
Happy reading....
Pagi hari Rika sedang menjemur Noah di taman, karena matahari pagi itu sangat bagus untuk kesehatan bayi.
Saat semua sudah berkumpul di meja makan, Adi melihat ke arah Mela dengan lekat. Dia sudah mengetahui tentang Mela semalam.
Di mana Rika sudah membicarakannya bersama dengan Adi, karena dia tidak mau ada yang ditutupi antara keduanya. Sebab rumah tangga itu jika saling jujur maka akan terasa indah, tidak ada kesalahpahaman sama sekali antara keduanya.
Rumah tangga biasanya hancur itu karena ada kecurigaan satu sama lain. Ada ketidakpercayaan di antara pasangan, dan itu berawal dari ketidakjujuran. Itu sebabnya jika kita menikah, maka berkomitmen itu lebih utama, di mana harus menjunjung tinggi kejujuran, kesetiaan dan juga saling menghargai.
"Mela, apa keputusan kamu? Mbak Rika sudah mengatakan semuanya kepada Mas, dan apapun keputusan kamu nanti, mas akan mendukung," tanya Adi sambil mengunyah sarapannya.
"Keputusanku akan tetap menikah dengan Kak Dimas. Walau bagaimanapun, itu adalah wasiat dari Mas Revan. Jika memang dia tidak mempunyai kekasih, maka tidak ada halangan apapun. Kalau untuk kebiasaannya, aku rasa bisa dirubah, tapi semua butuh waktu. Lagi pula, belum tentu pernikahan kami juga langgeng," jawab Mela.
Mendengar keputusan adiknya, Adi hanya bisa mengangguk. Dia serahkan semua kepada Mela, karena wanita itu sudah besar dan bisa memilih jalan kebahagiaannya sendiri. Sementara Adi sebagai kakak hanya bisa mendukung.
Setelah sarapan pagi selesai, Adi mengajak Papa Renal ke ruang kerjanya, karena ada yang ingin dibicarakan. Semalam harus tertunda sebab Adi sedang menahan emosi yang begitu membara.
"Ada apa, Nak? Kenapa kamu memanggil Papa ke sini?" tanya papa Renal.
"Begini Pah ... aku ingin mengembalikan perusahaan Papa kembali. Aku juga sudah menanamkan saham di perusahaannya Papa. Aku waktu itu hanya ingin memberikan pelajaran kepada Papa, ingin memberikan peringatan, bahwa kita tidak bisa mengukur semuanya dari harta. Karena sekaya-kayanya kita, masih ada lagi yang lebih kaya," ujar Adi sambil menyerahkan berkas tentang surat-surat penting perusahaan Papa Renal.
Dia waktu itu memang membeli perusahaan tersebut bukan atas namanya, dan papa Renal memang tidak mengetahui hal itu.
Adi semata-mata ingin memberikan pelajaran kepada mertuanya, ingin memberikan sebuah edukasi yang baik, bahwa kehidupan itu tidak melulu tentang harta dan tahta. Karena keduanya hanyalah titipan dan bisa direbut kapan saja, entah itu oleh Tuhan ataupun oleh manusia.
Mendengar Adi berkata seperti itu, Papa Renal cukup terkejut. Karena dia tidak menyangka jika Adi yang membeli perusahaannya. Akan tetapi, dulu dia pernah beranggapan seperti itu, namun segera ditepisnya.
"Jadi benar dugaan papa, kalau kamu yang membeli perusahaan papa?"
Adi mengangguk tanpa ragu, "maaf, aku hanya ingin menyadarkan kedua orang tua istriku saja. Sebab aku sering melihat istriku sering sedih karena kedua orang tuanya, membuatku tidak tega."
__ADS_1
Papa Renal tersenyum, dia mendekat ke arah Adi lalu memeluk tubuhnya. "Tidak apa, Papa berterima kasih kepadamu! Karena kamu sudah mau menyadarkan Papa dan Mama. Terima kasih, berkat kamu kami bisa berpikir tentang arti sebuah kesederhanaan. Rika memang pantas memilikimu, tapi Papa tidak bisa menerima Ini. Papa--"
"Tolong jangan menolak! Ini semua aku lakukan demi Rika. Perusahaan ini masih atas nama Papa, tidak aku ganti sedikitpun. Sebab aku tahu ini adalah perusahaan yang Papa bangun dari nol bukan? Aku juga akan merekomendasikan beberapa partner bisnis aku untuk join dengan perusahaannya Papa." Adi memotong ucapan mertuanya.
Papa Renal semakin dibuat terharu, dia tidak menyangka jika Adi sangat perhatian kepadanya. "Terima kasih ya Nak! Papa malu sebenarnya."
