Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)

Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)
Pindah Rumah


__ADS_3

Happy reading....


Papa Renal pulang ke rumah dengan amarah yang masih bersarang di dalam dadanya. Sesampainya dia di sana, pria itu langsung menghempaskan apa saja yang dilihatnya, membuat tante Cantika seketika menatapnya dengan bingung, karena wanita itu sedang duduk di ruang tamu sambil membaca majalah.


"Ya ampun papa! Kamu kenapa pulang-pulang kok marah-marah?" tanya Tante Cantika dengan bingung.


"Gimana aku nggak marah, Mah? Perusahaan kita diambang kebangkrutan," jawab Papa Renal dengan sudah ada memburu.


Tante Cantika yang mendengar hal itu pun merasa terkejut. "Apa! Di ambang kebangkrutan? Bagaimana bisa!" kaget tante cantiknya dengan tatapan membulat.


Kemudian Papa Renal pun menceritakan tentang kerugian yang dialami perusahaannya, dan itu tentu saja membuat tante Cantika semakin kaget.


"Bagaimana mungkin Papa bisa ceroboh itu sih? Seharusnya Papa selidiki dulu sebelum bekerjasama," tutur tante Cantika yang merasa kesal.


"Udah deh, Mama jangan marah-marah ya! Papa lagi pusing tau nggak sih!" Kemudian Papa Renal beranjak dari duduknya masuk ke dalam kamar.


Saat ini pikirannya sedang kacau balau, perusahaan yang selama ini dibangunnya harus bangkrut begitu saja, hanya karena sebuah penipuan. Dan saat dia sedang duduk di tepi ranjang untuk menenangkan amarahnya, tiba-tiba ponselnya berdering, dan ternyata itu panggilan dari Galang.


"Ya halo, kenapa Galang?" tanya papa Renal saat telepon sudah tersambung.


"Apa! Jadi kau juga mengalami kerugian yang sama?" kaget Papa Renal dengan sorot mata yang nampak sangat terkejut.


Dia mendengar jika Galang juga mengalami kerugian yang sama seperti dirinya, dan perusahaan pria itu juga diambang kebangkrutan. Mendengar hal tersebut tentu saja Papa Renal menjadi gelisah.


"Baiklah, kalau gitu kita ketemu sekarang!" ucap papa Renal sebelum telepon terputus.


Dia memutuskan untuk bertemu dengan Galang, karena entah kenapa pria itu merasa ada yang janggal. Kenapa bisa perusahaan mereka bangkrut dan mengalami kerugian yang besar dalam waktu yang bersamaan?


Tante Cantika bingung saat melihat suaminya keluar kembali. "Lho. Papa mau ke mana lagi?" tanya Tante Cantika.


"Papa mau ketemu sama Galang, dia juga mengalami kerugian yang sama seperti, papa."


"Hah! Bagaimana bisa?" Tante Cantika membulatkan mulutnya.


"Entahlah, kalau gitu Papa pergi dulu." Setelah itu Papa Renal pun pergi dari sana, meninggalkan tante Cantika yang dilanda kebingungan.


.


.


Sementara di tempat Adi saat ini, pria itu sedang berkemas karena Adi sudah memutuskan dia akan membawa Mela dan juga Rika untuk pindah ke rumah utama.


"Tunggu dulu, Mas! Kita ini mau pindah ke mana?" tahan Mela saat mereka akan memasuki mobil Dimas.


"Nanti juga kamu akan tahu Dek. Sudah, @yo masuk sekarang!" ajak Adi.


Mela pun hanya menurut saja masuk ke dalam mobilnya Dimas, kemudian mobil itu pun melaju meninggalkan desa tersebut, tidak lupa Mela juga mengirim pesan kepada Revan kalau dia sudah pindah rumah.


Sepanjang perjalanan, Mela hanya terdiam memikirkan nasib hubungannya dengan Revan jika mereka berjauhan. Padahal sebentar lagi mereka berdua akan menikah.

__ADS_1


"Kenapa wajahmu terlihat sangat sedih?" tanya Rika kepada Mela.


"Bagaimana tidak, Mbak? Sebentar lagi aku dan juga Mas Revan akan menikah, tapi kita malah pindah rumah," jawab Mela dengan sendu.


