Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)

Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)
Perlu Rilex


__ADS_3

Happy reading....


Hari ini adalah hari ketiga setelah kepergian Revan, dan Rika sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah bersama dengan Bayi Mereka.


Sementara kondisi Mela tidak jauh beda dengan saat pertama kali ditinggal oleh Revan. Wanita hamil itu masih murung dan mengurung dirinya di kamar, bahkan makannya pun hanya sedikit. Namun setidaknya ada asupan makanan yang masuk ke dalam tubuhnya.


Ibu Tia juga tidak tega meninggalkan Mela, apalagi menantunya saat ini tengah mengandung benih dari putranya. Jadi dia mempunyai andil yang kuat untuk menjaga Mela.


"Nak, makan dulu yuk! Ibu udah buatin bubur nih buat kamu," ucap Bu Tia saat masuk ke dalam kamar masang menantu.


"Mela tidak lapar Bu," jawab Mela dengan nada yang lirih sambil terus memandangi foto Revan.


Melihat kondisi Mella, membuat Bu Tia benar-benar sedih. Dia dapat merasakan bagaimana perasaan wanita hamil itu.


Bagaimana tidak merasa sakit, seorang istri saat ditinggalkan suaminya dalam keadaan hamil? Tentu saja itu akan membuat mental serta kondisi batinnya tidak baik. Mungkin jika ditinggal keluar kota atau hanya sekedar pekerjaan masih bisa dimaklumi, akan tetapi ini ditinggal untuk selama-lamanya.


"Nak, ibu tahu kamu bersedih atas kepergian Revan. Tapi kamu tidak sendirian. Ibu pun juga sama, karena apa? Sebab Revan adalah putra ibu satu-satunya. Tapi mau kita bersedih bagaimanapun, Revan tidak akan kembali. Jadi satu hal yang bisa kita lakukan sekarang, mengikhlaskannya dan terus mendoakannya. Walaupun ibu tahu ini sangat sulit, tapi setidaknya kita tidak membuatnya sedih di sana, karena Revan pasti sangat terpukul melihat kamu sekarang seperti ini. Ingat Nak! Di dalam perutmu ada benih yang Revan tanam, dan pasti dia ingin anak kalian tumbuh sehat." Bu Tia berkata dengan nada yang lembut sambil menggenggam tangan Mela.


Mendengar penuturan Ibu mertuanya, Mela pun akhirnya mengangguk. Kemudian dia mau memakan bubur yang dibawa oleh Ibu Tia, namun hanya sedikit.


"Mela ingin sayur asam, Bu, sambel terasi dan juga ikan asin, ditambah dengan jengkol balado. Rasanya Mela ingin makan itu," ucap wanita hamil tersebut.


Mendengar itu tentu saja Bu Tia tersenyum sumringah. "Baiklah, kalau begitu ibu akan membuatkannya. Kamu tunggu di sini ya! Oh iya Mbak?" panggil Bu Tia kepada pengawal A.


"Saya Nyonya."


"Tolong kupas buah apel ini untuk Mela ya! Dan pastikan dia menghabiskannya. Tunggu ya sayang, ibu akan memasaknya untuk kamu." Bu Tia mengusap kepala Mella dan wanita itu hanya menganggukkan kepalanya.


Tentu saja Bu Tia merasa semangat untuk memasakan makanan menantunya, karena walaupun rasa sedih yang begitu mendalam, Bu Tia masih bersyukur. Sebab Revan sudah menitipkan Anugerah sebelum ia pergi.


Setidaknya Bu Tia masih bisa melihat wajah Revan dari darah dagingnya bersama dengan Mela, dan saat beliau menuruni tangga, dia berpapasan dengan Rika yang baru saja keluar dari rumah sakit.


"Masya Allah! Akhirnya kamu pulang Nak. Mana, Ibu mau lihat cucu Ibu seperti apa_" ucap Bu Tia sambil melihat ke arah bayi yang sedang digendong oleh Rika.


"Ya ampun, lucu sekali. Apa kalian sudah memberikannya nama?" tanya Bu Tia sambil menatap ke arah Adi dan juga Rika.


"Iya, kami sudah memberikannya nama. Dan namanya adalah Noah Hermawan," jawab Adi sambil mengusap rambut putranya yang begitu tebal.


"Nama yang bagus, kalau gitu kamu istirahat di kamar ya! Nanti Ibu mau menggendong cucu Ibu boleh kan?" pinta Bu Tia, dan langsung dibalas anggukan oleh Rika maupun Adi.


