
Happy reading ....
Mella menatap lekat ke arah kedua mertuanya, kemudian dia pun berlutut di hadapan tante Indri dan juga Om Harun, membuat kedua orang itu merasa kaget.
"Om, Tante, saya mohon tolong jangan marahi Kak Dimas lagi. Sudah cukup selama ini dia menderita. Apakah Om dan Tante tidak pernah menyadari kesalahan kalian sebagai orang tua? Zelama ini Kak Dimas membangkang kalian, bahkan tidak mendengarkan titah kalian, dia hanya ingin mendapatkan perhatian dari kedua orang tuanya, tapi kalian malah sibuk dalam bekerja. Kak Dimas tidak butuh harta, dia tidak butuh semua kemewahan yang kalian berikan, dia hanya butuh kasih sayang orang tuanya, waktu dari kedua orang tuanya," ucap Mela sambil menangis.
Tante Indri memegang kedua pundak Mela. "Bangun Nak, jangan seperti ini!"
"Tante, Om, saya tahu kalian juga sangat menyayangi Kak Dimas. Tapi gengsi kalian bertiga benar-benar sangat tinggi. Kalian bahkan tidak mau mengakui jika kalian saling merindukannya? Tidak baik seorang anak dan orang tua itu saling berdebat, bukannya Mela ingin berbuat lancang, akan tetapi ... apa kalian mengerti perasaannya kak Dimas selama ini? Apa kalian ada di saat dia terpuruk? Apa kalian tahu disaat dia sedih? Tidak bukan? Kalian terlalu fokus dalam mengejar karir, kalian terlalu fokus menimbun harta sehingga kalian lupa bahwa kalian mempunyai harta yang paling berharga dan yang harus kalian bahagiakan dengan kasih sayang."
Ucapan Mela membuat tante Indri dan juga Om Harun menatap satu sama lain, kemudian mereka menunduk karena apa yang dikatakan Mela benar-benar menyentuh hatinya.
Mereka tidak pernah menyadari apa yang dirasakan oleh Dimas, mereka juga tidak tahu saat pria itu sedang sedih atau senang, yang mereka tahu adalah hanya kerja dan kerja untuk masa depan Dimas.
"Tapi kami kerja juga untuk masa depannya," jawab Om Harun.
"Om benar. Om dan juga Tante bekerja untuk kak Dimas. Kalian sebagai orang tua tentunya ingin yang terbaik bukan untuk putra kalian sendiri? Tapi apa kalian pernah berpikir, bagaimana perasaannya? Apa kalian berpikir, bahwa kak Dimas tidak membutuhkan Itu semua. Selama ini berbuat nakal, membuat ulah, hanya untuk apa? Menarik perhatian kalian, agar kalian menyayanginya, ada waktu untuknya, tidak melulu tentang pekerjaan. Seorang anak hanya ingin waktu dari orang tuanya, hanya itu, Om, Tante. Tapi kalian tidak pernah memberikan itu kepada Kak Dimas. Jadi jangan salahkan Kak Dimas jika sekarang dia menjadi pembangkang."
Penjelasan Mela yang panjang lebar membuat kedua orang tua Dimas terbungkam diam sementara Bu Tia dan juga bi Ida saling melirik satu sama lain.
"Nak ... sebaiknya kita masuk ke kamar yuk! Jangan terlalu ikut campur," bisik Bu Tia karena dia merasa tak enak kepada orang tuanya Dimas.
__ADS_1
"Tidak Bu. Aku belum selesai bicara." Kemudian Mela kembali menatap ke arah kedua mertuanya. "Terserah Om dan Tante mau merestui aku dan kak Dimas atau tidak, aku dan juga Kak Dimas akan tetap mempertahankan rumah tangga ini. Dan aku juga akan merubah semua sifat Kak Dimas. Aku akan pelan-pelan berbicara kepadanya untuk menerima kalian kembali, walaupun itu sangat susah. Dan apa kalian tahu kebiasaan buruknya saat ini tidak luput dari kesalahan kalian sendiri sebagai orang tua? Aku harap ucapanku membuka mata hati Om dan Tante." Setelah mengatakan itu Mela pun pergi dari sana.
