
Happy reading...
"Tunggu!" ucap Revan menghentikan langkah Mela yang sudah sampai di pagar rumahnya.
Wanita itu berhenti dan menatap ke arah Revan dengan bingung namun dia juga masih merasa kesal karena pria itu menuduhnya maling.
"Mau ngapain lagi Anda? Mau menuduh saya atau mau mengambil mangga ini? Silakan ambil!" ucap Mela dengan ketus sambil menyerahkan mangga tersebut.
Revan tersenyum saat melihat wajah Mela yang begitu imut, kemudian dia mendorong tangan Mela kembali. "Tidak. Saya tidak ingin mengambil mangga itu," ujar Revan
"Lalu untuk apa Anda mengejar saya?" Mela masih berkata dengan nada yang ketus.
Melihat ketidaksukaan dari wanita yang berada di hadapannya, Revan pun tersenyum. Dia tahu jika Mela masih sangat kesal kepada dirinya, karena sudah menuduhnya maling.
"Aku ke sini hanya ingin meminta maaf kepadamu, karena tadi aku sudah menuduhmu maling. Maaf aku tidak tahu, jika kamu adalah penghuni Desa ini, dan aku juga tidak tahu kalau kamu itu kenal sama mama," jelas Revan dengan jujur.
Mela terdiam beberapa saat, membuat Revan menjadi cemas, apakah wanita itu memaafkannya atau tidak.
"Oke kali ini saya maafkan, tapi jangan pernah menuduh seseorang tanpa mendengarkan penjelasannya dulu Tuan, itu tidak baik. Sama saja fitnah, karena fitnah lebih kejam daripada pembunuhan."
"Baik, saya tidak akan menuduh orang lain lagi. Dan ... oh ya kenalkan, saya Revan." Pria itu mengulurkan tangannya.
Mela menjabat tangan Revan, "Saya Mela, kalau begitu saya masuk dulu ya, soalnya kakak ipar saya lagi ngidam."
Revan mengangguk, kemudian pegangan tangan mereka pun terlepas lalu Mela masuk ke dalam rumah tanpa menoleh. Sementara Revan terus saja memperhatikan gadis itu.
'Wanita yang sangat menarik.' batin Revan.
.
.
Sudah jam 15.00 sore akan tetapi Adi masih saja belum pulang, dan itu membuat Mela dan juga Rika cemas. Sebab pria itu sudah pergi dari pagi dan hampir sore belum terlihat batang hidungnya.
"Aduh Mela. Mbak benar-benar khawatir dengan keadaan masmu, kenapa jam 15.00 masih belum pulang juga?" ujar Rika dengan ada yang cemas.
Mela yang mendengar itu pun mengusap bahu Rika dengan lembut. "Mbak tenang saja! Mas Adi bisa kok menjaga diri, kita doakan semoga tidak terjadi apa-apa," jawab Mela.
Rika mengangguk kecil, walaupun hatinya merasa tak tenang. Dan tak lama terdengar suara motor yang berhenti di teras, kedua wanita itu pun bertatapan kemudian mereka segera berjalan keluar dan melihat Adi turun dari motor yang terlihat masih sangat baru.
__ADS_1
Rika yang melihat sang suami pulang pun segera berlari dan memeluk tubuhnya dengan erat. "Kamu dari mana aja sih, Mas? Dari pagi dan jam segini baru pulang. Kamu tahu nggak sih aku tuh khawatir banget sama kamu."
Mendengar penuturan sang istri Adi tersenyum, kemudian dia melepaskan pelukan istrinya. "Maaf kalau aku membuat kamu khawatir, dan lihat!" Adi menunjukkan motor berwarna merah yang dia bawa.
"Ini motor siapa, Mas?" tanya Rika dengan heran.
"Iya Mas Adi, itu motornya siapa? Bagus banget kayak masih baru, soalnya kinclong banget sih." Timpal Mela sambil menatap riang ke arah motor yang baru saja dinaiki oleh Adi.
"Ini adalah motor kita," ucap Adi membuat Mela dan juga Rika melongol seketika.
"Apa! Motor kita!" kaget Rika dan juga Mela bersamaan.
Adi menganggukkan kepalanya, "Iya, yuk kita berbicara di dalam!" ajak Adi. Sebab dia tidak mau menjadi tontonan tetangga.
Setelah mereka berada di ruang tv, Mela dan juga Rika langsung memberondong Adi dengan pertanyaan, pasalnya membeli motor itu uangnya sangat banyak.
"Mas jawab aku dengan jujur! Kamu dapat uang dari mana untuk membeli motor? Itu kredit atau beli cash?" tanya Rika.
