
Happy reading.....
Setelah mobil melaju meninggalkan rumah suami dari putrinya tersebut, Papa Renal terdiam sambil menatap lurus ke arah depan.
Sementara tante Cantika terus saja mencak-mencak, sebab dia merasa kesal karena tidak bisa membawa Rika pulang bersama dengan mereka.
"Seharusnya Papa tadi tidak menarik Mama paksa untuk pulang! Mama ingin membawa Rika Pah. Lihatlah! Bahkan rumah itu sangat jelek. Mama tidak mau dan tidak sudi, melihat anak kita tinggal di rumah kumuh seperti itu!" marah Tante Cantika sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Dadanya bergemuruh naik turun, menandakan jika saat ini wanita itu sedang menahan amarah yang begitu besar. Nafasnya memburu dengan sorot mata yang tajam, bak elang yang siap memangsa korbannya.
"Lalu ... apa Mama pikir, dengan keras kepalanya Mama memaksa Rika untuk pulang, dia akan ikut bersama dengan kita? Tentu saja tidak! Mama tahu kan keras kepalanya dia seperti apa? Bahkan setelah kita menghina habis-habisan suaminya, bukannya Rika malah ikut dengan kita, tapi dia malah membelanya? Tidakkah Mama lihat kejadian tadi!" jawab Papa Renal tanpa menoleh ke arah istrinya sedikitpun.
Tangannya terangkat memijat kening yang terasa pusing, memikirkan kondisi putrinya. Dia tidak bisa membayangkan, bagaimana Rika bisa bertahan dengan pria seperti itu?
Bertahan dalam kemiskinan, bahkan rumah itu pun jauh dari kata mewah. papa Renal dapat melihat walaupun hanya dari ruang tamu saja, jika keadaan rumah itu benar-benar jauh dari kata menengah.
"Tapi Pah, mama tidak rela melihat Rika menderita seperti itu. Kenapa sih dia itu keras kepala sekali? Malah bertahan dengan pria yang benar-benar melarat dan juga miskin seperti itu!" geram tante Cantika.
Papa Renal tidak menjawab. Dia masih berkecamuk dengan pikirannya sendiri. Di satu sisi, dia senang melihat Rika baik-baik saja, tapi di sisi lain, jiwa sebagai orang tua dan juga Papa tentu saja menentang keras saat melihat kehidupan putrinya.
Dia sudah terbiasa memanjakan putrinya dari kecil dengan kemewahan, jadi saat melihat Rika hidup sederhana dan ditampilkan dengan keadaan yang begitu menyedihkan, membuat Papa Renal seketika marah.
"Sudahlah Mah! Percuma kita mencak-mencak, marah-marah nggak jelas. Toh pada akhirnya Rika nggak akan mau ikut bersama dengan kita. Mama tenang aja! Papa sudah menyiapkan rencana agar Rika meninggalkan pria miskin itu," jawab Papa Renal sambil tersenyum sinis.
"Rencana apa itu, Pah?" tanya Tante Cantika dengan penasaran.
"Nanti juga Mama akan tahu," jawab papa Renal.
__ADS_1
Tapi sejujurnya ada hal yang dikhawatirkan oleh tante Cantika, yaitu tentang keluarga Baskoro. Sebab keluarga itu tidak ada yang tahu jika Rika sudah menikah dengan Adi .
"Tapi Pah, bagaimana dengan Galang dan juga orang tuanya? Mereka bahkan belum mengetahui tentang pernikahan Rika," ujar tante Cantika dengan nada yang cemas.
Dia takut jika nanti keluarga Baskoro akan membatalkan Perjodohan itu, karena selain Perjodohan yang mereka rencanakan, ada kerjasama bisnis juga yang sangat menguntungkan bagi perusahaannya Papa Renal dan itu tidak sedikit.
Itu kenapa Papa Renal begitu ngotot ingin menjodohkan Galang dan juga putrinya. Sebab jika Rika dan Galang menikah, otomatis perusahaan papa Renal akan semakin sukses, bahkan saham yang ditanamkan oleh keluarga Baskoro tidak ternilai jumlahnya.
.
.
Sementara itu di tempat lain, Galang sedang menerima laporan dari seorang pria bertopi hitam di hadapannya. Pria itu adalah orang suruhan Galang yang memata-matai keluarga Rika.
"Jadi dia sudah menikah?" tanya Galang kepada orang itu.
"Benar Tuan. Dari informasi yang saya dapat, dia sudah menikah hampir 2 bulan yang lalu. Dan ini foto-fotonya bersama dengan suaminya," jawab pria yang berada di hadapan Galang sambil menyerahkan foto-foto Rika bersama dengan Adi.
