Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)

Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)
Masa lalu Dimas


__ADS_3

Happy reading .....


"Dahulu saat Tuan muda masih sekolah SMA, dia termasuk orang yang bisa dibilang nakal, begajulan, sering main balap-balapan motor bahkan pernah tawuran. Tak ayal kedua orang tuanya sering dipanggil ke sekolah atas perilaku tuan muda, hingga tuan besar dan nyonya besar pun mulai jengah dan marah." Bi Ida menghentikan ucapannya terlebih dahulu, mengingat kembali ke zamannya saat Dimas masih sekolah sampai kuliah.


"Bahkan sampai kuliah pun tuan muda ditekan untuk memulai mengerjakan bisnis warisan dari keluarganya. Dia yang sudah terbiasa hidup dalam kalangan bisnis dan juga hidup dengan keras membuat Tuan Dimas menjadi pria yang mandiri. Memasuki kuliah Tuan Dimas mulai mengenal minuman, tapi hanya sekedarnya saja, belum seperti sekarang. Hingga saat itu Tuan Dimas mempunyai kekasih .. tapi ditentang oleh kedua orang tuanya karena tuan dan juga nyonya besar ingin tuan muda fokus terlebih dahulu pada bisnis keluarganya," jelas Bi Ida.


"Lalu Bi ... kenapa bisa sekarang Kak Dimas jadi seperti ini? Suka main perempuan dan juga minum minuman seperti itu?" tanya Mela yang semakin penasaran.


Bi Ida adalah pengasuh dari Dimas sejak kecil sejak pria itu umur 10 tahun, itu kenapa Bi Ida sangat mengenal Dimas luar dalam.


"Sejujurnya dibalik sifat dingin, tegas, acuh bahkan angkuhnya tuan muda, menyimpan kesedihan yang begitu dalam, Nona. Bagaimana tidak? Bayangkan saja ... sedari kecil Tuan Muda hanya bersama dengan Bibi, diurus oleh bibi, bahkan kedua orang tuanya sangat sibuk dalam bekerja. Tuan Dimas kurang perhatian, sehingga dia pun mencari perhatian orang tuanya dengan nakal, taruhan main balap-balapan, tawuran dan juga yang lainnya," jelas bi Ida.


Bu Tia dan juga Mela yang mendengar itu pun merasa miris, mereka tidak menyangka dibalik sikap Dimas yang begitu dingin, ternyata pria tersebut mempunyai luka yang begitu sangat dalam.


Tak bisa Mela bayangkan J.jika dia berada di posisi Dimas, mempunyai orang tua tapi seperti tidak mempunyai orang tua. Di mana kedua orang tuanya selalu sibuk dalam bekerja tanpa bisa membagi waktu dengannya.


"Lalu ... kekasihnya gimana, Bi?" tanya Mela kembali.


"Setahu Bibi, kekasihnya itu selingkuh dengan temannya juga. Padahal Tuan Dimas sudah berubah, tidak tawuran atau tidak begajulan lagi, dia lebih ke disiplin, tapi ... ternyata perubahannya untuk wanita yang ia cintai tidak membuahkan apa-apa pun.nPadahal Tuan Dimas berjuang untuk bisa bersama dan mendapatkan restu dari kedua orang tuanya, tapi penghianatan malah yang dia dapat, sehingga Tuan Dimas merasa Tuhan itu tidak adil, memberikan cobaan yang berat kepadanya melalui kedua orang tuanya dan juga kekasihnya. Itu kenapa sekarang tuan Dimas menjadi seperti ini." Terlihat wajah bi Ida sangat murung.


Dia benar-benar sangat mengenal Dimas luar dalam. Bagaimana kesedihan pria itu, bagaimana kesenangan pria itu.


Begitu pula dengan Mela dan Bu Tia, keduanya menatap sendu, tak menyangka jika ternyata Dimas adalah orang yang sangat baik, tapi hancur hanya karena keegoisan kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Itu kenapa Nona muda ... Bibi berharap Nona dapat merubah sikap dan juga sifat dari tuan Dimas, karena Bibi percaya, kebaikan masih ada di dalam hatinya. Dia bukanlah pria yang jahat Nona muda, hanya saja ... memang orang tuanya yang tidak pernah mempunyai waktu untuknya, membuat Tuan Dimas berubah menjadi dingin, tidak peduli dengan sekitarnya, dan menjadi pembangkang. Karena itu dia pelajari dari kedua orang tuanya, sampai Tuan Dimas selalu melawan kehendak Tuan dan juga nyonya besar, hingga mereka pun tidak akur. Dan setelah Tuan Dimas memiliki perusahaannya sendiri, dia pun semakin menentang dan semakin tidak bisa diatur. Itu kenapa mereka tidak pernah bersama Nona muda."


