Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)

Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)
Kerugian Besar


__ADS_3

Happy reading.....


Sesuai apa yang dikatakan oleh Adi, pagi-pagi jam 08.00 sebelum ia ke ladang pria itu mampir ke kediaman Dimas. Dia ingin menemui sahabatnya untuk membicarakan perihal semalam.


"Mas, apakah kamu akan bertemu dengan sahabatmu dulu?" tanya Rika saat mengantar suaminya di teras.


"Iya Sayang, kalau begitu aku berangkat dulu ya." Adi mengecup kening Rika, dan wanita itu langsung menganggukkan kepalanya.


Tak lupa Adi juga menyapa ibu-ibu yang sedang membeli sarapan di depan rumahnya, kemudian dia menaiki sepedanya untuk ke ladang.


Sesampainya Adi di rumah Dimasta, tepatnya rumah yang disewa oleh pria itu, dia pun masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Dan melihat Dimasta baru saja bangun dan membuat kopi.


"Buset deh! Di sini gue harus melayani diri sendiri, biasa di rumah dilayani pelayan, ini buat kopi aja harus sendiri. Benar-benar mengenaskan!" gerutu Dimas sambil duduk di hadapan Adi.


"Namanya juga di desa, kau harus mandiri," jawab Adi dengan cuek.


"Oke lanjut, bagaimana?" tanya Dimas sambil menatap ke arah sahabatnya dengan tangan melipat di depan dada.


Kemudian Adi pun menceritakan tentang semalam, di mana Dimas juga sudah mengetahui hal tersebut. "Lalu, menurutmu bagaimana?" tanya Adi meminta saran dari sahabatnya.


Dimas terdiam, dia mengetuk jari telunjuknya di atas dagu, kemudian mencondongkan tubuhnya ke hadapan Adi.


"Menurutku sih, lebih baik kau pindah dari sana, biar anak buah dari Galang ataupun Papa mertuamu tidak tahu di mana kamu tinggal sekarang! Untuk ladang, kau bisa sewakan kepada orang lain untuk mengelolanya, dan kau akan membayarnya setiap panen atau setiap bulan, simple bukan? Aku sih aku hanya mengkhawatirkan tentang keadaan istri dan adikmu saja," ujar Dimas memberi masukan.


Adi mengangguk, itu juga sudah ada di dalam kepalanya. Karena Adi juga berniat untuk pindah dari rumah.


"Ternyata pikiran kita sama. Dari semalam aku juga memikirkan hal tersebut, di mana aku akan pindah ke rumah utama saja, tapi ..." Adi menggantungkan ucapannya.

__ADS_1


Membuat Dimas yang sedang meminum kopi seketika menatap ke arahnya. "Tapi kenapa?" tanya Dimas sambil menaruh gelas di atas meja.


"Tapi kalau aku pindah ke rumah utama, Mela pasti bertanya-tanya, kenapa bisa tinggal di rumah semewah itu?"


Mendengar hal tersebut Dimas malah tertawa terbahak-bahak, membuat Adi kesal karena saat ini pria itu sedang dilanda kebingungan dan Dimas malah mempertawakan dirinya.


"Sorry, sorry. Habis lucu aja, tinggal lo ungkapin aja yang sebenarnya! Lagi pula ya, Mela itu sudah dewasa, bukan anak bocah lagi. Dia juga sudah mau menikah bukan? Jadi tidak ada salahnya jika kau mengungkapkan semuanya kepada Mela, siapa kalian? Bagaimana latar belakang kalian. Dan gue yakin kok, Mella pasti akan mengerti," tutur Dimas.


Adi terdiam, memang apa yang dikatakan Dimas ada benarnya. Mungkin saja Mela nanti akan mengerti. Tapi itu pasti akan sangat mengejutkan adiknya tersebut.


"Kau memilih mana? Membuat Mela bertanya-tanya dan terkejut, atau kau ingin nyawa adikmu dalam bahaya?" Dimas mengangkat satu alis yang sambil menatap ke arah Adi.


"Ya, sepertinya aku tidak ada pilihan lain. Tapi apa kau sudah pastikan jika anak buah dari musuh ayahku sudah aman?"


