
Happy reading.....
Pagi hari Rika bangun dengan badan yang lumayan pegal, sebab semalam mereka habis melakukan peperangan yang begitu memabukan.
Selepas dia membersihkan diri, Rika melihat sudah tidak ada Adi di sampingnya. Wanita itu pun berjalan ke balkon untuk menghirup udara segar, namun saat berbalik badan, tiba-tiba Rika menjerit kaget saat melihat dua orang wanita kembar yang berada di belakangnya.
"Aaaa! Astaga! Kalian siapa? Ngagetin aja." Rika mengusap dadanya dengan jantung yang sudah berdetak kencang.
"Maafkan kami Nyonya muda. Kami adalah pengawal yang disuruh oleh Tuan Muda untuk menjaga Anda," jawab salah satu wanita itu
Rika membulatkan bibirnya, "Oh, kalian pengawal yang disuruh suami saya untuk menjaga saya. Nama kalian siapa?" tanya Rika sambil menatap ke arah dua wanita yang saat ini tengah menundukkan kepalanya.
"Nama saya, M."
"Dan nama saya, N."
Rika menganga dengan mata membulat saat mendengar nama mereka yang seperti alfabet, kemudian dia menatap ke arah papan nama yang ada di dada mereka.
"Astaga! Kenapa nama kalian seperti alfabet? Apa tidak ada nama lain? Jangan bercanda deh!" ujar Rika sambil menggelengkan kepalanya.
"Itu nama kami Nyonya muda, yang diberikan oleh Tuan Muda."
Rika memutar bola matanya. "Whatever. Sekarang saya mau ke bawah, saya mau minum susu," ujar Rika.
Dia pun langsung turun ke lantai bawah ditemani oleh kedua pengawalnya, dan di sana Rika tidak menemukan Adi. Kemudian dia pun bertanya kepada pelayan dan kebetulan di ruang makan ada Nun.
"Tuan muda sedang berada di tempat Gym, sebentar lagi pasti tuan muda akan ke sini Nyonya," jawab Nun sambil menundukkan kepalanya.
"Baguslah. Aku ingin bertanya sesuatu kepadanya," ucap Rika sambil meminum susunya.
Dia melihat banyak sekali pelayan dan juga mengawal di sana, bahkan di setiap sudut ditaruh pengawal. Pelayan yang ada di dapur pun berjumlah 6 orang, apalagi chef di sana ada dua.
Tak pernah Rika sangka sebelumnya jika Adi memang amat sangat kaya, padahal tadinya dia pikir menikah dengan seorang petani itu sangat senang. Mereka menjalani kehidupan yang sederhana namun penuh cinta, tapi ternyata siapa yang menyangka, jika identitas suaminya sangatlah jauh di atas dirinya.
__ADS_1
Tak lama Mela datang dan di belakangnya sudah ada pengawal, dia menguap kemudian duduk di samping Rika.
"Kamu masih ngantuk? Kenapa sudah bangun jam segini?" tanya Rika sambil memakan roti.
"Gimana nggak bangun Mbak, biasanya juga bangun jam 02.00 buat masak jualan sarapan, jadinya udah terbiasa bangun pagi. Tapi aku kesel bercampur aneh," ujar Mela sambil menyadarkan kepalanya di atas meja makan.
"Aneh kenapa?"
Kemudian Mela menatap ke arah kedua pengawalnya, lalu dia mendekat ke arah Rika dan membisikkan sesuatu yang membuat Rika seketika menatapnya dengan heran bercampur kaget.
"Benarkah?" tanya Rika, dan Mela langsung menganggukan kepalanya.
"Aku juga sebenarnya merasa heran, kedua pengawalku masa namanya m sama n? Mereka itu punya nama asli atau tidak?" bingung Rika.
Tak lama Adi datang dan masuk ke dalam ruang makan, dikawal oleh dua pengawal pria berbadan kekar. Dia duduk setelah mencium kening sang istri.
"Pagi Mas Adi," sapa Mela.
"Pagi Dek, kamu di sini jangan bangun pagi-pagi. Tidak apa-apa bangun siang juga, nggak akan ada yang marah. Lagi pula, stok makanan di sini banyak," kekeh Adi sambil minum air putih.
Kini tinggal Rika bersama dengan Adi di sana, tentu saja ada pengawalnya. Kemudian Rika menatap ke arah suaminya dengan heran, sementara Adi hanya cuek aja. Sebab dia tahu apa yang ada di dalam pikiran istrinya.
