
Happy reading....
Hari-hari dijalani Rika, bahkan dia begitu sangat enjoy menjalani perannya sebagai istri seorang petani.
Dari bangun tidur dia menyiapkan semua kebutuhan Adi, lalu mereka ke ladang, sepulang dari ladang dia pun memasak membantu Mela, setelahnya malam baru bisa bersantai. Kadang jika ada makanan Mela dan juga Rika mengolahnya.
Tidak terasa pernikahan Adi dan juga Rika sudah menginjak 2 bulan, dan selama itu pula wanita tersebut tidak pergi ke kota untuk menemui orang tuanya. Karena terakhir kali sebelum ponsel Rika masih ada kuota dia mendapatkan pesan dari sang papa.
Yang mengatakan jika Rika dilarang untuk kembali ke kota sebelum dia berpisah dengan Adi, kecuali jika Rika sudah berpisah dengan Adi, barulah dia boleh pulang ke Jakarta.
Namun, wanita itu tetap saja bertekad kuat jika dia tidak akan pernah mau berpisah dengan suaminya. Rika akan membuktikan kepada orang tuanya jika apa yang dia miliki adalah murni kepada Adi.
"Oh iya Mas, Mella, sebenarnya aku tuh ada usul," ujar Rika saat mereka kumpul di teras sambil meminum teh.
"Usul apa_ Mbak?" tanya Mela.
"Kenapa kita tidak jualan saja di depan rumah? Jualan warung kecil-kecilan, seperti kopi dan juga yang lainnya, seperti toko kecil," ujar Rika memberikan usul.
Terlihat Mela dan Adi berpikir.
"Boleh aja sih Mbak, aku setuju. Tapi dananya kan lumayan besar kalau kita buka toko? Lagian tak jauh dari sini juga ada tokonya Ibu Siti. Takutnya nanti malah jadi Boomerang Mbak, soalnya kalau kita buka toko dekat-deketan malah nantinya akan jadi cemoohan. Lebih baik jangan toko belanjaan deh! Kita buat usaha yang lain yang tidak ada di kampung ini," jelas Mela.
"Mas setuju dengan dengan Mela. Sebaiknya kita jangan buka toko! Menghindari lebih baik daripada kita nyebur ke dalamnya," timpal Adi.
Rika menganggukkan kepalanya, mengetuk dagunya dengan jari telunjuk. Kemudian dia pun menjentikkan tangannya seolah menemukan sebuah ide yang cemerlang.
"Aha! Aku punya ide. Bagaimana kalau kita jualan kacang rebus dan juga jagung bakar? Lagi pula, jagung yang ditanam Mas Adi kan masih banyak? Tidak ada salahnya bukan jika kita memanfaatkan itu semua?"
"Kalau aku sih sebenarnya setuju aja Mbak, tapi kayaknya kalau jualan seperti itu kan harus musim-musiman," jawab Mela sambil menatap lekat ke arah Kakak dan juga kakak iparnya.
Ketiganya pun terdiam, memutar otak untuk membuka usaha. Karena tidak mungkin mengandalkan sayuran dari kebun terus menerus.
__ADS_1
"Sayang, tidak apa jangan jualan! Mas kan masih bisa menghidupi kebutuhan kamu? Mas gak mau kamu kecapean," ucap Adi menatap lekat sang istri.
Rika yang mendengar itu pun tersenyum, kemudian dia menggenggam tangan suaminya, "Mas, bukannya Rika ingin egois. Tapi Rika bosan hanya ingin ada kegiatan saja, boleh ya jika Rita jualan! Lagian aku jualannya juga sama Mela ini, nggak sendirian!" pinta Rika.
Akhirnya Adi pun setuju. Setidaknya jika Rika jualan, dia tak harus ke ladang lagi. Sebab Adi kasihan melihat istrinya.
Beberapa saat hening.
"Kalau kita jualan sarapan gimana?" usul Rika sekali lagi.
Terlihat Mela dan juga Adi melirik satu sama lain, kemudian mereka pun mengangguk bersamaan. "Boleh juga tuh. Aku setuju, Dek! Sebaiknya jualan sarapan saja setiap pagi. Lumayan kan? Lagi pula bawang di kebunnya Pak Arjo juga tidak setiap hari dan setiap minggu panen, jadi untuk mengisi waktu luang kalian juga," ujar Adi dengan wajah antusias.
Dan Mela juga setuju, akhirnya mereka bertiga pun sudah sepakat akan berjualan mulai esok lusa. Dan besok Mela dan juga Rika akan ke pasar membeli keperluan untuk jualan nanti.
.
.
Di tempat lain, Mama Cantika tengah uring-uringan sebab rumahnya terasa begitu sepi sejak kepergian Rika dua bulan yang lalu.
