Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)

Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)
Bab 89


__ADS_3

Happy reading .....


Mela menatap ke arah pintu dan ternyata di sana ada tante Indri. Dia berjalan mendekat ke arah Mela.


"Jangan menyusulnya! Benar apa yang dikatakan oleh ibumu, jika kamu mendatangi Dimas dalam keadaan seperti ini, kamu hanya akan menjadi pelampiasan kemarahannya saja. Ingat ... kamu sedang hamil." Tante Indri mengusap perut Mela.


"Terima kasih karena ucapan kamu tadi membuka pintu hati tante dan juga Om. Kami sadar jika selama ini kami terlalu mementingkan pekerjaan sampai kami lupa ada kebahagiaan yang tertunda, ada seseorang yang selama ini menantikan kasih sayang kami." Tante Indri mulai meneteskan air matanya.


Dia benar-benar merasa bersalah dengan sikapnya selama ini yang tidak peduli dengan kebahagiaan Dimas, karena di dalam pikirannya dan juga suaminya jika Dimas bahagia dengan kemewahan yang mereka berikan, tapi ternyata itu semua salah.


Mela yang mendengar itu pun merasa senang karena ucapannya tadi bisa membuka pintu hati mereka.


"Alhamdulillah ... Meka senang mendengarnya, tapi Tante ... Mela benar-benar mengkhawatirkan keadaannya Kak Dimas. Bagaimana kalau dia sampai bermain wanita dan--"


"Itu mungkin. Kamu menerima semua kekurangan ya bukan? Kamu berjanji sama tante, bahwa kamu akan merubahnya, merubah sifat jeleknya Tapi itu semua butuh waktu."


"Tidak papa Tante, Mela akan terus berjuang sampai kapanpun, karena Mela sangat yakin Kak Dimas bisa untuk berubah dan itu semua tak luput dari kalian sebagai orang tuanya. Karena Kak Dimas pasti akan berubah jika kalian akur dan saling memaafkan," jelas Mela.


Tante Indri langsung memeluk tubuh Mela, dia benar-benar beruntung memiliki menantu seperti itu. Kemudian kedua tangannya menangkup pipi melayang mulai gembul.


"Terima kasih ya Nak. Tolong jangan panggil tante! Panggil mama. Karena kami adalah mertuamu. Mama bahkan tidak peduli dengan kehamilanmu Itu anak siapa, bahkan bukan darah daging Dimas asalkan Dimas bahagia bersamamu itu sudah cukup bagi kami," ujar tante Indri.


Wanita itu berjalan ke arah balkon kamar diikuti oleh langkah Mela dan Bu Tia.


"Selama ini kami tidak pernah mendengarkan apa yang Dimas mau. Selama ini kami ingin Dimas yang mendengarkan perintah kami, tapi ternyata didikan kami salah. Sebagai orang tua, mama merasa gagal dalam mendidik Dimas, karena kami tidak bisa memberikan kebahagiaan kepadanya." Tante Indri menunduk dia menangis tersedu-sedu.


Mela merasa sedih, kemudian dia mendekat ke arah mertuanya lalu merangkul pundak tante Indri.


"Mela senang kalian sudah bisa menyadari kesalahan, tapi Mama dan papa juga harus sabar jika Kak Dimas nanti belum bisa memaafkan Narena itu semua tidak mudah, luka yang dia derita bertahun-tahun lamanya dari kecil sampai besar. Jadi jika nanti ada ucapan Kak Dimas yang tidak berkenan, tolong jangan memarahinya. Biarkan dia meluapkan semua unek-unek di dalam hatinya."

__ADS_1


"Terima kasih ya sayang ... Dimas benar-benar beruntung memiliki istri seperti kamu. Mama berharap suatu saat nanti Dimas akan membuka hatinya dan mencintai kamu serta menerimamu disisinya. Mama juga akan berusaha untuk membuat Dimas mencintai kamu "


"Aamiin ... terima kasih Mah," jawab Mela sambil memeluk tubuh mertuanya.


Bu Tia benar-benar bahagia melihat jika tante Indri sudah menerima Mella sebagai menantunya di dalam hatinya dia juga berdoa agar Dimas melakukan hal yang sama.


.


.


Sementara di tempat lain, Dimas sedang berada di salah satu kamar. Dia sedang menghentakkan panggulnya dengan kuat kepada seorang wanita yang berada di hadapannya.


