
Happy reading....
Hari sudah menjelang malam, Adi saat ini sedang berada di mushola. Namun saat dia pulang langkahnya bukan mengarah ke rumah, melainkan ke tempat seseorang.
Setelah Adi mengetuk pintu tak lama seorang pria pun membukakannya, lalu dia masuk dan duduk di kursi.
"Bagaimana?" tanya Adi tanpa basa-basi.
"Benar, ternyata dia pelakunya. Namun bukan hanya dia saja, tapi ada seseorang kembali yang membantu dirinya."
"Siapa?" tanya Adi dengan nada yang dingin.
Bahkan kali ini terlihat auranya sangat berbeda biasanya Adi menampilkan aura yang begitu hangat, namun kali ini seperti seorang mafia yang kejam bahkan sorot matanya terlihat begitu datar dan dingin.
"Namanya Galang, dia adalah pria yang selama ini dijodohkan oleh orang tua dari istrimu," jawab pria yang berada di hadapan Adi.
"Begitu, baiklah kalau begitu aku pulang dulu."
Kemudian Adi beranjak dari duduknya, setelah mendapatkan informasi lalu dia berjalan untuk menuju rumah, namun di tengah jalan pria itu melihat ada pedagang cilok keliling.
"Bang, ciloknya 10.000 dibikin 2 bungkus ya," ucap Adi.
Setelah membayar dia pun pulang sambil membawa cilok di tangannya yang masih panas, dan saat masuk ke rumah pria itu melihat Mela dan juga Rika Tengah menonton TV.
"Nih, Mas belikan cilok tadi. Mas tidak tahu kalian suka pedas atau tidak, jadi Mas meminta sausnya dipisah," ujar Adi sambil menaruh dua bungkus cilok di atas meja.
Rika dan juga Mela terlihat begitu berbinar saat melihat makanan sederhana tersebut, kemudian mereka langsung mengambilnya dan langsung menyantapnya setelah dicampurkan dengan saus dan kecap.
Sementara Adi masuk ke dalam kamar, dia membuka lemari untuk mengambil baju ganti. Namun seketika tangannya merogoh sebuah kotak di balik lemari tersebut.
'Sepertinya aku harus menjualnya lagi. Aku ingin membeli motor untuk istriku, kasihan jika dia ke mana-mana harus menaiki sepeda.' batin Adi sambil memegang sesuatu di tangannya.
.
.
Pagi hari Adi sudah siap. Dia terlihat begitu rapi tidak seperti biasanya, dan Mela serta Rika yang melihat itu pun sangat heran.
"Mas Adi, mau ke mana? Pagi-pagi sudah rapi sekali?" tanya Mela saat berada di meja makan.
"Mau ke kota, ada yang mau dibeli dan kamu di rumah dulu ya sayang. Kamu mau nitip apa nanti kalau pulang, Mas belikan."
__ADS_1
"Ks kota? Kamu mau ngapain ke sana, Mas?" tanya Rika dengan penasaran.
"Ada beberapa pupuk yang harus Mas beli di sana," Jawab Adi.
Rika dan Mela hanya ber oh saja, kemudian wanita itu pun meminta Adi untuk membelikan semangka, apel dan juga buah jeruk. Karena Rika ingin sekali memakan buah-buahan yang segar, apalagi akhir-akhir ini dia sering muntah-muntah dan mulutnya suka terasa asam.
Setelah sarapan Adi berjalan menuju ojek pangkalan untuk mengantarkannya ke kota, sementara Rika dan juga Mella sedang berjualan di depan rumah.
"Mbak Rika, gimana sudah isi belum?" Tanya salah satu ibu-ibu yang sedang membeli sarapan.
"Alhamdulillah Bu, sudah," jawab Rika sambil membungkus pesanan dari pembeli.
"Alhamdulillah, kami ikut senang. Berapa minggu Mbak?"
"Alhamdulillah Bu, usia kandungan saya sudah 4 minggu."
"Wah! Kalau begitu jangan capek-capek Mbak. Biasa kehamilan trimester pertama itu rentan untuk keguguran, jadi pastikan Mbak Rika nggak boleh stress juga ya."
"Iya Bu, saya hanya membantu Mela sekedarnya saja, karena kalau diam saja rasanya ingin muntah-muntah terus."
"Saran saya kalau mbak muntah-muntah terus, bikin wedang jahe terus makan yang anget-anget. Biasanya kalau ibu hamil kan suka mangga muda, nah di depan rumah saya mangga sedang berbuah, nanti kalau Mbak pengen rujak atau apapun ke rumah saja ya," ucap Ibu Tia.
"Iya, tinggal ke rumah aja banyak kok buahnya. Sayang kalau berjatuhan, kan mendingan buat Mbak Rika di rujak siapa tahu nanti kan anaknya juga sehat-sehat di dalam perut."