Adi yang mendengar itu pun menoleh ke arah belakang. "Kamu tenang saja! Sesampainya kita di rumah baru, kita akan mengirimi alamatnya kepada Revan dan juga Bu Tia. Dan pernikahan tentu saja akan diadakan di rumah kita, jadi kamu tidak usah khawatir."


Mendengar penuturan dari sang kakak Mela pun hanya menganggukkan kepalanya, dia juga tidak bisa menolak karena semua demi kebaikan dan juga keselamatan mereka bertiga.


Entah Mela pun tidak tahu siapa yang ingin menghabisi keluarganya. Padahal selama ini mereka tidak pernah mempunyai musuh, akan tetapi ada saja orang yang tidak pernah menyukainya.


'Semoga ini bukan hambatan untuk hubunganku dan juga Mas Revan.' batin Mela.


.


.


Sementara itu di tempat lain, Revan sedang duduk di kursi kerjanya. Dia menghela nafas dengan panjang saat membaca pesan dari Mela, karena wanita itu pindah dari rumah.


"Aku sangat sedih, sebab jika aku pulang ke desa aku tidak menemui kekasih hatiku. Tapi semoga setelah dia pindah rumah, kami masih bisa bertemu. Apalagi sebentar lagi kami akan menikah," gumam Revan sambil menatap fotonya bersama dengan Mela di ponselnya.


Revan sedang berada di kota, sebab dia sedang mengerjakan tugasnya sebagai seorang karyawan kantor, karena kebetulan Revan seorang manajer di salah satu kantor ternama di kota tersebut.


Biasanya dia pulang untuk menemui ibunya, tapi sekarang saat Revan pulang dia tidak bisa menemui Mela, sebab wanita itu sudah tidak ada di desa dan itu membuatnya sangat sedih.


.


.


Mela terbengong dengan mulut menganga saat melihat rumah mewah tersebut, di mana banyak penjaganya di sana. Bahkan halamannya pun benar-benar sangat luas, bisa-bisa 30 atau 40 mobil masuk.


'Astaga! Ini aku lagi mimpi ya? Gede banget rumahnya. Ini sih bukan rumah namanya, tapi istana.' batin Mela dengan tatapan kagum saat turun dari mobil.


Begitu pula dengan Rika, dia tak kalah kagumnya seperti Mela. Matanya membulat dengan mulut sedikit menganga saat melihat rumah milik Adi.


Dia pikir, sekaya-kayanya suaminya seperti dirinya, tapi ternyata Rika tak menyangka jika Adi benar-benar amat sangat kaya. Bahkan rumahnya 50 kali lipat dari rumah milik orang tuanya.


'Aku tidak menyangka jika Mas Adi sekaya-raya ini?' batin Rika.


Adi yang melihat dua wanitanya sedang bengong pun terkekeh. "Ayo! Jangan bengong, nanti kesambet. Ayo masuk!" ajak Adi.


Mela menahan tangan sang kakak, "Tnggu Mas! Ini rumah siapa? Rumahnya Tuan Dimas ya? Wow! Gede banget. Ini sih namanya Istana," kagum Mela.


"Ini rumah kita," jawab Adi. Dan mendengar itu Mela semakin bengong, namun seketika dia terkekeh.


"Mas Adi ini bercandanya kelewatan. Mana mungkin orang miskin kayak kita punya rumah segede gini, Mas? Kecuali kita transmigrasi ke masa lalu." Mela tidak berhenti tertawa dan melihat itu Adi pun hanya tersenyum.


"Sudah ayo masuk! Nanti Mas jelaskan di dalam." ajak Adi sambil menggandeng tangan Mela dan juga Rika.


"Bro! Gue pulang duluan ya, masih ada kerjaan nih," ujar Dimas yang tidak ikut masuk.

__ADS_1


"Yakin, lo nggak mau masuk dulu?" Adi menatap gak ada sahabatnya.


Kemudian Dimas pun menggeleng, sebab dia masih ada kerjaan di kantor dan tidak bisa ditinggalkan. Adi yang mendengar itu pun hanya menganggukkan kepalanya, kemudian Dimas masuk kembali ke dalam mobil dan melajukannya meninggalkan kediaman Adi.


