, Tuan Dimas dan--" Ucapan Bibi Ida terhenti saat melihat Dimas memasuki ruang makan.


Mela pun tidak melanjutkan pertanyaannya, karena dia akan mencari tahunya sendiri. Kemudian Mela memberikan kopi yang dibuatnya kepada Dimas.

__ADS_1


"Ini Kak kopinya."


Dimas mengangguk, kemudian mulai meminum kopi tersebut. Dia tidak protes sama sekali dan pelayan di sana cukup terkejut karena biasanya setiap diberikan kopi Dimas selalu menolak, dengan alasan kurang gula, rasanya tidak pas dan lain sebagainya.


'Sepertinya kopi buatan Nona muda sangat pas di lidahnya tuan muda,' batin Bibi Ida.


Dengan telaten Mela mengambilkan nasi dan lauk pauk ke dalam piring, lalu memberikannya kepada Dimas.


Dia melihat pria itu makan dengan lahap, begitu pula dengan pelayan di sana yang cukup terkejut karena melihat Dimas yang makan dengan lahap, biasanya pria itu tidak makan selahap itu.


"Apakah enak Kak cuminya?" tanya Mela saat melihat suaminya memakan cumi asam manis buatannya.


"Iya ... ini siapa yang masak?" tanya Dimas sambil menatap ke arah Mela.


"Itu aku yang masak, Kak."


UHUUK! UUHUUK!


Seketika Dimas tersedak makanannya, kemudian Mela memberikan air putih kepada pria itu dan langsung ditegak habis oleh Dimas.


"Iya Kak, Kenapa? Nggak enak ya? Atau keasinan? Atau kepedesan? Atau ada yang kurang? Atau--"


"Tidak. Ini sangat lezat, aku fikir tadi Bi Ida yang masak," jawab Dimas sambil meminta Mela untuk mengambilkan nasi lagi.


Dengan senang hati Mela pun mengambilkannya, kemudian menambahkan cumi asam pedas buatannya dan lagi-lagi dihabiskan oleh Dimas.


Terdengar sendawa yang cukup keras dari pria itu, akan tetapi Mela sangat bersyukur karena masakannya habis dan Dimas menyukainya.


Ada pepatah yang mengatakan, cinta itu datangnya dari perut dan naik ke dalam hati. Awalnya dari mulut turun ke perut, dan dari perut muncullah sebuah rasa cinta, karena lidah selalu ketagihan dengan masakan dari tangan orang terkasihnya.


"Kalau begini terus, bb-ku bisa naik nih," gumam Dimas sambil terkekeh.


"Tidak apa-apa naik beberapa kilo, kamu kan bisa nge-gym. Mela ini memang jago memasak, dia kan dulu juga jualan sarapan di depan rumahnya," ujar Bu Tia sambil mengusap lembut kepala Mela.


Dimas mengangguk, dia baru ingat jika memang Mela pernah berjualan bersama dengan Rika saat berada di desa.


"Ya sudah, kalau begitu aku mau ke ruang kerja dulu ya ... masih ada kerjaan yang belum aku selesaikan," ujar Dimas, kemudian dia bangkit dari kursi lalu berjalan meninggalkan ruang makan.

__ADS_1


Mela tersenyum karena makanannya dihabisi oleh Dimas. Tiada hal yang membahagiakan bagi seorang istri saat suaminya menghabiskan masakannya, karena itu adalah bentuk suatu penghargaan.


"Nona muda ... sepertinya masakan Nona muda sangat cocok di lidahnya Tuan Dimas. Bahkan kopi pun juga sama," tutur Bi Ida.


"Maksudnya Bi?"


"Tuan muda itu kalau soal kopi sangat sensitif Nona, siapapun yang membuatkannya jika tidak selaras dengan lidahnya, pasti akan ada saja komplenan. Kurang gula, ini dan itu ... tapi tadi saat Nona membuatnya tuan muda malah langsung menghabiskan kopi tersebut, sepertinya memang tangannya Nona muda ini ajaib," puji Bi Ida.


"Ah ... Bibi bisa saja. Oh ya Bi, tadi Bibi bilang kak Dimas itu sama keluarganya tidak akur? Boleh aku tahu kenapa Bi?" tanya Mela dengan tatapan yang penasaran begitu pula dengan Bu Tia.


Bi Ida nampak ragu untuk menceritakannya. Dia kemudian menatap ke arah pengawal A dan B yang terus saja berdiri dengan tegap bagaikan patung.


"Nona muda, apakah pengawalnya tidak diberi makan dulu?"


Mendengar itu Mela malah terkekeh, membuat Bi Ida merasa heran karena dia rasa pertanyaannya tidak ada yang aneh.


"Mereka tidak akan makan, Bi."


"Kok bisa?" kaget Bi Ida.


"Sebab mereka bukan manusia, tapi robot," terang Mela.


Bi Ida membulatkan mulutnya dengan tatapan yang begitu terkejut saat mendengar jika kedua pengawal dari Mella bukanlah manusia. Akan tetapi mereka adalah robot. Bi Ida pikir selama ini mereka adalah manusia, karena kulitnya pun sama hanya yang membedakan mereka memang kaku.


"Robot? Benar-benar hebat bisa berbentuk manusia begitu ya? Terus itu kulitnya dibuat dari apa?" Bi Idah berjalan ke arah pengawal A, kemudian dia mencubit tangan wanita itu dan memang benar itu adalah kulit manusia seperti dirinya.


Seketika Bi Ida bergidik ngeri membuat Mela dan juga Bu Tia terkekeh, "Tidak usah takut Bi, mereka tidak menggigit kok."


"Nggak gigit sih Non, cuma ngeri aja ... kok bisa ya kulitnya sama kayak saya?" Bi Ida lagi-lagi mengedikan bahunya.


"Sekarang Bibi ceritakan kepadaku, bagaimana mungkin bisa kak Dimas dan juga orang tuanya tidak akur?"


Kemudian Bu Tia meminta Bi Ida untuk duduk di kursi, karena tidak etis jika dia bercerita dalam keadaan berdiri. Wanita itu pun menundukkan wajahnya seolah menyimpan luka yang begitu dalam.


"Dahulu ...."


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2