
Happy reading...
Setelah ba'da Magrib, Rika memakai jaket dan itu membuat Adi merasa heran. "Kamu mau ke mana, Sayang?" tanya Adi.
"Aku mau keluar sebentar ya Mas, mau ke warung," bohong Rika.
Adi mengangguk, "Apa mau mas antar?"
"Tidak usah Mas. Masa ke warung aja diantar? Ya sudah, kalau gitu aku keluar dulu ya Mas." Kemudian Rika mencium tangan suaminya lalu pergi keluar dari rumah.
Dia berjalan menyusuri pedesaan. Wanita itu ingin menuju counter untuk membeli kuota, karena Rika ingin menghubungi orang tuanya.
Selama ini memang ponsel Rika tidak pernah diisi oleh daya ataupun paketan, sebab Rika tidak ingin diganggu rumah tangganya oleh orang tuanya. Karena dia tahu, jika mama dan Papanya menelpon selalu saja membicarakan soal Galang.
Counter dan juga rumahnya berjarak hanya 15 menit saja berjalan kaki, setelah sampai wanita itu pun langsung membeli kuota sesuai dengan kartunya.
Setelah membayar mereka langsung menelpon sang papa, dia duduk di sebuah kursi di pinggir jalan.
__ADS_1
Namun ponselnya tak aktif. Akhirnya ia pun menelepon sang mama.
Satu kali telepon itu tidak diangkat, namun panggilan kedua akhirnya telepon tersebut tersambung, dan terdengar suara riang dari seberang telepon yang tak lain adalah mamanya.
"Halo! Assalamualaikum Mah," ucap Rika.
"Waalaikumsalam, akhirnya kamu nelpon mama juga setelah sekian lama ponselmu mati. Rika, kamu pasti sangat merindukan mama kan? Tidak usah meminta maaf, Mama sudah mau memaafkanmu kok untuk hal tadi siang. Ya ... tapi ada syaratnya," jawab Tante Renata di seberang telepon.
Rika tahu arah pembicaraan tante Renata ke mana, kemudian dia pun berkata, "Aku hanya ingin bicara dengan Papah, Mah. Apakah Papah ad?" tanya Rika.
"Papamu belum pulang dari kantor, mungkin sebentar lagi, ada apa?"
"Kenapa Papa sejahat itu? Kenapa Papa menghancurkan ladang dan juga sayur-mayur milik Mas Adi? Aku tahu Mama dan Papa tidak pernah merestui kami, tapi seharusnya itu tidak kalian lakukan! Karena dengan seperti itu, kalian malah akan membuat aku semakin ingin bertahan dengannya," ujar Rika dengan nada yang sendu.
Di seberang telepon tante Renata mengerutkan keningnya, karena dia tidak paham apa yang diucapkan oleh Rika.
"Maksud kamu apa berkata seperti itu? Kamu menuduh Papa merusak tanaman suami kamu?" tanya Tante Renata dengan sedikit ketus.
__ADS_1
"Ya. Kenyataannya memang seperti itu kan? Aku tahu kok papa itu wataknya seperti apa, Mah. Tapi aku tidak pernah menyangka, kenapa kalian bisa sejahat itu sih? Sebegitu inginkah kalian aku bercerai dengan mas Adi? Sebegitu inginkah kalian tidak ingin melihat anak kalian ini bahagia?" Rika tidak bisa lagi menahan air matanya.
"Kamu ini bicara apa sih? Nelpon bukannya minta maaf, malah marah-marah!" ujar tante Renata dengan nada yang emosi.
"Aku tidak marah-marah kok Ma, aku hanya heran saja dengan kalian. Aku ini sudah bahagia bersama dengan mas Adi, tapi kenapa kalian ingin membuatku menderita menikah dengan Galang? Pria yang tak pernah ku cintai."
"Bagus dong kalau Papa kamu itu merusak semua tanaman suamimu. Biarkan suamimu tahu sedang berhadapan dengan siapa? Dan sebaiknya kamu tinggalkan saja suami melaratmu itu dan nikah bersama dengan Galang!"
"Mama dan papa benar-benar keterlaluan!" Setelah mengatakan itu Rika menutup teleponnya secara sepihak, kemudian dia menekan tombol off, dan mematikan ponselnya agar sama mama tidak menghubunginya lagi.
Wanita tersebut menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya. Dia tidak menderita tinggal bersama dengan Adi, tapi hatinya yang sakit karena melihat kesedihan sang suami.
Istri mana yang akan baik-baik saja saat melihat suaminya sendiri terpuruk, karena ulah dari orang tuanya sendiri.
'Apakah Mas Adi akan memaafkan orang tuaku? Apakah dia tidak akan meninggalkanku?' batin Rika.
Kemudian dia beranjak dari duduk yang menghapus air mata padahal Percuma saja karena wajahnya sudah sembab lalu wanita itu pun berjalan menuju rumah dengan hati yang hancur.
__ADS_1
BERSAMBUNG....