
Happy reading....
Papa Renal dan juga tante Cantika masuk ke dalam diantar oleh pelayan yang sudah menyambut mereka atas perintah Adi, kemudian keduanya dibawa ke dalam ruang keluarga.
Pandangan tante Cantika terus saja menatap kagum ke arah rumah mewah tersebut, barang-barang di dalamnya benar-benar sangat mahal, bahkan bisa ratusan juta atau ada yang miliaran. sedangkan barang-barang yang ada di rumahnya tidak seberapa dibandingkan dengan yang ada di sana.
'Ternyata menantuku itu benar-benar super duper kaya. Sial! akenapa sampai qku terkecoh dan tidak bisa mengenalinya? Kalau sudah seperti ini akan sangat susah untuk menaklukkan Adi dan juga Reka. Tapi kunciku hanya ada pada putriku.' batin tante Cantika sambil tersenyum miring.
Mereka sampai di ruang keluarga, Rika menyambut kedua orang tuanya dengan tersenyum sambil mencium kedua tangan mama dan Papanya, begitu pula dengan Adi.
"Silakan duduk Om, Tante," ucap Adi mempersilakan keduanya untuk duduk.
Papa Renal dan juga tante Cantika melihat sikap Adi yang tidak seperti biasanya, di mana pria itu selalu mengalah. Namun saat ini aura Adi terasa begitu berbeda, dia benar-benar seperti seorang bangsawan dan juga pemilik perusahaan yang besar.
Sebetulnya Papa Renal merasa sungkan dan juga takut berhadapan dengan Adi, tapi dia mencoba untuk bersikap biasa saja. Walau sebenarnya jantungnya saat ini sedang berdetak dengan kencang.
"Selamat datang di gubuk kami," ucap Adi sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Ah menantu ini bisa saja. Ini namanya bukan gubuk, tapi ini istana," jawab Tante Cantika sambil terkekeh kecil.
"Oh iya kah? Saya rasa ini adalah gubuk. Bukankah itu yang selalu kalian bilang kepada saya, bahwa rumah saya adalah rumah yang paling jelek sedunia?" Adi berkata dengan nada yang dingin.
Membuat kedua mertuanya seketika tercubit dengan sindiran dari menantunya.
Hal yang paling menggelikan di telinga Adi adalah, di mana saat dia mendengar mertuanya menyebut dirinya sebagai menantu. Hal yang tak pernah sekalipun didengarnya selama ini, namun saat melihat siapa Adi sebenarnya, kedua orang itu malah luluh seketika.
__ADS_1
"Langsung saja, jangan berbasa-basi! Karena saya juga sangat sibuk. Tujuan Om dan juga Tante ke sini untuk apa?" tanya Adi dengan tatapan lurus namun terkesan mengintimidasi.
Papa Renal berdehem kecil untuk menetralkan rasa gugupnya saat ini. "Kamu jangan kayak gitu! Masa sama mertua sendiri nyebutnya Om sama Tante sih? Papa Mama dong!"
Rika dan juga Adi bertatapan satu sama lain saat mendengar ucapan dari pria yang berada di hadapannya. Sejujurnya Rika sangat senang saat mendengar jika orang tuanya sudah menerima keberadaannya Adi.
Akan tetapi, rasa sedih seketika muncul di dalam hatinya saat melihat dan mengingat bahwa kedua orang tuanya berubah karena saat melihat siapa Adi sebenarnya, bukan saat mereka awal menikah dan saat Adi menjadi orang miskin.
"Kenapa saya harus menyebut kalian mama dan papa? Bukankah kalian sendiri yang tidak menginginkan itu? Apa kalian lupa, saat pertama kali aku menikah dengan Rika, lalu kalian menghinaku habis-habisan? Oh, atau jangan-jangan kalian juga lupa, kalau kalian ingin menjodohkan istriku dengan pria lain?" Adi berkata dengan tatapan yang begitu menantang.
Papa Renal mengepalkan tangannya namun dia mencoba untuk menahan emosi, karena pria itu tahu sekarang berbicara dengan siapa dan untuk memuluskan rencananya.
"Itu kan masa lalu. Saya tahu mungkin selama ini saya sudah banyak menyakitimu, tapi lupakan saja! Saya waktu itu hanya hilaf, maklum kami adalah orang tua yang ingin membahagiakan putri kami, jadi--"
"Jadi sampai rela untuk mengorbankan cucu kalian sendiri? Bukankah kalian yang berbicara, kalau tidak ingin mempunyai keturunan dariku?"
Lalu Papa Renal memberi kode kepada istrinya agar mereka mulai menjalankan rencana, dan tante Cantika yang mendengar itu pun segera mendekat ke arah Rika lalu menggenggam tangannya.
