Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)

Prem Kee Shakti (Kekuatan Cinta)
Sebuah Kotak


__ADS_3

Happy reading....


Hari demi hari dilewati oleh Rika dan juga Adi, hingga tidak terasa dua hari lagi mereka akan mengadakan acara 4 bulanan kehamilan Rika.


Namun ada yang mengganjal di hati wanita itu, entah kenapa dia merasa heran, sebab merasa uang suaminya tidak pernah habis. Bahkan mereka tidak pernah kekurangan dari segi makanan ataupun kebutuhan, walaupun terkesan sederhana.


"Mbak! Mela mau ke pasar dulu ya beli belanjaan buat jualan besok," ucap Mela berpamitan kepada Rika.


"Ya sudah, kamu hati-hati. Mau naik apa ke sananya? Kan motornya dibawa sama Mas Adi?"


"Mela mau naik ojek aja, Mbak. Nggak jauh kok pangkalan dari sini. Ya udah, kalau gitu Mela pamit ya, assalamualaikum," ucap wanita itu sambil mencium tangan Rika.


"Waalaikumsalam," jawab Rika.


Setelah kepergian Mela, Rika melihat ke arah kamarnya yang terlihat sedikit berdebu. Wanita itu pun mengambil kain lap serta ember untuk membersihkan debu-debu yang ada di lemari dan juga meja.


Rika membuka lemari bajunya dan membereskannya, karena terlihat sedikit berantakan, di mana Adi selalu saja mengambil baju dengan sedikit menarik, sehingga membuat baju itu tidak rapi seperti sedia kala.


"Ya ampun! Mas Adi ini, kalau sedang buru-buru pasti ngambil bajunya selalu saja ditarik. Laki-laki itu memang jarang sekali ada yang rapi." Rika menggelengkan kepalanya sambil menghela nafas.


Kemudian dia menurunkan baju-baju Adi dari lemari, lalu menatanya kembali di dalam. Namun saat semua baju sudah diturunkan, tiba-tiba tatapan Rika tertuju kepada sebuah kotak yang berada di pojok belakang baju Adi.


"Itu kotak apa ya? Kok aku baru lihat," gumam Rika dengan heran sambil mengambil kotak tersebut.


Ukuran kotak itu lumayan kecil, jadi tidak terlihat. Apalagi ditumpuk dengan beberapa baju dan disimpan di pojokan, jelas tidak akan terlihat oleh siapapun.


Rika mengambil kotak tersebut dengan bingung, kemudian dia membukanya. Dan alangkah terkejutnya Rika, saat melihat isi dalam kotak tersebut, di mana ada tiga batang emas 24 karat.


Wanita itu pun menutup mulut dengan tatapan yang begitu syok. "Ya ampun! Ini emas. Tapi kok bisa ada di lemarinya Mas Adi?" bingung Rika dengan panik.


Kemudian dia menaruh kotak itu di atas ranjang, lalu mondar-mandir dengan bingung. Bagaimana tidak? Rika benar-benar merasa heran kenapa bisa ada emas batangan di lemari suaminya, sedangkan selama ini Adi tidak pernah berkata apapun soal benda tersebut.


"Dari mana Mas Adi mendapatkan emas ini? Bahkan harganya saja sudah pasti sangat mahal. Aku harus menanyakannya saat Mas Adi pulang," ucap Rika dengan tekad.


Kemudian dia membereskan baju Adi kembali, namun tidak memasukkan kotak tersebut, karena sepulangnya Adi, Rika akan menanyakan soal barang itu karena dia benar-benar penasaran.


Jujur saja, Rika takut jika Adi menjadi seorang pencuri, sebab kehidupan mereka sangat amat sederhana. Adi hanyalah seorang petani di ladang, dan emas itu harganya tidak sedikit. Jadi mana mungkin Adi mempunyai emas batangan seperti itu? Kecuali dia adalah seorang pengusaha terkaya.


.

__ADS_1


.


Saat Mela sedang berjalan untuk menuju pangkalan ojek, tiba-tiba sebuah motor membunyikan klakson, hingga membuat wanita itu seketika menoleh dan ternyata dia adalah Revan.


"Mau ke mana, Nona manis?" tanya Revan sambil membuka helmnya.


"Aku mau ke pasar Mas, mau beli belanjaan buat dagangan besok," jawab Mela sambil tersenyum.


"Ya sudah, kalau gitu biar aku antar saja."


"Ah tidak usah, Mas. Biar Mela naik ojek aja." tolak Mela.


"Ya ampun, kamu itu jangan terlalu jual mahal. Aku tidak akan ngapa-ngapain, hanya ingin mengantarmu saja ke pasar. Daripada ngojek, uangnya mending buat beli tomat 1 kilo, ya kan?" goda Revan.


"Tapi--"


"Ayolah! Itung-itung ini salah satu hutang budiku karena kamu waktu itu telah menyelamatkanku dan membawaku ke Puskesmas." Revan memotong ucapan Mela, karena dia tahu wanita itu pasti akan menolak.


Mendengar itu akhirnya Mela pun mengangguk, lalu dia naik ke atas motor Revan. Kemudian melaju meninggalkan tempat tersebut untuk menuju pasar.


