
Happy reading...
Adi mendekat ke arah Reno sambil membawa cambukan, dia mengelilingi tubuh pria itu dengan tersenyum menyeringai.
"Sebaiknya kau katakan kepadaku, siapa kaki tanganmu! Aku yakin, kau sudah menyuruh kaki tanganmu untuk menjadi mata-mata kan di keluargaku?" tanya Adi sambil menatap ke arah Reno dengan tajam.
"Tidak akan aku katakan! Walau kau membunuhku, aku tidak akan membuka mulut!" jawab Reno dengan tegas.
PROK! PROK! PROK!
Adi bertepuk tangan saat mendengar jawaban pria itu. Bahkan Reno masih bersikap Arogan dan angkuh, padahal dirinya sekarang sudah tidak bisa berbuat apa-apa.
"Wow! Wow! Wow. Ternyata siksaan seperti ini tidak membuatmu jera? Kau menantang kematianmu sendiri Reno. Baiklah jika itu maumu tapi sebelum aku mencabut nyawamu, kita akan sedikit bermain-main." Adi kemudian membentangkan cambukan tersebut, lalu dia mengarahkannya kepada pisang ambon yang sedang menggantung dengan Indah.
"AAAGH! SAKIT SIALAAN!" jerit Reno dengan suara yang menggelegar, tatkala dia merasakan pisang ambonnya dicambuk dengan begitu keras.
"Hahahaha!” tawa terdengar dari mulut Adi dan Dimas.
Sementara anak buahnya Dimas malah meringis saat melihat adegan tersebut. Mereka tak bisa membayangkan sakitnya seperti apa saat punya mereka di cambuk.
Tidak puas, Adi mencambuk tubuh Reno, supaya membuat pria itu mengatakan kebenarannya. Akan tetapi Reno masih bungkam, dan itu semakin membuat Adi marah.
"Jadi kau tidak ingin memberitahuku siapa kaki tangan yang sudah kau tugaskan?"
"Tidak akan pernah!" jawab Reno dengan sorot mata yang begitu tajam penuh dendam.
"Baiklah. Dimas, masukan orang-orang itu!" titqh Adi
Kemudian Dimas mengangguk, lalu dia membisikan sesuatu kepada anak buahnya. Tak lama masuklah tiga orang pria berbadan kekar mereka hanya menggunakan celana Boxer saja dan melihat itu Reno menatapnya dengan bingung. Karena tidak tahu apa yang akan dilakukan Adi.
"Kau jangan mati dulu. Jika kau mati terlebih dahulu, rasanya tidak akan seru." Adi menepuk pundak Reno, lalu kembali menepuk pipinya, membuat Reno akhirnya meludah ke samping.
"Lakukan tugas kalian! Ayo Dimas kita pergi. Masih ada pekerjaan yang harus ku selesaikan." ajak Adi dan Dimas bangkit dari duduknya.
"Apa kau tidak memberikanku kesempatan untuk bermain-main dengan pisang ambon itu?" tanya Dimas.
"Apa kau doyan? Lihatlah! Bahkan bentuknya begitu sangat kecil. Aku saja yang melihatnya tidak berselera, dibandingkan dengan punyaku masih mending," ledek Adi sambil menatap sinis ke arah bagian inti milik Reno.
Pria itu ingin marah saat mendengar ucapan Adi, karena dia tidak terima harga dirinya diinjak-injak seperti itu. Tetapi tenaganya sudah tidak ada lagi.
__ADS_1
Tiga orang pria berbadan kekar mendekat ke arah Reno dengan tersenyum cabul, membuat Reno seketika bergidik ngeri.
"Mau apa kalian, Hah?! Jangan macam-macam!" bentak Reno. Akan tetapi ketiga pria itu malah tertawa terbahak-bahak.
Salah satu dari mereka memposisikan diri di belakang Reno, dan melakukan tindakan yang tak seharusnya dilakukan oleh pria normal.
"Tidak! Jangan lakukan itu Badjingan! Berhenti!" teriak Reno sambil menggoyangkan tubuhnya, agar pria tersebut tidak melakukan apapun pada tubuhnya.
Akan tetapi dua orang di hadapannya seketika memegangnya tubuh Reno yang memberontak, hingga tragedi itu pun terjadi, di mana Reno dicabuuli oleh ketiga pria keseruan Adi.
.
.
Sementara Adi sedang berada di jalan bersama dengan Dimas untuk menuju kantor, dia ingat jika belum memberitahukan kepada Vano.