"Mereka pasti akan melakukan kejahatan lagi sampai keluargamu hancur. Tapi kau tenang saja! Aku sudah mengirimkan mata-mata di keluarga mereka, dan aku pastikan kali ini kau akan aman. Dan lagi pula, aku juga sudah menyewa seorang Intel untuk menjaga kalian. Jadi jangan khawatir!" jelas Dimas


Mendengar hal tersebut, Adi merasa lega di mana sahabatnya selalu tahu apa yang dibutuhkan oleh Adi untuk keselamatannya dan juga keluarganya.


"Tentu saja rencana itu akan dijalankan hari ini, dan tinggal menunggu kabar dari Vano. Ya sudah, kalau begitu aku mau ke ladang dulu ya," ucap Adi sambil bangkit dari duduknya, kemudian dia pun pamit dari sana.


"Eh, lama-lama tangan lo kapalan kalau di ladang terus, temennya biawak." ledek Dimas sambil terkekeh kecil.


"Masih mending aku berteman dengan biawak, daripada kau, kembarannya komodo sahabatnya buaya," jawab Adi sedikit sewot, membuat Dimas seketika terbahak.


"Aagh!" Kemudian Dimas meregangkan tangannya, menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, sehingga membuat bunyi yang gemelutuk dari tulang-tulangnya yang terasa pegal.


"Hhuuh ... sepertinya nanti malam aku harus pesan wanita untuk memuaskanku. Beberapa hari ini aku disibukkan oleh si kupret Adi, sampai juniorku tidak tersalurkan!" gerutu Dimas sambil memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


.


.


Siang hari Adi sedang beristirahat di gubuk, dia mengeluarkan ponselnya dan menelpon Vano untuk menanyakan kabar tentang kehancuran dari mertuanya, namun tidak diangkat oleh Vano.


"Mungkin dia sedang meeting," gumam Adi sambil memasukkan ponselnya kembali.


Sementara di tempat lain, tepatnya di sebuah perusahaan yang sangat megah, saat ini papa Renal telah mencak-mencak kepada asisten dan juga beberapa staf penting di kantornya.


"Bagaimana bisa kita mengalami kerugian yang cukup besar?! Apa kalian tidak cek dulu sebelum menerima kerjasama itu!" bentak Papa Renal sambil menggebrak meja, membuat semua karyawan yang ada di ruangannya menundukkan kepala dengan takut.


"Maaf Pak, kami tahu kami salah tidak mengecek secara detail. Tapi saat pengajuan kerjasama itu, semua sudah kami teliti dan aman. Tapi kami tidak mengerti jika mereka mempunyai niat yang tidak baik," jawab salah satu karyawan yang tak lain adalah asisten papa Renal


"Dasar tidak becus! Sekarang bagaimana? Saya mengalami kerugian yang sangat besar. 5 miliar itu bukan uang yang sedikit, kalian paham!" bentak Papa Renal kembali.


Iya, beberapa hari yang lalu Papa Renal menerima sebuah kerjasama dengan salah satu perusahaan, dan ternyata perusahaan itu adalah bodong, dan dia mengalami kerugian yang cukup sangat besar yaitu 5 miliar.


Pria itu mendengkus dengan kasar sambil menjatuhkan tubuhnya di atas kursi, rahangnya mengeras dengan sorot mata yang tajam, karena uang segitu amat sangat besar baginya. Dan bisa saja perusahaannya di ambang kebangkrutan.


"Sekarang saya nggak mau tahu ya! Kalian harus bekerja keras untuk mengembalikan dana tersebut, gimanapun caranya, paham!"


Semua karyawan menatap satu sama lain, dan itu membuat Papa Renal semakin geram. "Kalian dengar tidak apa yang saya katakan, hah!" bentaknya lagi dengan intonasi yang tinggi.


"Dengar Pak," jawab karyawan secara serempak.


Kemudian Papa Renal mengibaskan tangannya, membuat semua orang keluar dari ruangannya. Sementara pria itu menggeram dengan sangat marah dan juga kesal.

__ADS_1


"Aaagh! Sial! berani-beraninya mereka bermain-main denganku. Mereka tidak tahu ya siapa aku!" marah Papa Renal dengan kepalan tangannya, bahkan urat-urat terlihat menonjol di bagian lehernya, menandakan jika pria itu tengah marah tidak terbendung.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2