
Happy reading....
Papa Renal dan juga tante Cantika seketika menatap ke arah sumber suara, di mana saat ini Adi tengah berdiri di belakang sang istri.
Dia menatap lurus ke arah kedua orang yang menjadi mertuanya, kemudian Adi duduk di samping Rika sambil menatap lekat ke arah papa Renal maupun tante Cantika.
"Jadi kalian sudah menyadari kesalahan kalian?" tanya Adi kembali.
"Iya, kami tahu mungkin selama ini kami sudah sangat jahat kepada kalian, termasuk kepadamu dan juga Rika. Sesungguhnya semata-mata untuk kebahagiaan putriku, karena Rika adalah anak semata wayang kami. Namun, ternyata harta tidak membuatnya bahagia. Kami sadar, bahwa keegoisan kami sebagai orang tua membuat Rika menderita, dan bersamamu dia sangat bahagia. Mami juga senang melihatnya sudah melahirkan dan maaf jika Papa dulu pernah berkata ingin melenyapkan anak yang ada di dalam kandungan Rika." Terlihat wajah Papa Renal begitu terpukul.
Dia menyesali semua perbuatannya terhadap Rika maupun Adi. Karena setelah mereka jatuh miskin dan tidak mendapatkan apapun, Papa Renal serta tante Cantika menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Mereka yang awalnya suka merendahkan orang lain, seketika tahu bagaimana menjadi orang yang sederhana, dan bagaimana dianggap sepele dan dipandang sebelah mata oleh orang yang lebih tinggi kastanya.
"Sekarang kalian tahu kan, roda kehidupan itu berputar? Dan kalian juga tahu, di atas langit masih ada langit. Jadi jangan pernah menyombongkan apapun, karena semua hanyalah titipan," ucap adi kembali.
Papa Renal hanya mengangguk, kemudian mereka pun bangkit dari duduknya. "Terima kasih sudah memberikan mama dan papa maaf, kalau begitu Mama dan Papa pamit. Kami tidak akan mengganggu kalian, semoga rumah tangga kalian langgeng sampai kakek nenek. Dan semoga Putra kalian selalu sehat," ucap apa Renal sambil menatap sendu ke arah Rika.
Dia tidak mau mengganggu rumah tangga Putrinya lagi, karena sudah cukup selama ini perlakuan Papa Renal kepada Rika dan juga Adi. Dia memutuskan untuk pergi dari kehidupan Rika, dan membiarkan putrinya bahagia bersama keluarga kecilnya.
Rika menatap ke arah sang suami, di mana saat ini Adik menatap lurus ke arah kepergian tante Cantika dan juga Papa Renal yang meninggalkan ruang tamu.
Entah kenapa ada rasa tak rela saat dia melihat orang tuanya menderita, walaupun Rika selama ini marah atas semua apa yang terjadi di hidupnya, dan semua yang dilakukan oleh Papa Renal terhadapnya, membuat Rika tak membenci orang tuanya.
Sebab seburuk-buruknya orang tua Rika, adalah orang yang sudah membesarkannya, mendidik dia, menyekolahkan di, bahkan memberikan dia kasih sayang saat orang lain tak memperdulikan.
Saat tante Cantika dan juga Papa Renal sampai di ambang pintu, tiba-tiba suara Adi menghentikan langkah mereka.
"Tunggu dulu Mah, Pah!" Adi berjalan mendekat ke arah kedua orang itu, membuat tante Cantika dan juga Papa Renal menatap satu sama lain.
__ADS_1
"Kenapa kalian buru-buru? Kita kan belum makan malam. Lagi pula, hari juga sudah mulai magrib, tidak baik jika pulang dalam keadaan perut kosong. Apa kalian juga tidak ingin bermain dengan cucu kalian?" ucap Adi sambil menatap ke arah Noah
Tante Cantika serta Papa Renal tentu saja sangat bahagia saat mendengar ucapan Adi. Mereka seperti mendapatkan angin segar saat pria itu mengizinkan keduanya untuk bermain dengan Noah.
"Apa kami boleh bermain dengannya?" tanya Tante Cantika kembali.
"Tentu saja. Noah adalah cucu kalian, walau bagaimanapun kalian adalah orang tua Rika, istriku."
Sementara Mela yang mendengar itu pun mendengus dengan kesal, kemudian dia beranjak dari sana masuk ke dalam kamar.
Wanita tersebut masih tidak bisa memaafkan kesalahan Papa Renal maupun tante Cantika karena dia merasa apa yang dilakukan dua orang itu benar-benar sangat keterlaluan.
