
Happy reading....
Revan melihat Adi sedang duduk di kursi kebesarannya, dia merasa grogi seperti sedang berhadapan dengan seseorang yang begitu sangat penting dalam dunia bisnis. Apalagi cita-cita Revan dari dulu bisa bertemu dengan pemilik dari perusahaan Permata Group.
Perusahaan terbesar se-Asia, yang di mana pemimpinnya sangat susah untuk ditemui, karena beberapa kali juga perusahaan Revan pernah bekerja sama dengan Permata Group. Akan tetapi Revan tidak pernah bertemu dengan pemilik dari perusahaan Itu.
Sekarang bagaikan mimpi jika pemiliknya adalah kakak iparnya sendiri, yang tak lain adalah Adi.
"Duduklah! Jangan seperti patung!" kelakar Adi menyuruh Revan untuk duduk di sofa.
"Terima kasih Pak," jawab Revan dengan C
canggung.
Melihat kegugupan dari adik iparnya, membuat Adi terkekeh kecil. Kemudian dia membuka kancing jasnya lalu duduk di sofa dan menyenderkan tubuhnya.
"Jangan terlalu tegang begitu! Sampai memanggilku dengan Pak. Panggil saja seperti biasanya," ujar Adi.
"Iya Mas. Maaf kalau boleh tahu, ada apa ya Mas memanggil saya ke sini?" tanya Revan yang sudah tidak sabar apa maksud dari tujuan Adi memanggilnya ke kantor.
"Sejujurnya saya ke sini hanya ingin berbicara dengan kamu, karena ada sesuatu hal penting yang ingin saya ucapkan."
"Apa itu, Mas?"
"Begini Revan, aaya tahu kamu adalah salah satu karyawan di satu perusahaan, dan karena kamu sudah menjadi adik ipar saya, jadi saya ingin kamu bekerja di kantor ini. Saya akan mengangkatmu sebagai sekretaris, bagaimana?"
Revan menganga saat mendengar ucapan £di, dia seperti mimpi ketiban durian runtuh seribu biji, karena bisa bekerja di perusahaan itu.
Akan tetapi, wajah bahagia itu langsung meredup kembali saat Revan mengingat gelarnya sebagai adik ipar, dan dia sangat takut jika nanti orang bergonhang-ganjing bahwa dirinya bisa menjadi sekretaris dari pemilik perusahaan Permata group karena dia adalah adik iparnya.
"Kenapa? Apa kamu tidak suka?" tanya Adi saat melihat perubahan raut wajah dari Revan.
"Bukan seperti itu Mas, hanya saja, saya merasa tidak enak kalau nanti orang-orang berpikir bahwa saya memanfaatkan gelar sebagai adik ipar untuk menjadi seorang sekretaris di perusahaan besar ini."
Adi terkekeh, dia mengerti dengan jalan pikiran Revan, tapi keputusannya sudah bulat untuk menggantikan Angel sebagai sekretarisnya.
"Tidak usah kamu pikirkan! Untuk apa kamu memikirkan ucapan dan juga pendapat mereka? Kita makan dan juga hidup bukan karena mereka, saya percaya kamu mempunyai potensi yang tinggi, kamu mampu untuk memajukan perusahaan ini. Jadi apakah kamu mau" Adi menatap lekat ke arah Revan.
Dia benar-benar berharap jika Revan menerima tawarannya, karena Adi tahu jika adik iparnya itu adalah pria yang cerdas dan bisa memajukan perusahaannya.
"Baiklah Mas, tapi saya juga harus resign dulu dari kantor," jawab Revan
"Soal itu kamu tidak usah khawatir, Vano sudah mengurus semuanya. Jadi kamu besok tinggal masuk kerja saja."
Mendengar hal tersebut Adi sangat takjub, dia tidak percaya jika kekuasaan kakak iparnya benar-benar sangat kuat, sehingga tanpa dia harus resign pun semua sudah diurus oleh asisten pribadi Adi.
"Tapi apa aebelumnya Mas tidak punya sekretaris?" tanya Revan kembali.
"Punya, cuma aku takut aja kalau nanti dia membuat ulah. Ditambah lagi aku kan sudah punya Rika, dan kalau sampai nanti dia ke sini lalu melihat sekretarisku seorang wanita dan pakaiannya benar-benar kurang bahan, nanti Rika Slsalah paham bagaimana?" jelas Adi.
Revan mengangguk paham, dia juga sangat salut dengan pemikiran pria itu, karena begitu memikirkan perasaan sang istri. Di mana pria seperti Adi yang mempunyai kekuasaan seharusnya bisa memiliki banyak istri, tapi Adi pria yang setia dengan satu wanita, dan itu membuat teladan bagi Revan agar ia setia kepada Mela.