Sesampainya di dalam, Rika dan Mela benar-benar dibuat kagum dengan isi dalam rumah itu, di mana semua barang-barangnya amat sangat mewah. Bahkan rumah tersebut pun begitu luas dan juga banyak pelayannya.


"Selamat datang kembali Tuan muda, Nona muda," ucap kepala pelayan yang bernama Nun.


"Terima kasih Nun. Oh ya, apa kamarnya sudah kau siapkan?" tanya Adi kepada Nun.


"Sudah Tuan muda," jawab Nun sambil menundukkan kepalanya.


Kemudian Adi pun memperkenalkan Rika pada Nun


Sementara Mela dan juga Rika saling melirik satu sama lain, terutama Mela. Dia melihat pajangan foto yang begitu besar di dinding, di mana di sana ada kakaknya beserta dengan dua orang paruh baya bersama dengan seorang anak kecil, tapi entah kenapa Mela merasa anak kecil itu mirip dengannya.


"Kamu tahu mereka siapa?" tanya Adi kepada Mela


Gadis itu menggelengkan kepalanya. "Memangnya mereka siapa, Mas?" tanya Mela dengan penasaran.


Kemudian Adi mengajak Mela dan juga Rika untuk ke ruang keluarga, di mana semua di sana ada foto-foto kedua orang tuanya Adi bersama dengan Mela. Dia juga meminta Nun untuk membawakan minuman.


Mela masih dilanda kebingungan, aebab dia melihat di sana banyak sekali foto kakaknya. Akan tetapi, entah kenapa dua orang yang ada di samping Adi terlihat begitu asing. Namun sntah kenapa Mela merasa ada sesuatu yang aneh di dalam dirinya.


Adi mengambil satu buah foto yang berada di rak kaca, kemudian dia menatapnya dengan sendu. "Kamu tahu ini siapa, Dek?" tanya Adik kepada Mela, dan wanita itu langsung menggelengkan kepalanya.


"Aku tahu ini Mas, tapi dua orang ini siapa? Lalu, anak kecil ini? Entah kenapa mirip denganku ya, Mas?" Bingung Mela sambil menggaruk keningnya yang tidak gatal.


Mendengar itu Adi pun tersenyum. Dia memberikan foto tersebut kepada Mela. "Apa kamu tidak merasakan sesuatu hal di dalam dirimu, saat melihat foto mereka?" tanya Adi kembali.


Mela terdiam, "Iya sih Mas, aku merasa ada sesuatu, seperti rindu. Tapi entahlah, aku pun tidak mengerti," jawab Mela yang tidak paham dengan perasaannya saat ini.


Apalagi mereka berada di rumah yang sangat mewah, berbagai pertanyaan muncul di benak Mella sebab Ia tidak mengetahui apapun.


"Anak kecil itu adalah kamu, dan dua orang itu adalah orang tua kita Mela," jawab Adi pada akhirnya sambil membelakangi tubuh Mela.


Gadis itu amat sangat terkejut, kemudian dia bangkit dari duduknya. "Apa! Orang tua kita? Tunggu deh! Ini sebenarnya ada apa sih, Mas? Tiba-tiba kamu membawa kami ke rumah mewah seperti ini, dan di sini banyak sekali foto kamu dan juga mereka. Lalu, kamu bilang bahwa mereka adalah orang tua kita? Sebenarnya ini ada apa?" Mela benar-benar dibuat kebingungan.


Apalagi saat dia mendengar penuturan Adi, jika kedua orang yang ada di dalam foto tersebut adalah orang tuanya. Walaupun memang jjka dilihat, pria yang ada di sebelahnya Adi memang sangat mirip dengan sang kakak.


Adi menghela nafasnya dengan kasar, kemudian dia membalikkan badan dan menatap ke arah Mela dan juga Rika.


"Sayang, kamu istirahat aja ya! Kamu pasti sangat kelelahan, jangan terlalu capek, biar aku yang berbicara dengan Mela dari hati ke hati," ujar Adi kepada sang istri.


Rika menganggukkan kepalanya, kemudian Adi meminta Nun untuk mengantarkan Rika ke kamar. Sementara Mela masih di sana menunggu jawaban sang kakak.


"Ayo Mas jawab pertanyaanku! Ada apa ini sebenarnya? Apa yang terjadi? Aku benar-benar tidak paham." desak Mela pada sang kakak.


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2