"Sayang, Mama minta maaf kalau selama ini Mama sudah menyakitimu, bahkan tidak merestui hubunganmu dengan Adi. Bukan seperti itu maksud Mama! Tapi ini semua demi kebahagiaanmu, kalau saja kami mengetahui siapa Adi sebenarnya, mungkin tidak akan seperti kemarin kejadiannya Nak. Jadi kami mohon maafkanlah kekhilafan kami!" ucap tante Cantika dengan tatapan memohon.
Rika memejamkan matanya sejenak, kemudian dia menghela nafas dengan pelan. Masih sangat terngiang jelas di telinga Rika saat Papanya meminta dia untuk menggugurkan kandungan itu begitu pula dengan Galang.
"Aku sudah memaafkan Mamah dan papa, tapi keputusan semuanya ada pada masa Adi. Jika kalian meminta maaf karena Mas Adi sekarang sudah mempublikasikan identitasnya, dan kalian menyesal, maka aku hanya bisa menyarankan semua penyesalan itu harus dari hati. Tapi kalau kalian melihat dari tahta dan kasta, maka semuanya tidak akan berjalan lancar. Aku berharap Mama dan Papa memang benar-benar menyesali perbuatan kalian, bukan semata-mata karena identitasnya Mas Adi." Rika beranjak dari duduknya.
Membuat tante Cantika seketika menatap ke arahnya dengan heran. Ada rasa sakit di hatinya saat Rika berkata seperti itu, bahkan saat tidak mempercayai dirinya.
__ADS_1
"Maaf Ma, Pa, aku ke kamar dulu ya. Kepalaku sedikit pusing. Mas, kamu urus aja!" Adi mengangguk, kemudian pengawal yang sejak tadi berdiri di pintu mendekat ke arah Rika lalu membantunya untuk pergi ke kamar.
Papa Renal dan juga tante Cantika menatap satu sama lain saat melihat Rika dikawal oleh dua wanita kembar. Ternyata apa yang dikatakan Galang memang benar, jika Rika memang mempunyai pengawal.
"Sudah dengar kan apa yang dikatakan oleh istriku? Kalau kalian meminta maaf hanya karena identitasku, maka maaflah, aku tidak bisa memaafkan kalian. Karena apa yang sudah kalian lakukan terhadap keluargaku, itu sudah sangat amat fatal. Apalagi kalian mencoba menghancurkanku dengan merusak kebunku." Adi tertawa sinis, namun tatapannya masih dingin dan datar.
Papa Renal sedikit panik, kemudian dia mendekat ke arah Adi.
"Papa tahu mungkin kesalahan Papa fatal, tapi tidak bisakah kamu memaafkan kami sebagai mertuamu? Itu hanyalah masa lalu, kita harus berdamai--"
"Maaf, saya masih banyak kerjaan tidak bisa untuk menikmati sebuah drama yang menurut saya memuakkan. Nun?" Panggil Adi sambil mengangkat tangannya.
"Saya Tuan muda," jawab Nun saat masuk ke dalam ruang keluarga.
"Antarkan mereka ke pintu utama! Karena saya masih banyak pekerjaan. Jika kalian tidak ada keperluan lagi, silakan tinggalkan rumah ini! Dan ingat satu hal! Jangan pernah bermimpi mendapatkan maaf saya dengan begitu mudah setelah apa yang kalian lakukan. Apalagi itu menyangkut anak dan juga istri saya, paham!" Setelah berkata seperti itu Adi pun keluar dari ruangan tersebut.
Namun, Papa Renal menghentikan langkahnya.
"Dia adalah putri kami. Kami bisa mengambilnya begitu saja! Apa kau paham!" gertak Papa Renal dengan nada yang emosi, karena dia sudah tidak sabar dan juga tak terima sejak tadi Adi terus aja menyindirnya.
Mendengar hal itu Adi malah tersenyum sinis, karena baginya ancaman dari papa Renal tidak mengaruh apapun. Kemudian dia berbalik badan sambil menatap keduanya dengan tajam.
"Dia memang Putri kalian, tapi bukankah kalian sendiri yang ingin menggugurkan kandungannya? Lalu apakah saya sebagai kepala keluarga akan diam saja? Seorang Istri itu patuh pada suaminya, sudah bukan lagi tanggung jawab dari kedua orang tuanya, paham! Sebaiknya kalian pulang sekarang!" Setelah berkata seperti itu Adi kembali melanjutkan langkahnya.
Sementara Papa Renal dan juga tante Cantika mengepalkan tangan. Mereka tidak terima jika Adi menghina dan menginjak-nginjak harga dirinya, karena walau bagaimanapun mereka adalah orang tua dari istrinya.
__ADS_1
'Lihat saja! Akan kutaklukan kamu Adi. Akan ku kuras habis hartamu!' batin Papa Renal.
BERSAMBUNG.....