__ADS_1
Adi menelpon Angel untuk masuk ke dalam ruangannya, dan beberapa saat kemudian seorang wanita dengan pakaian yang sangat ketat walaupun memakai rok selutut, tetapi tetap saja menampilkan lekuk tubuhnya.
Revan menatap Angel dari atas sampai bawah. 'Pantas saja Mas Adi takut kalau nanti Mbak Rika cemburu, ternyata sekretarisnya memang benar-benar seperti tidak mempunyai bahan dalam berpakaian.' batin Revan.
.
.
Revan menepuk jidat saat dia baru kepikiran jika dirinya akan mengajak Mela untuk bulan madu ke Bali, sedangkan Adi meminta dirinya untuk masuk kerja besok.
'Astag! Kenapa aku bisa lupa sih? Seharusnya tadi aku bilang sama Mas Adi kalau aku mau mengajak Mela untuk bulan madu satu minggu. Aduh ... ini mah alamat gagal. Tapi apa aku bicara sama mas Adi ya nanti malam?" gumam Revan dengan lirih saat berada di dalam mobil.
Sesampainya di rumah dia tidak mendapati Mela di kamar, dan ternyata wanita itu sedang menanam pohon alpukat di belakang rumah bersama dengan Rika.
.
.
Saat ini Galang tengah berada di supermarket untuk mengantar mamanya belanja, dia mendorong troli sementara mamanya yang memilih-milih barang.
Namun saat Galang tengah menatap ke sekeliling supermarket, tiba-tiba tatapannya mengarah kepada seorang wanita hamil yang tak lain adalah Rika.
"Loh! Itu bukannya Rika!" kaget Galang.
Akan tetapi dia melihat ada dua orang wanita kembar yang memakai pakaian hitam berdiri dengan tegak membuntuti Rika, dan itu membuat Galang merasa heran.
'Mereka berdua siapa? Kok gerak-geriknya seperti seorang pengawal? Tapi mana mungkin jika Rika mempunyai pengawal, dia kan hanya istri seorang petani miskin? Tapi itu beneran Rika. Wajah mereka benar-benar sangat mirip.' batin Galang yang penasaran.
Namun Galang tidak menemukan keberadaan Rika, hingga tiba-tiba dia melihat seorang wanita yang tengah memilih telur. Pria itu pun langsung bergerak mendekat ke arah Rika dan memegang lengannya.
"Rika. Jadi selama ini kamu di Jakarta?" tanya Galang.
Rika menatap kaget ke arah Galang, dia tidak mengetahui jika pria itu ada di sana. "Kamu!" kaget Rika.
"Iya, kamu benar Rika, 'kan? Ayo ikut aku! Papa mamamu selama ini sudah mencarimu, mereka ingin kita menikah Jadi sekarang kamu harus ikut denganku!" Galang menarik tangan Rika.
Wanita itu menggeleng dengan kuat, mencoba melepaskan tangan Galang. "Kamu ini apa-apaan sih, datang-dateng langsung meminta aku untuk ikut kamu. Memangnya kamu pikir, kamu itu siapa? Berani sekali ya memaksaku untuk ikut!" marah Rika.
"Aku ini calon suami kamu Rika," jawab Galang.
Rika tersenyum sinis, dia tidak habis pikir kenapa pria setampan Galang malah mengejar-ngejar istri orang? Padahal wanita cantik dan seksi di luaran sana banyak, sedangkan Galang pun tahu jika dia sedang hamil.
"Apa kamu sudah tidak waras? Apa kamu tidak mempunyai mata, atau matamu berada di kaki? Kamu tidak lihat kalau aku sedang hamil? Apa kamu juga pikun atau hilang ingatan? Aku ini udah menikah dengan pria lain, sudah menjadi istri orang, apa setidak laku kah itu kamu, sampai harus mengejar-ngejar diriku?" ucap Rika dengan nada sarkas
Galang mengepalkan tangannya saat mendengar perkataan Rika yang begitu tajam dan menghinanya. Dia seakan tidak mempunyai harga diri saat Rika berkata seperti itu.
Kemudian Galang hendak mencengkram tangan Rika, namun tiba-tiba saja tangannya ditahan oleh seseorang yang tak lain adalah wanita kembar yang berada di samping Rika.
Pengawal M menatap ke arah Galang dengan tatapan yang begitu dingin, dan Galang yang melihat itu pun segera berdecih.
"Lepaskan tanganku! Jangan ikut campur!"
