
Happy reading....
Mela membuka matanya, kemudian dia pun menjerit memanggil nama Revan.
"Maas Revaan!"
Nafasnya terengah-engah dengan dada yang sudah bergemuruh. Keringat seketika membasahi keningnya.
"Dek, kamu sudah sadar," ucap Adi yang sejak tadi menemani Mela dan tak beranjak sedikitpun dari dekat wanita itu.
"Aku ada di mana, Mas? Oh iya, tadi aku mimpi buruk Mas. Buruk sekali. Rasanya aku tidak ingin mimpi itu jadi kenyataan," ucap Mela dengan tatapan sendu.
"Kamu mimpi apa memangnya?" tanya Adi dengan penasaran.
"Aku mimpi bawa Mas Revan meninggalkanku, dan dia malah menyuruhku untuk menikah dengan sahabatnya Mas Adi." adu Mela.
Adi terdiam, karena itu bukanlah mimpi. Dia melihat bahwa mela memang sangat terpukul sampai wanita itu berhalusinasi jika apa yang dialaminya adalah sebuah mimpi buruk.
Kemudian Adi menggenggam tangan Mella, menatap sendu ke arah adik yang selama ini dia jaga. Sedangkan Mela saat melihat tatapan sang kakak dia merasa Itu adalah sebuah isyarat yang tak baik.
"Jangan seperti ini, Dek! Kamu tidak ingat pesan terakhir dari Revan? Dia tidak ingin melihatmu bersedih," ujar Adi.
"Apa sih yang Mas Adi bicarakan. Pesan terakhir apa coba? Jangan ngada-ngada, Mas!" Mela terus aja menyangkal, karena dia berpikir bahwa Revan tidak pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.
"Sekarang kita pulang yuk! Jasadnya Revan sudah dibawa ke rumah dan akan segera dimakamkan."
DEGH!
Bagai disambar petir, Mela terpaku, tatapannya seketika menjadi kosong saat mendengar kata jasad dan juga nama suaminya. Dia melirik ke arah Adi, air mata seketika langsung membasahi pipinya.
Mulutnya bergetar, ingatannya kembali beberapa jam yang lalu, di mana Revan pergi meninggalkannya dan berpesan kepada Dimas untuk menjaga dirinya.
Seketika kepala wanita itu menggeleng dengan kuat. "Tidak! Tidak mungkin! Ini pasti cuma mimpi buruk kan? Mas Adi bohong. Mas Revan masih ada kan, Mas? Dia tidak pergi. Tadi itu aku hanya mimpi, Mas Adi. Tidak mungkin jika Itu adalah sebuah kenyataan!" jerit Mella yang mulai kembali histeris.
Adi segera memeluk tubuh Mela. Wanita itu menangis di dalam pelukan sang kakak, karena dia merasa itu adalah mimpi yang sangat buruk yang pernah dialami dirinya.
"Mas tahu ini berat bagi kamu, tapi ini adalah faktanya. Kamu harus kuat! Ingat, jika di dalam perut kamu ada benih dari Revan. Kamu harus menjaganya! Jika kamu seperti ini, maka bukan hanya kehilangan Revan saja, tapi kamu juga akan kehilangan anakmu," ujar Adi.
.
.
Sementara Rika yang sedang mondar-mandir di kamar seketika mendengar pintu kamarnya diketuk, lalu pengawal M membukakannya.
"Nun, ada apa?" tanya Rika saat melihat Nun yang sedang berdiri di ambang pintu.
__ADS_1
"Maaf Nyonya muda, di bawah banyak orang dari rumah sakit membawa jasad Tuan Revan."
"Jasad? Revan? Maksudnya apa, Nun?!" kaget Rika saat mendengar kata jasad.
Nun pun menjelaskan jika Revan mengalami kecelakaan dan nyawanya tidak tertolong, dan berita itu seketika membuat Rika semakin syok. Dia memegangi dadanya yang berdetak dengan kencang, lalu limbung. Untung saja langsung ditangkap oleh pengawal N yang selalu sigap di sampingnya.