"Tentu saja boleh Bu. Noah Ini juga cucu ibu."


"Ya sudah, kalau begitu Ibu mau ke dapur dulu. Mau masak ya." Bu Tia melanjutkan jalannya tapi seketika dihentikan oleh Adi.

__ADS_1


Dia melarang wanita itu untuk masak, akan tetapi Bu Tia menjelaskan jika itu adalah keinginannya Mela. Dan Bu Tia tidak ingin mengecewakan menantunya, karena dia tahu jika Mela sedang mengidam.


Mendengar hal tersebut, akhirnya Adi pun mengizinkan. Tapi dengan syarat dibantu oleh pelayan, karena dia tidak mau jika Bu Tia kelelahan.


Saat wanita itu tengah memasak, tiba-tiba air matanya kembali menetes.


'Kamu pergi nak, meninggalkan Ibu. Padahal hidupmu sudah enak, menikah dengan Mela yang kita sangka adalah orang miskin, tapi ternyata mereka adalah orang yang sangat kaya. Tapi kamu malah pergi. Rasanya Ibu masih tidak percaya Jika kamu sudah meninggalkan ibu selama-lamanya.' batin bu Tia.


.


.


Malam ini semua sudah berkumpul di ruang keluarga, ada Adi, Rika, Mela, Dimas dan juga Bu Tia.


Adi sengaja mengumpulkan mereka semua karena ingin membicarakan perihal wasiat yang diberikan Revan, sebelum pria itu menghembuskan nafas terakhirnya. Sebab walau bagaimanapun, Adi harus mengungkapkan semuanya kepada Bu Tia dan juga Rika.


Sementara Noah sedang dijaga di kamar oleh pengawal M dan juga N, dan tentu saja di sana juga ada Vano.


"Mas, sebenarnya ada apa? Kenapa kamu mengumpulkan kami di sini?" tanya Rika.


Adi sejenak menghela nafas, kemudian dia menatap ke seluruh orang yang ada di dalam ruangan itu.


"Sebenarnya aku mengumpulkan kalian di sini untuk membicarakan wasiat terakhir dari Revan," jawab Adi.


Dahi Bu Tia beserta Rika mengkerut heran, karena mereka berdua memang belum mengetahui tentang wasiat yang diberikan oleh Revan.


"Iya Mas, wasiat apa?" Timpal Rika.


Kemudian Adi menatap ke arah Dimas dan juga Mela bergantian, lalu dia pun menjelaskan kepada Bu Tia maupun Rika tentang apa yang diminta oleh Revan sebelum pria itu menghembuskan nafas terakhirnya.


Tentu saja penjelasan Adi membuat Rika dan juga Bu Tia merasa sangat syok, mereka tidak menyangka jika Revan menitipkan Mela kepada Dimas. Hal yang tak pernah mereka sangka sebelumnya.


"Sekarang Adi meminta pendapat dari ibu, apakah wasiat dari Revan harus dijalankan? Apakah mereka berdua harus dinikahkan?" tanya Adi meminta pendapat kepada Ibu dari Revan.


Karena dia pikir, pendapat seorang ibu itu lebih utama. Di sana Adi sudah tidak memiliki orang tua, sedangkan dari istrinya saja orang tuanya tidak bisa diandalkan, dan di sana hanya ada bu Tia.


Mendengar pertanyaan dari Adi, Bu Tia hanya diam sambil menatap ke arah Dimas. Kemudian dia menatap ke arah perut Mela.


"Jika itu yang diwasiatkan oleh Revan, maka Ibu percaya bahwa sebelum dia mengatakan hal seperti itu, Revan yakin bahwa Nak Dimas adalah orang yang baik, dan dia mampu untuk menjaga Mela. Namun tunggu sampai masa iddah Mela selesai, barulah mereka dinikahkn."


Mela mengangkat wajahnya, menatap ke arah mertuanya. Dia tidak menyangka jika Bu Tia mengizinkannya untuk menikah dengan Dimas. Padahal hati Mela masih menolak, karena rasanya dia tidak bisa menjalani itu semua.


"Mela, bagaimana? Kamu mau menikah dengan Dimas?" tanya Adi pada sang adik.

__ADS_1


Untuk beberapa saat Mela terdiam, sehingga suasana di ruang keluarga pun terasa hening. Kemudian wanita tersebut menatap semua orang dengan deraian air mata yang kembali jatuh membasahi pipinya.