__ADS_1
"Jelas saya akan ikut campur. Saya tidak akan membiarkan Anda untuk menyakiti Nyonya muda. Sebaiknya sekarang Anda pergi dari sini sebelum tangan saya melayang di wajah tampan Anda!" ucap pengawal M.
Galang malah terkekeh, "Kamu pikir saya takut? Kamu itu hanya seorang wanita, jangan berani menggertak! Ayo Rika, kamu ikut dengan saya! Kita akan menikah. Aku tidak perduli mau kamu sudah mempunyai suami atau tidak, kalau bisa gugurkan anakmu itu! Karena aku juga tidak sudi untuk memelihara anak yang bukan darah dagingku," tutur Galang sambil memaksa Rika untuk pergi
Namun belum juga tangannya menggapai tangan Rika, tubuh Galang sudah terpental karena tiba-tiba saja pengawal N menendang perutnya, membuat pria itu tersungkur ke lantai dan beberapa pasang mata dari pembeli yang ada di supermarket itu menatap ke arahnya.
'Aawwh perutku! Ya ampun, kenapa rasanya sakit sekali seperti dipukul besi?' batin Galang yang meringis saat memegangi perutnya.
"Sudah biarkan saja dia! Kita pergi dari sini. Lagi pula saya juga sudah lelah," ucap Rika tanpa perduli dengan ringisan Galang.
Wanita itu pergi disertai tatapan Galang yang menatapnya dengan heran dan juga tajam. Dia tidak terima jika diperlakukan seperti itu oleh anak buah Rika.
Namun yang membuat Galang merasa heran adalah, kenapa bisa Rika mempunyai pengawal? Padahal dia hanyalah istri seorang petani. Tentu itu menjadi banyak tanda tanya di pikiran Galang.
Pria itu pun langsung mengeluarkan ponselnya untuk mengabari Papa Renal atas pertemuannya bersama dengan Rika.
"Halo Om, aaya mempunyai info penting tentang tentang Rika. Satu jam lagi kita bertemu di restoran xx_" ucap Galang saat telepon tersambung.
Sementara di sisi lain Papa Renal merasa senang saat mendengar jika Galang menemukan info tentang putrinya karena dan perusahaannya bisa diselamatkan.
"Lihatlah Rika! Kemanapun kamu pergi kamu pasti akan ditemukan oleh anak buah Papa maupun Galang, karena orang miskin seperti Adi tidak akan bisa membawamu untuk sembunyi," ucap apa Renal sambil tersenyum menyeringai.
.
.
Sesuai dengan apa yang diucapkan Galang, saat ini dia tengah berada di sebuah restoran untuk menemui Papa Renal dan memberitahukan tentang keberadaan dari Rika.
Tak lama orang yang ditunggu pun telah tiba, Papa Rena langsung duduk di hadapan Galang. "Bagaimana? Kabar apa yang kamu temukan?" tanya Papa Renal tanpa berbasa-basi.
"Saya tadi ke supermarket mengantar Mama untuk belanja--"
"Saya tidak bertanya kamu mengantar mamamu atau tidak. Yang saya tanyakan adalah, bagaimana keadaannya Rika dan di mana kamu bertemu dengannya?" potong Papa Renal.
Galang memutar bola matanya dengan malas. "Makanya Om, dengarkan dulu penjelasan saya!" ujar Galang. "Saya tadi mengantar Mama ke supermarket, dan tiba-tiba saya melihat Rika di sana."
"Apa! Rika ada di supermarket? Jadi dia ada di Jakarta?" tanya papa Renal dan langsung dibalas anggukan oleh Galang.
"Iya Om, saya memaksa Rika untuk ikut, namun ada yang aneh, karena Rika mempunyai dua pengawal," jelas Galang.
"Apa l! Dua pengawal?" Papa Renal malah tertawa terbahak-bahak saat mendengar penuturan Galang.
Mana mungkin bisa Rika mempunyai pengawal, sedangkan Adi pun hanya orang miskin dan untuk membayar pengawal itu tentu saja tidak murah dan tidak sedikit. Jadi Papa Renal pikir, mungkin Galang sedang mengigau di siang hari.
"Saya ke sini untuk mendengar bagaimana Rika, bukannya mendengar leluconmu Galang," ucap Papa Renal saat selesai dengan tawanya.
Sementara Galang mengepalkan tangan di bawah meja, karena Papa Renal tidak mempercayai ucapannya. Padahal dia sudah berkata jujur.
Iya, Galang memahami karena dia sendiri pun merasa heran dan masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya, di mana tadi Rika dikawal oleh dua pengawal, dan tentu saja itu tidak masuk dalam logika. Secara suaminya hanyalah orang miskin dan melarat.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1