"Nggak usah malu. Kita adalah keluarga, dan Papa tinggal di sini ya! Zebab rumah ini kan sangat besar, ditambah juga ada Rika. Kami ingin berkumpul bersama."
Setelah berdiskusi dengan papa Renal, Adi keluar karena dia harus ke kantor, sebab ada hal penting yang harus dia urus.
Pria itu menuju kamar, di mana saat ini Rika baru saja selesai membersihkan diri. Dan dia masih memakai handuk yang melilit dari dadaa sampai batas pahanyaa.
Melihat itu gairaah di dalam diri Adi seketika bangkit. Dia memeluk tubuh sang istri, sementara tangannya sudah meremas buah semangka kembar milik istrinya.
"Sayang! Ngagetin aja deh!" kaget Rika.
Tanpa aba-aba Adi langsung mendorong tubuh Rika ke atas ranjang, kemudian dia menciuum bibir wanita itu hingga membuat Rika seketika kelimpungan. Untung yang dibawa sana sudah disegel dan dipakaikan roti.
"Mas, kamu mau ngapain?" tanya Rika dengan suara tertahan.
"Sayang, aku--"
"Tidak bisa, Mas Sabar sedikit! Aku masih belum bersih. Kamu tidak lihat tuh aku udah pasang roti di bawah sana!" tunjuk mereka dengan matanya.
Adi yang melihat itu pun seketika menghela nafas dengan kasar. Akan tetapi dia tidak peduli, "baiklah, jika aku tidak bisa memakan yang di bawah, maka yang di atas pun tidak apa."
"Maksudnya?" tanya Rika dengan bingung.
"Aku ingin minum langsung dari pabriknya, dan diam jangan banyak bicara!" Adi menaruh jari telunjuknya di bibir Rika, kemudian dia meminum air susu langsung dari pabriknya seperti bayi yang sedang kehausan.
sudah 10 menit Adi terus menyusuu dan bergantian kiri dan kanan.
__ADS_1
"Mas, sudah sisain buat Noah, jangan rakus dong!"
"Pabrik kamu kan bisa diproduksi lagi. Dan memangnya Noah saja yang ingin? Kalau enak seperti ini sih, aku juga mau tiap malam," kekeh Adi sambil mengelap mulutnya
Rika menggelengkan kepala sambil memutar bola matanya, saat melihat tingkah suaminya yang seperti bayi.
Kemudian dia segera beranjak dari ranjang, berjalan dengan cepat menuju lemari. Sementara Adi terlentang di atas kasur karena dia merasa kekenyangan.
"Kayaknya berat badanku bisa naik sayang, kalau setiap hari harus minum susu," celetuk Adi.
"Jangan serakah! Ini buat anak kamu, Mas." Timpal Rika yang sedang memakai pakaian.
"Aku tidak rakus. Di sini yang rakus itu Noah. Seharusnya Adil dong! Dia sebelah, Papanya sebelah," ucap Adi tak mau kalah.
Sementara Rika hanya terkekeh kecil, kemudian mengeringkan rambutnya, lalu dia berjalan ke arah Adi sambil membawakan baju kerjanya.
Melihat itu Adi segera memakainya, karena memang waktunya sudah mepet. Setelah berpakaian keduanya turun ke lantai bawah, di mana saat ini Noah tengah bermain bersama dengan Mama Cantika dan juga Bu Tia di ruang keluarga. Namun sebelum Adi berangkat dia terlebih dahulu menimang Noah untuk beberapa menit, kemudian mengecup pipi bayi mungil itu dengan gemas.
"Lihat Mah! Dia mirip dengan aku kan?" tanya Adi pada Mama Cantika.
"Ya jelas mirip kamu lah, tapi matanya mirip Rika."
"Tidak. Semuanya mirip aku. Lihat semua bentuk tubuhnya sudah pasti akan menurun dariku! Burungnya saja sama. Bedanya hanya ukuran." celetuk Adi dan langsung mendapat geplakan di lengannya dari Mela.
Plak!
"Dasar Bapak mesuum! Udah sana pergi ke kantor! Ini pasti karena berpuasa, jadi begini nih otaknya geser?" ledek Mela, dan Adi hanya menganggukan kepalanya menyetujui ucapan sang adik.
Melihat itu semua orang terkekeh, karena ternyata Adi adalah orang yang humoris. Sementara pipi Rika sudah bersemu dengan merah saat melihat kesomplakan suaminya.
'Apa Mas Adi akan sesomplak ini jika tidak dikasih jatah?' batin Rika.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....