Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)

Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)
Maafkan Kami


__ADS_3

Happy reading....


Hari ini Dimas dan juga Adi sedang merencanakan sesuatu untuk pelaku yang sudah mencelakai Revan.


"Lalu, apa kau akan bermain-main terlebih dahulu, atau--"


"Tidak. Aku tidak akan bermain-main terlebih dahulu. Kau sudah membawa pelakunya bukan ke markas?"


Dimas langsung menganggukkan kepalanya. "Tapi aku belum menangkap bosnya."


"Aku kasih waktu kau dua hari, tangkap dia dan bawa ke markas!" Titah Adi.


Dimas mengangguk mantap, dia juga sudah menyiapkan rencana untuk menangkap bos dari pelaku yang sudah mencelakai Revan. Sebab dia juga dendam akut pada orang itu.


Kemudian Adi memberikan semua pekerjaannya kepada Vano, karena dia akan pulang lebih cepat, sebab Adi ingin segera bertemu dengan Putranya.


"Vano, kamu hari ini handle dulu ya pekerjaan! Saya mau pulang lebih cepat," ujar Adi kepada asistennya.


"Baik Tuan," jawab Vano.


Adi mengendarai mobilnya membelah jalanan untuk pulang ke rumah, dan saat sampai di sana dia melihat Noah sedang bermain dengan Mela, Bu Tia dan juga Rika.


Pria itu tersenyum saat melihat Mela sudah bisa tertawa kembali, setidaknya kehadiran Noah yang begitu lucu dan imut membuat Mela sedikit terobati rasa rindunya kepada Revan.


"Wah! Sedang kumpul rupanya?" Adi ikut bergabung, namun saat dia akan memegang Noah ditahan oleh Bu Tia.


"Jangan pegang-pegang! Kamu kan habis dari luar, sebaiknya kamu bersih-bersih dulu baru boleh memegang Noah!" larang Bu Tia.


"Memangnya kenapa, Bu? 'Kan aku mau gendong Noah, kangen sama dia. Sengaja pulang lebih awal juga ingin main sama Putraku yang lucu ini."

__ADS_1


"Ibu tahu, tapi sebaiknya kamu bersihkan diri dulu. Tidak baik kalau dari luar tidak mencuci tangan atau membersihkan diri, sebab nanti akan berdampak buruk pada bayi kalian."


Akhirnya Adi pun menurut, dia menuju kamar dan membersihkan diri. Sementara Rika bertanya kepada Bu Tia, kenapa Adi tidak boleh menyentuhnya jika dari luar.


Lalu Bu Tia pun menjelaskan tentang kepercayaannya sebagai orang tua, di mana siapapun yang habis dari luar harus mencuci tangan atau membersihkan diri terlebih dahulu, baru boleh memegang bayi.


Saat mereka bertiga tengah bermain dengan Noah, tiba-tiba seorang pelayan datang. "Maaf Nyonya muda, di luar ada dua orang yang ingin bertemu dengan Anda."


"Siapa itu?" tanya Rika.


"Katanya orang tua Nyonya muda." Pelayan tersebut menundukkan kepalanyam


Mendengar itu Rika terlihat begitu terkejut, kemudian dia menyuruh kedua orang tuanya untuk masuk. Dan tak lama tante Cantika serta Papa Renal masuk ke dalam.


Alangkah terkejutnya Rika saat melihat penampilan kedua orang tuanya yang terlihat begitu sederhana, di mana bajunya sudah kumuh dan keduanya terlihat sedikit kurus.


Batin wanita itu sangat miris saat melihat keadaan tante Cantika dan juga Papa Renal. Dia sudah beberapa bulan tidak bertemu dengan mereka, semenjak terakhir kali tante Cantika ke rumah dan kedapatan tengah mengambil perhiasan Rika. Dari sana Adi sangat murka, hingga dia tidak mengizinkan Tante Cantika untuk masuk kembali ke dalam kediamannya.


Akan tetapi pandangan mereka tertuju pada bayi yang sedang bermain dengan Mela dan juga Bu Tia, lalu tatapan tante Cantika mengarah kepada perut Rika yang sudah kempes


"Apa itu bayi kamu, Nak? Itu cucu kami?" tanya Tante Cantika dengan raut wajah yang bahagia.


"Iya Mah, Pah, dia Noah anakku. Baru dua minggu yang lalu aku melahirkan," jawab Rika


Tante Cantika dan juga Papa Renal saling berpandangan satu sama lain. Mereka sangat bahagia karena memiliki seorang cucu, kemudian tante Cantika hendak menggendong Noah, namun dihalangi oleh Mela.


"Mau ngapain? Mau gendong? Kalian menganggap jika ini cucu kalian ya? Baru sadar?" Mela menyindir dengan nada yang begitu tajam.


