
Happy reading....
Dimas sampai di rumah tepat jam 08.00 malam, dia langsung masuk ke dalam kamarnya di lantai 2 melewati kamarnya Mela.
Melihat jika suaminya sudah pulang, Mela pun berinisiatif untuk membuatkan kopi, kemudian dia berjalan ke lantai atas dengan perlahan.
Setelah mengantuk pintu terdengar suara dari dalam, lalu Mela membukanya dan seketika matanya membulat saat melihat tubuh Dimas yang sedang bertelanjang dada.
"Maaf," ucap Mela sambil membalikan badannya.
"Tidak apa-apa, ada apa?" tanya Dimas kemudian memakai kemejanya kembali.
"Aku ingin berterima kasih karena Kakak sudah mengizinkan Bu Tia untuk tinggal di sini." Mela menatap ke arah pria tersebut.
"Sama-sama, itu permintaannya Adi. Aku tidak ingin kau tidak sarapan, jadi dengan kehadirannya Bu Tia di sini kau tidak kesepian, sebab jika kau tidak makan dan kalau sakit aku pasti akan kena bogeman dari Adi," ujar pria tersebut.
Kemudian Mela menaruh kopi di atas meja. "Ini minumlah! Aku sudah membuatkannya untuk kakak, anggap saja sebagai ucapan terima kasih. Kalau begitu aku keluar dulu."
Mela pun keluar dari kamar Dimas, dan setelah memastikan wanita itu hilang di balik pintu Dimas mengambil gelas tersebut, lalu meminum kopi buatan melon.
"Ternyata dia cukup pandai dalam membuat kopi, sejalan dengan lidahku," gumam Dimas sambil menghabiskan kopi itu.
Memang tidak sembarang orang bisa pas lidahnya dengan Dimas saat membuat kopi.
Saat Mela sampai di lantai bawah, dia melihat Bu Tia. "Kamu habis dari mana, Nak?"
__ADS_1
"Habis dari kamarnya Kak Dimas, tadi buatin kopi sekalian ngucapin makasih, karena sudah mengizinkan ibu tinggal di sini."
Dahi Bu Tia mengkerut heran, saat mendengar kamar Dimas berada di atas, sedangkan dia tahu jika kamarnya Mela berada di lantai bawah.
"Kenapa kamar kamu ada di bawah, sedangkan dia di atas?" bingung Bu Tia
"Iya, soalnya kan aku sama Kak Dimas nikah bukan karena cinta Bu, jadi untuk sementara kami pisah ranjang."
Mendengar itu Bu Tia hanya bisa menghela nafasnya dengan gusar, dia tidak bisa mencampuri urusan rumah tangga Mela maupun Dimas.
Kemudian Bu Tia mengajak Mela untuk pergi ke meja makan, karena wanita itu belum makan malam.
.
.
Dimas membalas pesan tersebut, dan dia mengiyakan. Kemudian pria itu naik ke lantai atas untuk bersiap-siap, setelahnya dia turun sambil membawa kunci mobil.
"Kamu mau ke mana, Kak?" tanya Mela.
"Mau pergi," jawab Dimas dengan dingin, kemudian dia pergi tanpa menoleh ke arah Mela.
Wanita itu hanya bisa termangu, dia harus terbiasa dengan sikap dingin Dimas. Karena itu adalah pernikahan paksa bagi keduanya.
'Biarkanlah Mela. Mungkin dia ingin pergi ke klub malam bersama dengan wanita-wanitanya.' batin Mela dengan acuh, kemudian dia masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
.
.
Sesampainya di klub, Dimas langsung menghampiri teman-temannya. Dia memesan satu botol minuman ditemani oleh wanita malam yang ada di sana.
"Lo jarang banget tau kumpul-kumpul sama kita, kenapa sih?" tanya salah satu teman Dimas.
"Sorry ... soalnya pekerjaan lumayan banyak."
"Okelah, kita paham. Tapi gue ada cewek yang mau dikenalin sama lo."
"Masih perawan atau sudah biasa?" tanya Dimas sambil menatap ke arah temannya.
"Gue yakin sih dia nggak perawan tapi gue belum pernah mencobanya. Tapi melihat dari bodinya, Uh ... benar-benar bikin lidah tergiur. Rugi kalau lu nggak menjajalnya."
"Mana?" tanya Dimas.
Temannya menunjuk ke salah satu wanita yang memakai baju dress ketat berwarna merah yang sedang menari di kerumunan orang-orang.
Namun seketika tatapan Dimas membulat saat melihat siapa wanita itu.
'Dia!' batin Dimas.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1