Mela juga setuju apa yang dikatakan oleh Revan, ongkosnya bisa buat untuk membeli tomat 1 kilo. Dan selama di dalam perjalanan, tidak ada pembicaraan antara mereka. Keduanya sama-sama terdiam, menikmati semilir angin yang mereka lewati dari pesawahan.


"Oh ya_ nanti malam kamu ada acara nggak?" tanya Revan sedikit berteriak.


"Aku mau mengajak kamu untuk makan malam, dan aku harap kamu tidak menolak. Anggap saja ini adalah rasa terima kasihku kepadamu, dan nanti malam juga ada yang ingin aku sampaikan, karena besok juga aku akan kembali ke kota. Jadi kumohon jangan menolak!"


Mela terdiam, "Baiklah, jam berapa?" Wanita itu pun menyetujuinya.


"Jam 19.00 nanti aku jemput kamu di rumah, sekalian minta izin kepada kakakmu."


Mela menganggukkan kepalanya, terlihat oleh Revan dari pantulan cermin. Dan setelah sampai di pasar, dia langsung masuk ke dalam ditemani oleh Revan. Padahal wanita itu sudah menolak tetapi pria tersebut malah bersikukuh untuk mengantar Mela belanja.


.


.


Motor terparkir di halaman teras, di mana Revan dan juga Mela baru saja sampai di rumah. Dan kebetulan Rika sedang memanen tomat yang ada di depan rumah.


Kemudian Revan pun pamit setelah mengantarkan gadis itu, namun Rika menatapnya dengan heran. "Ciiiee ... dianterin pacar ya?" goda Rika.

__ADS_1


"Pacar apaan sih, Mbak? Bukan. Itu temen," jawab Mela sambil tersipu malu.


"Ya ampun, pacar juga nggak papa kali Dek. Mbak senang kok kalau kamu udah punya pasangan, setidaknya kan sebentar lagi kamu akan menyusul Mbak?" kekeh Rika


"Apaan sih, Mbak. Bukan. Dia itu mas Revan, anaknya Bu Tia. Tadi kebetulan nggak sengaja lewat, jadi dianterin ke pasar deh."


"Masa?" Rika terus aja menggoda Mela sambil menyenggol bahu gadis itu, membuat Mela sedikit kesal dan akhirnya memanyunkan bibir.


Sementara Rika terkekeh saat melihat wajah malu dari adik iparnya tersebut, di mana tidak pernah ia lihat sebelumnya. Rika juga senang jika Mela sudah mempunyai tambatan hatinya. Bagi dia tidak masalah mau dari kalangan atas atau dari kalangan bawah, yang penting pria itu mencintai Mela dengan tulus.


.


.


Saat ini semua sedang berada di ruang tv, Mela juga mengungkapkan jika ia akan pergi bersama dengan Revan kepada Adi dan juga Rika.


"Apa kamu yakin dia pria baik-baik?" tanya Adi memastikan.


"Iya Mas, dia anaknya Bu Tia. Jadi nanti kalau terjadi apa-apa tinggal lapor aja ke Bu Tia, tidak usah khawatir," ujar Mela.


"Ya sudah, tapi kamu jaga diri baik-baik ya. Kalau terjadi apa-apa atau dia nakal sama kamu, lapor sama Mas!"


"Siap Kapten!" Mela mengangkat tangannya dan menaruhnya di kening, membuat Rika terkekeh. Tak lama pintu terketuk, dan Mela sangat yakin jika itu adalah Revan.


"Ayo Mas Revan masuk!" ujar Mela saat membuka pintu.


"Terima kasih," jawab Revan.


Setelah itu Mela membuatkan minum untuk Revan, lalu dia pun bersiap-siap ke kamar. Sementara Revan duduk bersama dengan Adi dan juga Rika.


Jujur saja pria itu merasa gugup berhadapan dengan Adi. Entah kenapa, aura dari pria tersebut terlihat begitu dingin dan mengancam, seakan ingin menelannya hidup-hidup.


"Kamu anaknya bu Tia?" tanya Adi.


"Iya Mas, saya anaknya Bu Tia," jawab Revan.


"Jaga Mela ya! Jangan sampai terjadi apa-apa, dan kamu juga jangan macam-macam kepadanya! Jika itu sampai terjadi, akan ku patahkan tanganmu, paham!" Adi berkata dengan nada dingin dan sorot mata yang begitu tajam.


Revan langsung menganggukan kepalanya, sementara Rika melihat Adi dengan seksama. Entah kenapa dia melihat ekspresi yang tak pernah dilihat yang selama ini. Rika seperti melihat sisi lain dari suaminya.

__ADS_1


'Kenapa auranya Mas Adi seperti seorang mafia ya? Kelihatannya dingin banget. Kok aku jadi ngeri sendiri? Oh iya! Aku kan mau menanyakan soal emas batangan itu. Nantilah nunggu Mela keluar dulu, baru aku bicara dari hati ke hati sama Mas Adi.' batin Rika sambil menatap ke arah suaminya.


BERSAMBUNG....


__ADS_2