Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)

Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)
Mulai dari 0


__ADS_3

Happy reading....


"Dia ...." ucapan Dimas terhenti saat seseorang tiba-tiba saja mengetuk pintu ruang kerja Adi.


Ternyata yang mengetuk pintu adalah Papa Renal, kemudian Adi menyuruhnya untuk masuk.


"Iya kenapa, Pah?" tanya Adi.


"Begini ... Papa dan Mama pamit untuk pulang ya sebab Papa juga ada kerjaan."


Adi menatap lekat ke arah pria yang pernah menghinanya, menghancurkan hidupnya, bahkan tidak merestui hubungannya bersama dengan Rika. Namun pada dasarnya Adi bukanlah orang yang pendendam.


Kemudian dia beranjak dari duduknya dan menghampiri Papa Renal. "tidak usah pergi Pah, di sini saja. Rika Pasti akan sangat senang jika berkumpul dengan keluarganya."


"Tapi ..." Papa Renal menggantungkan ucapannya, sebab dia tidak enak kepada Adi jika harus tinggal di sana, karena pria itu sadar atas segala kesalahan yang telah Ia perbuat selama ini.


Adi mengusap bahu mertuanya, kemudian dia pun berkata, "saya sudah memaafkan kesalahan Mama dan Papa. Kita harus memulainya dari nol. Jangan sampai karena dendam masa lalu, membuat keluarga kita hancur. Saya yakin Papa telah berubah, dan saya berharap Papa tidak membuat kesalahan yang sama. Karena jika itu terjadi, maka tidak akan ada kata maaf kedua dari aku dan juga Rika!"


Mendengar penuturan menantunya Papa Renal merasa terharu dia memeluk tubuh Adi, di mana tak pernah ia lakukan semenjak pria itu menikah dengan putrinya.


"Maafkan papa ya! Seharusnya dari dulu Papa sadar bahwa kamu memang jodoh yang terbaik untuk Rika, sayangnya Papa terlalu dibutakan oleh harta." Papa Renal menundukkan kepalanya.


Rasanya dia benar-benar malu saat berada di hadapan Adi. Dimana menantunya adalah orang terkaya, sedangkan dia tidak ada apa-apanya, walaupun dirinya masih memiliki perusahaan.


"Tidak apa-apa, kita mulai dari nol. Oh iya , aku sama Dimas mau pergi keluar dulu ya Pah. Nanti malam kita bicara, ada hal penting yang ingin aku bicarakan sama Papa."


Papa Renal pun mengangguk, kemudian Adi dan Dimas beranjak keluar dari ruangan tersebut, karena mereka harus ke markas sebab Adi sudah tidak sabar ingin memberi pelajaran kepada orang yang sudah mencelakai Revan.


Saat Adi melewati ruang tamu tiba-tiba saja suara istrinya menghentikan langkah pria itu.


"Kamu mau ke mana, Mas?"


"Ini Sayang, aku mau keluar. Mungkin nanti pulangnya agak malam, kamu nggak papa kan aku tinggal? Lagi pula di sini ada mama Cantika sama Bu Tia juga. Akhir-akhir ini aku sangat sibuk, jadi tidak apa-apa kan?"


"Tidak apa-apa, asal kamu bisa jaga diri."

__ADS_1


"Siap Tuan Ratu! Kalau gitu kanda pergi dahulu ya dinda." Adi mengangkat tangannya dan menaruhnya di kening dengan posisi yang tegap, membuat Rika terkekeh. Sementara Dimas hanya menggelengkan kepalanya saja.


Lalu Adi mendekat ke arah istrinya, kemudian dia mencium kening Rika dengan lembut. Sementara tatapan Rika mengarah kepada lehernya Dimas, dan ternyata benar di sana ada tanda kepemilikan seseorang.


'Sepertinya aku memang harus berbicara dengan mas Adi ' batin Rika.


Dimas merasa diperhatikan oleh Rika pun merasa tak nyaman, kemudian dia berjalan lebih dulu ke mobil meninggalkan pasangan itu.


"Mas, kamu pulangnya jangan terlalu malam ya! Soalnya ada hal penting yang ingin aku bicarakan sama kamu." pinta Rika sambil memeluk suaminya dan menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Adi.


"Mau bicara apa sih, Sayang? Sekarang pun tidak apa." Adi mengusap rambut sang istri dengan lembut.


"Nggak mau, ah! Pokoknya nanti malam aja."


"Ya udah, kalau gitu aku pamit ya."


Adi mengecup kening, kedua pipi, hidung, mata dan terakhir bibirnya Rika, membuat wajah wanita itu bersemu merah karena kelakuan suaminya. Mereka tidak sadar jika ada Mela yang sedang menatap keduanya dengan cemburu.