Rika yang melihat kepergian sang adik kemudian meminta izin kepada Adi untuk menyusul Mela. Dia menaiki tangga secara perlahan, kemudian Rika masuk tanpa mengetuk pintu.
"Dek?" panggil Rika.
"Mbak tahu kalau kamu masih tidak bisa memaafkan kedua orang tua, Mbak. Tapi walau bagaimanapu,n mereka orang yang sudah mendidik Mbak dan menyayangi Mbak sampai sebesar ini. Mungkin jika tidak ada mereka, Mbak tidak akan pernah bertemu dengan kamu dan juga Mas Adi." Rika berucap sambil bangkit dari duduknya.
"Setiap manusia itu punya kesalahan. Setiap manusia punya kekhilafan. Allah saja Maha pemaaf, kenapa kita sebagai manusia begitu angkuh tidak mau memaafkan? Iya mbak tahu kesalahan mereka sangat fatal, tapi bukankah manusia itu ladangnya kesalahan?" sambung Rika kembali.
"Tapi Mbak, mereka itu sudah sangat keterlaluan. Apa Mbak tidak sakit hati, saat Papanya Mbak meminta untuk menggugurkan Noah?"
Rika mengangguk, "iya, tentu saja Mbak sakit hati. Tapi seperti apa yang Mbak bilang, semua manusia itu ladangnya salah. Jadi kita sebagai manusia harus saling memaafkan. Apalagi itu adalah orang tua Mbak sendiri. Ingat! Kamu lagi hamil, jangan terlalu menyimpan emosi yang dalam, takut berdampak kepada janin yang ada dalam kandungan mu. Mbak tahu perasaan kamu. Mbak juga tidak mau memaksa untuk kamu memaafkan kedua orang tua Mbak, tapi setidaknya mereka sudah menyesali semua perbuatannya, dan mereka juga sudah mendapatkan balasannya bukan?"
Mela terdiam karena apa yang dikatakan Rika benar. Adi sudah memberikan pelajaran kepada dua orang itu, sehingga membuat keduanya menjadi sadar.
Akhirnya Mela pun memutuskan untuk mencoba memaafkan kedua orang tua Rika, walau hatinya masih belum sepenuhnya untuk ikhlas, namun dia akan mencoba.
.
__ADS_1
.
Makan malam sudah tiba, saat ini semua orang sedang berkumpul di ruang makan, di mana di sana papa Renal dan juga tante Cantika. Mereka masih berada di kediaman Adi, karena Adi memintanya untuk menginap.
Namun saat mereka sedang makan malam, tiba-tiba ada seseorang yang datang, dan ternyata itu adalah Dimas. Pria tersebut sengaja datang untuk memberikan laporan kepada Adi.
"Sudah gue simpan ya di ruang kerja, kalau gitu Gue pamit dulu," ucap Dimas tanpa menatap ke arah Mela sedikitpun.
"Tunggu dulu, Dim! Sini lo makan malam dulu bareng kita. Jangan pergi! Kebiasaan," ajak Adi sambil melambaikan tangannya.
"Tapi--"
"Ayolah, jangan menolak! Kalau lo menolak, gue akan sakit hati," ujar Adi kembali.
Mau tidak mau akhirnya Dimas berjalan mendekat ke arah meja makan, kemudian dia duduk di sebelah Mela, lalu pelayan mengambilkan nasi dan lauk pauk kepiring Dimas.
Diam-diam Mela menatap ke arah Dimas dari sudut ekor matanya. Pikirannya menerawang saat Revan menitipkannya kepada pria itu, dan menyuruhnya untuk menikah dengan Dimas.
Tidak Mela pungkiri Dimas memang sangat tampan, perawakannya gagah, bahkan bisa dibilang dia bisa masuk ke dalam Jejeran pria yang diminati banyak wanita.
'Apa iya aku bisa bahagia jika aku menikah dengannya? Kenapa Mas Revan memberikan wasiat yang begitu berat. Padahal untuk menggantikannya saja aku tidak yakin jika mampu. Tapi ... tunggu dulu! Itu apa? Itu tanda apa di lehernya Kak Dimas?' batin Mela sambil menatap lekat ke arah leher Dimas yang terdapat tanda merah keunguan.
DEGH.
Jantung merah berpacu saat melihat tanda tersebut. Dua bukan wanita yang bodoh yang tidak tahu tanda apa itu, sebab dia dan juga Revan sudah sering melakukannya.
'Apakah Kak Dimas punya kekasih?' batin Mela bertanya-tanya
BERSAMBUNG.....
__ADS_1