
Happy reading ....
"Mela!" jerit Dimas saat melihat wanita itu hampir terpeleset.
"Mela!" jerit bu Tia tak kalah panik saat kebetulan dia akan ke lantai atas.
Dimas langsung berlari dan menangkap tubuh Mela, satu tangannya berpegangan kepada tangga sedangkan tangan lainnya menahan tubuh Mela, supaya wanita itu tidak jatuh.
Tatapan mereka terkunci satu sama lain, jantung Mela berdetak kencang. Bukan karena saat berada di dekat Dimas saja, akan tetapi dia takut jika terjatuh ke bawah tangga dan terjadi apa-apa dengan kandungannya.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Bu Tia dengan panik membuyarkan tatapan keduanya.
Dimas segera membantu Mela, "kamu itu kalau turun tangga hati-hati. Gimana kalau tadi nanti kamu jatuh_ terus terjadi apa-apa dengan kandunganmu?" ucap Dimas dengan wajah yang cemas.
Mela terdiam, dia dapat melihat kekhawatiran dari kedua netra milik pria itu. Entah kenapa ada rasa hangat di dalam hatinya saat melihat kepanikan di wajah Dimas.
"Gadi aku--" Ucapan Mela terhenti saat tiba-tiba saja Dimas menggendong tubuhnya.
Seketika wanita itu mengalungkan tangannya ke leher kekar pria tersebut, tatapannya lurus ke arah Dimas. Sementara pria itu berjalan dengan hati-hati menuruni tangga, kemudian mendudukkan Mela di kursi yang ada di meja makan.
"Lain kali jangan ke lantai atas! Aku takut terjadi apa-apa dengan kamu," ucap Dimas.
__ADS_1
"Maaf Kak." Mela hanya menundukkan kepalanya.
"Sayang, apa yang dikatakan Dimas memang benar. Jangan sering ke lantai atas takut terjadi apa-apa sama kandungan kamu, seperti tadi ... kalau kamu tidak hati-hati, kepleset dari tangga gimana, Nak?" Bu Tia tak kalah khawatir sambil memegang tangan Mela.
Melihat kekhawatiran di kedua Netral wanita itu membuat Mela merasa bersalah. "Maafkan Mela ya Bu."
Dimas kemudian memanggil pelayan, "gimana Bi? Apa nanti siang sudah bisa diperbaiki liftnya?"
"Sudah Tuan, nanti orangnya datang ke sini," jawab pelayan tersebut sambil menundukkan kepalanya.
Setelah mendapatkan jawaban dari pelayan Dimas beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan meja makan untuk bersiap-siap ke kantor.
.
.
Pekerjaan Dimas hari ini terlampau sibuk, dia harus meeting dengan beberapa klien dari luar negeri, jadi pria itu tidak sempat untuk sekedar sarapan.
"Agnes ..." panggil Dimas pada asistennya.
"Saya Tuan," jawab Agnes masuk kedalam ruangan Dimas.
__ADS_1
"Jadwal saya apa lagi?"
"Satu jam lagi kita akan ada meeting dengan klien dari Thailand."
"Ya sudah, kalau begitu kamu siapkan semuanya!"
"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi dulu." Agnes pun pergi dari ruangan tersebut untuk menyiapkan segala kebutuhan meeting satu jam yang akan datang.
Setelah semuanya siap, Agnes Dan juga Dimas berjalan ke ruang meeting. Setelah selesai mereka kembali ke ruangan, kemudian Dimas meminta Agnes untuk memesankan makanan karena perutnya terasa lapar.
Dari semalam dia hanya meminum bir, dan tadi cuma meminum kopi saja. Dan setelah menunggu beberapa saat makanan yang dipesan Agnes pun datang.
Saat Dimas menyantap makanannya, tiba-tiba saja pintu ruangannya terbuka. Dia pikir itu adalah Agnes. Tanpa melihat pria itu pun berkata dengan nada yang dingin, "sudah kubilang, jika kau masuk ketuk dulu, Agnes!"
Akan tetapi tidak ada jawaban dari wanita itu membuat Dimas ketika memutar bola matanya dengan malas lalu dia berbalik.
Namun seketika netranya membulat kaget saat melihat siapa orang yang sudah masuk ke dalam ruangannya.
"Kau ..."
BERSAMBUNG.....
__ADS_1