
Happy reading....
Rika turun dari kamar, karena tiba-tiba saja ia ingin memakan mangga muda, sebab mulutnya terasa asam. Dan saat di meja makan dia mendapati Mela sedang membuat rujak.
"Tumben kamu bikin rujak, Dek?" tanya Rika dengan heran.
"Iya nih Mbak, mulutku asem banget. Kayaknya buat rujak enak deh, jadi aku minta mangga muda Mbak dulu ya?" Mela berkata dengan tertawa kecil.
Memang di rumah itu Adi sudah memerintahkan pelayan untuk mencari mangga muda. Karena untuk stok jika Rika sedang ingin makan yang asam-asam, sebab wanita itu terkadang tidak menentu, kadang ingin asam atau tidak jadi hanya berjaga-jaga.
Kemudian Mela juga mengupas sekalian untuk kakak iparnya, dan terlihat wajah Rika murung, membuat Mela seketika menatap ke arahnya dengan heran.
"Ada apa, Mbak? Kenapa wajahnya murung kayak gitu?" tanya Mela.
"Tidak apa-apa. Mbak hanya kepikiran dengan mama dan papa aja," jawab Rika dengan Sendu.
Mendengar hal tersebut Mela ingat jika dia ingin sekali mengeluarkan unek-unek yang ada di dalam pikirannya, tentang kedua orang tua Rika. Namun sejujurnya dia sangat takut jika wanita itu akan tersinggung.
__ADS_1
"Bolehkah Mela mengatakan asumsi Mela terhadap orang tua, Mbak?"
"Silakan! Mbak malah senang jika Mela ingin berbicara jujur," jawab Rika.
Mela menghentikan kupasan yang ada di tangannya, kemudian dia duduk menghadap ke arah Rika.
"Sejujurnya Mbak, Mela itu heran deh sama orang tua Mbak. Awalnya menentang keras hubungan kalian, lalu sekarang tiba-tiba saat mengetahui identitasnya Mas Adi, mereka malah berbaik hati. Bahkan beberapa hari ini mengirimkan paket dan dengan alibi untuk calon anak yang ada dalam kandungannya, Mbak? Tapi jika kita flashback ke beberapa bulan yang lalu, di mana mereka datang dengan sangat emosi. Dan dengan angkuhnya mereka ingin menggugurkan kandungan Mbak. Jujur sih, aku masih rada jengkel ya Mbak dengan mereka. Dan aku sih yakin, mereka itu minta maaf tidak tulus." Mela berkata dengan sedikit hati-hati.
Sementara Rika hanya menghela nafasnya dengan pelan, karena apa yang dikatakan Mela memang benar. Dia pun merasakan bahwa kedua orang tuanya memang tidak tulus dalam meminta maaf kepadanya maupun Adi.
Memang beberapa hari ini kedua orang tua Rika selalu mengirimkan paket dengan alasan untuk anak yang ada dalam kandungannya Rika, atau terkadang tante Cantika datang ke rumah itu membawakan makan siang yang sehat-sehat untuk Rika.
"Iya mbak tahu, makanya kenapa Mbak tidak mudah percaya. Sejujurnya Mbak sudah memaafkan, hanya saja mungkin ingin mama dan papa mengetahui arti kejujuran dan juga ketulusan, itu saja."
Mela memberikan dua jempol ke arah kakak iparnya, dia mendukung apa yang dilakukan oleh Rika. Karena memberi pelajaran kepada orang seperti itu wajib, biar mereka sadar dan tidak semena-mena terhadap orang lain yang ada di bawah mereka.
Setelah rujak jadi, keduanya pun memakan rujak tersebut. amun yang membuat Rika heran adalah, Mela begitu lahap memakannya, seperti seseorang yang sedang ngidam.
__ADS_1
"Dek, kamu ini lahap banget? Emangnya nggak asem? Ini mangga nya lumayan asem loh kalau di lidah yang normal, kecuali kalau kamu ..." Rika menggantung ucapannya, sambil menatap dengan menyipit ke arah Mela.
"Kecuali aku apa, Mbak?" tanya Mela sambil menghentikan kunyahan di mulutnya.
"Kecuali kalau kamu lagi isi," sambung Rika.
Mela membulatkan matanya saat mendengar ucapan Rika, kemudian dia diam seribu bahasa, mengingat kapan terakhir dia datang bulan. Lalu wanita itu langsung menepuk jidatnya saat mengingat jika dia sudah telat selama 2 minggu.
"Ada apa?" tanya Rika.
"Astaga Mbak! Aku baru ingat, kalau seharusnya aku datang bulan dua minggu yang lalu. Astaga! Kenapa aku sampai lupa." rutuk Mela pada dirinya sendiri.
Mendengar itu Rika malah tersenyum sumringah. "Berarti itu tandanya kamu lagi isi. Pantas aja kamu seperti orang ngidam? Untuk membuktikan, sebaiknya kita suruh pengawal untuk membelikannya saja ke apotek!" usul Rika
Namun Mela menggelengkan kepalanya, membuat Rika semakin heran. Dan setelah mengetahui jika Mela ingin yang membeli tespek adalah suaminya sendiri,Revan. Karena entah kenapa Mela ingin sekali suaminya yang membeli itu ke apotek.
"Baiklah, kalau gitu kita tunggu Revan pulang dulu ya! Aduh ... mbak sih yakin kalau kamu ini sedang hamil!" Rika memeluk tubuh Mela dari samping, karena dia turut bahagia, sebab dirinya ada teman saat mengandung walaupun sebentar lagi Rika akan melahirkan.
__ADS_1
BERSAMBUNG......