"Jangan bilang, kalau kamu menatapku seperti itu ingin menanyakan soal nama pengawalmu?" tanya Adi tanpa menengok ke arah Rika.
"Itu Mas tahu, kenapa harus bertanya? Jadi jelaskan saja!"
"Itu nama inisial mereka, biar tidak bingung. Lagian wajah mereka kan kembar, jadi takutnya kamu salah. Mendingan pakai alfabet saja," Jawab Adi dengan cuek.
Rika terdiam kemudian dia hanya mengangkat kedua bahunya saja. Setelah itu mereka berjalan masuk ke dalam kamar untuk bersiap-siap, dia juga menyiapkan beberapa pakaian untuk Adi ke kantor, karena suaminya bilang jika ia harus pergi untuk menghadiri sebuah acara yang penting.
Sejujurnya Rika sangat penasaran kantor suaminya itu seperti apa, namun Adi bilang jika dia pasti akan mengajak Rika ke sana tapi tidak untuk hari itu, sebab aetelah sekian lama Adi baru muncul lagi di kantor utama.
"Ya sudah, kalau gitu aku berangkat dulu ya sayang. Kamu sama Mela di rumah baik-baik, ingat kalau butuh apa-apa bilang sama Nun," ujar Adi sambil mengecup kening mereka.
__ADS_1
"Siap Sayang," jawab Rika sambil tersenyum, kemudian Adi masuk ke dalam mobil yang terlihat begitu sangat mewah.
Rika tak menyangka jika suaminya begitu tampan saat memakai pakaian orang kantor, bahkan pakaian yang dipakai oleh Adi sangat mahal harganya, menambah ketampanannya 100 kali lipat.
'Ternyata selama ini suamiku itu mempunyai keunikan dan kelebihan yang tersimpan. Aku benar-benar bersyukur, ternyata aku menikah dengan seorang pangeran yang sedang menyamar menjadi orang miskin, seperti yang ada di novel-novel. Rasanya ingin sekali aku membuat novel dan menceritakan kisah cinta dan hidupku.' batin Rika sambil terkekeh kecil.
Dia masuk ke dalam dan menemui Mela yang sedang belajar piano, dipandu oleh Nun. Wanita itu pun menghampirinya.
"Wah! Kamu lagi belajar piano, mau Mbak ajarin nggak? Kebetulan mbak juga bisa piano, tapi tidak jago sih, hanya bisa nada yang Fals aja," ujar Rika sambil tertawa kecil.
"Iya nih, kayaknya aku mau ambil les piano. Daripada aku di sini nggak punya kegiatan," ujar Mela sambil menekuk wajahnya.
Terdengar ponselnya berdering dan itu ternyata telepon dari Revan. Wanita itu pun pamit untuk mengangkat telepon dari kekasihnya, tidak lupa semalam juga dia mengirimkan alamat kepada Revan.
Sementara Rika berjalan menuju Taman, dan dia meminta pelayan untuk membawakannya buah.
Wanita itu duduk di kursi di dekat kolam ikan, dan di sana juga ada pelayan yang sedang mengupas buah untuk Rika. Dan tak lama Mela menghampirinya dan duduk di sebelah wanita hamil itu.
"Sudah bicaranya sama Revan?" tanya Rika sambil mengunyah buah apel.
"Sudah Mbak, gimana menurut Mbak kalau aku ketemu sama Mas Revan?"
"Ya kalau mbak sih nggak masalah, tinggal kamu izin aja sama mas Adi."
Mela terdiam, dia memang berniat untuk meminta izin kepada Adi, karena wanita itu juga sudah dikawal jadi tidak ada masalah pikir Mela.
Tiba-tiba saja lampu yang ada di samping Rika hampir jatuh, membuat wanita itu sedikit kaget. Lalu tiba-tiba saja salah satu pengawal mereka yang bernama M, menahan lampu tersebut hingga tangannya terluka.
"Astaga! M, tanganmu bisa terluka itu!" panik Rika saat melihat pecahan kaca masuk ke dalam tangan pengawalnya.
Namun saat Rika dan Mela mendekat, keduanya dibuat kaget karena tidak ada darah sedikitpun, apalagi saat pengawal Rika mencabut pecahan beling itu di lengannya. Karena biasanya jika orang terluka akan mengeluarkan darah tapi ini tidak ada sama sekali.
Keduanya saling bertatapan, kemudian tiba-tiba aaja tubuh keduanya ambruk.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....