
Happy reading....
Tanpa menjawab ucapan dari Mela, Adi menggeser tubuh adiknya dengan perlahan, kemudian dia berjalan ke arah Dimas dan menonjok wajah pria itu, membuat Natasha yang berada di sampingnya menjerit kaget.
"Heh pria gila! Ngapain kamu tonjok kekasih aku hah!" bentak Natasha, kemudian dia membantu Dimas.
Melihat keberanian Natasha yang berani mengganggu suami dari adiknya, Adi mencengkram lengan Natasha dengan kuat.
"Apa kamu bilang ... pria gila? Yang ada, kamu wanita gila! Asal kamu tahu ya, dia itu sudah menikah dengan adikku. Berani kamu merebutnya dan berani kamu menjadi ular dalam rumah tangga adikku, kupatkan lehermu!" geram Adi, kemudian dia mendorong tubuh Natasha hingga tersungkur ke lantai.
Pria itu berjalan mendekat ke arah Dimas, kemudian dia mencengkram baju pria itu hingga membuat Dimas sedikit terangkat tubuhnya.
"Lo boleh bermain wanita. Lo boleh celap-celup sana sini, tapi seperti apa yang gue bilang dari awal ... jangan pernah lo menyakiti adik gue di depan matanya sendiri, paham! Lo boleh pergi dengan wanita-wanita lo itu, tapi jangan pernah lo menampakan kemesraan lo dengan wanita lain di hadapan adik gue, paham!" marah Adi sambil mendorong tubuh Dimas hingga dia tersungkur ke sofa.
Dimas bangun_ kemudian dia mencengkram kembali kerah baju Adi. "Siapa yang ingin menyakiti Adik lo, hah?! Nggak ada. Dia tiba-tiba datang ke sini, dan untuk dia ..." Dimas menunjuk ke arah Natasha. "Aku tidak mengundangnya, tiba-tiba dia datang dan langsung bergelayut manja. Kau kan tahu, aku ini sejuta pesona, wanita pasti akan tergila-gila denganku. Hanya mengedipkan sebelah mata saja, wanita sudah mau untuk wajah ke kamar," jawab Dimas namun terkesan bercanda.
Akan tetapi itu memang fakta, Dimas mempunyai sejuta pesona, bahkan di antara Adi dan juga Vano pria itulah yang paling diminati banyak wanita. Mungkin karena Dimas juga sangat pandai dalam merayu wanita.
Saat Adi akan menonjok wajah Dimas kembali, tiba-tiba tangannya ditahan oleh Mela, wanita itu menggelengkan kepalanya.
"Sebaiknya kita pergi dari sini, Mas!" pinta Mela. Adi melihat nanar ke arah adiknya, kemudian dia menggenggam tangan Mela dan mengajaknya untuk pergi.
akan tetapi saat sampai di ambang pintu, pria itu kembali menatap ke arah Dimas dan juga Natasha bergantian.
"Jika aku melihat ini lagi, tidak akan segan-segan ku potong lehermu! Dan kau ..." Adi menunjuk ke arah Natasha. "Sebaiknya kau jauhi dia jika nyawamu ingin selamat! Aku tidak main-main!" ancam Adi.
__ADS_1
GLUK!
Natasha meneguk ludahnya dengan kasar, dia dapat melihat aura dingin dari pria itu. Apalagi tatapannya yang begitu tajam menusuk ke dalam tulang, membuat Natasha bergidik takut.
Namun tekadnya sudah bulat untuk membuat Dimas takluk lagi kepada dirinya, dia tadi cukup terkejut saat mendengar Dimas sudah menikah.
"Kau dengarkan apa yang dia katakannya? Sebaiknya kau pergi dari sini dan jangan ganggu hidupku! Karena aku tidak butuh kau," ucap Dimas sambil membenarkan dasinya.
"Tapi dia ... apakah wanita hamil itu ada istrimu?" tanya Natasha sambil menunjuk ke arah pintu di mana Mela dan juga Adi baru saja keluar.
"Iya, dia adalah istriku, dan dia sedang hamil. Jadi kalau kau masih mempunyai malu, sebaiknya kau pergi dari sini jangan mengganggu suami orang! Jika nyawamu ingin selamat, sebaiknya kau turuti perkataan kakak iparku. Karena dia tidak pernah bermain-main dengan ucapannya." jelas Dimas enteng, kemudian dia berjalan ke arah kursi kebesarannya dan duduk di sana.