"Kamu tidak bercanda kan, Nun?" tanya Rika yang masih seakan tidak percaya.
"Tidak Nyonya. Jasadnya ada di bawah."
"Lalu bagaimana dengan Mela? Mas Adi? Apa mereka juga sudah pulang?"
"Tuan muda dan juga Nona muda belum pulang, sebab dari yang saya dengar, jika Nona muda pingsan. Mungkin sebentar lagi mereka akan sampai rumah," jawab Nun. Setelah itu dia pun pamit ke bawah.
Rika terduduk dengan kaki yang terasa begitu sangat lemas. Dia mengkhawatirkan keadaan Mela, pasti wanita itu amat sangat terpukul.
Seketika pikiran Rika mengarah kepada suaminya beberapa jam yang lalu, saat datang ke rumah dengan wajah yang begitu panik.
Wanita itu juga mengingat tentang kekhawatiran serta kecemasan yang dialami oleh Mella dan ternyata itu adalah sebuah firasat yang benar-benar terjadi.
"Ya Allah, semoga saja Mela kuat melewati cobaan yang begitu berat darimu. Tidak bisa kubayangkan bagaimana berada di posisinya, di saat ia tengah mengandung, Mela malah harus kehilangan suaminya," gumam Rika.
Dia segera turun ke bawah untuk menyambut kepulangan Mela dan juga Adi. Dan setelah menunggu beberapa saat di ruang tamu, Adi datang sambil merangkul pundak Mela.
"Mbak ... Mas Revan meninggalkan aku. Dia tega meninggalkan aku beserta dengan anakku, Mbak." tangis Mela kembali pecah.
"Sabar ya Dek. Ayo duduk!" ajak Rika sambil menuntun Mela untuk duduk di sofa, lalu Nun datang membawakan air putih, kemudian Rika memberikannya kepada Mela.
"Diminum dulu ya! Biar kamu sedikit lebih tenang," ucap Rika dan Mela hanya menurut saja.
Kemudian Adi mengajak Dimas untuk pergi ke ruang kerjanya, sebab dia ingin membicarakan sesuatu hal yang penting bersama dengan pria itu.
"Ada apa?" tanya Dimas.
"Aku tahu, mungkin ini juga sangat mengejutkan. Aku juga tak pernah menyangka jika Revan akan menitipkan Mela kepadamu. Tapi aku percaya, kamu mampu menjaga adikku," ucap Adi sambil menatap lurus ke arah Dimas.
Pria itu membuang nafasnya dengan kasar saat mendengar penuturan dari sahabatnya. Dia mengacak rambutnya, seakan Dimas sedang frustasi memikirkan wasiat terakhir dari Revan.
Tak pernah sedikitpun terlintas di benaknya jika Revan akan mengatakan hal tersebut, yang membuat Dimas benar-benar diambang kebimbangan.
"Lalu, apa aku harus menikahi Mela?" tanya Dimas dengan frustasi.
Adi mendekat ke arah pria tersebut, kemudian dia menepuk pundaknya. "Mau bagaimana lagi? Itu adalah wasiat dari Revan."
"Astaga! Aku mimpi apa semalam? Baru saja semalam aku merasakan surga dunia bersama dengan wanita-wanitaku, tapi hari ini bagaikan disambar petir, aku harus menikahi adikmu." Dimas menggelengkan kepalanya sambil menjambak rambut, karena saat ini pikirannya benar-benar kacau.
__ADS_1
Bukannya dia tidak mau menikahi Mela, hanya saja Dimas memang tidak ingin terikat dalam sebuah pernikahan. Apalagi saat ini Mela tengah hamil anak dari Revan, ditambah wanita itu adalah adik dari sahabatnya..
Jujur ada ketakutan di hati Dimas, karena dia takut menyakiti Mela. Sebab wanita itu adalah adik dari Adi, di mana mereka bersahabat dekat. Dan Dimas takut jika persahabatannya malah akan terganggu karena hubungan itu.