"Apa yang Mela bisa lakukan, Mas? Jika Itu sudah keputusannya Mas Revan. Bukankah sebuah wasiat harus dilaksanakan? Jadi tidak ada kata menolak untuk bahagia, atau tidak itu urusan belakangan. Tapi satu hal yang ingin Mela tegaskan! Di sini bahwa Mela sangat mencintai Mas Revan, dan pria itu tidak akan pernah tergantikan sampai kapanpun! Walaupun mungkin nanti Mela mencintai Tuan Dimas, atau tidak," ujar Mela


Setelah diskusi tentang wasiat dari Revan, Mela pun pergi ke kamar diantar oleh pengawal A dan B untuk beristirahat. Tak lupa wanita itu juga meminum vitaminnya.


Namun di sana juga Adi menjelaskan jika Bu Tia harus tinggal di rumah itu. Sebab di kampung wanita tersebut tidak mempunyai sanak saudara lagi, sekalinya punya jauh-jauh di luar kota. Jadi Adi tidak tega jika wanita itu tinggal sendirian.


"Tinggallah di sini bersama dengan kami! Karena Mela juga anak ibu. Apalagi saat ini Mela tengah mengandung cucu Ibu. Apa Ibu tidak ingin mengurusnya? Ibu tidak ingin melihat prosesnya membesarkan cucu ibu sendiri?" ujar Adi dengan tatapan sendu ke arah bu Tia.


Wanita itu pun mengangguk, dia setuju untuk tinggal di kediamannya Adi. Ditambah di sana juga dekat dengan makamnya Revan, jadi Bu Tia bisa setiap hari ke makam putranya untuk menabur bunga atau sekedar membacakan doa dan melepas Rindu.


.


.


Di ruang kerja Adi.


"Jadi pelakunya mereka?" tanya Dimas saat sudah mendengar penjelasan dari Adi tentang pelaku dari kecelakaan Revan.


"Iya, aku mau kamu menyusun rencana dan membawa mereka ke markas! Kali ini aku tidak akan memberi ampun kepadanya!" Adi berkata dengan nada yang begitu dingin.


Begitu pula dengan Dimas, dia mengangguk mantap. Dan setelah berbicara dengan Adi soal rencana mereka, Dimas pun keluar dari rumah mewah itu.


Tentu saja di dalam hati Dimas juga menyimpan dendam, karena gara-gara orang tersebut Revan harus tiada dan dia harus menggantikannya untuk menjaga Mela, sehingga kebebasannya sebagai seorang pria pun sedikit terusik dan terkekang.


''Rasanya aku harus merefreshkan otak dan juga tenagaku dulu. Aku rindu dengan wanita-wanitaku. Sepertinya tubuh ini perlu untuk dipijit," gumam Dimas sambil meregangkan otot-ototnya saat menyetir mobil.


Dia melaju membelah jalanan yang mulai lenggang di malam hari menuju sebuah klub malam, di mana biasanya Dimas menyewa wanita-wanitanya untuk memuaskan hasratnya.


"Seperti biasa, bawakan aku tiga wanita!" pinta Dimas kepada Madam yang ada di sana.


"Sudah beberapa hari ini kamu tidak ke sini? Apa sedang sibuk?" tanya Madam G sambil melipat kedua kakinya, sehingga menampilkan paha mulus putih miliknya.


"Ya. Aku sedikit sibuk, makanya aku butuh 3 wanita," jawab Dimas sambil meneguk minuman alkohol yang berada di tangannya saat ini.


"Baiklah, tidak masalah," jawab Madam G. Kemudian dia membisikkan sesuatu kepada asistennya, lalu Dimas berjalan ke arah kamar VVIP di mana dia sudah terbiasa untuk menyewanya.


Dan setelah sampai di sana masuklah tiga orang wanita cantik dan seksi berjalan berlenggak-lenggok menuju ranjang di mana saat ini Dimas sudah merentangkan tubuhnya.


"Puaskan aku! Akan ku beri tips yang lebih kalau kalian bisa memuaskan tubuhku," ucap Dimas.


Tiga wanita itu tersenyum, kemudian mereka mulai membuka pakaiannya satu persatu hingga tidak ada sehelai benang pun. Setelahnya berjalan ke arah Dimas dan membuka pakaian pria itu, hingga mereka pun melakukan tugasnya. Sementara Dimas hanya menikmati sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


'Aaahh! Rasanya nikmat sekali. Setelah aku menikah dengan Mela, kebiasaanku ini pasti sedikit akan terkekang. Tapi tidak akan merubah semuanya.' batin Dimas sambil merasakan jika batang kelapanya sedang dipijit oleh salah satu wanita bayarannya.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2