Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)

Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)
Makan Malam Di Luar


__ADS_3

Happy reading.....


Saat ini Mela, Rika dan juga Adi sudah siap, karena mereka akan segera pergi keluar untuk makan malam. Dan saat pintu terbuka,Mela melihat sebuah mobil mewah yang terparkir di halaman rumahnya.


Gadis itu mengkarutkan kening, sebab Ia merasa tidak pernah memiliki rekan ataupun keluarga dari kalangan atas.


"Mas Adi?" panggil Mela sambil melambaikan tangannya ke arah sang kakak. "Itu mobil siapa ya, Mas? Bagus banget? tanya Mela sambil menunjuk ke mobil yang berada di teras rumahnya dengan dagu.


"Oh, itu sahabat Mas. Ya sudah, yuk kita berangkat sekarang!" jawab Adi.


Mela melongo saat mendengar jawaban kakaknya, dia tak menyangka jika Adi mempunyai sahabat dari kalangan atas, bahkan mobil itu bisa ditapsir sangat mahal.


Namun saat tadi akan melangkahkan kakinya, tiba-tiba ditahan oleh Mela. "Dari manakah Mas bisa dapat teman dari kalangan atas?" tanya Mela dengan khawatir.


Jujur saja ada rasa cemas di hatinya, karena takut jika nanti sang kakak malah dimanfaatkan oleh orang kaya, karena Mela tahu jika mereka bukanlah dari kalangan orang atas.


Melihat kecemasan sang adik, Adi mengerti. Kemudian dia memegang bahu Mella, "Tenang aja! Dia teman mas dari SMA, jadi nggak usah khawatir. Udah yuk keburu malam nih!" ajak Adi.


Mela dan juga Rika pun masuk ke dalam mobil. Adi duduk di bagian depan, sementara Rika dan juga Mela duduk di bagian belakang.


"Kita mau ke mana Pak Bos?" ucap seorang pria tampan yang saat ini berada di dalam mobil mewah itu, yang tak lain adalah Dimasta.


"Cari cafe atau restoran yang tak jauh aja dari sini," jawab Adi sambil memasang sabuk pengamannya.


"Siap. Ongkosnya 2 juta ya," kelakar pria tersebut.


"Kubayar Kau 100 juta," jawab Adi sambil terkekeh kecil.


Kemudian Dimas melihat ke arah dua wanita yang duduk di belakang, lalu dia menyenggol bahu Adi. Melihat itu Adi pun paham, kemudian dia memperkenalkan istri dan juga adiknya kepada Dimas.


"Oh iya sayang, Mela, kenalin, ini adalah Dimasta, sahabat Ma sedari SMA. Kebetulan dia adalah pengusaha yang sukses. Dan Dimas kenalin, ini istri dan juga adik gue."


Dimasta mengulurkan tangannya ke arah Mela dan juga Rika, dan langsung dijabat oleh mereka berdua. "Saya Dimas, temannya si bahlul," ucap Dimas sambil menatap ke arah Adi.


Sedangkan yang ditatap merasa kesal saat Dimas menyebutnya seperti itu. "Dasar kau kembarannya Haji Bolot," jawab Adi dengan ketus.

__ADS_1


"Saya Rika."


"Dan saya Mela."


Kemudian mobil pun melaju meninggalkan rumah sederhana milik Adi, dan sepanjang perjalanan terlihat Adi dan juga Dimas sangat akrab. Bahkan mereka sering bercanda, membuat kedua wanita yang berada di belakang menatapnya dengan heran, terutama Mela.


Sejujurnya Mela merasa heran dari mana kakaknya bisa mendapatkan teman seperti Dimas? Karena yang dia tahu, sang kakak hanyalah seorang petani biasa, dan sangat terlihat jelas jika keduanya sangatlah akrab.


'Sepertinya memang benar, Mas Adi sudah mengenal Tuan Dimas sangat lama. Mereka terlihat sekali kedekatannya,' batin Mela.


Setelah mobil sampai di sebuah restoran yang tidak terlalu mewah, keempat orang itu pun turun lalu mereka berjalan masuk dan langsung menuju meja dan memesan makanan.


Jujur saja, Mela baru pertama kali itu makan di restoran mewah. Tak pernah dia bayangkan bisa makan seperti orang-orang pada umumnya yang berduit.


'Ya ampun! Aku mimpi apa sih semalam bisa makan di restoran kayak gini? Dari dulu hanya angan-angan saja, tapi sekarang malah kesampaian.' batin Mela penuh syukur.