Tante Indri dan Om Harun hanya diam sambil duduk di sofa, sebab ucapan Mela yang begitu panjang membuat keduanya tersadar bagaikan ditampar bolak-balik.
Keduanya sadar jika selama ini mereka terlalu fokus pada pekerjaannya, sehingga melupakan keberadaan Dimas. Bahkan mereka tidak pernah ada waktu untuk putranya.
"Pah ... cari Dimas! Mama ingin meminta maaf kepadanya!" pinta tante Indri sambil menggoyang lengan suaminya.
"Iya Mah, papa akan meminta anak buah Papa untuk mencari Dimas ya, Mama tenang aja."
"Pokoknya mama nggak mau pulang sebelum Mama ketemu sama Dimas." Tante Indri memeluk tubuh suaminya sambil menangis tersedu-sedu.
Bi Ida yang melihat itu pun ikut terharu, dia tidak menyangka jika ucapan Mela akan berdampak besar kepada keluarga tersebut. Kemudian Bi Ida menghampiri pasangan suami istri itu.
Tante Indri semakin dibuat menangis saat mendengar penjelasan wanita yang sudah mengasuh Dimas sejak kecil.
Dia tidak menyangka jika kerja kerasnya selama ini bukan itu yang diharapkan oleh Dimas. Kemewahan yang diberikannya ternyata tidak membuat Dimas bahagia.
"Sebaiknya Nyonya dan Tuhan besar istirahat di kamar. Nanti kalau Tuan Dimas sudah pulang Bibi kabarkan. Tapi biasanya beliau tidak akan pulang jika dalam masalah seperti ini Tuan, Nyonya. Biasanya Tuan Dimas akan berada di klub malam."
"Di klub malam, Bi? Apa dia masih bermain wanita?" tanya Om Harun dan langsung dibalas anggukan oleh Bi Ida.
__ADS_1
"Benar Tuan besar. Kemungkinan memang seperti itu. Tuan bisa menyuruh anak buah Tuan besar untuk mengeceknya di sana, tapi bibi tidak tahu klub mana yang didatangi oleh Tuan Dimas."
Om Harun terdiam, dia memikirkan klub malam kalangan atas. Dan pria itu hanya mengingat satu nama, akhirnya Om Harun menelpon anak buahnya untuk mengecek ke sana.
.
.
"Mela, seharusnya tadi kamu jangan berbicara seperti itu. Takutnya kedua mertuamu tidak berkenan dan mereka malah tak suka kepadamu," ucap Bu Tia sambil mengusap kepala Mela dengan lembut.
"Bagaimana mungkin bisa Mela hannya diam saja Bu, melihat bagaimana sikap mereka kepada kak Dimas? Aku sebagai istrinya tentu saja merasa sakit saat suamiku dihajar oleh orang tuanya sendiri," jawab Mela dengan tatapan yang begitu sendu.
Dia jujur mengkhawatirkan keadaan Dimas, dan Mela takut jika Dimas akan pergi ke klub malam dan malah bermain wanita. Entah kenapa dia merasa tak rela.
"Bu, aku harus mencari Kak Dimas. Dia pasti ada di klub malam, aku harus menyusulnya." Mela beranjak dari duduknya.
"Tidak Nak. Kamu lagi hamil jangan ke sana! Kalau kamu ke sana dan menghampiri Dimas dalam keadaan seperti ini, kamu hanya akan mendapatkan makian saja. Pria yang lagi kalut pikirannya tidak ingin diganggu, kamu menghampirinya saat dia pikirannya sudah tenang. Jangan dengan suasana seperti ini, karena kamu hanya akan menjadi tempat pelampiasan amarahnya."
"Mela tidak perduli Bu. Kalau pun Kak Dimas mau melampiaskan kemarahannya kepadaku, aku menerima asalkan hati dia bisa plong," ucap Mela sambil menitikan air matanya.
"Jangan menyusulnya!" ucap seseorang di ambang pintu.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....