Melihat keharmonisan Rika dan juga Adi, Mela teringat dengan Revan. Dia sangat merindukan suaminya.


Saat wanita itu berbalik, tiba-tiba Rika memanggil dirinya. Dia melihat Mela yang pergi meninggalkan ruang tamu.


"Kamu kenapa keluar kamar? Tidak istirahat saja," ujar Rika sambil mendekat ke arah Mela dengan langkah perlahan, karena jahitannya belum kering jadi Rika harus berhati-hati.


"Oh ya Mbak, aku mau ke makamnya Mas Revan dulu ya. Aku kangen sama dia," ucap Mela dengan tatapan yang Sendu.


Rika mengangguk, dia paham dengan perasaan adiknya. Kemudian dia meminta Bu Tia untuk menemani Mela, karena jujur Rika takut terjadi apa-apa dengan Mela. Apalagi keadaannya sedang hamil, tidak lupa Mela juga dikawal oleh pengawal Adan B.


.


.


Sepanjang perjalanan Adi hanya terdiam, sebab Ia merasa penasaran dengan ucapan Rika tadi yang mengatakan jika ada hal penting yang ingin dibicarakan oleh wanita itu.


Namun seketika pikirannya mengarah kepada Dimas, di mana pria tersebut beberapa saat yang lalu mengatakan jika ada musuh dalam selimut.

__ADS_1


"Oh iya Dim, lo bilang ada musuh dalam selimut? Siapa itu? Lo belum menyebutkan namanya."


Memang Dimas tidak sempat mengatakan siapa orang tersebut, karena keburu Papa Renal masuk ke dalam ruangan kerja Adi.


"Yakin ingin tahu siapa orang itu?" tanya Dimas memastikan.


Adi mengangguk tegas. Tentu saja dia ingin mengetahuinya, karena walau bagaimanapun itu menyangkut keselamatan keluarganya.


"Aku ingin mengatakannya, tapi pasti kau tidak akan percaya. Jadi nanti kau baca saja berkas yang ada di ruang kerjamu! Tadi aku menaruhnya di laci, di sana sudah tertulis jelas aiapa saja komplotan yang bekerja sama dengan Reno."


"Kenapa tidak kau katakan secara langsung sih?" Adi benar-benar penasaran.


"Seperti yang ku bilang tadi, kalau aku mengungkapkan dan menyebutkan namanya, kau tidak akan percaya. Jadi lebih baik kau membacanya secara langsung! Karena bukti itu lebih utama bukan? Aku mengenal dirimu, kau tidak akan pernah percaya jika tanpa bukti_" jelas Dimas.


Memang apa yang dikatakan Dimas benar, Adi adalah orang yang tidak akan percaya dengan sesuatu omongan jika tidak didasari dengan bukti, karena omongan itu bisa dimanipulatif sedangkan bukti tidak bisa.


Sesampainya mereka di markas, pintu dibukakan oleh anak buah Dimas. Kemudian keduanya masuk menuruni tangga menuju ruang bawah tanah, di mana saat ini seorang pria tanpa busana tengah diikat tangan dan kakinya di sebuah tiang.


Saat melihat Adi masuk, pria itu tersenyum sinis, padahal wajahnya sudah babak belur ditambah ada beberapa luka lebam di tubuhnya.


"Ternyata kau sudah berani menunjukkan batang hidungmu Adi," ucap pria itu dengan nada yang begitu dingin, padahal saat ini dirinya sudah tidak bisa buat apa-apa.


"Ckckck! Bahkan disaat seperti ini pun, kau masih bisa untuk menyombongkan diri? Lihat keadaanmu sekarang! Apa kau tidak malu? Bahkan pisang ambonmu saja sudah menggantung. Rasanya aku sudah tidak sabar ingin segera memotong lalu memberikannya kepada ikan hiu." Adi tersenyum sinis, kemudian dia duduk di kursi yang sudah disediakan oleh anak buah Dimas.


"Kita enaknya ngapain dia ya?" tanya Adi kepada Dimas yang saat ini sedang meminum alkohol.


"Terserah, itu adalah permainanmu. Aku hanya akan menyaksikan saja. Tapi tanganku gatal ingin sekali memecahkan dua telur bebek yang sedang menggantung pada pohon pisang itu!" Dimas menunjuk ke arah bagian inti milik Reno dengan dagunya, namun senyumnya terlihat menyeringai.


GLUK!


Reno meneguk ludahnya dengan kasar saat dia mendengar perkataan Dimas, yang dirasanya begitu sangat mengerikan di telinga.


"Jangan berani macam-macam kau ya!" teriak Reno. Namun malah dibalas tawa oleh kedua pria tampan tersebut.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2