Dia masih sangat mengingat dengan kata-kata tante Cantika dan juga Papa Renal, saat mereka mengatakan jika keduanya tidak sudi memiliki keturunan dari Adi.

__ADS_1


Namun sekarang terlihat keduanya ingin menggendong Noah, tentu saja Mela tidak akan membiarkan itu. Walaupun dia adalah tantenya, Mela tidak sudi. Karena dulu saat Rika sedang hamil, bahkan tante Cantika serta Papa Renal berencana ingin menggugurkan kandungan kakak iparnya.


"Mela, jangan seperti itu Nak!" bu Tia memegang tangan menantunya.


"Biar aja, Bu. Toh apa yang aku katakan itu memang benar. Mereka berdua dulu ingin menggugurkan kandungan Mbak Rika, dan mereka juga bilang tidak ingin mempunyai keturunan dari Mas Adi. Lalu sekarang lihat! Mereka malah mau menggendong Noah? Memang enak menjilat ludah sendiri." sindir Mela.


Rika terdiam, karena apa yang dikatakan Mela memang benar. Dulu Papah dan juga mamahnya bersih keras ingin Rika menggugurkan kandungannya, akan tetapi kekuatan cintanya bersama dengan Adi begitu kuat, hingga rintangan apapun mereka lalui.


"Iya kami tahu, jika dulu kami sangat amat bersalah. Rika, maafkan mama dan Papanya! Kami dulu terbutakan oleh harta, dan apa yang kamu katakan memang benar. Harta bukanlah segalanya. Kami mungkin baru mendapatkan karmanya sekarang. Kamu benar, di atas langit masih ada langit. Dan kami terlalu sombong, sehingga mengagungkan apa yang kami punya." Terlihat wajah tante Cantika begitu murung.


Dia mengingat perlakuannya dulu kepada Rika seperti apa, dan tante Cantika sadar bahwa apa yang dikatakan Mela maupun Rika dulu menjadi kenyataan, di mana roda kehidupan berputar.


Sekarang keduanya tidak memiliki apapun, bahkan Papa Renal bekerja sebagai buruh di salah satu pasar, mengangkut barang belanjaan orang lain demi sesuap nasi. Sebab perusahaanya bangkrut, gegara sahamnya di beli oleh Adi.


Keduanya sejujurnya tidak mau untuk pergi ke kediamannya Adi. Sebab mereka merasa malu, akan tetapi keduanya sangat merindukan Rika dan ingin meminta maaf atas segala perlakuan yang selama ini mereka torehkan pada putrinya.


"Nak, Papa tahu mungkin papa dan Mama begitu jahat. Kami tidak pantas menjadi orang tuamu. Tapi Papa dulu melakukan itu demi kebahagiaanmu. Karena papa pikir. harta bisa membuatmu bahagia. Sedangkan dulu Adi adalah orang yang miskin, dan papa hanya tidak ingin kamu hidup menderita, hanya itu saja. Papa terlalu egois, hingga mementingkan kepentingan papa sendiri tanpa memikirkan kebahagiaan kamu. Jika sekarang kamu membenci kami, silahkan. Tapi tolong maafkan kesalahan kami! Walau kami tahu kesalahan yang kami perbuat itu tidak bisa dimaafkan." Papa Renal berjongkok di hadapan Rika.


Membuat wanita itu terlonjak kaget. "Apa yang Papa lakukan?" tanya Rika aambil mencoba untuk membantu papa Renal bangkit.


"Maafkan Papa dan Mama, Nak. Kami tidak menginginkan harta Adi, tidak sama sekali. Hanya maaf kalian yang kami butuhkan saat ini. Jika sudah kalian memaafkan kami, setidaknya kami bisa hidup dengan tenang." Papa Renal mulai menitipkan air mata.


Terlihat wajahnya penuh penyesalan, sedangkan Rika yang mendengar itu hatinya tersentuh. Di memang marah kepada kedua orang tuanya, namun sebagai seorang anak dia tidak bisa jika tidak memaafkan kesalahan orang tua.


Sementara Mela hanya memalingkan wajahnya saja, dia masih berpikir jika tante Cantika dan juga Papa Renal hanya berdrama untuk mendapatkan maaf dari Rika.


"Haalah! Paling juga akting lagi!" Sindir Mela.


"Nak, jangan seperti itu!" ucap bu Tia.

__ADS_1


"Jadi kalian sudah sadar dengan kesalahan kalian? Apa ini hanya sebuah akting?" Adi tiba-tiba saja masuk ke dalam ruang keluarga. Dia melihat bagaimana Papa Renal dan juga tante Cantika kebersimpuh di kaki sang istri dan meminta maaf atas kesalahan mereka.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2