Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)

Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)
Dibuntuti


__ADS_3

Happy reading.....


Mela rasanya sudah tidak sabar ingin segera menanti kepulangan Revan L, namun pria itu tak kunjung pulang. Sampai tepat jam 19.00 malam, Revan serta Adi baru sampai di rumah, kedua pria itu langsung masuk ke dalam kamar.


Namun baru saja Revan selesai membuka jasnya, tiba-tiba saja Mela sudah bergelayut manja di lengan kekar pria itu.


"Kenapa sayang?" tanya Revan yang merasa aneh dengan tingkah Mela yang yang tak seperti biasanya, sebab Mela tidak pernah semanja itu kepada dirinya.


"Mas, aku boleh minta tolong nggak?"


"Minta tolong apa, sayang?" jawab Revan dengan lembut.


"Minta tolong beliin tespek ya, di apotek!" Mela berkata dengan mata yang sudah dikedip-kedipkan dengan tatapan memohon.


Sementara Revan yang mendengar hal tersebut merasa heran, namun seketika wajahnya menjadi sumringah bahagia. Revan bukanlah orang yang bodoh, yang tidak mengetahui tentang nama barang satu itu.


"Sayang, kamu hamil!" tanya Revan dengan antusias.


Mela menggelengkan kepalanya, membuat Revan seketika menjadi bingung.


"Loh, vukannya tadi kamu bilang ingin membeli tespek? Tespek Itu kan buat ngecek kehamilan?"


"Iya aku tahu, Mas. Tapi belum tentu juga aku hamil, ini kan hanya dugaan saja. Hadi kamu beliin ya, please!" Mela menangku0kan kedua tangannya di depan dada.


Awalnya Revan menolak, karena dia begitu sangat lelah dan meminta untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Akan tetapi permohonan Mela tidak bisa ditolak, hingga wanita itu pun akhirnya merajuk dan buliran bening air matanya mulai mengenang di kedua mata indah milik wanita tersebut.


Mau tidak mau, akhirnya Revan pun keluar dari rumah untuk menuju Apotek yang tak jauh dari komplek perumahan mewah tersebut.


Sejujurnya dia merasa heran dengan sikap Mela yang terlihat sangat sensitif, padahal biasanya Mela jika ada keinginan apapun jika belum dituruti maka wanita itu akan menjadi kalem. Tapi beda beberapa hari ini Mela terlihat aneh, dia lebih sensitif dengan perasaannya.


Bahkan tak ayal wanita itu pun terkadang sering menangis untuk hal yang menurut Revan tidak jelas.

__ADS_1


"Mbak, saya pesan tespeknya ya yang merk paling bagus di sini," ucap Revan kepada pegawai Apotek tersebut.


"Buat istrinya ya, Pak?" tanya pegawai itu.


"Ya jelas buat istri saya dong! Mbak Masa buat kuda? Tolong cepat ya Mbak!" pinta Revan.


Sejujurnya dia merasa tidak betah, karena terus saja dilihat oleh pegawai yang lain. Sebab mungkin mereka merasa aneh, di mana seorang laki-laki membeli alat tes kehamilan untuk wanita. Namun bagi Revan itu hal yang biasa, sebab dia mempunyai seorang istri bukan simpanan ataupun pacar, jadi baginya sah-sah saja.


Setelah mendapatkan barang yang diminta oleh Mella, Revan pun kembali pulang. Namun ia tidak sadar jika ada satu buah mobil yang terus saja mengikuti dirinya hingga pria itu masuk ke dalam rumah mewah milik Adi.


"Kami melihat ada satu orang pria berpakaian rapi masuk ke dalam rumah mewah itu. Tadinya kami melihat dia pulang, tapi kemudian keluar dan masuk kembali. Kami sangat yakin jika dia bukanlah karyawan Tuan Adi," ucap salah satu pria berambut cepak di dalam mobil berwarna hitam, yang mengikuti Revan beberapa menit yang lalu kepada seseorang di seberang telepon


Setelah itu mobil tersebut meninggalkan kediaman Adi.


"Sayang, ini barangnya. Kalau gitu aku mau mandi dulu ya, gerah banget," ucap Revan. Kemudian dia berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Saat Mela membuka plastik Apotek itu, dia merasa kaget, karena di sana banyak sekali merek tespek dan dirinya bingung mau memakai yang mana.


