
Happy reading...
Mela dibawa oleh Rika menuju kamar, karena wanita itu khawatir dengan keadaan adik iparnya bahkan Mela tidak mau makan sedari siang.
Kondisinya semakin melemah, apalagi Mela terus aja melamun dan mengigau memanggil nama Revan.
Sebagai seorang wanita dan istrix tentu saja Rika sangat khawatir dengan kondisi adik iparnya, karena dia juga bisa merasakan ada di posisi Mela seperti apa.
Tiba-tiba saja Adi masuk ke dalam kamar, dia melihat adiknya masih terbaring di atas tempat tidur. Kemudian mendekat ke arah Rika lalu mengusap rambutnya dengan lembut.
"Bagaimana keadaannya? Apa dia mau makan?" tanya Adik dengan tatapan yang begitu cemas.
Rika menggelengkan kepalanya, "Tidak Mas. Bahkan makanannya tidak mau disentuh sama sekali," jawab Rika.
Mendengar hal itu tentu saja Adi merasa sangat sedih. Tak pernah ia melihat Mela seterpuruk itu. Kemudian Adi hendak meninggalkan kamar adiknya, namun tangannya tiba-tiba ditahan oleh Rika.
"Jelaskan kepadaku, Mas! Bagaimana bisa Revan kecelakaan? Padahal tadi berangkat dari rumah dia baik-baik saja?" tanya Rika yang merasa jika kecelakaan Revan ada yang janggal.
Entah kenapa Rika merasakan sesuatu yang tidak baik di mana hal buruk menimpa adik iparnya. Bukan hal yang tidak disengaja, akan tetapi sudah direncanakan oleh seseorang, sebab feelingnya mengatakan hal seperti itu.
"Nanti saja aku jelaskannya ya, tidak di sini. Kamu juga harus istirahat, jangan terlalu lelah! Karena kandungan kamu juga semakin besar, nanti kalau terjadi apa-apa sama anak kita bagaimana?" ujar Adi sebelum pria itu keluar dari kamar.
Dia sudah mengirimkan pesan kepada Dimas untuk datang ke rumah, karena ada hal yang ingin dibicarakan oleh Adi perihal tentang kecelakaan Revan.
.
.
Tepat jam 19.00 malam, Ibu Tia sampai di kediaman Adi terlihat sudah banyak orang yang berdatangan, dan itu membuatnya sangat heran seperti sedang ada acara pengajian.
"Tuan, ini ada apa ya kok rame banget? Memangnya ada acara pengajian di rumahnya Adi?" tanya Bu Tia kepada Vano saat mereka belum turun dari mobil.
"Untuk itu sebaiknya Ibu tanyakan saja kepada tuan Adi," jawab Vano, "Kalau begitu mari saya antar masuk!"
Bu Tia turun dari mobil, kemudian dia langsung berjalan memasuki rumah tersebut bersama dengan Vano. Melihat ada bendera kuning, entah kenapa perasaannya menjadi tak enak , karena dia tahu jika itu adalah tanda seseorang sudah meninggal dunia.
__ADS_1
'Siapa yang meninggal di rumah Adi, Ya Allah? Kenapa perasaanku tiba-tiba saja menjadi tak enak? Semoga Engkau selalu melindungi Putraku dimanapun dia berada.' batin Bu Tia.
Langkah demi langkah masuk, semua mata tertuju kepada Bu Tia, hingga dia melihat ada Adi yang sedang mengenakan sarung beserta koko putih dan tak lupa peci yang menempel di kepalanya.
Wanita paruh baya itu pun langsung menghampiri Adi. "Nak Adi," sapa Bu Tia. Dan melihat itu Adi tersenyum dan langsung mencium tangan wanita yang menjadi mertua dari adiknya.
"Ibu sudah datang, sebaiknya masuk dulu ke kamar yuk! Soalnya pasti Ibu sangat lelah," ujar Adi sambil merangkul pundak Bu Tia, namun wanita itu langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak, bilang dulu sama ibu ini siapa yang meninggal?" tanya Bu Tia sambil menelisik ke arah setiap ruangan yang ada di sana, namun seketika tatapannya terpaku kepada foto putranya yang dipajang dan di sana ada tulisan bela sungkawa.
"Tunggu dulu! Itu, kenapa di sana ada foto Revan? Terus itu jugabada ucapan bela sungkawa?" Bu Tia berkata dengan nada yang sedikit panik terus dia menatap ke arah Adi meminta jawaban dari pria itu.
"Sebaiknya Ibu istirahat dulu yuk!" Adi mencoba untuk mengajak Bu Tia istirahat, namun wanita tersebut bersikukuh karena dia benar-benar penasaran sebab perasaannya mendadak menjadi sangat tak enak.
Melihat tidak ada jawaban dan reaksi apapun dari Adi tentang pertanyaannya, membuat Bu Tia benar-benar merasa khawatir.
"Nak Adi, tolong jawab pertanyaan ibu! Siapa yang meninggal?" desak Bu Tia.
Terlihat Adi menghela nafas, pria itu menatap sendu ke arah Bu Tia. Dan saat dia akan berkata tiba-tiba saja Rika datang menghampiri dirinya. Karena Wlwanita itu dari kejauhan melihat kehadiran mertua dari adik iparnya.
"Baru saja Nak. Gimana kandungan kamu sehat?" tanya Bu Tia dan langsung dibalas anggukan oleh Rika.
"Sebenarnya siapa yang meninggal di sini, Nak Adi? Kamu belum menjawab pertanyaan Ibu." alagi-lagi Bu Tia mendesak Adi.