Natasha masih mematung, dia ke sana untuk merebut hati Dimas kembali. Tapi melihat ancaman dari Adi membuat nyali Natasha seketika menciut.
'Tidak. Aku tidak peduli, mau dia sudah menikah atau belum. Dan aku sangat yakin pria tadi tidak benar-benar dengan ucapannya, dia pasti hanya menggertak saja,' batin Natasha mencoba untuk meyakinkan dirinya.
"Aku tidak akan berhenti, karena aku yakin kau masih mencintaiku, dan kau akan lebih memilihku ketimbang dia. Tidak peduli kau sudah menikah atau belum, dan kita pasti akan bertemu lagi sayang." Natasha berkata dengan nada yang manja sambil mengedipkan sebelah matanya, kemudian wanita itu pun keluar dari ruangan Dimas.
sementara pria tersebut hanya berdecih saat mendengar ucapan Natasha. Dia tak menyangka jika Natasha tidak pernah berubah sedari dulu, tetap keras kepala dan selalu mementingkan egonya.
"Kau mencari lubang kematianmu sendiri Natasha," gumam Dimas sambil tersenyum miring.
Dia sangat yakin jika Adi tidak pernah main-main dengan ucapannya saat pria itu tadi menatap Natasha dengan tajam. Namun Dimas juga merasa tak enak kepada sahabatnya, apalagi kepada Mela.
.
__ADS_1
.
"Ngapain tadi kamu ke kantornya Dimas?" tanya Adi saat dia berada di dalam mobil.
"Aku melihat Kak Dimas tidak sarapan tadi pagi, makanya aku datang ke kantor membawakan makan siang," jawab Mela sambil menatap ke arah samping akan tetapi air matanya tetap jatuh.
Walau ia tidak mencintai Dimas, namun sebagai seorang istri hatinya teriris sakit saat melihat suaminya sendiri bermesraan dengan wanita lain, apalagi melihat wanita itu bergelayut manja di tubuh suaminya.
Wanita mana yang akan kuat saat melihat tubuh suaminya berbagi dengan wanita lain? Tentu saja Mela juga akan merasakan rasa sakit, walaupun dia sudah mencoba ikhlas dan tegar saat mengetahui kebiasaan buruk suaminya.
Terdengar helaan nafas yang kasar dari Adi, kemudian dia menghentikan .obilnya di pinggir jalan lalu menggenggam tangan Mela, membuat wanita itu seketika menatap ke arahnya.
"Maafkan mas ya, jika pada akhirnya kamu harus seperti ini. Jika kamu ingin berpisah dengan Dimas, maka--"
"Tidak. Aku tidak akan berpisah dengan Kak Dimas. Aku yakin kok, suatu saat nanti dia pasti akan berubah, walaupun kami tidak saling mencintai. Tapi memang sebagai seorang istri aku juga sakit melihatnya harus bermesraan dengan wanita lain. Seperti yang Mas bilang ... selagi tidak di hadapanku, mungkin aku tidak akan merasakan rasa itu," jawab Mella dengan wajah yang sendu.
Adi merengkuh sang adik ke dalam dekapannya, kemudian dia mengecup pucuk kepala Mela. Pria itu tahu perasaan adiknya saat ini sangat hancur, walaupun dia juga mengetahui jika Mela tidak mencintai Dimas.
"Apa kamu akan berusaha untuk membuatnya jatuh cinta kepadamu? Apa kamu akan berusaha mempertahankan rumah tangga tanpa cinta ini, Mela?" Adi menatap lekat ke arah adiknya. "Mas akan selalu berada di sisi kamu. Jangan pernah merasa sendirian, jika ada apapun bicaralah! Jika dia menyakitimu atau melukaimu, jangan pernah sungkan untuk berbicara kepada mas."
Mela mengangguk dengan senyuman manis di bibirnya, kemudian dia memeluk tubuh Adi dari samping. "Makasih ya Mas, Mas Adi selalu ada buat aku. Dan aku yakin kok, suatu hari nanti pasti Kak Dimas juga akan menerima kehadiranku dan dia bisa meninggalkan kebiasaan buruknya."
"Tapi itu sangat mustahil," keluh Adi.
"Tidak ada yang mustahil Mas, bisa kok asalkan Mas Adi juga membantu aku. Aku tidak ingin menjadi janda lagi Mas untuk kedua kalinya," ujar Mela.
__ADS_1
"Baiklah ... kalau gitu Mas akan membantu kamu."
BERSAMBUNG...