Dia meluapkan semua amarahnya dengan hentakan demi hentakan, bahkan sesekali pria itu pun berteriak seakan mengeluarkan rasa sakit yang dia pendam.


Sementara wanita yang dibayarnya hanya merintih kesakitan dengan permainan kasar dari Dimas hingga tiba-tiba saja suara ketukan pintu terdengar, akan tetapi Dimas tidak peduli sebab sebentar lagi dia akan mencapai puncaknya.


"Aaakhh!" teriak Dimas dengan kuat, kemudian dia mendorong tubuh wanita yang berada di hadapannya begitu saja.


Ketukan yang berada di pintu pun semakin keras, membuat pria itu merasa jengkel. Kemudian Dimas memakai handuk yang melilit pinggangnya lalu membuka pintu tersebut.


"Siapa kalian?" tanya Dimas saat melihat dua orang pria yang memakai jas hitam serta kacamata hitam.


"Maaf Tuan muda, kami ke sini untuk menjemput tuan muda pulang."


Dimas mengerti jika dua pria yang berada di hadapannya adalah suruhan dari kedua orang tuanya. "Tidak. Aku tidak mau pulang. Pergi saja kalian! Percuma jika kalian ke sini," jawab Dimas dengan dingin.


"Tapi Tuan muda, Tuan besar meminta--"


"Bilang kepadanya, aku tidak akan pulang! Jangan menggangguku!" Setelah mengatakan itu Dimas membanting pintu kamar tersebut dengan kasar.

__ADS_1


Dadanya bergemuruh menahan emosi dan kekesalan yang begitu dalam, dia beranjak masuk ke dalam kamar mandi untuk mengguyur tubuhnya dengan air.


"AAAGH!" teriak Dimas sambil memukul dinding kamar mandi hingga tangannya memar, dia meluapkan segala emosi dan kemarahan di dalam dirinya saat ini.


"Untuk apa Papa meminta mereka untuk menjemputku? Apa mereka belum puas telah mencampakanku selama ini? Apa yang mereka inginkan dariku? Apa kalian tidak pernah sekalipun melirik dan juga melihat luka di dalam hatiku?!" Lagi-lagi Dimas memukul tembok hingga tangannya berdarah


Dia tidak peduli bahkan luka yang ada di tangannya tidak seberapa dengan luka yang ada di dalam hatinya saat ini


.


.


Sudah jam 21.00 malam, akan tetapi Dimas belum pulang. Mela masih menunggu bahkan dia belum makan malam sama sekali, karena wanita itu sangat mengkhawatirkan keadaan suaminya.


"Mela ... ayo makan dulu!" ajak Bu Tia.


"Tidak Bu Mela tidak mau makan sebelum Kak Dimas pulang Mela benar-benar khawatir sama dia Bu."


"Mela, kasihan bayi yang ada di dalam kandungan kamu butuh nutrisi. Ibu yakin kok, Nak Dimas baik-baik aja dan saat ini dia tengah menenangkan pikirannya. Makan dulu yuk!" bujuk bu Tia.


Akhirnya Mela mengangguk, kemudian dia berjalan ke ruang makan di mana saat ini Om Harun dan juga tante Indri sudah menunggu dirinya.


"Jangan terlalu memikirkan dia! Tadi anak buah Papa sudah menemuinya dan Dimas baik-baik saja, dia hanya perlu menenangkan diri. Kamu tenang saja! Beberapa anak buah Papa juga saat ini tengah mengawasinya," ujar Papa Harun sambil memakan makan malamnya.


Mela terdiam, dia tidak bisa berkata apapun hanya helaan nafas yang terdengar berat dari wanita hamil itu.


'Di manapun kamu berada Kak, aku berharap kamu baik-baik saja. Cepatlah pulang! Jika aku menjadi pelampiasan kemarahanmu, aku tidak peduli. Aku akan menerimanya. Karena aku tahu saat kamu marah semua ucapan yang terlontar dari mulutmu bukan dari hatimu.' batin Mela sambil mengaduk makanannya.


Entah kenapa selera makannya hilang, bahkan tidak ada rasa lapar sama sekali. Tapi dia harus tetap makan demi bayi yang ada di dalam kandungannya.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2