
Happy reading...
Adi pagi ini sudah siap untuk pergi ke ladang, tadi subuh dia juga sudah menyuruh seseorang untuk membantunya membereskan ladang dan menanam padi dengan yang baru.
"Mas, ini aku bawain bekal buat kamu ya. Nanti makan di sana. Setelah jualannya selesai, aku akan menyusul kamu ke sana," ucap Rika sambil mencium tangan suaminya.
"Tidak usah sayang! Kamu di rumah saja. Lagi pula kamu kan habis jualan, capek, mendingan istirahat," jawab Adi sambil mengecup kening sang istri dengan lembut.
"Tidak apa, nanti aku bawakan kamu kopi ya."
Adi yang mendengar itu pun tidak bisa menolak, kemudian dia pergi menaiki sepedanya menuju ladang, dan Slsesampainya di sana Adi melihat orang yang ia suruh untuk membantunya sudah menunggu di gubuk.
"Maaf Pak, sudah lama menunggu ya?" tanya Adi pada Pak Joko.
"Tidak. Baru juga sampai, jadi kita harus membereskan mana dulu? Semua padi di sini mati, sayang sekali ya. Jahat orang yang sudah membuat kamu rugi ya Adi. Semoga mendapatkan balasannya," ucap pak Joko yang merasa kasihan saat melihat tanaman Adi semuanya mati.
"Tidak apa-apa Pak, masih ada yang bisa dipanen. Kalau gitu Bapak bereskan padi biar saya ngambil kacang tanah yang masih bisa untuk dipanen," jawab Adi.
Pak Joko menganggukan kepalanya, kemudian mereka mulai untuk bekerja.
.
.
Sementara di tempat lain, Rika sedang berjualan bersama dengan Mela di depan rumah, dan terlihat beberapa sayur yang mereka masak sudah mau habis.
Namun tiba-tiba saja Rika merasa kepalanya sangat pusing, hingga tubuhnya seketika oleng. Untung saja ditahan oleh Mela.
"Kamu kenapa, Mbak?" tanya Rika.
__ADS_1
"Tidak tahu nih, kepala Mbak sakit banget," jawab Rika sambil memijit kepalanya yang terasa pening.
"Kalau begitu Mbak masuk aja ya ke dalam! Biar jualannya Mela aja yang layanin. Lagian ini tinggal sedikit."
"Kamu yakin?"
"Yakin dong Mbak. Udah, Mbak istirahat aja ya," ujar Mela, akhirnya Rika pun masuk ke dalam rumah.
Sedangkan Mela melayani pembeli karena dia tidak ingin jika terjadi apa-apa dengan Rika, sebab wanita itu juga tadi wajahnya sedikit pucat.
Setelah selesai jualan, Mela membereskannya dan memasukkannya ke dalam rumah. Namun saat dia melewati kamarnya Rika, wanita itu pun membuka pintu tersebut dan melihat Rika sedang tertidur.
Mela berinisiatif untuk membuatkan wedang jahe, kemudian dia ke dapur dan mulai membuat minuman hangat tersebut, setelah jadi dia membawanya ke kamar Rika.
"Mbak, aku bawa wedang jahe nih buat Mbak. Siapa tahu nanti enakan," ucap Mela sambil menaruh wedang itu di atas meja kecil yang ada di samping tempat tidur.
Rika bangun dari tidurnya, kemudian dia meminum wedang jahe itu, dan benar saja perutnya seketika terasa hangat.
"Sama-sama. Wajah Mbak terlihat pucat sekali, sebaiknya Mbak istirahat lagi,nnanti kalau tidak mendingan kita berobat ke mantri ya." Rika hanya menganggukkan kepalanya saja, kemudian dia kembali membaringkan tubuhnya.
Memang akhir-akhir ini Rika merasa kepalanya begitu pusing, entah dia pun tidak tahu penyebabnya. Mungkin memang karena dia terlalu kelelahan jadi sedikit tidak enak badan.
.
.
Sore hari Adi sudah pulang, namun dia mengerutkan keningnya sebab Rika tidak biasanya tidak menyambut dia di depan pintu.
"Dek, Kakak iparmu ke mana?" tanya Adi saat masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Bukannya ucap salam dulu." Mela menggelengkan kepalanya, membuat Adi seketika menggaruk belakang leher.
"Maaf, Mas lupa. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Mbak Rikanya ke mana? Kok tumben dia nggak nyambut, Mas?"
"Dari pagi di kamar Mas, kasihan sepertinya lagi sakit. Masuk gih!" jawab Mela sambil mengaduk teh yang ada di tangannya.
Adi yang mendengar itu pun tentu saja sangat khawatir, kemudian dia masuk ke dalam kamar dan melihat Mela tengah terbaring dengan wajah pucat.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Adi dengan cemas sambil duduk di samping sang istri.
"Nggak apa-apa Mas, cuma nggak enak badan aja," jawab Rika dengan wajah pucatnya.
"Nggak enak badan? Tapi wajah kamu pucat lho sayang, kita ke mantri ya."
Rika menggelengkan kepalanya, "Tidak usah Mas. Mungkin sebentar lagi juga baikan kok, lagi pula kamu baru pulang, nanti aja kalau malam masih tidak baikan kita ke sana besok pagi ya. Kamu sebaiknya mandi, maaf aku tadi tidak menyambutmu."
Adi yang mendengar itu pun tersenyum, kemudian dia mengecup kening Rika. "Tidak apa-apa sayang, kalau gitu Mas mandi dulu ya. Kamu butuh apa, nanti biar Mas buatin?"
Rika menggelengkan kepalanya, "Aku tidak butuh apa-apa Mas. Ya sudah, Mas mandi gih!"
Akhirnya Adi beranjak keluar dari kamar untuk membersihkan diri, sementara Rika memejamkan matanya kembali, karena kepalanya masih terasa sedikit pusing.
Tak lama Mela masuk membawakan teh hangat supaya kakak iparnya lebih baik. Melihat itu Rika benar-benar sangat beruntung memiliki adik ipar seperti Mela, yang begitu amat sangat perhatian kepada dirinya.
'Entah kenapa Mama dan Papa tidak menyukai keluarga Mas Adi? Padahal mereka begitu sangat menyayangiku dan menjagaku, walaupun mereka sudah diinjak-injak harga dirinya oleh kedua orang tuaku.' batin Rika merasa heran dengan sikap orang tuanya hanya karena status sosial.
__ADS_1
BERSAMBUNG....