Hingga tiba-tiba saja Mela yang turun ke lantai bawah untuk menemui suaminya melihat kehadiran Ibu mertuanya. Dia pun langsung berlari dan menghambur memeluk tubuh Bu Tia dengan erat wanita itu langsung menangis tersedu-sedu membuat Bu Tia merasa heran.
"Mela, kamu Klkenapa Nak kok kamu malah nangis?" tanya Bu Tia dengan bingung, karena melihat Mela yang tiba-tiba saja memeluk dirinya sambil menangis histeris.
Wanita itu tidak menjawab, dadanya masih terasa begitu sesak, bahkan suara seperti tercekat di tenggorokan. Sehingga untuk mengeluarkan satu kata pun rasanya Mela tidak sanggup.
"Kalian ini kenapa diam saja sih? Jawab pertanyaan saya! Ada apa ini? Siapa yang meninggal? Jangan membuat saya panik Naknl Adi. Tolong jawab! Atau jangan bilang. kalau ..." bu Tia menggantung ucapannya.
"Aku tidak sanggup kehilangan Mas Revan, Bu. Aku tidak sanggup. Kenapa dia meninggalkan aku secepat itu? Kenapa?" tangis Mela benar-benar sangat pecah, dia masih tidak terima atas kehilangan suaminya.
"Apa! Apa maksud kamu, Nak? Jangan bicara sembarangan! Revan ninggalin kamu ke mana? Keluar kota?" Bu Tia masih belum mengerti dengan arah pembicaraan Mela.
__ADS_1
Dan wanita hamil itu menggelengkan kepalanya kemudian dia menunjuk ke kerumunan orang-orang yang sedang mengaji Yasin, di mana di sana ada jasad Revan yang sudah ditutup oleh kain, karena memang sengaja belum dimakamkan.
"Itu jasadnya siapa?" tanya Bu Tia.
"Aku bener-bener tidak sanggup untuk kehilangan Mas Revan. Aku sedang hamil, tapi kenapa dia malah meninggalkanku, Bu? Kenapa Tuhan tidak adil kepadaku? Kenapa?" Mela lagi-lagi histeris, hingga dia pun tidak sadarkan diri dalam pelukan mertuanya.
"Astaghfirullahaladzim! Mela!" panik Rika.
"Dimas, cepat bawa dia ke kamar!" titah Adi kepada sahabatnya yang sejak tadi hanya diam saja. Kemudian Dimas mengangguk lalu menggendong tubuh Mela dan membawanya ke kamar, tidak lupa dia juga memanggil dokter.
Sementara Adi ingin berbicara dengan Bu Tia, dan wanita itu hanya bengong saat melihat jasad seseorang yang ditutup oleh kain.
"Bu, saya bisa--" ucapan Adi terhenti saat Bu Tia pergi meninggalkannya dan berjalan dengan perlahan ke arah jasad Revan. Tatapannya bahkan kosong seperti dia sedang mengalami mimpi buruk.
Kain yang menutupi wajah Revan pun dibuka secara perlahan oleh tangan Bu Tia, dan seketika air matanya luruh, lututnya terasa lemas, dadanya terasa begitu sangat sesak. Dia berharap itu adalah mimpi buruk, di mana saat ini putranya sudah berwajah pucat dan tengah tertidur dengan lelap.
"Revan! Tidak. Ini tidak mungkin Revan! Nak Adi, ini bukan Revan kan? Dia tidak mungkin meninggalkan Ibu. Pasti Revan sedang tertidur kan?" Bu Tia menatap ke arah Adi dengan air mata yang sudah membasahi pipi.
Adi tidak kuasa menjawab, sementara Rika hanya mengusap pundak Ibu Tia dengan lembut. "Yang tabah ya Bu. Kami pun tidak menyangka." Rika bisa merasakan bagaimana berada di posisi Bu Tia dan bagaimana perasaannya saat ini.
Wanita itu menggelengkan kepalanya, dia tidak terima dengan kenyataan yang dilihatnya saat ini. "Tidak. Tidak mungkin. Ini pasti bukan Revan! Dia dia pasti sedang tidur,bkamu kan sudah berjanji sama ibu kalau kamu akan mengajak Ibu untuk jalan-jalan? Kenapa kamu malah tertidur! Ayolah bangun, Nak! Ibu akan buatkan soto kesukaan kamu!" Ibu Tia menggoncang tubuh Revan.
Akan tetapi tubuh itu sudah kaku, dia bahkan tidak mendengar atau membuka matanya, membuat Bu Tia benar-benar histeris.
"Tiidaak! Revan bangun, Naaak! Banguun!"
Dia sangat terkejut karena tidak menyangka jika putranya akan pergi secepat itu, hingga tiba-tiba saja tubuh wanita itu tak sadarkan diri.
"Astaghfirullahaladzim! Mas, ayo kita bawa Bu Tia ke kamar Mas!" panik Rika.
Adi mengangguk, namun saat dia menggendong tubuh Bu Tia tiba-tiba saja Rika merasakan perutnya begitu sakit, karena sedari pagi dia terlalu banyak pikiran hingga akhirnya Rika pun mengalami kontraksi.
"Aawwh! Adduuh Mass! Perutku sakiit!" ringis Rika.
Kemudian Adi meminta pengawal M dan juga N untuk membawa Bu Tia ke kamar, sementara Adi akan membawa Rika ke rumah sakit, karena dia benar-benar khawatir dengan kandungan sang istri.
__ADS_1
BERSAMBUNG....