Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)

Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)
Sahabat Adi


__ADS_3

Happy reading....


Papa Renal sampai di rumah dan dia langsung membanting pas bunga yang harganya sangat mahal, namun baginya kemarahannya saat ini membuat dia benar-benar tidak bisa mengontrolnya.


Tante Cantika yang baru saja membuat cake di dapur, kaget saat mendengar suara yang begitu memekikkan telinga. Apalagi dia mendengar teriakan langsung suaminya, dan wanita itu pun langsung bergegas menghampiri sumber suara.


"Ya ampun! Papa! Pas bunga kesayangan Mama kenapa dibanting!" teriak tante Cantika saat melihat vas bunga kesayangannya yang sudah hancur berserakan di lantai.


"Papa bisa menggantinya 100 kali lipat!" jawab apa Renal dengan geram.


Tante Cantika mengerutkan keningnya, kemudian dia melihat ke kanan dan ke kiri, namun tidak ada Rika, sebab wanita itu tahu jika kepergian suaminya beberapa jam yang lalu untuk menjemput Rika pulang.


"Di mana Rika, Pah? Kenapa tidak ikut?" tanya Tante Cantika.


"Bagaimana mungkin dia bisa ikut? Suami sialannya itu menghalangi Papa! Dan Mama tahu! Dia berani membentak papa dan mengancam Papa. Benar-benar manusia tidak tahu diri! Sudah miskin, banyak gaya pula!" marah papa Renal sambil duduk di kursi.


"Apa! Pria miskin itu berani mengkertak dan mengancam papa? Bagaimana mungkin bisa!" kaget tante Cantika.


Kemudian Papa Renal pun menceritakan tentang awal dia datang ke rumahnya Rika, dan sampai kedatangan Adi. Dia juga menceritakan tentang ucapan Adi kepadanya.


Tante Cantika yang mendengar itu pun melongo, dia tidak percaya jika pria miskin seperti Adi tidak gampang untuk ditaklukkan bahkan tidak bisa untuk diremehkan.


"Sepertinya Papa harus membuat strategi baru untuk memisahkan mereka. Ingatnya Pa! Mama tidak mau memiliki cucu dari pria sialan itu. Sudah miskin, melarat. Gimana nanti keturunan kita jadi melarat juga," ujar tante Cantika dengan ada yang ?ketus.

__ADS_1


"Lalu, apa Mama pikir Papa juga mau memiliki keturunan dari pria miskin seperti itu? Jangan pernah bermimpi lah!"


"Lalu Galang bagaimana, Pa? Apa dia menerima keadaan Rika?" tante Cantika menatap ke arah suaminya.


"Iya, Galang menerima Rika, karena pria itu sudah sangat mencintainya. Dan seharusnya kita bersyukur Mah, karena Galang mau menerima Rika yang sudah tidak perawan lagi. Apalagi jika dia berpisah dengan pria miskin itu, sudah pasti Rika akan menjadi janda, dan Galang mau menerimanya," jelas Papa Renal.


Akhirnya keduanya pun memikirkan bagaimana caranya untuk memisahkan Adi dan juga Rika, sebab keduanya tidak mau memiliki menantu di bawah Kasta.


.


.


Sementara di tempat lain, setelah membuat istri dan juga adiknya tenang, saat ini Adi tengah berada di rumah seseorang yang tak lain adalah temannya sendiri.


Teman yang selalu ada untuk Adi di saat senang maupun susah, dan teman yang selalu bisa diandalkan saat Adi membutuhkan bantuan.


"Lo pikir gue juga nggak marah? Justru gue nggak akan pernah ngebiarin seseorang untuk menghancurkan keluarga gue sendiri. Enak aja main mau ngabisin anak gue! Berani melakukan itu, maka gue akan menghancurkan keluarga mereka sampai ke akar-akarnya. Tidak peduli, maupun dia mertua gue atau bukan," Jawab Adi dengan nada yang datar.


Pria yang ada di hadapan Adi pun menghisap rokoknya, kemudian membuang asapnya ke sembarang arah. Sedangkan Adi hanya diam saja sambil melipat kedua tangannya di depan dada dengan sorot mata yang tajam.