Bohong jika tante Cantika tidak merindukan Rika selama ini. Tapi egoisnya dia terlalu tinggi, masih ingin menjodohkan Rika dengan Galang, karena sebagai orang tua dia ingin melihat putrinya bahagia dan terjamin hidupnya.
"Mah, kamu kenapa sih akhir-akhir ini sering ngelamun? Jangan seperti itu, Mah!" ucap papa Renal saat melihat istrinya terus saja melamun.
"Ini semua gara-gara Papa! Papa yang mengizinkan Rika untuk menikahi pria miskin itu! Sekarang lihat! Rika tidak kembali lagi kan ke sini? Ini semua salah Papa. Semua salah Papah!" teriak Mama Cantika sambil meraung dan menangis.
"Iya Mah, Papa tahu ini semua kesalahan Papa. Tapi apa yang bisa kita lakukan? Rika itu kan sedikit keras kepala." bela Papa Renal pada dirinya sendiri.
"Seharusnya Papa tidak merestui mereka! Seharusnya Papa tidak mengizinkan mereka menikah! Papa itu kan walinya Rika. Kalau Papa tidak mengizinkan, otomatis mereka juga tidak akan menikah. Sekarang lihatlah! Putri kita tidak kembali? Pasti pria itu sudah mengguna-guna Rika agar dia tidak pulang ke rumah ini? Pokoknya mama tidak mau tahu. Kita harus ke sana! Mama ingin bertemu dengan Rika!" pinta tante Cantika dengan tegas.
"Iya Mah, kita akan ke sana. Tapi beberapa hari lagi ya! Soalnya papa ada kerjaan dan ada klien dari Jepang. Tidak enak jika Papa tidak mengurusnya sendiri. Masa harus terus membebankan kepada Anton?" jelas Papa Renal.
__ADS_1
"Ya sudah, Mama tunggu. Pokoknya dalam Minggu ini ya!" Setelah mengatakan itu tante Cantika pun masuk ke dalam rumah.
Melihat kemarahan istrinya Papa Renal duduk di kursi, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Dia memang merutuki kebodohannya karena sudah merestui pernikahan itu.
Andai saja Papa Renal tidak mengizinkan Rika menikah dengan Adi, pasti saat ini putrinya masih ada di rumahnya, bahkan istrinya tidak akan marah-marah.
'Lihat saja! Aku akan membawa putriku pulang. Tidak akan kubiarkan dia hidup bersama dengan pria miskin itu!' batin Papa Renal penuh tekad.
.
.
Hari ini Mela dan juga Rika sedang berdiri di luar rumah, ada sebuah meja kecil yang berisikan dagangan mereka, mulai dari nasi uduk, nasi kuning, nasi putih dan juga sayur-mayur dan lauk pauk matang yang lain.
Sudah tiga hari mereka berjualan, dan warga di sana menyambut hangat usaha Mela dan Rika. Bahkan sangat laris setiap pagi, karena orang kadang malas untuk membuat sarapan, jadi membeli langsung ke rumah Mela.
"Mbak Rika, saya mau ikan tongkolnya satu, ikan terinya Rp5.000, sama sayur sawi hijaunya ya Rp3.000," ucap ibu-ibu sambil menunjuk lauk dan juga sayur-sayuran matang yang ada di hadapannya.
"Saya mau kentang baladonya Rp4.000 ya Mbak, sama pecak lelenya dua!" pinta ibu yang lain.
"Baik Bu, tunggu sebentar ya!" jawab Rika, kemudian dia mulai membungkus pesanan Ibu tersebut.
sSetelah dagangan habis, Rika dan juga Mela pun membersihkan meja tersebut. Namun, tiba-tiba saja tatapan Mela merasa heran saat melihat sebuah mobil yang berhenti di depan rumahnya.
"Itu mobil siapa ya? Apa iya ada tetangga di sini, atau jangan-jangan anak Juragan Makmur?" gumam Mela saat dia sedang membersihkan jualannya. Sedangkan Rika sedang berada di dalam menyimpan lauk yang belum habis.
"Apa benar ini rumah kediaman Adi Hermawan?" tanya seorang pria yang berpakaian serba hitam yang Mela pikir itu adalah supir.
"Benar, ini rumah kakak saya. Maaf Bapak ke sini mau cari siapa ya?" tanya Mela dengan tatapan menyipit.
Tiba-tiba saja ada dua orang yang turun dari mobil itu dengan pakaian yang mewah dan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancung mereka.
__ADS_1
"Di mana putriku?" tanya seorang wanita yang tak lain adalah tante Cantika.
BERSAMBUNG.....