Setelah membayar pesanannya, Bu Tia pun pamit dari sana. Kebetulan dia adalah salah satu warga yang rumahnya tak jauh dari rumah Adi.
Rika benar-benar bahagia karena dia bisa diterima dengan tangan terbuka di desa tersebut, apalagi semua warganya ramah tamah dan tidak ada yang sirik ataupun tetangga julid.
Setelah jualan habis Rika dan juga Mela masuk ke dalam, namun Mela tidak membiarkan Rika untuk membantunya membereskan dagangan. Dan membuat wanita itu hanya diam dan duduk di depan ruang tv, sambil memakan camilan keripik singkong.
"Duh Dek. Kok lidah Mbak kayaknya asem banget ya," ucap Rika sambil merasakan lidahnya yang terasa begitu asam.
"Apa Mbak ingin rujak?" tanya Mela
"Boleh."
"Kalau begitu aku minta dulu sama bu Tia, kebutuhan nanti kita rujak sama-sama."
Mendengar itu Rika menganggukkan kepalanya dengan semangat, setelahnya Mela keluar dari rumah menuju rumah Bu Tia untuk meminta mangga muda.
Namun sesampainya dia di sana bu Tia langsung menyuruh Mela untuk langsung mengambil mangga tersebut di pohonnya, karena dia sedang bersiap-siap untuk pergi ke sebuah acara.
__ADS_1
Saat Mela tengah mengambil buah yang berada di pohon, tiba-tiba saja ada seseorang yang meneriakinya maling.
"Hei! Kau maling ya!" teriak seorang pria.
Mela membalikkan tubuhnya dan terlihat di belakangnya ada seorang pria tampan ber perawakan gagah dengan kulit yang putih.
"Bukan. Saya bukan maling Mas," jawab Mela.
"Halah! Mana ada maling yang mau ngaku. Kamu ini benar-benar enggak tahu malu ya! Masa maling di siang hari, memang kalau zaman sekarang maling itu tidak pandang waktu," ucap sarkas pria tersebut.
Mela yang disebut maling pun tidak terima, kemudian dia menaruh mangga itu di bawah. "Dengar ya Mas! Kalau nuduh itu jangan sembarangan dong. Saya udah izin sama Bu Tia, dan beliau yang menyuruh saya untuk mengambil mangga ini. Lagian Anda ini siapa sih?" jawab Mela lah tak kalah nyolot.
"Ngeles mulu kayak bajaj. Mama saya mengijinkan kamu untuk mengambil mangga ini, mana mungkin?"
Mendengar itu akhirnya Mela paham, jika pria yang berada di hadapannya pasti anaknya Bu Tia. Tapi dia tidak menyangka jika pria itu tidak mempunyai sifat baik hati seperti ibunya.
"Maksud Anda apa berkata seperti itu? Saya ini bukan maling ya, kalau tidak percaya sana tanya sendiri sama ibu Anda!"
"Ada apa ini? Mela, apakah mangganya sudah diambil?" tanya Bu Tia yang keluar dari rumah karena mendengar ribut-ribut.
"Sudah Bu. Tapi saya malah dikira maling sama dia!" jawab Mela sedikit sinis sambil menatap ke arah pria yang berada di samping Bu Tia.
"Loh, Revan. Mela ini bukan maling. Mama yang memintanya untuk mengambil buah mangga untuk kakak iparnya yang sedang ngidam."
Terlihat pria itu menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal, sementara Mela memutar bola matanya dengan malas.
"Kalau gitu Mela pamit dulu ya Bu. Makasih untuk mangganya," ucap Mela sambil membawa 3 buah mangga di tangannya..
"Sama-sama, kalau mau lagi tinggal ambil ya," ucap Bu Tia.
"Iya tBu, kalau gitu Mela pulang dulu ya, assalamualaikum."
Wanita itu pun pergi meninggalkan rumah Bu Tia, sedangkan Revan hanya melirik dan menatap ke arah kepergian Mela. Jauh di dalam lubuk hatinya dia merasa tak enak, karena sudah menuduh wanita itu.
"Kamu ini kenapa nuduh dia pencuri? Mama yang memintanya untuk mengambil buah, sebaiknya kamu minta maaf gih! Tidak baik menuduh seseorang, Mela itu gadis yang baik dari keluarga baik-baik pula. Sana!" ucap Bu Tia pada putranya.
"Tapi masa aku harus minta maaf sih, Mah?" protes Revan.
"Kamu sudah salah dan tidak mau minta maaf? Keterlaluan!" Bu Tia menggelengkan kepalanya sambil melenggang masuk ke dalam rumah. "Jadi laki-laki itu harus gentle!" teriak Bu Tia dari dalam
BERSAMBUNG.....
__ADS_1