"Apa kau merasa bingung, karena takut menyakiti Mela? Sebab dia adalah adikku, dan kau takut jika persahabatan kita akan terganggu dan hancur?" tebak Adi yang sudah tahu arah pikiran Dimas.
Pria tersebut bangkit dari duduknya. "Kau tahu, tapi kenapa masih bertanya?"
Adi tersenyum tipis. Walaupun Dimas sangat brengsek dan sering celup sana dan celup sini, tapi dia tahu jika Dimas adalah pria yang baik.
"Aku percaya kau bisa menjaga adikku. Jika kau mau untuk masih bermain dengan wanitamu itu, silakan saja, aku tidak akan melarang. Tapi jangan di hadapan adikku! Jangan pernah menyakitinya dengan membawa wanita-wanitamu itu ke rumah! Setidaknya kau harus menjaga perasaan adikku. Kau tahu kan dia adalah permata yang selama ini aku jaga," ujar Adi.
"Entahlah, aku butuh menenangkan pikiran." Dimas pun pergi dari ruang kerja Adi. Dia keluar dari rumah tanpa menoleh ke arah Mela sedikitpun, karena saat ini pikirannya sedang semrawut.
.
.
Sementara Ibu Tia saat ini tengah membalut luka yang ada di tangannya, karena tadi tidak sengaja teriris pisau saat sedang mengupas sayuran.
Sedari kemarin perasaannya merasa tak enak, dia terus saja memikirkan Revan. Namun tadi pagi wanita itu menelpon Revan jika pria tersebut baik-baik saja, Apalagi saat mendengar kabar bahagia jika Mela tengah hamil.
Namun entah kenapa, perasaan Bu Tia semakin tak karuan.
Tiba-tiba pintu rumahnya diketuk, beliau langsung berjalan menuju pintu lalu membukanya. Dan seketika dahi Bu Tia mengkerut heran saat melihat seorang pria tampan yang tengah berdiri di ambang pintu.
"Maaf, cari siapa ya Mas?" tanya Bu Tia karena dia tidak mengenali pria tersebut.
"Saya Vano, Bu, asisten dari Pak Adi. Saya ke sini untuk menjemput Ibu ke kota," jawab pria tersebut yang tak lain adalah Vano.
Iya, Vano memang ditugaskan oleh Adi saat Revan kecelakaan untuk menjemput Ibu Tia. Dia memang sengaja tidak mengabari keadaan Revan secara langsung lewat telepon, karena Adi tidak mau membuat Bu Tia cemas berlebihan.
Walaupun dia tahu pada akhirnya Ibu Tia Akan syok saat melihat anaknya sudah terbujur kaku. Adi juga sengaja tidak menguburkan Revan terlebih dahulu, karena dia ingin mempertemukan anak dengan ibunya untuk terakhir kalinya.
"Adi? Untuk apa ya, Mas?" bingung Bu Tia.
"Ada sesuatu hal, di mana Ibu harus datang. Jadi mohon untuk bergegas ya Bu, karena waktu kita juga sangat mepet."
Ibu Tia mengangguk, walaupun sebenarnya dia ragu. Kemudian wanita itu masuk kembali ke dalam rumah mengemasi beberapa pakaiannya dan berganti dengan pakaian yang lebih rapi kemudian dia ikut bersama Vano menaiki mobil.
'Ya Allah, kenapa perasaanku tiba-tiba menjadi tak enak ya? Kenapa tiba-tiba saja Adi menyuruh asistennya untuk menjemputku? Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi di sana. Semoga saja keluarga Adi maupun rumah tangga Revan baik-baik saja. Tapi kenapa perasaanku terus aja tertuju kepada Putraku? Ada apa ini, ya Allah?' batin Bu Tia sambil menatap jalanan yang dilewatinya.
Beliau mencoba untuk berpositif thinking, berpikir bahwa Adi menyuruhnya datang ke kota karena ada sangkut pautnya dengan kehamilan Mela.
BERSAMBUNG........
__ADS_1