Dia tidak habis pikir, kenapa Rika mau menikah dengan pria rendahan seperti itu dan malah menolak Perjodohan dengannya, yang jelas-jelas Galang adalah dari keluarga terhormat dan juga sepadan.
"Wanita aneh! Dijodohkan dengan pria tampan dan juga mapan seperti diriku, tapi dia malah memilih pria miskin seperti itu? Dan sekarang hidupnya malah menderita. Ada ya, wanita seperti itu? Memilih kemiskinan dibandingkan kemewahan?" heran Galang sambil tersenyum sinis, saat melihat senyum merekah di bibir Rika saat bersama dengan Adi di ladang.
"Kamu pantau dia terus!" titah Galang kepada orang suruhannya.
Pria itu pun mengangguk, kemudian dia keluar dari ruangan Galang.
Sementara Galang tidak habis pikir dengan keputusan Rika. Dan dia juga heran kenapa keluarganya Papa Renal tidak memberitahukan tentang pernikahan putrinya?
__ADS_1
Dia berencana untuk ke rumah Papa Renal nanti malam selepas dari kantor, menanyakan tentang hal tersebut, karena Galang harus memastikannya secara langsung.
"Jika memang benar bahwa Tuan Renal dan juga Nyonya Cantika tidak merestui hubungan mereka, dan keduanya masih menjodohkan kami. Otomatis ada kemungkinan besar untuk mendapatkan Rika. Lihat saja! Aku pasti akan mendapatkan wanita jual mahal itu," gumam Galang dengan sorot mata yang sulit di artikan.
Sejujurnya bukan hanya karena Galang tertarik saja kepada Rika, sebab wanita itu cantik. Tetapi ada hal lain yang membuat Galang ingin memperjuangkan untuk mendapatkan Rika.
.
.
Setelah Mela, Adi dan juga Rika selesai makan siang. Mereka pun saat ini duduk di ruang tengah, membicarakan tentang hal dan juga keributan yang beberapa waktu terjadi.
"Mas, kamu kenapa tiba-tiba pulang lebih cepat?" tanya Rika yang merasa heran, sebab biasanya Adi pulang tepat jam 16.00 sore.
"Tidak tahu sayang. Karena kerjaan di sawah juga sudah selesai, tapi ada sebuah rasa yang menarik aku untuk segera pulang. Dan ternyata benar, ada yang sesuatu yang terjadi di rumah. Mungkin itu kenapa hatiku mengatakan jika aku harus pulang secepatnya," jawab Adi sambil menatap ke arah istrinya.
"Aku tuh nggak habis pikir deh Mbak, sama orang tuanya kamu. Kenapa mereka menentang sekali ya? Padahal seharusnya sebagai orang tua, mereka itu bahagia melihat kamu di sini hidup tentram, aman, damai tidak menderita. Ya ... walaupun tidak bergelimangan harta. Aku tahu sih, Mbak ini terlahir dari orang kaya, dari kecil sudah biasa disuguhi dengan kemewahan. Tapi jujur ya Mbak, baru kali ini aku melihat orang tua malah marah melihat anaknya senang, hidup bahagia bersama suaminya?" Mela Berkata sambil menggelengkan kepalanya, sedangkan matanya menatap lurus ke arah televisi.
"Mela!" Adi mencoba untuk memperingatkan adiknya, namun Rika menggenggam tangan pria tersebut.
"Apa yang dikatakan Mela memang benar, Mas. Aku juga heran, kenapa Papah dan Mama begitu ngotot untuk menjodohkan ku dengan Galang? Ya, walaupun aku tahu di balik Perjodohan itu ada kata bisnis. Tapi aku tidak mencintainya. Aku merasa dia bukan pria yang baik," tutur Rika sambil menyenderkan kepalanya di bahu kekar sang suami.
Masalah apapun itu, jika dia berdekatan dengan Adi pasti semuanya terasa tenang tanpa beban pikiran. Karena entah kenapa, setiap bersama dengan Adi Rika selalu merasakan sebuah ketenangan yang tidak pernah ya rasakan sebelumnya.
Sementara itu Mela melirik ke arah pasangan suami istri tersebut yang duduk berada tak jauh darinya.
"Kalian ini, kalau mau bucin-bucinan jangan di hadapan jomblo dong! Emang gak kasihan apa ngelihat aku masih sendiri?" kata Mela dengan bibir manyun.
__ADS_1
"Makanya cepet cari jodoh, jangan jomblo mulu! Di desa ini kan banyak pria jomblo," kekeh Adi dan Rika pun ikut tertawa.
bersambung