"Sayang, kamu makan yang banyak ya! Mela, kamu juga," ucap Adi kepada dua wanita yang berada di hadapannya.


"Iya Mas," jawab Rika sambil mengunyah makanannya


Sementara Mela hanya diam saja. Sejujurnya dia takut dan khawatir jika Adi tidak bisa membayar makanan di sana, sebab melihat dari harganya sangat mahal-mahal.


"Mas, apa tidak sebaiknya kita pulang aja?" ujar Mela membuat Adi seketika menatapnya dan menghentikan makannya.


"Kenapa? Memangnya makanannya tidak enak?" tanya Adik sambil menatap sang adik.


"Bukan seperti itu, Mas. Cuma sepertinya makanan di sini mahal-mahal, sayang kan uangnya. Aku takut nanti tabungan Mas Adi malah habis. Kita kan juga harus menghemat Mas," jawab Mela dengan wajah sedihnya.


Mendengar penuturan Mela, Dimas malah terkekeh. Dia sampai tersedak makanannya sendiri, kemudian pria itu langsung meminum jus yang berada di hadapannya.


Melihat sahabat dari kakaknya malah menertawakan ucapannya, Mela pun merasa kesal. Tapi dia tidak berani untuk berbicara, karena takut menyinggung pria kaya tersebut, sebab ia tidak ingin sang kaka dalam masalah.


"Hahaha ... jangankan untuk makanan ini, bahkan restorannya pun bisa ... awwh!" Dimas meringis sakit saat tiba-tiba saja Adi menginjak kakinya dan menatapnya dengan tajam.


"Kamu tenang saja! Kebetulan sahabat Kakak ini lagi ulang tahun, makanya dia ngajak kita makan malam di luar. Jadi tenang saja! Bukan kakak yang membayar, tapi dia. Jadi makan sebanyak-banyaknya, habisin aja duit dia! Lagian 7 turunan nggak bakalan abis," jawab Adi sambil tersenyum ke arah Dimas.

__ADS_1


Sedangkan pria itu hanya melotot mendengar jawaban Adi. Dia tidak percaya jika Adi menjadikannya kambing hitam.


"Oh begitu ... ya sudah, kalau gitu Mela makan yang banyak deh," ujar Mela dengan senang, kemudian dia mulai menyantap makanannya kembali.


Sementara Rika hanya menggelengkan kepalanya saat melihat kekesalan sang suami pada sahabatnya. Rika tahu jika apa yang dikatakan Adi itu bohong.


.


.


Sesampainya mereka di rumah, Dimas langsung pergi sementara Adi, Rika dan juga Mela masuk ke dalam. Terlihat raut wajah kedua wanita itu sangat senang, karena di satu sisi Mela baru pertama kali makan makanan mewah seperti tadi, sementara di sisi lain Rika juga sangat bersyukur karena setelah sekian lama dia bisa memakan makanan itu lagi.


"Kamu senang sayang?" tanya Adi saat sudah berada di dalam kamar.


"Iya Mas, aku senang. Terima kasih ya. Oh ya, ada yang mau aku tanyakan sama kamu," jawab Rika.


"Apa itu?"


"Ini soal Mela, Mas."


"Soal Mela? Memangnya ada apa sama dia?" tanya Adi dengan penasaran.


"Iya, maksudku kenapa kamu tidak memberitahukan yang sebenarnya aja kepada Mela? Ya ... setidaknya diberitahukan secara pelan-pelan Mas, jadi saat semuanya terkuak, Mela tidak akan kaget. Apalagi saat mengetahui identitas kamu yang sebenarnya." Rika menatap ke arah suaminya yang saat ini tengah mengusap perutnya.


Adi terdiam, dia juga ingin mengatakan hal tersebut kepada Mela, akan tetapi entah kenapa dia merasa waktunya belum tepat untuk membeberkan identitas mereka yang sebenarnya.


Saat Rika akan berkata kembali, tiba-tiba saja kaca di depan rumahnya terdengar pecah, membuat kedua orang tersebut saling bertatapan satu sama lain.


"Suara apa itu, Mas?" tanya Rika dengan panik.


"Entahlah sayang, sebentar ya, biar mas cek dulu ke depan. Kamu di sini aja" Adi pun bangkit dari tempat tidur lalu dia berjalan membuka pintu menuju ruangan depan.


Saat Adi sampai di ruang tengah, tiba-tiba dia pun menjerit, "Astaghfirullahaladzim!"


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2