"Itu beli cash, sayang, tidak usah khawatir!"
"Tapi uangnya dari mana?"
Mendengar itu Rika langsung memeluk tubuh pria tampan tersebut, dia tidak menyangka jika Adi begitu amat sangat mencintai dan menyayanginya, sampai membela harus membeli motor hanya untuk keselamatannya.
Adi juga memerintahkan Mela agar besok sarapan digratiskan saja kepada warga, untuk menyelamati motor tersebut. Karena biasanya kalau orang habis membeli motor atau kendaraan harus mengadakan selamatan.
.
.
Malam hari Rika tidak bisa tidur, kemudian dia membuka matanya dan melihat ke arah samping di mana saat ini sang suami tengah tertidur dengan pulas sambil memeluk dirinya.
Dia menatap lekat ke arah wajah Adi. Entah kenapa Rika merasa di balik wajah desa suaminya itu, tersimpan banyak misteri.
'Kamu benar Mas. Jika dilihat kamu adalah seorang petani biasa, tapi aku tidak menyangka jika kamu ternyata mempunyai penghasilan yang begitu banyak, sampai bisa membeli motor dan harganya tidak sedikit.' batin Rika.
Sebenarnya ia sangat penasaran dengan tabungan sang suami, tapi Rika tidak ingin banyak tanya. Baginya kebutuhan sudah tercukupi saja sudah cukup.
Karena sebagai seorang istri, kita juga harus melihat dari kemampuan sang suami, dan Rika tidak ingin mempunyai sifat serakah, dan juga boros. Dia ingin menjadi istri yang mempunyai sifat qana'ah (pandai bersyukur)
__ADS_1
.
.
Pagi hari Adi sudah siap untuk ke ladang, namun Rika seperti biasa tidak diizinkan ke sana, sebab kehamilannya mengharuskan Rika harus bedrest di rumah.
Akhirnya dia pun membantu Mela untuk membungkus sarapan untuk warga yang datang dan setelah sarapan itu habis Mela dan juga Rika pun membereskan dagangannya.
"Mbak masuk aja ke dalam! Lagian ini sudah selesai kokm Jangan capek-capek, nanti kalau terjadi apa-apa sama kandungan Mbak, gimana?" ucap Mela.
"Yakin nggak mau Mbak bantuin?" tanya Rika memastikan.
"Yakin dong," jawab Mela dengan pasti.
Akhirnya Rika pun masuk ke dalam, dia merebahkan tubuhnya di depan TV, sementara Mela membereskan dagangan yang belum selesai namun sudah habis semua.
"Eekhm!" Terdengar deheman seseorang, dan Mela langsung mengangkat wajahnya dan dia melihat di sana ada Revan.
"Maaf Tuan, tapi makanannya sudah habis. Anda terlambat," ujar Mela sambil kembali menata rantang rantang kotor bekas jualan.
"Aku ke sini tidak untuk membeli sarapan, tapi untuk menemui pedagangnya," ujar Revan
Mela menghentikan aktivitasnya, kemudian dia menatap ke arah Revan dengan dahi mengkerut. "Maksudnya?"
"Iya, aku ingin bertemu dengan kamu. Memangnya salah?"
Mendengar itu Mela malah terkekeh, "Tidak salah sih, cuma ada hal apa ya? Kalau tidak ada hal yang penting, maaf saya lagi sibuk."
Revan tersenyum, kemudian dia membantu Mela membereskan rangtang yang ada di atas meja jualan, dan Mela membiarkan itu.
"Aku hanya ingin mengobrol saja. Apa boleh?" tanya Revan.
"Maaf Tuan, tapi saya lagi sibuk. Lain kali saja ya, dan terima kasih untuk bantuannya." Kemudian Mela meninggalkan Revan di teras, dan dia masuk ke dalam rumah untuk mencuci rantang-rantang tersebut.
Sementara Revan hanya menatap ke arah Mela sambil tersenyum. 'Gadis yang unik dan menarik. Aku tidak menyangka kenapa aku bisa tertarik sama dia. Sikap cueknya berbeda dengan wanita lain,' batin Revan. Kemudian dia kembali ke rumahnya.
Memang Revan saat bertemu dengan Mela pertama kali, entah kenapa dia merasa wanita itu sudah mencuri hatinya. Sikapnya yang begitu cuek dan dingin berbeda dengan wanita lain, yang selama ini mengejar-ngejar dirinya.
Itu kenapa Revan bertekad untuk mendekati Mela, ditambah rumah mereka juga tidak terlalu jauh.
__ADS_1
BERSAMBUNG......