"Aku bingung, tadi pegawainya nanyain mau merek apa? Akhirnya aku borong aja semua merek. Apa susahnya kamu tinggal pakai satu-satu, sudah cukup kan," jawab Revan dengan cuek sambil mengeringkan rambutnya.


.


.


Pagi hari Mela sedang berada di kamar mandi untuk mengecek alat tes kehamilan yang dibeli Revan semalam. Wanita itu memejamkan matanya, karena dia merasa gugup sekaligus deg-degan dengan hasil yang sebentar lagi akan dilihatnya.


"Aduh ... semoga hasilnya positif deh. Aku bener-bener deg-degan nih. Kalau hasilnya negatif, bagaimana? Bisa-bisa Mas Revan bakal kecewa," guma Mela sambil terus meminjamkan matanya.


Saat tespek sudah berada di tangan, wanita itu pun membuka matanya secara perlahan, dan seketika tatapan Mela membulat saat tiba-tiba saja dia melihat garis dua yang terpampang jelas di hadapannya.


"Yeey! Alhamdulillah ya Allah!" jerit Mela dengan bahagia. "Akhirnya aku hamil!" Wanita itu pun mengelus perutnya yang masih rata.

__ADS_1


Kemudian dia keluar dari kamar mandi. Melihat Revan sedang memakai dasi, seketika Mela langsung meloncat dan memeluk tubuh pria itu, hingga Revan yang tersentak kaget pun langsung melingkarkan tangannya di bawah pinggang sang istri.


"Sayang, jangan kayak gitu! Nanti kalau kamu jatuh gimana?" cemas Revan.


"Hehe ... maaf sayang, soalnya aku senang banget," ucap Mela dengan wajah yang bahagia.


Revan yang merasa bingung pun segera menurunkan tubuh sang istri, lalu Mela langsung memberikan alat tespek yang beberapa menit dia pakai. Dan seketika Revan melihat dengan tatapan membulat, kemudian dia langsung memeluk tubuh Mela dengan erat dan mengecup seluruh wajahnya.


"Alhamdulillah ya Allah! Akhirnya kamu hamil sayang. Sebentar lagi kita akan menjadi orang tua," ucap Revan dengan bahagia.


"Iya Mas. Ya udah, sekarang kita turun yuk ke lantai bawah! Kita harus memberikan kabar bahagia ini kepada Mas Adi dan juga Mbak Rika," ujar Mela.


Revan mengangguk, kemudian mereka turun ke lantai bawah di mana ruang makan berada. Dan di sana sudah ada Adi, Rika dan juga Dimas, karena pria itu datang pagi-pagi untuk membicarakan masalah pekerjaan sekaligus tentang masalah sesuatu kepada Adi.


"Good morning, Mbak, Mas! Eh ada Kak Darius," sapa Mela


"Good morning. Wah! Wajah kamu sumringah banget Dek pagi ini? Tumben, ada apa?" tanya Adi dengan penasaran.


Mela tidak menjawab, kemudian dia langsung memberikan tespek itu kepada Adi, membuat pria tersebut sekelika membulat kaget dengan tatapan yang begitu sangat bahagia, di mana ternyata Adiknya juga tengah berbadan dua dan sebentar lagi dia bukan akan mendapatkan anak saja, namun akan mendapatkan keponakan juga.


"Wah! Sepertinya rumah ini akan sangat ramai ya? Akan ada anakmu dan juga keponakanmu?" kekeh Dimas.


"Nah! Aku udah mau punya keponakan dan juga udah mau punya anak, lalu kamu kapan? Seharusnya kamu juga cepat menikah Dimas! Jadi kita bisa menjadi triple Dady," kelakar Adi.


Dimas yang mendengar itu pun hanya tertawa saja. Bukannya dia tidak ingin menikah, tapi Dimas hanya belum siap untuk menjalin sebuah ikatan pernikahan. Karena menurutnya ikatan itu adalah sakral dan tidak bisa diganggu gugat, berbeda dengan pacaran.


Setelah selesai sarapan, Revan dan juga Adi pergi ke kantor. Akan tetapi Adi bersama dengan Dimas, karena mereka harus pergi ke markas terlebih dahulu.


Lagi-lagi mobil Revan dibuntuti saat dia keluar dari Komplek Perumahan tersebut, oleh orang yang semalam membuntutinya ke apotek.


"Kita ikuti dia! Awas jangan dekat-dekat, nanti kita ketahuan," ucap seorang pria yang berambut cepak kepada temannya yang sedang menyetir.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2