"Kalau saran gue sih, sebaiknya lo ungkapin aja jati diri lo. Gue sih sangat yakin, kalau mereka mengetahui siapa lo sebenarnya, mertua lo itu sudah pasti akan bertekuk lutut dan bahkan akan mengemis harta dari lo."


Mendengar itu Adi menggelengkan kepalanya. "Tidak. Kau kan tahu, selama ini aku sudah hidup sederhana. Untuk apa mengungkap semuanya?" jawab adik sambil meminum kopinya.

__ADS_1


"Terserah lu deh, dasar Tuan keras kepala," ujar temannya yang merasa kesal karena masukannya tidak pernah dihargai dan tidak pernah dipakai oleh Adi.


Hening untuk beberapa saat, hingga tiba-tiba Adi bertanya, "Kapan kau akan kembali ke kota?"


"Mungkin nanti malam aku akan kembali ke kota. Lagi pula, aku ke sini juga untuk menemui sahabatku. Jika bukan karena dirimu, mana mau aku ke sini? Sudah jalanannya hancur, jauh pula dari kota, mau ke mana-mana susah, apalagi mau nyari klub malam di sini di mana?" Jawab pria itu dengan wajah cemberut.


Adi hanya menggelengkan kepalanya saja saat mendengar jawaban dari sahabatnya, di mana pria itu tidak pernah lepas dari namanya wanita. Dan setiap ada waktu luang, pria itu selalu saja menghabiskan waktu di klub malam untuk bersenang-senang dengan para wanita penghibur di sana.


"Kalau gue kasih saran sih, sebaiknya lo nikah aja deh, terima sana perjodohan dari kedua orang tua lo. Daripada lo terus-terusan jajan di luar? Nanti kalau lo ketularan penyakit, gimana?" Adi memberikan saran kepada sahabatnya.


Sedangkan pria itu hanya terkekeh saja saat mendengar ucapan dari pria yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri.


"Menikah? Are you crazy? Sejak kapan dalam hidup Dimasta mengenal kata cinta dan menikah? Kau kan tahu, aku ini pria yang bebas. Suka dengan kebebasan, tidak suka dengan ikatan dan sebuah kekangan. Pernikahan itu hanya merepotkan, kita hanya akan tunduk pada seorang wanita. Jadi untuk apa? Bukankah celup sana celup sini itu lebih enak?" jawab pria itu sambil terkekeh.


Adi menggelengkan kepalanya saat mendengar jawaban dari pria tampan tersebut. "What ever, tapi gue mau, lo tempatin anak buah lo di sini untuk menjaga istri dan juga adik gue dari orang-orang jahat, atau orang-orang suruhan dari mertua gue sendiri," ujar Adi sambil beranjak dari duduknya.


Dia melihat jam dan sudah menunjukkan pukul setengah enam sore, pria itu pun harus segera pulang karena takut jika nanti kelamaan Mela dan juga Rika malah khawatir.


"Tunggu dulu! Apa lo bilang? Nempatin anak buah gue? Ehh gak sadar, situ punya anak buah banyak puluhan, kenapa harus anak buah gue yang di tempatin di sini? Kenapa lo nggak nyuruh anak buah lo aja sih? Ribet banget hidup lo!" jawab Dimas dengan kesal.


Adi hanya mengangkat kedua bahunya saja, "Terserah. Gue minta anak buah lo, bukan anak buah gue. Kalau gitu gue pulang dulu, dan ingat! Apapun itu kasih kabar ke gue oke, dan emas di rumah gue udah mau habis. Jadi nanti lo kirim 10 emas batangan ya," ujar Adi sebelum ia meninggalkan rumah tersebut.


Sementara Dimas hanya mendengkus dengan kasar, saat mendengar perintah dan juga ucapan dari pria itu.

__ADS_1


"Dasar pria Arogan! Tuan es batu. Dia punya banyak anak buah, kenapa anak buah gue yang jadi korban? Lagian tuh emas kemarin gue kasih 5 batang, sekarang udah abis aja?" heran Dimas sambil menggelengkan kepalanya.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2