"Oh iya Dim, nanti lo kasih tahu sama Vano ya tentang markas baru kita!" Titah Adi kepada sahabatnya.
"Jangan!" cegah Dimas membuat Adi merasa heran.
"Kenapa? Kan biar Vano juga membantumu untuk memantau pria itu?"
"Tapi kenapa?"
"Kamu ini macam emak-emak yang sedang menawar belanjaan di pasar. Sudahlah, nanti juga kamu akan tahu jawabannya!"
Setelah itu Dimas tidak berbicara lagi, begitu pula dengan Adi. Pikirannya berkecamuk saat mendengar jawaban dari sahabatnya.
Entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Dimas mengenai Vano, dan Adi sangat yakin jika sesuatu itu bukan hal yang kecil.
Dia dapat melihat raut wajah ketegangan dan raut wajah serius dari Dimas, saat pria itu tadi melarangnya untuk tidak berbicara kepada Vano perihal markas baru mereka.
.
.
Tepat jam 18.30 malam Adi pulang ke rumah dia melihat Rika, Mela, kedua mertuanya serta Bu Tia sedang berkumpul di ruang keluarga bermain bersama dengan Noah.
Adi tersenyum bahagia saat melihat raut kebahagiaan di wajah mereka. Dia berharap kebahagiaan itu akan kekal dan tak pernah ada yang mengusiknya lagi.
__ADS_1
"Assalamualaikum " Adi mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam. Eh Mas, kamu sudah pulan?"g Rika mencium tangan suaminya.
Kemudian Adi berjalan masuk meninggalkan ruang keluarga untuk ke kamar, karena dia harus membersihkan diri terlebih dahulu baru akan menggendong Noah.
Rika menitipkan putranya kepada kedua orang tuanya, sementara dia mengikuti langkah Adi masuk ke dalam kamar.
"Ya ampun sayang, seharusnya kau tidak usah ke sini! Ingat, jahitanmu kan juga belum kering. Nanti kalau kamu terlalu banyak gerak gimana?" Adi mengkhawatirkan keadaan Rika.
"Tidak apa-apa, jahitannya juga sudah mulai kering kok. Kan setiap hari diobati." Wanita itu memberikan baju salin kepada Adi, dan tanpa malu pria tersebut menggantinya di hadapan Rika
Walaupun sudah sering melihat tubuh polos milik suaminya, tetap saja Rika merasa malu. Hingga dia pun lagi-lagi memalingkan wajahnya yang bersemu merah, dan itu membuat Adi gemas.
Saat baru memakai pakaiaan dalaam, Adi menarik pinggang Rika, membuat wanita itu tersentak kaget. Dan tanpa aba-aba Adi menyatukan bibir mereka hingga membuat keduanya larut dalam ciumaan yang memabukkan hingga beberapa menit.
Dirasa Rika sudah mulai kehabisan oksigen, Adi melepaskan tautan bibir mereka, hingga membangkitkan sesuatu yang sedang tertidur di bawah sana.
"Sayan, sampai kapan aku harus berpuasa? Rasanya si Otong sudah tidak sabar ingin segera memasuki goa," ucap Adi dengan wajah yang sudah ditekuk, karena menahan sesuatu yang memuncak di dalam dirinya.
"Sabar ya Mas, 30 hari lagi semuanya sudah selesai."
"Kok lama sekali sih?"
"Ya ... memang segitu Mas kalau orang melahirkan kan 40 hari. Jadi kamu harus sabar," kekeh Rika. Tapi dia kasihan saat melihat raut wajah sang suami.
Akhirnya Adi pun memakai bajunya dan membiarkan Junior yang sedang terbangun di bawah sana kembali tertidur, walaupun itu sangat susah.
"Oh ya, Mas. Aku mau bertanya sesuatu sama kamu?" Rika baru ingat jika dia menunggu kepulangan Adi karena ingin menanyakan sesuatu hal tentang Dimas.
"Soal apa itu, sayang?" tanya Adi sambil menyisir rambutnya.
"Ini soal Tuan Dimas."
"Dimas? Kenapa sama dia?" Adi menatap dengan alis terangkat, kemudian dia duduk di samping istrinya.
"Begini Mas ... apakah Dimas itu punya kekasih?" tanya Rika dengan tatapan penasaran, karena dia sudah tidak sabar ingin segera mendapat jawaban dari suaminya.
BERSAMBUNG....
__ADS_1