Penjelasan yang begitu panjang dari Bi Ida membuat Mela dan juga Bu Tia saling melirik satu sama lain, mereka paham dengan apa yang diderita oleh Dimas.


"Mela saja ingin mempunyai orang tua, Bi. Tapi ternyata mempunyai orang tua belum tentu kita bisa mendapatkan kasih sayang mereka," ujar merah dengan wajah yang sedih.


Bu Tia merangkul pundak wanita hamil itu. "Sekarang tugas kamu adalah ... membuat hatinya kembali menghangat. Kamu harus tunjukkan kepada suamimu, bahwa dia tidak sendirian, bahwa di sampingnya ada sesosok wanita yang selalu ada untuknya dan menemani hari-harinya. Kamu juga harus bisa mempersatukan orang tua dan putranya, Mela. Karena walau bagaimanapun, mereka adalah keluarga," ucap Bu Tia.


Mela mengangguk, kemudian dia beranjak dari duduknya hendak membuatkan teh hangat untuk Dimas.


Melihat bagaimana Mela akan berjuang mempertahankan rumah tangganya, Bi Ida dan juga Bu Tia merasa lega, karena mereka sangat yakin bahwa keduanya bisa saling mencintai satu sama lain.


Setelah mengetuk pintu Mela masuk ke dalam ruangan kerja Dimas, dan dia melihat pria itu sedang berkutat dengan laptopnya.


"Ini Kak ... aku buatin kamu teh hangat, jangan terlalu memposir keadaan nanti Kakak sakit," ucap Mela dengan lembut.


"Aku sudah biasa, tidak usah khawatir dan tidak usah sok perhatian. Kamu ingat bukan pernikahan kita ini kenapa?" jawab Dimas dengan datar.


Dia hanya tidak ingin menaruh harapan kepada Mela, karena jujur, Dimas takut untuk menaruh hatinya lagi kepada seorang wanita. Dia takut terluka untuk kedua kalinya.


"Iya aku tahu kok Kak, pernikahan kita ini karena sebuah paksaan dan wasiat. Tetapi kekhawatiran seorang istri pada suami itu wajib, walaupun kita menikah tanpa dasar cinta, tapi poin-poin dalam rumah tangga itu sah di mata Agama dan hukum."


Dimas seketika menatap ke arah Mela saat mendengar ucapan wanita itu. "Apa kamu meminta hakku sebagai seorang suami?" tanya Dimas dengan tatapan menyipit.

__ADS_1


Mela terkekeh, kemudian dia pun menggeleng, "Tidak. Aku tidak menginginkan itu. Mungkin kalau Kak Dimas yang menginginkan aku akan sukarela, karena bukan sebuah dosa yang kudapat, tapi pahala."


"Jangan pernah berharap! Karena aku tidak akan memberikan itu semua kepadamu."


"Oh ya? Tapi kayaknya Kak Dimas bakal minta deh," ledek Mela.


Dimas memejamkan matanya, kemudian dia menatap tajam ke arah Mela. "Sebaiknya kamu keluar dari sini sekarang! Saya sedang bekerja."


"Baiklah ... kalau gitu aku akan keluar, jangan lupa diminum tehnya ya!"


"Hmm!" Hanya gumaman saja yang menjadi jawaban Dimas, tapi bagi Mela itu tidak masalah.


Wanita itu keluar dari ruang kerja Dimas, dan di sana sudah ada Bu Tia serta Bi Ida yang menunggunya. "Gimana Nak?" tanya Bu Tia.


"Semuanya butuh proses Bu, kira-kira ada cara lain nggak ya biar aku sama Kak Dimas itu sering bersama?" tanya Mela.


Bu Tia dan juga Bi Ida mengetuk jari telunjuk di atas dagu, memikirkan cara agar Mela dan juga Dimas bisa bersama.


"Ibu punya ide!" seru Bu Tia.


"Apa itu?" tanya Mela dengan penasaran, kemudian Bu Tia meminta Mela dan juga Bi Ida mendekat lalu dia membisikkan sesuatu ke pada dua wanita itu.


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2